Arsip

All posts for the month Februari, 2016

KAMU TERLALU TAKUT?

Published Februari 20, 2016 by Reddish

Kamu Terlalu Takut?

Berhentilah membesar-besarkan duga yang tak nyata! Kamu tahu, pagi tadi membuktikan spekulasimu meleset, jauh! Semua baik-baik saja. Dan kamu, telah lebih dulu bersembunyi, ragu untuk melangkah, takut pada celaan yang bahkan hanya ada dalam khayalanmu saja.

Andai kamu lebih cepat mengambil keputusan, ah … tentu banyak hal yang kamu dapat. Dan batinmu takkan tersiksa sekian purnama.
Sudahlah, tak usah berandai-andai. Tuhan tak menyukai hamba-Nya berlindung di balik kata itu. Percuma. Tak mengubah apapun! Baca selengkapnya →

Iklan

TANGISAN SI GADIS

Published Februari 13, 2016 by Reddish

Alkisah ….
Setelah 14 abad lebih peristiwa hijrahnya ‘Al-Mustafaa’,  beribu kilometer (mungkin?) dari Jazirah Arab, di sudut kamar, seorang gadis menangis tersedu di malam hari.
Sebelum saya berkisah lebih lanjut, sejenak, mari menduga-duga.

Mungkin yang terlintas di benak Anda adalah ‘Apa yang membuatnya menangis?’

Terlalu picik kiranya jika Anda mengatakan bahwa ia jomblo yang meminta hujan di malam Minggu sampai menangis.
Maaf sekali ….
Sayangnya Anda benar, dia jomblo! Baca selengkapnya →

EGO

Published Februari 13, 2016 by Reddish

Seorang gadis berjalan tergesa menyusuri koridor sekolah. Suara genderang perang seolah mengiring derap langkah. Terlihat otot-otot pada tubuh gadis itu menegang. Ada aura hitam bercampur merah yang menyelimuti jiwanya. Mata gadis cantik ini jelalatan mencari sesosok mahluk yang telah mempermainkan dirinya, dan ia akan memberikan ‘hadiah’ pada mahluk itu.

 

Ketemu! Sorot netranya terkunci pada lelaki tinggi, tampan, putih berseri pula. (kahkah :v ) Kebetulan laki-laki itu berjalan ke arahnya. Gadis ini berhenti tepat di hadapan lelaki itu. Dengan kepala tertunduk dan kedua tangannya terkepal seolah sedang menahan sesuatu.

 

Dengan wajah berseri—walau agak bingung, lelaki berwajah sedikit nyerempet orang Jepang ini menyapa gadis di hadapannya, “Hai, Ayu, ada apa?”

 

Ayu mendongak, ia menatap tajam pada dua bola mata sipit itu. “Ada apa?!” Bukannya menjawab, ia malah mempertanyakan kembali ucapan si lelaki, “Tampang ‘innocent-mu, Saiful! Aku muak! Apa kau tak bisa membaca bahasa tubuhku?” sambungnya dengan suara meledak.

 

Seketika mereka menjadi pusat perhatian siswa-siswi yang ada di koridor. Saifullah—siswa nomor satu di SMAN 2—tak mau harga dirinya anjlok di hadapan rakyatnya gara-gara umpatan yang dilontarkan Ayu, ia pun bertanya lagi, “Ayu, aku sungguh tak mengerti. Kau bisa jel—“ Baca selengkapnya →