​Sebuah Derita

Published Juni 20, 2017 by Reddish

Saya mengerti apa yang kamu derita. Tak usah kaget dengan apa yang saya katakan. Rindu itu memang sebuah derita, bukan? 

Sebab bayang rindu tak henti mengetuk ingatan, getarnya menyisip di debaran jantung. Bahkan, terkadang terlalu pelik untuk membeda antara detak jantung dengan detak rindu di tiap detik. Seringnya, perasaan itu menjelma kentut; menyesak pada napas.
Ah, saya ingin mengamandemen kesepakatan kita. Sungguh semakin jarak terbentang, semakin rindu berdentam. Maka, adalah rindu yang memucat pasi, kala degupnya kian melirih, lalu mati oleh prasangka dan pupusnya mimpi.

Saat kematian rindulah semesta seakan sunyi, lenyi!

Pantaslah rindumu tak pernah tuntas dari dahaga. Suara, foto hanya ilusi belaka.

Ingatlah, wahai kamu!

Penentram rindu ialah doa. Pemuasnya ialah jumpa.

Benarlah, bahwa saya telah kehilangan sebuah bibit. Nyatanya bibit itu tertinggal dan tumbuh menjadi pohon rindu, yang rantingnya telah menjamah matamu.

Siapa pun berhak menyuarakan rindu

Termasuk kamu… 

Dan saya! 

#Reddish

KISAH DUA PENDEKAR

Published Juni 19, 2017 by Reddish


Suatu hari dua pendekar sedang berkejaran di hutan.  Mereka saling melempar senjata dan menghindar dari serangan. Setelah beberapa lama….
“Hos … hos … hos …” 

Sambil melayang melewati beberapa dahan pohon, napas seorang pemuda tersengal-sengal. Wajahnya menampakan kecemasan. Sesekali kakinya menapak di dahan pohon, hal itu dilakukan agar tubuhnya bisa terbang ke udara.
“Riyu …! Benar-benar ya! Sebagai seorang pendekar kau tak perlu lari!”

Tak jauh di belakang pemuda tadi, seorang pria kekar  telah berseru lantang memecah kesunyian hutan. Sepertinya dia dalam kemarahan besar. Sorot matanya yang tajam tentunya akan membuat siapa saja bergidik ngeri jika melihatnya.
“Kau keras kepala Rega. Seharusnya kau mengerti dan tak perlu semarah ini!”

Riyu, pemuda yang berjubah merah itu menimpali ucapan pria kekar yang mengejarnya di belakang.
“Halah …, omong kosong!” bentak Rega. Detik berikutnya ia melemparkan dua pisau ke arah Riyu dan siap menghunjam punggung Riyu.
Trang … trang …

Dua pisau–yang hendak menghunjam punggung Riyu–terpental setelah Riyu memberikan serangan balasan saat kakinya menapak di dahan dengan cepat ia berbalik dengan mengirim tiga buah jarum. Dua buah jarum beradu dengan dua pisau tadi. Sedang sebuah jarum lagi melesat ke arah Rega. Rega menyeringai, mudah saja baginya untuk mengelak dari sebuah jarum, namun tiba-tiba seringai Rega harus luntur, betapa  tidak? Sebuah jarum tadi berubah menjadi puluhan jarum yang akan menghujani tubuhnya. Tanpa malu-malu  Rega mencabut pedang yang bertengger di punggungnya dengan secepat kilat.

Wuussshh..

Akibat tebasan pedangnya keluarlah angin yang menderu mementalkan puluhan jarum tadi. Namun …,
Ssstt!

Sebuah jarum ternyata dapat lolos dari sapuan angin tadi dan berhasil memberikan goresan luka di pelipis kanan Rega.
“Riyuuu….!!!” teriak Rega. Ia benar-benar geram.
“Hahaha … ternyata kau tetap lamban mengelak ya?” ejek Riyu.
“Diam kau! Sebaiknya kau  menyerah atau aku akan bertindak lebih!” 
“Ayolah Rega, ubah sikap keras kepalamu! Kita tak perlu melakukan ini!” timpal Riyu.
Riyu sebenarnya cemas. Bukan itu saja, ia sudah letih setelah kurang lebih satu jam menghindar dari Rega.
Rega menambah kecepatan. Kini ia menyamai langkah Riyu.

“Seenaknya kau berbicara, setelah apa yang kau lakukan dan tidak bertanggung jawab! Rasakan iniiii!!”
Bak halilintar di siang bolong, Riyu kaget sekali. Tiba-tiba Rega menghadang di depannya setelah Rega melangkah lebih cepat darinya.
Wusssh

Pedang Rega mengayun mencoba menebas Riyu. Tanpa pikir panjang Riyu mencabut pedang yang tergantung di pinggangnya.

(Ilustrasi –yang tak sesuai– diambil dari google. @_@ nu penting aya gambaran. 😛)

Traangg!

Pedang Rega dan pedang Riyu beradu. Tenaga pada pedang Rega lebih kuat membuat Riyu terpental kebawah. 
Dengan ringan sekali Rega terjun ke tanah mengikuti Riyu. Kini tanahlah yang jadi pijakan mereka. 
Hening.
“Tak bisakah kita menghentikan ini?” ucap Riyu memecah kesunyian.
“TIDAK BISA SAMPAI KAU BERTANGGUNG JAWAB!” 

Tanpa ba-bi-bu lagi Rega menyerang Riyu dengan cepat. Sebisa mungkin Riyu menangkis dan menyerang balik. Pertarungan mereka sangat sengit dan cukup lama. Hiruk pikuk suara pedang yang beradu meramaikan hutan. Serangan empat lima yang bertubi-tubi dari Rega membuat Riyu terdesak.  

Tak jarang Riyu terkena tebasan pedang Rega dan membuatnya terluka parah.
Riyu hanya bertahan. Ia tak diberi kesempatan oleh Rega untuk balik menyerang. Sampai suatu ketika tendangan kilat Rega memaksa pedang Riyu terlepas dari genggamannya dan terpental jauh. Detik berikutnya, Rega mengayunkan pedangnya pada lawan yang kini tak bersenjata. 
Tiba-tiba…

“HENTIKAN!”
Mendengar hal itu Rega berhenti menyerang.
“Kau menang Rega, kau hebat kuakui hal itu. Sekarang apa maumu?”
Tergurat senyuman di wajah Rega setelah mendengar ucapan Riyu.
“Tanggung jawabmu sebagai pendekar!” jawab Rega.
Riyu mendengus kesal, lantas  berucap,

“Baiklah-baiklah aku akan mengganti gehumu yang telah kumakan.”
“Ciyus?” tanya Rega.
“Iyelah, eykeu gak mau mati hanya karena ini, Ciin!”
“Kahkahkah” Rega terkekeh, “terimakasih,” lanjutnya seraya memapah Riyu yang terluka parah.

2013 (telah disunting 2017). Yang jomblo kapan disunting? Eh. 


Tulisan Jadoel. 

Ya, cerita itu adalah cerita lama yang saya buat sekitar tahun 2013 kalau tidak salah. Jauh sebelum saya mengenal dunia kepnulisan, namun sedang hobi menonton Naruto dan membaca cerita silat.

Sebenarnya ini bisa dibilang saduran (barangkali?). Karena twistnya bukan lahir dari pemikiran saya. Ya, bertarung sampai hampir mati cuma soal makanan?! 

Gelo! @_@

Saya mencoba mencari induk (?) cerita ini, namun tak kunjung saya temukan. 😦

Siapa pun pemilik twist itu, semoga arwahnya tenang di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Woooy! Emang doi sudah meninggal?  -_-#

Warung Kenangan

Published Juni 11, 2017 by Reddish

Warung ini bukan tempat untuk merekonstruksikan masa lalu, bukan tempat untuk bernostalgia. Bukan. Warung Kenangan menjadikan kenangan sebagai alat tukarnya. Siapa pun akan mendapatkan sesuatu yang ia inginkan, asal ia mau menukarnya dengan kenangan yang dimiliki.
Berapa harga sebuah kenangan? Hingga ia menjadi sebuah alat tukar di Warung Kenangan. Apa sesuatu yang menjadi alat tukar itu sesuatu yang dianggap berharga, atau justru sesuatu yang tidak benar-benar istimewa?

Hmmm. 

Barangkali Anda berfikir, kemungkinan, anak-anak mudalah yang akan menyesaki tempat itu.

Benar, Warung Kenangan di Negeri Seribu Fajar selalu gegap dengan  pengunjung yang kebanyakan dari mereka anak muda. Mereka berjejalan di mulut pintu masuk warung.

Apa mungkin Warung Kenangan didirikan awalnya untuk membantu para remaja yang susah move on atau melupakan kenangan masa lalu dari makhluk yang bergelar mantan? Bukankah dengan adanya Warung Kenangan mereka dibantu untuk terlepas dari bayang-bayang masa lalu, dari sosok mengerikan. Sepertinya bayangan mantan lebih mengerikan ketimbang raja setan.

Dengan adanya warung ini, mereka tak mesti bersusah-payah untuk menjalani terapi move on setelah sebuah hubungan kandas, kan? Mereka hanya perlu berkunjung ke Negeri Seribu Fajar. Sebuah negeri yang tak bisa dilacak lewat google Earth, google Maps, apalagi oleh peta manual, negeri tempat di mana  Warung Kenangan ini berdiri.

Akan tetapi, apa iya mereka yang datang itu untuk menukar kenangan? Atau bisa saja mereka hanya sekadar berkunjung. Sekadar numpang eksis barangkali, kemudian selfie, meng-uploadnya ke sosial media biar trendy, dan bukan bertujuan untuk melepas kenangan, atau menghilangkan bayangan MANTAN. Terlebih mantan terindah, relakah mereka menghapusnya begitu saja?

(untungnya, kamera dilarang di tempat itu).
(Ngerampok di auroravillage.com

Ah, berbicara soal kenangan dan mantan adalah perkara klise, namun, pengaruhnya bagi kelangsungan masa depan tidaklah sepele. Anda pasti setuju, kan? Ya, begitulah beberapa anak muda yang berkunjung  mengungkapkan pendapatnya ketika mengantri.
“Selamat fajar, Mbak!”

“Ya, selamat … fajar(?)” Mbak ini tertawa. “Rasanya aneh,” lanjutnya.

“Aneh kenapa, Mbak?” Si penanya mengerut kening.

“Lah, iya. Saya seumur hidup baru bilang ‘selamat fajar’, Mas. Hahaha.” 

“Ini kan Negeri yang selalu berwaktu fajar, Mbak. Negeri yang selalu terselimuti cahaya fajar.”

“Oh….”

“Jadi, Mbak, saya mau mengganggu waktunya sebentar. Boleh?”

“Loh, dari tadi bukannya sudah ganggu saya?”

Si penanya tertawa. “Maaf kalau begitu. Saya akan mewawancari sebentar.”

“Mas itu wartawan?”

“Bukan. Saya cuma penulis.”

“Penulis berita maksudnya?”

“Bukan. Saya penulis kesunyian.”

Perempuan tersebut memutar matanya malas.

“Begini, Mbak ke sini bertujuan apa? Apa Mbak sedang patah hati dan gagal move on?”

“Hmmm. Tidak.”

“Lalu tujuan Mbak?”

“Ingin ngusir mantan dari ingatan.” Lalu wajahnya murung.

Nah, kan!

Warung Kenangan. Bukan tempat merekonstruksi masa lalu, bukan tempat bernostalgia. Bukan. Warung Kenangan, kadang kala dikunjungi agar ingatan terbebas dari  mantan.

Di lain waktu, lelaki penanya itu kembali menanyai pengunjung Warung Kenangan, tentunya dengan orang yang berbeda dan jawaban yang berbeda pula.

“Halo, Mas?”

Lelaki yang mengenakan kaos salah satu klub sepak bola Eropa itu menengok. Ia bagian dari para pengantri yang berhimpitan di warung itu, dan menyahut, “Hm? Siapa ya?”

“Saya penulis, Mas.”

“Saya juga penulis.”

“Waaah…. tapi saya itu penulis kesunyian, Mas.”

“Saya juga. Malahan, saya penulis paaling kesunyian. Kalau tidak percaya saya punya sertifikatnya, loh. ”

Beberapa pengunjung wanita yang tengah mengantri memerhatikan dua lelaki itu. 

“Apa yang mereka lakukan? Apa mereka berdua sedang mengobrol?”

Pengunjung lain menyahut, “Iya, aneh sekali. Lihat! Ekspresi mereka berubah-ubah. Mungkin mereka sedang membicarakan sesuatu.”

“Tapi bagaimana bisa mengobrol tanpa suara dan tanpa gerakan bibir?”

Perempuan tua  angkat bicara. “Ada jenis manusia kesunyian. Jika dengan sejenisnya mereka bisa bicara tanpa suara, tanpa menggerakkan bibir, hanya tampak ekspresinya saja. Namun sesungguhnya mereka berkomunikasi lewat partikel-partikel kesunyian yang mereka miliki.”

“Oooh.”

Kembali ke lelaki penulis kesunyian dan lelaki penulis paling kesunyian.

Si penulis kesunyian memulai pertanyaan. “Omong-omong, Mas Penulis Paling Kesunyian dapat nomor antrian ke berapa?”

“Ke 2345678.”

“Wah… Apa alasan Mas datang ke warung ini? Menghapus ingatan tentang mantan?”

“Ah, itu alasan bagi anak-anak muda patah hati. Saya ke sini mau cari lotek.”

“Lotek?”

“Iya, barangkali di warung ini ada lotek paling enak sedunia,” lanjutnya lagi dengan tersenyum.

Apa lotek lebih berharga daripada kenangan? Kenangan seperti apa yang pantas  ditukar dengan lotek? Atau, lotek seperti apa yang pantas ditukar dengan kenangan?

Warung Kenangan. Orang-orang rela berjejalan di pintu masuk, bahkan mengular panjang demi menukar kenangan dengan hal yang mereka inginkan. Tak ada yang istimewa dengan bangunan warung ini. Warung Kenangan sebagaimana warung pada umumnya. Hanya saja, pintu keluarnya entah di mana? Tidak diketahui. Rahasia. Bahkan yang pernah mengunjungi pun tidak mau membocorkannya. 

Konon, menurut kabar selintingan yang tak jelas perawinya siapa,  di dalam warung penuh dengan larikan cahaya fajar yang berlesatan, dan berhias aurora yang berganti-ganti. Hanya mereka yang pernah masuk yang menyaksikan keluarbiasaan panorama ruangan dalam warung itu. 

Sebuah acara talk show pernah mengundang tiga orang yang menyaksikan langsung kedalaman warung fenomenal di Negeri Seribu Fajar. 

Lelaki yang berperan sebagai host itu memulai acara. “Baik, pemirsa, bintang tamu kita malam ini adalah tiga orang yang pernah berkunjung ke Warung Kenangan.” Pandangannya beralih ke para bintang tamu. “Siapa nama Anda?”

“Nama saya, atau nama anak muda di sebelah saya, atau nama mbak di sebelahnya anak muda yang ada di sebelah saya?” Lelaki yang diperkirakan berumur tidak terlalu tua balik bertanya.

“Ya, nama Anda dulu.”

“Nama saya Midas.”

“Lalu nama anak muda di sebelah Anda, Pak Midas?”

“Wah, saya tidak tahu. Mas tanya langsung saja.”

Host tersebut tercengang. “Baiklah, siapa namamu, Anak Muda?”

“Nama saya Ujang, Anak Tua.”

Bintang tamu perempuan tersenyum setipis kabut mendengar jawaban Ujang.

“Dan siapa nama Anda, Mbak?”

“Isaura.” Ia tersenyum lagi, masih dengan senyuman setipis kabut. Semua orang terpana beberapa detik.

“Ehem!” Lelaki yang tubuhnya dibungkus pakaian serba hitam itu sepertinya berdehem demi memfokuskan kembali seluruh perasaannya. “Langsung saja, seperti apa kesan Warung Kenangan di mata Anda semua?” tanya host itu.

“Yang jawab saya dulu, atau anak muda ini, atau mbak pemilik senyuman setipis kabut, Mas?” kata Midas.

“Ya, Anda dulu, Pak Midas.”

“Wah…. Luar biasa sekali, Mas. Pokoknya sulit dijelaskan dengan kata-kata.”

“Kalau menurutmu, Ujang, bisa dijelaskan bagaimana keadaan Warung Kenangan?”

“Luar biasa sekali dan sulit dijelaskan dengan kata-kata, Mas.”

Host tersebut menyampingkan wajahnya dan berbisik kepada penonton, “Perasaan jawaban mereka berdua sama. Nggak ada bedanya.”

Lalu ia menoleh ke bintang tamu paling ujung, perempuan yang memiliki senyuman setipis kabut. Namun,  sebelum ia melemparkan pertanyaan, perempuan itu tersenyum seraya mengangguk dan berkata, “Jawaban saya sama, Mas.”

Speechlees! Host terdiam sampai waktu yang tak ditentukan. Kemudian tampaklah perempuan muda, yang belakangan diketahui sebagai asisten host datang menyadarkannya. “Mas, eling, Mas! Acara belum selesai!” serunya dengan menampar bolak-balik lelaki itu, akhirnya ia tersadar.

“Maaf, ada gangguan kecil.” Ia berkata sambil membenarkan posisi duduknya. “Pertanyaan selanjutnya, Menurut rumor, banyak yang ke sana karena ingin terbebas dari bayang-bayang mantan, nah apa tujuan Anda ke Warung Kenangan? Ingin mengenyahkan mantan juga?”

“Yang jawab saya dulu atau siapa dulu?”

“Anda, Pak Midas!” jawab host lelaki itu dengan nada meninggi yang agak ditahan.

“Waah… itu rahasia, Mas.”

Laki-laki itu, yang berperan sebagai host, terpejam. Pada tulang rahangnya tampak mengeras. Dada naik turun, perputaran napasnya terdengar kasar. Tatapannya terbuka, bola api sekan-akan membakar matanya, lalu telunjuk itu mengarah kepada Ujang. Giliran anak muda berbicara.

“Rahasia, Mas.”

Lagi, telunjuknya beralih pada Isaura. Perempuan itu tersenyum dan mengangguk.

“Cukup!” potongnya cepat sebelum Isaura berbicara. Host pun beridiri. “Bubar! Bubar! Bintang tamu apa ini?! Absurd! Jawabannya sama semua. Kalian bertiga, silakan angkat kaki!”

Midas, Ujang dan Isaura saling berpandangan dan mengangkat bahu. Kemudian mereka lenyap di pintu keluar.

Sang pemandu acara berkacak pinggang. Napasnya masih belum stabil. “Aarrrgh! Kalau begini jadinya, lebih baik saya sendiri yang datang ke Warung Kenangan.” Dan benar, sebelum ia pergi, ia berpesan, “Batalkan semua acara sampai saya kembali dari sana!”

Warung Kenangan. Dikunjungi namun tetap menjadi misteri. Seperti apa? Dan bagaimana? Hanya mereka yang benar-benar pernah menginjakkan kaki dan melihat langsung seperti apa Warung Kenangan itu. Ya, begitulah, sulit dijelaskan lewat kata dan cerita.

Oh, ya, jika Anda bermaksud ke Warung Kenangan, naiklah kereta yang bertujuan ke Negeri Seribu Fajar, dan itu hanya ada di Tasikmalaya.

Warung Kenangan, 09 November 2016. 

 –Untuk mereka; yang saya kenang dan saya cintai (Hellehh…  Lebay!  😛😛😂)
Catatan: Gambar hanya ilustrasi yang agak mirip, tapi miripnya cuma samenel. 😁😛

AKU BERPIKIR DAN AKU BERHENTI

Published Januari 20, 2017 by Reddish

​Aku berpikir, sebaiknya aku bersegera sebelum semuanya benar-benar tiba.

Tentang rindu, kepedihan, keputusasaan, hayalan yang mencandu, puisi-puisi ‘basi’, sekarang bagiku tak berguna. Semua hanya kesia-siaan dan mengkorup waktu saja.
Romantika dalam kehidupan memang ada, namun peperangan  dalam kehidupan di negeri ini jelas nyata! 

Tanah airku lebih berharga ketimbang perasaan yang telah  berwindu-windu nelangsa. Tak dimungkiri, kisah cinta dalam situasi perang hanya setitik warna, sisanya adalah pertumpahan darah dan banjir air mata. Aku telah kembali mengenakan dogi, dan mengukuhkan kembali  zirah petarungku dengan obi, menuju dojo, tempat berlatih diri. 

Aku memang tidak tahu kapan ‘peperangan’ akan terjadi. Setidaknya ketika pertikaian tiba-tiba meletus, dengan segenap ‘jiwa baru’, aku siap memerangi  orang-orang asing yang hendak menjajah negeri. Aku akan menjadi satu dari sekian juta prajurit pertiwi. Aku akan menjadi satu dari sekian juta prajurit yang memekik takbir di bawah panji-panji Ilahi. 

Aku berpikir, curahan-curahan tentang rindu dan kenelangsaan hanya menumpulkan hati. Serangkaian kata-kata basi membuat jiwa terkapar dan lupa diri, seakan-akan dirilah yang paling menderita, yang paling terluka, yang paling merasakan apa itu neraka dunia. Maka aku berhenti dari kata-kata ilusi, dari kata-kata yang melemahkan diri, dari kata-kata yang membuatku menjadi hipokrisi dan takut mati.

Saat aku mencermati serangkaian tragedi di negeri pertiwi, satu demi satu peristiwa menanggalkan topeng orang-orang yang sekian lama tertutupi, kini menampakkan jati diri, ke mana mereka beraliansi, pada siapa mereka memihak diri, dengan alasan apa mereka memilih suatu aliansi. Tampaklah, siapa sebenarnya yang ‘ditunggangi’. 
Saat rakyat mencari keadilan diabaikan. Pelanggar konstitusi dibiarkan berkeliaran. Rakyat mengadu atas ketidakpuasan putusan dan hendak berdemo lagi, malah diancam akan dibubarkan.  Elite politik yang berdalih menggelar parade kebudayaan dan terang-terangan menabrak peraturan tidak jelas dibagaimanakan? 
Rakyat yang bereaksi atas ketidakadilan dan ingin menyuarakan aspirasi justru digembosi, dihalang-halangi,  tidak boleh sewa alat transportasi. Bukankah itu tindakan inkonstitusi? Dan ‘kegiatan‘ yang jelas-jelas dipolitisasi malah difasilitasi. Kelompok yang katanya siap jaga negeri, nyatanya rumput saja tak bisa dijaga sama sekali. Duh…

Ada segolongan yang sering kali teriak-teriak ‘toleransi’ justru berpihak pada orang yang menabrak batas-batas toleransi. Mereka yang menuduh golongan lain ‘anti konstitusi’, malah membela mati-matian pelaku inkonstitusi.
Segolongan lain yang dituding dan sering difitnah:

“Radikal!”

Justru paling cinta kedamaian.

“Anti konstitusi!”

Justru terdepan  menegakan dan mengamalkan  konstitusi.

“Intoleran!”

Malah paling tahu bagaimana cara menghargai perbedaan.

“Pemecah belah negeri!”

Justru telah menyatukan sekian juta masyarakat dari penjuru bumi pertiwi TANPA dibayari.

“Makar!”

Padahal cuma bawa sejadah, sama kitab suci dibilang mau gulingkan pemerintahan. Cuma berdoa sama shalat berjamaah dituduh mau bikin kerusuhan.
Aku berpikir, keadilan menjadi barang yang sulit dicari di negeri ini. Penegakan keadilan dinomorduakan dengan dalih pesta demokrasi.

 Hukum seakan tumpul dihadapan satu orang yang mulutnya semprul! 
Aku berpikir, bahwa orang-orang ‘sinting’ tengah menggelar sandiwara. Segala drama kebohongan dilakukan agar orang lain kasihan dan percaya, sekaligus pengalihan berita.

“Waah … kirain buaya nangis hanya mitos!”

“Jangan mau dibohongi pake air mata!”

“Kalau percaya, dibodohi itu!”
Sedemikian rencana dilakoni ‘mereka’ demi mengalihkan pemberitaan ‘utama’ dan memunculkan topik terkini tentang panci. Sayangnya, meski digembor-gemborkan di tipi, panci tak diminati, bahkan jadi guyonan karena isi ‘Sinetron Panci’ sudah basi dan para pemainnya tampak tak bisa menjiwai.

Sekarang panci, nanti apa lagi?

Duh….

Namun, ada saja orang-orang yang berkomentar, menyatakan ketidakpedulian atas apa yang terjadi.

“Ngomongin politik terus, pasti gara-gara sering nonton tipi!”

“Politik nggak usah diurusi!”

“Iya, lebih baik masa bodo. Bikin cape ati!”
Bagitulah, malah asyik membahas panci.

“Hiii… panci.”

“Kenapa sama panci?”

“Tidak tahu. Katanya istana jadi rame gara-gara panci.”

“Waaah?!”

Aku berpikir dan aku berhenti dari keapatisan pada kondisi negeri. Aku berpikir dan aku berhenti dari kebungkaman terhadap gempuran orang asing dan aseng yang menginginkan bumi pertiwi. Aku berpikir dan aku berhenti dari keragu-raguan akan ‘pekai’ yang siap bangkit kembali. Mereka benar-benar telah menampakkan diri! 
Mengapa banyak sekali yang kami hadapi? 

“Mungkin negeriku sedang diuji.”
Aku berpikir,  mungkin rakyat yang peduli akan berkata,  “Lebih baik tetap hati-hati, perbanyak doa pada Ilahi dan  berhenti memikirkan panci.”

#Al-Humairy

Robiul Awal 1438/Desember, 2016

Tidak Apa-Apa

Published November 9, 2016 by Reddish

Kita telah meletakkan jarak
menjadi kesunyian yang paling purbawi

Saat kau memilih diam

Aku pun bungkam

Dan kesunyian telah nyata

Di depan m a t a

Dan jarak telah membentang

Teramat panjang!

Mengekang

Menjadikan hilang!

H i l a n g, 

Tidak bersisa apa-apa

Kukatakan, “Tidak apa-apa. 

Tak jadi mengapa.”

Memang kita berawal papa

Apa-apa fana

Tak bertahan lama

Maka,

“Tidak apa-apa papa atas apa-apa yang fana.”

Tidak apa-apa. Tidak jadi mengapa. Karena kita juga fana.
Sharmay, November, 2016

UNTUK ORANG (TER)ASING

Published Mei 18, 2016 by Reddish

[Dimuat di Kedaulatan Rakyat (Jogja) edisi Minggu, 15 Mei 2016]

Oleh: Sharmay H. A :mrgreen:

========================================================================

Midas, Kita Sama-sama (ter)Asing

Kekonyolan adalah mengecek sebuah kotak berkali-kali padahal sudah tahu hanya kesia-siaan yang ada.

Parahnya, saya melakukan hal itu berkali-kali, sampai diri saya berubah menjadi kekonyolan.
Saya tidak tahu kenapa kamu ‘menghindar’, tak memberi ruang bagi saya untuk sekadar berkata ‘salam’, dan menanya kabar.
Barangkali kamu ‘uzlah, karena kamu telah menemukan hakikat. Ya, ‘uzlah dari ‘hectic life’ dan para hipokrisi yang menambah kebisingan dengan ucapan dan tampang-tampang pencitraan.
Kamu menjatuhkan diri pada keapaadaanmu; idealis, totalitas, misterius, genius–seperti apa yang kamu katakan dan saya rasakan.
Namun, terkadang kamu muncul di permukaan dengan topeng, berkamuflase menjadi sosok jenaka.
Hebat!
Dan orang-orang–bahkan awalnya saya–mengira kamu berasal dari lautan tenang dan damai.
Perlahan, kejadian yang saya temui, setiap perkataanmu yang mengerutkan kening saya karena sesak dengan konotasi, pemisalan dan misteri, kini dapat dimengerti walau tidak keseluruhan. Yang pasti kamu bukan berasal dari lautan biasa, kamu tumbuh-kembang di perairan yang ombaknya gagah. Saya tidak tahu berapa kali kamu terhempas, tergulung, bahkan hampir tenggelam di sana. Tapi, itu membuat kamu bertahan dengan karakter keapaadaanmu, saat kebanyakan orang terseret ke pusaran samudera dengan mudah dalam keadaan abu-abu.
Kamu adalah orang asing yang terasing. Begitupun saya.
Biarkan dunia beranggapan seperti itu. Mungkin dunialah yang menjadi asing bagi kita.
Saya mengamini bahwa kamu orang asing. Orang asing yang saya rindukan.
Bagaimana mungkin?
Tapi begitulah. Merindu tak harus pada seseorang yang dikenal saja.
Terlalu berlebihan?
Demikianlah adanya. Jika dijelaskan terlalu pelik.
Sama pelik dengan sebuah perpisahan. Midas, sebelumnya saya beranggapan tak ada yang mesti dirisaukan dari perpisahan. Karena ia amatlah mudah. Tak usah ditangisi, tak mesti mengadakan selebrasi. Sebab barangkali dunia ini memang diciptakan untuk sebuah perpisahan [1]. Seperti kata Sungging Raga, “Hidup sejatinya mengenai perputaran perjumpaan dan perpisahan tanpa henti.”
Dan bagi saya perpisahan itu hanya dalam drama atau cerita-cerita cinta picisan saja.
Salah!
Saya dijungkirbalikan kenyataan.
Tampaknya kenyataan tertawa terbahak melihat saya terpahit-pahit menelan sebuah kata yang namanya perpisahan. Padahal saya telah mempersiapkan mental jauh-jauh hari, manakala perpisahan itu datang.
Nyatanya ia menghantam lebih cepat, tepat di ulu hati saat saya lengah, hingga saya menggelepar dengan ketidakberdayaan. Mengenaskan.
Kamu bisa ajari saya bagaimana mengusir kenangan yang bergentayangan yang lebih menyeramkan dari para penunggu sungai?
Padahal kenangan itu hanya berwujud sekumpulan kata-kata, bukan fragmen-fragmen yang nyata.
Tetapi, lebih menyeramkan lagi–serasa–menjadi orang asing yang tersesat di planet antah-berantah, Midas.
Apa jarak sebegitu hebat mengubah sesuatu yang dikenal (dekat) menjadi (ter)asing?
Walau begitu, kamu tetap saya rindukan, Midas.
Jangan bosan dan melipat kening, kamu akan menemukan kata ‘asing’ yang berserakan. Sebab kata (ter)asing berdenyar dan menjadi headline di pikiran saya.
Kamu tahu, Midas, kamu yang memupuk sisi humor saya. Kini humor itu menumpul, mengusang dan mengasing saat kamu dan saya sama-sama (ter)asing.
Atau barangkali dari dulu kamu menganggap saya alien (makhluk asing) tersesat yang jatuh ke bumi dan ‘berjumpa’ denganmu; dengan pesona keapadaanmu, lalu saya berangan untuk bertransformasi menjadi makhluk bumi, padahal itu suatu kemustahilan!
Ah, perpisahan benar-benar mencipta jarak bermiliyar tahun cahaya dan membuat kita merasa (ter)asing lagi.
Karena itu pula, tanggal yang berguguran di tubuh kalender begitu pelit. Waktu serupa siput linglung. Untuk melipat detik pun seperti menggulung tahun. Tampaknya kenyataan dan waktu berkomplot mengolok-olok saya. Biar saya lama terpahit-pahit dalam keterpisahan yang tejadi, biar saya mewujud kepahitan dan biar saya menjadi (ter)asing.
Sadar bahwa saya benar-benar makhluk asing yang tersesat.
Kamu tahu? Pulang teramat berat. Sebab, kini kepulangan saya memikul kenangan seberat massa galaksi yang mustahil akan saya pikul.
Kendati begitu, adalah keharusan bagi saya untuk pulang pada ‘galaksi’ di mana saya berasal, tampaknya saya terlalu lancang untuk tersesat.
Barangkali adanya saya tidak boleh tidak, harus dienyahkan. Benar?
Karena ketersesatan saya adalalah kelancangan.
Ah, Midas, padahal tiada daya dalam diri saya. Atas lajunya perasaan ini pun saya tak kuasa, bahkan sekadar menghapus denyaran kata (ter)asing yang menjumud di pikiran.

Yang Merindukanmu;
Isaura
26 April, 2016
_

Catatan:
[1]Cerpen Sihir Tumis Ibu-Risda Nur Widia

========================================================================

“Dan begitulah wanita, mengandalkan perasaannya sendiri.”[*]
Aku melipat selembar surat tersebut sembari mengucap sebuah kalimat dalam cerpennya Sungging Raga. Isaura dan aku sama-sama menggemari karya penulis penyuka Arsenal dan kereta api itu. Tak aneh, kami sering mengutip kata-kata Sungging Raga.
Aku menggeleng-geleng kepala. Tak habis pikir, Isaura benar-benar beranggapan aku menjauhinya dan menganggapku asing. Ia juga mengambil langkah mundur. Aku tahu itu. Tampak dari suratnya. Ia menggunakan pengantar “saya”. Dirinya pernah berkata saat kutanya, mengapa ia ber-aku-kamu kepada orang tertentu, termasuk aku? Padahal ia selalu ber-saya-Anda- saat berbincang dengan kebanyakan orang.
“Aku menggunakan “saya” untuk kenalan dan orang asing. Dan ber-aku-kamu hanya untuk orang terdekat atau bisa juga kepada orang asing, sebagai tanda ketertarikanku padanya. Misalnya, kamu, Midas.”
Ia mengakhiri perkataannya dengan tawa. Dasar!
Tunggulah, Isaura, aku akan membalas suratmu agar perasaan keterasinganmu itu membuah jawaban. Maafkan aku, Isaura.

Tasikmalaya, 5-Mei-2016
_
[*]Cerpen Sebatang Pohon di Loftus Road-Sungging Raga
#SharmayHA_cerpen1

Ketidakjelasan Sesuatu yang Samar

Published April 20, 2016 by Reddish

Perpisahan–sementara–itu untuk pertemuan–abadi– selanjutnya.
Cepat atau lambat…
Suka atau tidak suka…
Pasti terjadi. Entah ini terlalu cepat–karena saya sedang nyaman-nyamannya–atau barangkali begitu lambat?
Ketahuilah, jauh-jauh hari telah saya rencanakan juga, hanya amat berat rasanya.
Ya, ini akan terjadi. Pasti.

Ada yang hilang dari dalam diri saya. Baca selengkapnya →