MASALAH SHARMAY

Published April 5, 2016 by Sharmay HA

Matanya menjelajahi seisi rumah itu. Asri banget, pikir gadis yang
tengah menunggu si empunya rumah. Ini pertama kali bagi Sharmay–anak
kampung baru merantau ke kota–menduduki sofa empuk (kasian banget
yak? :v ) di kediaman seorang ustadz yang baru di kenalnya beberapa
pekan lalu saat mengikuti pengajian. Namanya Ustadz Boerhan Ibrahim.
Jika Alm. Ustadz Jeffri populer dengan singkatan UJ-nya, maka Ustadz
Boerhan Ibrahim ini terkenal dengan … (pembaca isi sendiri. Gak tega
pencerita nulis UBI—eh…. _ ).

“Assalamualaikum …!” Sesosok pria yang entah berapa umurnya datang
menyapa Sharmay. “Maaf menunggu lama, Dek.”
Kaos putih dan sarung membalut tubuh pria itu. Tak lupa peci putih pun
bertengger menutupi rambutnya yang sedikit beruban.

Sharmay berdiri menyambut orang yang ditunggunya.
“Waalaikumussalam, Ustadz. Ah, nggak apa-apa, kok.” Seulas senyum
membingkai wajah sang gadis berjilbab.

“Ada perlu apa, Dek?” Tanya sang Ustadz. Tidak biasanya ada remaja
perempuan bertamu, mungkinkah dia meminta jodoh? Atau mungkin … dia
ingin menjadikan aku jodohnya? (diprotes pembaca :3 ) Ralat.
Menjadikan aku mertuanya?
Pertanyaan-pertanyaan terus berseliweran di benak Ustadz Boerhan.

“O ya, nama saya bukan Dek, Ustadz. Panggil saja saya Sharmay.”

Sejenak tercengang, lalu berkata, “Oh, itu taktik agar saya tidak usah
bertanya siapa nama–”

“Sharmay, Ustadz!” potong Sharmay cepat.

“Hadeuuh…. Iya, saya tau!” Ustadz Boerhan membuang napas, agak
kesal. Gue emang udah berumur, tapi gak telmi juga, batinnya. (#pisss
😛 )

“Ada yang ingin saya tanyakan. Sebelumnya dua hari yang lalu saya ke
sini, tapi katanya Ustadz sedang ke luar kota.” Gadis berjilbab itu
mengutarakan maksudnya.

“Iya, semalam saya baru pulang, lalu istri  menyampaikan ada gadis
yang ingin bertemu saya. Memangnya apa yang ingin Sharmay tanyakan?”

“Begini ceritanya….” Mata Sharmay menerawang ke atas seolah
menyaksikan cuplikan kisah yang diputar oleh memorinya. Pandangan
Ustadz Boerhan latah mengikuti tingkah sang tamu.


~Flashback Play~

Firasatku buruk! Sepertinya keberangkatan ke tempat perantauan
tertunda beberapa jam karena kakakku kedatangan tamu dari jauh,
katanya teman seprofesi.

“May, keberangkatan kamu ditunda sampai teman kakak  pulang, ya,
kasihan dia jauh-jauh ke mari. Hanya sebentar, kok. Jangan khawatir,
nanti kakak anterin kamu.” Kabar yang dibawanya cukup membuat hatiku
dongkol.

Aku terdiam di dapur, tiba-tiba kakak datang kembali, “Buatkan kopi
Kereta Api dua!”

“Persediaan cuma ada satu lagi, Kak!” seruku sambil membuka lemari
tempat menyimpan stok kopi sachetan [?]. _

“Ya sudah, buat satu saja untuk tamu,” tandasnya, lalu melenggang
pergi ke ruang tamu.

Kopi untuk tamu pun kuseduh. Saat akan mengaduknya, aku lupa belum
membawa sendok.  Padahal hanya sebentar kopi itu ditinggal. Ketika aku
kembali, ada seekor cicak yang tercebur ke dalam gelas kopi!

“Hei, cicak apa kau masih hidup?” tanyaku.
Tak ada jawaban.
Sepertinya cicak itu tewas seketika karena tak tahan berenang dalam air panas.

~Flashback Pause~


“Sebentar …,” Ustadz Boerhan menjeda kisah  Sharmay. “Masa Sharmay
nanya begitu sama cicak? Kenyataannya itu?” Kedua alisnya saling
bertaut, heran.

“Nggak sih, biar agak keren ceritanya dikasih bumbu fiksi. Hehehe….”
Pipi Sharmay bersemu merah dan terkekeh sumbang mendapati bola mata
pria di hadapannya  berputar malas.

Keren apanya? Ustadz Boerhan menggerutu dalam hati. -_-

“Lanjut ya?”

Sang Ustadz mengiyakan


~Flashback Play~

Menyadari cicak malang  tewas dalam kopi panas, segera kuevakuasi
mayat itu dengan sendok, lantas berlari ke luar untuk memandikan,
menyolatkan, dan menguburnya.
Bohong! Aslinya langsung dibuang ke kolam belakang rumah. :3

Saat kembali ke dapur, di meja ada keranjang belanjaan, itu artinya
istri kakak sudah pulang dari pasar. Tapi … dimana gelas itu? Tadi
di atas meja. Lenyap ke mana?
Tak lama wanita yang dinikahi oleh kakakku datang dari ruang tamu
membawa nampan.
Celaka!

“Kakak, gelas berisi kopi yang tadi di sini ke mana? Apa Kakak
membawanya ke depan?” Dengan tempo amat cepat aku menghunjaninya
dengan pertanyaan, saking panik.

Entah kaget atau apalah, istri kakak hanya menjawab dengan anggukan
saja. Tapi, dari tatapannya meminta penjelasan, ‘Kenapa memang?’

Kedua tanganku membekap mulut yang menganga. Aku tak percaya ini!
Sampai tamu itu pulang, aku tak berani ke luar kamar.
Syok!


~Flashback End~

“Makanya kemarin sepulang dari kampung, sorenya saya langsung ke rumah
Ustadz, mengabaikan rasa lelah demi menanyakan hukum kopi itu. Halal
atau haram, Ustadz?”

“Hmm…,” tangan kiri sang Ustadz memainkan jenggotnya sembari
memejamkan mata. Memang Ustadz Boerhan ini ketika mengisi pengajian
sering membahas persoalan yang berkaitan dengan ilmu Fiqih. Maka dari
itu Sharmay menemuinya.

“Hukumnya bisa halal bisa haram,” lanjutnya.

“Loh, itu  bangkai kecebur ke dalam kopi , Ustadz! Kok bisa halal?”

“Bisa, walaupun terkena  bangkai. Asal bangkainya itu sejenis hewan
yang tidak mengalir darah banyak ketika sebagian tubuhnya dilukai.
Seperti cicak, lalat, lebah, semut dan semacamnya. Kalau kopi itu
kecebur bangkai ayam jadi haram, sebab ayam adalah jenis hewan yang
ketika dilukai darahnya akan keluar banyak,” papar Ustadz Boerhan.

“Oh … saya mengerti, tapi kalau ayam kecebur ke dalam gelas
sepertinya mustahil, Ustadz!” Sharmay protes, “Mana ada! Gak muat!”

Lagi, Ustadz memutar bola matanya malas dan membatin, hadeuuh!
“Ya … misalkan! Bukan air kopi saja, pokoknya setiap air yang kurang
dari dua qullah; mau seember, sebaskom ketika kejatuhi bangkai ayam
atau hewan semacamnya menjadi najis dan haram diminum, apalagi dipakai
bersuci.”

Begitu seriusnya Sharmay memerhatikan penjelasan dari pria itu. Entah
benar-benar paham atau … entahlah! Pencerita juga bingung. _

“Kalau begitu, kasus cerita dari kopi saya itu tidak najis dan boleh
diminum, ya, Ustadz Boerhan?”

“Betul, tapi dengan syarat air kopi itu rasa, warna, dan aromanya
tidak berubah, Sharmay,” tambahnya.

“Ng … kalau aroma … waktu itu masih khas kopi, warna tetap hitam
pekat. Nah, kalau rasa saya nggak nyoba. Terlanjur dihidangkan.
Kalaupun  belum dihidangkan, saya mana mau nyicipin air yang tercebur
bangkai cicak. Hueekk!!” Tubuh Sharmay bergidik jijik membayangkan
dirinya meminum kopi itu.

“Satu lagi, bangkai cicak itu  tercebur bukan perbuatan manusia secara
sengaja,” Ustadz Boerhan mengambil napas sejenak, lalu, “meski kopi
itu tidak berubah warna, rasa dan aromanya, kalau sengaja tetap najis,
haram diminum.”

Sharmay termenung.
Ustadz Boerhan mengamatinya dan bergumam, anak ini terlihat lebih baik
kalau diam daripada berbicara dan memotong ucapanku. Aku harus
memakluminya, dia kan masih remaja labil.
“Sudahlah, yang lalu biarlah lalu, Sharmay. Mudah-mudahan rasanya pun
tak berubah walau bangkai cicak pernah berenang di dalamnya.”

“Semoga saja…. Kalau tamu itu tau pernah ada cicak tercebur dalam
kopi yang diminumnya … saya tak sanggup melihat mimik wajahnya.”

Sharmay dan Ustadz Boerhan tertawa berbarengan.

Hening sejenak.
Sharmay memulai kembali pembicaraan, “Kalau boleh tau, Ustad ke luar
kota ngisi ceramah ya?”

“Nggak, saya silaturahmi ke beberapa teman sesama penulis, ke Jakarta,
Bogor, Cianjur dan terakhir ke Banjar, di sana paling lama. Eh,
sebelum singgah di Banjar saya ke Italy dulu,” katanya dengan mata
menerawang mengingat perjalanan yang cukup melelahkan, namun
menyenangkan.

“Hebat!” Sharmay berdecak kagum, “Ustad silaturahmi ke Italy!”

“Indonesia bagian Tasikmalaya maksudnya.” Sang Ustadz terkekeh.

“Dua hari yang lalu saya baru pulang dari Tasik juga, Ustadz! Tepatnya
dari rumah kakak saya.” Perasaan bahagia mencuat dalam dada,  ternyata
orang yang dia kenal pernah singgah di kota kelahirannya.

“Sayangnya di Italy hanya sebentar, karena teman saya hendak pergi ke
terminal. Tapi, saya bersyukur dapat buku karyanya berjudul NEGERI
PENCURI PARFUM.” Ustadz Boerhan menyeringai. Sedangkan lawan bicaranya
menampilkan ekspresi wajah yang sulit diterjemahkan. “Kenapa Sharmay?”

“I-itu judulnya seperti novel milik kakak saya, Ustadz, namanya Bangmo
Muhammad Ridwan!”

“Jadi–kopi itu….” Ustadz Boerhan permisi untuk pergi ke belakang.

Sharmay bergeming, matanya tak berkedip beberapa detik. Apakah
pikirannya tak salah menyimpulkan.
Sharmay pun mengikuti sang Ustadz karena masih ada yang mengganjal
dalam benaknya.

“Hueeekkk…. Hueeeekkk!”
Duh Gusti, lebih baik aku tidak tau kalau kopi yang kuminum tercebur cicak mati.
Batin Ustadz Boerhan menjerit

Dengan polos Sharmay bertanya,”Ustadz, waktu itu rasa kopinya gimana?”

-Tamat-
Italy, 5-Des-15

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: