Arsip

All posts for the month Desember, 2017

​Sebuah Usaha Untuk Mengentaskan Kemiskinan Motivasi

Published Desember 31, 2017 by Sharmay HA

                                 Jepretan pribadi

“Kita tidak tahu dahsyatnya sebuah motivasi dan inspirasi.”

–NFE, hal. 36

“Karena siapa pun kita, setiap manusia punya peluang yang sama. Yang membedakan adalah seberapa keras usaha yang kita ikhtiarkan untuk merealisasikan mimpi yang diinginkan.”

–NFE, hal. 25


“Untungnya kehidupan itu nggak kayak Teh Gelxs dan Alx-Alx,  kalau hologramnya digosok yang selalu keluar: “Coba lagi, coba lagi, coba terus… ya, terus, terus… eup! Mantap!”

–Qi-eF-Si (Quote From Sharmay)

~Quote macam apa ini? Kayak lagi markirin kendaraan.~


Bismillah
Segala puji milik Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang telah memberikan begitu banyak nikmat yang tak bisa dihitung dengan angka. Rahmat dan keselamatan semoga senantiasa tercurah kepada manusia paling sempurna yang tiada duanya, yang telah menyelamatkan dunia dari kebodohan menuju kemajuan dan ketinggian akal pikiran, yang disebut Lelaki Penggenggam Hujan oleh Tasaro GK: Baginda Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam.
Ketika menulis (ceritanya sih) review Notes From England (NFE),  ponsel saya bernyanyi lagu Sami Yusuf yang berjudul Worry Ends. Dan lagi di luar sedang hujan air.

Ya iyalah, hujan air, masa hujan kenangan?! -_\ 

Begini, saya itu suka basket, dan saya suka meloncat-loncat. Karena itu saya punya kebiasaan meloncat-loncat kalo baca buku.

“Kayak pocong, dong?!”

Maksudnya, jika saya membaca buku, maka hal pertama yang saya lakukan adalah 

…. loncat kayak pocong.

Nggak.

Serius, saya nggak begitu!

Ritual saya dalam membaca itu melihat sampul depan-belakang, kata pengantar sekilas,  kemudian membaca daftar isi, lalu meloncat ke halaman yang menarik menurut saya, meloncat lagi dan lagi sampai saya dikira  pocong.

~Dikeroyok pocong~

Tunggu, memangnya pocong bisa ngeroyok? @_@

Nah, begitupun saat saya membaca Notes From England. Halaman yang pertama kali saya buka adalah halaman 159: tulisan Pak Ario tentang kisah seorang hafizah 30 juz Al-Qur’an yang kandidat Doktor di bidang kimia.
Alasan saya membaca itu pertama kali karena ketika pandangan saya tertumbuk pada kata “hafizah”  ingatan saya berlarian pada fagmen-fragmen masa lalu  :’)
Ada rasa sedih, nyeri, sakit pinggang, sakit otot, minum Oskad*n SP

disorakin pembaca


Lupakan. Ini bukan waktunya curhat, May!
“Bukan ambisi yang membawa dirimu pada kesuksesan, melainkan kesungguhanmu meraih kesuksesan itu dengan keikhlasan.”
Quote Puspita Praptiningsih ini menjadi prolog kisah Mbak Zeni Rahmawati, seorang hafizah yang berkuliah di Universitay of Aberdeen, dan quote itu sukses menampol hati saya. Plak!

Dalam buku NFE, dikisahkan perjuangan Mbak Zeni menghafal Al-Qur’an ketika menghadapi berbagai macam distraksi. 

Gaes,   distraksi saya nggak ada apa-apanya dibanding dengan beliau. Jika saya tergoda hanya dengan hal remeh-temeh, seperti: membaca cerpen melankolis, komik online,  novel, menulis status, menonton anime Boruto, tidur, makan, mandi sibuk chating WA, Fesbukan, dan hal-hal yang tidak bisa saya sebutkan di sini, maka tantangan terberat beliau menghafal Al-Qur’an itu adalah

…. mau tau? Penasaran? Selengkapnya di Notes From England, halaman 167. Hehehe.

~pembaca banting hape~


Selain itu dceritakan juga tiga alasan terbesar Mbak Zeni menghafal Qur’an, salah satunya  yang membuat saya terkesan dan saya merasa mesti menuliskannya…

…. penasaran? 

pembaca mulai emosi

Selengkapnya di bawah ini:

“… Aku ingin membuat mata dunia sadar bahwa seorang penghafal Al-Qur’an pun bisa belajar ilmu sains seperti latar belakang yang kumiliki. Seorang penghafal Al-Qur’an pun bisa menuntut ilmu umum hingga  ke jenjang doktoral, seperti para ulama terdahulu yang bisa menggabungkan pengetahuan dan hafalan Al-Qur’an  dengan ilmu-ilmu sains yang mereka miliki.”

–Hal. 163
Setelah   membaca kisah beliau, saya merenung. Barangkali, ada yang salah dengan saya. Benar. Ada yang mesti saya perbaiki. 

Beruntungnya, Pak Ario merentangkan solusi bagi yang sulit fokus dan gagal terus-menerus, seperti saya yang kesulitan  menghadapi distraksi ketika ingin merealisasikan sesuatu.


Pembaca: “Jadi ini teh mau review atau curhat sih? 

Sharmay: Mau jualan Aqua, gaes. :’)


Ya. Hampir lupa, saya belum memperkenalkan buku Notes From England. Beberapa contoh review buku yang saya baca, biasanya dalam mereview itu mesti diberikan penjelasan. Ini teh buku tentang apa, siapa pengarangnya,  berapa halaman, dan lain-lain.

Baik saya akan mencoba menuliskannya.

Judul Buku: Notes From England (NFE)

(Sudah tahulah ya, dari tadi saya sebut)

Penulis: Ario Muhammad dan Fissilmi Hamida

Penerbit: PT Elex Media Komputindo

Tahun Terbit: Cetakan 1,  2017

Kota: Jakarta

Jumlah Halaman: 236 hlm.


Pembaca: “memangnya Sharmay lagi mereview? Katanya lagi jualan Aqua?”

Sharmay: T_T gigit tembok


Jadi, gaes, seperti judulnya, buku ini berisi cerita-cerita yang berlatarkan Inggris tentang dua anak  dari kaki Gunung Sumbing, Magelang (Mbak Fissilmi atau Mbak Mimi), dan desa terpencil di Halmahera (Pak Ario) ketik menggapai mimpi untuk studi di negeri Ratu Elizabeth.

Kenal Ratu Elizabeth kan?

Apa? Nggak kenal?!

Sama! Ratu Elizabeth  belum pernah kenalan sama saya, sih.

~Halloooow… tibalik meureun! Siapa kamu, Sharmay?!~

Hehehe…


Selain kisah perjuang Pak Ario dan Mbak Mimi meraih cita-cita, diceritakan juga pernak-pernik perjalanan mereka selama hidup di Inggris. Juga kisah para atlet, pengusaha dan salah satu Hallyu Star (sebutan entertainer asal Korea Selatan yang mendunia), seperti  G-Dragon.
Tahu G-Dragon kan? 

Itu loh BIGBANG….

salah satu teori terbentuknya semesta.

~dilempar ke got~


Omong-omong soal G-Dragon, saya nggak mengenalnya. 

Tetapi saya pernah mendengar namanya dari teman saya yang tentu saja penggemar Oppa G-Dragon.  
Pada halaman 172, Pak Ario membeberkan beberapa fakta tentang lelaki yang bernama asli Kwon Ji-Young itu. Bagaimana usahanya yang begitu keras sehingga ia menjadi salah satu komposer musik terbaik di Korea Selatan dan bagi para fans-nya, ia adalah bintang yang sangat tinggi, sehingga sulit digapai. Hanya dapat dikagumi, dan tak bisa  dimiliki.

~Penggemar G-Dragon sedih.~


“Proses menjadi top peformers adalah proses lama yang memakan waktu bertahun-tahun. Butuh kesabaran untuk bertahan dalam ketidaknyamanan, kesabaran untuk belajar dan memulai hal baru, juga kesabaran untuk bertahan dalam kesabaran.”

–NFE, hal. 180


Kita tinggalkan fans K-Pop, biarkan mereka larut dalam kesedihan. Hahaha tawa jahat


Saya teringat dulu pernah membaca di sebuah blog,  tentang aforisma. “Aforisma itu suatu ungkapan mengenai doktrin atau prinsip atau sebuah kebenaran yang sudah diterima umum.”

–Wikipedia

Jujur saya kesulitan memanggil kenangan soal ini, yang saya ingat bahwa si penulis di blog itu meragukan khasiat aforisma, kata-kata bijak, atau semacam  kara-kata motivasi.   Saat itu saya hampir termakan perkataannya dan menjadikannya kredo, bukan karedok.

Namun, perkataan Mbak Mimi membuat saya tersadar kembali, jangan menyepelekan kata motivasi, aforisma, ungkapan bijak, atau hal semacamnya. Sebab:

 “Kita tidak tahu dahsyatnya sebuah motivasi dan inspirasi.”

–NFE, hal. 36




Ya. Kata-kata motivasi  memang cuma kata-kata, tapi bisa jadi, bahkan kemungkinan besar ia akan menjadi peluru yang merobek keputusasaan dan ketakutan, ia menjadi pentunjuk bagi  yang kehilangan harapan, ia menjadi angin segar bagi mereka yang tercekik kekecewaan.

Mengapa tidak?

Dengan sepenggal kata saja kita bisa tersakiti,   tentu dengan sepenggal kata pula kita bisa termotivasi. Tsaah


Maka dari itu, gaes, saya berpesan, hati-hati ketika membaca Notes From England. Sebab ada banyak motivasi yang bisa menghentakkanmu dari khayalan, membuatmu kehilangan keputusasaan, membuatmu mendapatkan lagi tujuan,  bahkan bisa melecutmu untuk lebih berlari menggapai impian.
Baiklah,  sepertinya, ini sudah di penghujung. Saya tidak akan berpanjang-panjang lagi.  
Ada banyak kutipan favorit saya, namun saya tidak bisa menuliskan semuanya disini. Gempor atuh jempol saya! 


“Merelisasikan mimpi adalah akumulasi dari kerja keras, perencanaan yang matang, konsistensi yang tinggi serta kesabaran dalam waktu yang lama. Jika belum memilikinya renungkan kembali semangatmu!”

–Tidak ada halaman, sampul belakang. 


“Teruslah mencoba, sebab kita tidak pernah tahu percobaan ke berapa yang merupakan jalan kita.”

–Hal. 52


“Faktanya jalan menemukan pasangan yang kamu cinta, jauh lebih rumit dari yang umumnya orang ketahui.”

–Menurut penglihatan jomblo–

Padahal, kutipan sebenarnya:

“Faktanya jalan menemukan pekerjaan yang kamu cinta, jauh lebih rumit dari yang umumnya orang ketahui.”

–Hal. 141


O ya, ada hal yang hampir saya lupa untuk disampaikan. Ketika saya sedang mencari review di internet yang barangkali bisa jadikan referensi. Dan saya menemukan ini:
“Paduan teks dan gambar dalam buku akan memudahkan pembaca menerima gagasan buku tersebut karena ada tipe pembaca yang visual dan audio sehingga sebuah buku wajib mengembangkan gagasan tersebut dalam konsep buku yang menarik. Misalnya ditambah CD dan iluatrasi.” Atau misalnya  NFE berbonus tiket ke Bristol—eh, peace, Pak Ario, Mbak Mimi. Saya hanya bercanda. Hehehe. ^_^


Sebagai penutup, saya teringat sebuah kutipan yang menarik:
“Dibalik teks yang Anda baca, ada pengalaman amat kaya seorang penulis yang tercecer tak bisa ditampilkan oleh teks.”

–Hernowo




Tentu saja.

#Sharmay–Italy[1], 31 Desember 2017

***


Catatan:

Banyak hal yang tadinya ingin saya tulis, namun ini sudah cukup panjang dan gagal saya ceritakan karena saya ngantuk. Hehehe.

[1] Indonesia wilayah Tasikmalaya

Iklan

Masalah Sharmay

Published Desember 9, 2017 by Sharmay HA


​Matanya menjelajahi seisi rumah itu. ‘Asri banget,’ pikir gadis yang tengah menunggu si empunya rumah. Ini pertama kali bagi Sharmay -anak kampung baru merantau ke kota- menduduki sofa empuk (kasihan banget ya?) di kediaman seorang ustadz yang baru dikenalnya beberapa pekan lalu saat mengikuti pengajian. Namanya Ustadz Boerhan Ibrahim. Jika Alm. Ustadz Jeffri populer dengan singkatan UJ-nya, maka Ustadz Boerhan Ibrahim ini terkenal dengan … (pembaca isi sendiri. Gak tega pencerita nulis UBI–eh…).
“Assalamualaikum!” Sesosok pria yang entah berapa umurnya datang menyapa Sharmay. “Maaf menunggu lama, Dek.”

Kaus putih dan sarung membalut tubuh pria itu. Tak lupa peci putih pun bertengger menutupi rambutnya yang sedikit beruban. Sharmay berdiri menyambut orang yang ditunggunya.

“Waalaikumussalam, Ustadz. Ah, nggak apa-apa, kok.” Seulas senyum membingkai wajah sang gadis berjilbab.

“Ada perlu apa, Dek?” Tanya sang Ustadz. ‘Tidak biasanya ada remaja perempuan bertamu, mungkinkah dia meminta jodoh? Atau mungkin … dia ingin menjadikan aku jodohnya? (diprotes pembaca) Ralat! Mungkin dia ingin menjadikan aku mertuanya?’ Pertanyaan-pertanyaan terus berseliweran di benak Ustadz Boerhan.

“Oya, nama saya bukan Dek, Ustadz. Panggil saja saya Sharmay.” Sejenak tercengang, lalu berkata, “Oh, itu taktik agar saya tidak usah bertanya siapa nama–”
“Sharmay, Ustadz!” potong Sharmay cepat.

“Hadeuuh…. Iya, saya tahu!” Ustadz Boerhan membuang napas, agak kesal. Gue emang udah berumur, tapi gak telmi juga, batinnya. 

“Ada yang ingin saya tanyakan. Sebelumnya dua hari yang lalu saya ke sini, tapi katanya Ustadz sedang ke luar kota.” Gadis berjilbab itu mengutarakan maksudnya.

“Iya, semalam saya baru pulang, lalu istri menyampaikan ada gadis yang ingin bertemu saya. Memangnya apa yang ingin Sharmay tanyakan?”

“Begini ceritanya…” Mata Sharmay menerawang ke atas seolah menyaksikan cuplikan kisah yang diputar oleh memorinya. Pandangan Ustadz Boerhan latah mengikuti tingkah sang tamu.


Firasatku buruk! Sepertinya keberangkatan ke tempat perantauan tertunda beberapa jam karena kakakku kedatangan tamu dari jauh, katanya teman seprofesi.
 “May, keberangkatan kamu ditunda sampai teman Kakak pulang, ya, kasihan dia jauh-jauh ke mari. Hanya sebentar, kok. Jangan khawatir, nanti Kakak anterin kamu.” 

Kabar yang dibawanya cukup membuat hatiku dongkol. Aku terdiam di dapur, tiba-tiba kakak datang kembali, “Buatkan kopi Kereta Api dua!”
“Persediaan cuma ada satu lagi, Kak!” seruku sambil membuka lemari tempat menyimpan stok kopi sachetan [?].

“Ya sudah, buat satu saja untuk tamu,” tandasnya, lalu melenggang pergi ke ruang tamu. Kopi untuk tamu pun ku seduh. Saat akan mengaduknya, aku lupa belum membawa sendok. Padahal hanya sebentar kopi itu ditinggal. Ketika aku kembali, ada seekor cicak yang tercebur ke dalam gelas kopi! “Hei, cicak apa kau masih hidup?” tanyaku. Tak ada jawaban. Sepertinya cicak itu tewas seketika karena tak tahan berenang dalam air panas.

“Sebentar…,” Ustadz Boerhan menjeda kisah Sharmay. “Masa Sharmay nanya begitu sama cicak? Kenyataannya itu?” Kedua alisnya saling bertaut, heran.

“Nggak sih, biar agak keren ceritanya dikasih bumbu fiksi. Hehehe…” Pipi Sharmay bersemu merah dan terkekeh sumbang mendapati bola mata pria di hadapannya berputar malas.

Keren apanya? Ustadz Boerhan menggerutu dalam hati. “Lanjut ya?” Sang Ustadz mengiyakan.

Menyadari cicak malang tewas dalam kopi panas, segera ku evakuasi mayat itu dengan sendok, lantas berlari ke luar untuk memandikan, menyolatkan, dan menguburnya. Bohong! Aslinya langsung dibuang ke kolam belakang rumah. Saat kembali ke dapur, di meja ada keranjang belanjaan, itu artinya istri kakak sudah pulang dari pasar. Tapi … dimana gelas itu? Tadi di atas meja. Lenyap ke mana? Tak lama wanita yang dinikahi oleh kakakku datang dari ruang tamu membawa nampan. Celaka! 
“Kakak, gelas berisi kopi yang tadi di sini ke mana? Apa Kakak membawanya ke depan?” Dengan tempo amat cepat aku menghujaninya dengan pertanyaan, saking panik.
 Entah kaget atau apalah, istri kakak hanya menjawab dengan anggukan saja. Tapi, dari tatapannya meminta penjelasan, ‘Kenapa memang?’ Kedua tanganku membekap mulut yang menganga. Aku tak percaya ini! Sampai tamu itu pulang, aku tak berani ke luar kamar. Syok!

“Makanya kemarin sepulang dari kampung, sorenya saya langsung ke rumah Ustadz, mengabaikan rasa lelah demi menanyakan hukum kopi itu. Halal atau haram, Ustadz?”

“Hmm…,” tangan kiri sang Ustadz memainkan jenggotnya sembari memejamkan mata. Memang Ustadz Boerhan ini ketika mengisi pengajian sering membahas persoalan yang berkaitan dengan ilmu Fiqih. Maka dari itu Sharmay menemuinya.

“Hukumnya bisa halal bisa haram,” lanjutnya.

“Loh, itu bangkai kecebur ke dalam kopi, Ustadz! Kok bisa halal?”
“Bisa, walaupun terkena bangkai. Asal bangkainya itu sejenis hewan yang tidak mengalir darah banyak ketika sebagian tubuhnya dilukai. Seperti cicak, lalat, lebah, semut dan semacamnya. Kalau kopi itu kecebur bangkai ayam jadi haram, sebab ayam adalah jenis hewan yang ketika dilukai darahnya akan keluar banyak,” papar Ustadz Boerhan.

“Oh … saya mengerti, tapi kalau ayam kecebur ke dalam gelas sepertinya mustahil, Ustadz!” Sharmay protes, “Mana ada! Gak muat!” Lagi, Ustadz memutar bola matanya malas dan membatin, hadeuuh!

“Ya … misalkan! Bukan air kopi saja, pokoknya setiap air yang kurang dari dua qullah: mau seember, sebaskom ketika kejatuhi bangkai ayam atau hewan semacamnya menjadi najis dan haram diminum, apalagi dipakai bersuci.” Begitu seriusnya Sharmay memerhatikan penjelasan dari pria itu. Entah benar-benar paham atau … entahlah! Pencerita juga bingung.
“Kalau begitu, kasus cerita dari kopi saya itu tidak najis dan boleh diminum, ya, Ustadz Boerhan?”

“Betul, tapi dengan syarat air kopi itu rasa, warna, dan aromanya tidak berubah, Sharmay,” tambahnya.

“Ng… kalau aroma … waktu itu masih khas kopi, warna tetap hitam pekat. Nah, kalau rasa saya nggak nyoba. Terlanjur dihidangkan. Kalaupun belum dihidangkan, saya mana mau nyicipin air yang tercebur bangkai cicak. Hueekk!!” Tubuh Sharmay bergidik jijik membayangkan dirinya meminum kopi itu.

“Satu lagi, bangkai cicak itu tercebur bukan perbuatan manusia secara sengaja,” Ustadz Boerhan mengambil napas sejenak, lalu, “meski kopi itu tidak berubah warna, rasa dan aromanya, kalau sengaja tetap najis, haram diminum.”
Sharmay termenung. Ustadz Boerhan mengamatinya dan bergumam, anak ini terlihat lebih baik kalau diam daripada berbicara dan memotong ucapanku. Aku harus memakluminya, dia kan masih remaja labil. “Sudahlah, yang lalu biarlah lalu, Sharmay. Mudah-mudahan rasanya pun tak berubah walau bangkai cicak pernah berenang di dalamnya.”

“Semoga saja. Kalau tamu itu tahu pernah ada cicak tercebur dalam kopi yang diminumnya, saya tak sanggup melihat mimik wajahnya.” Sharmay dan Ustadz Boerhan tertawa berbarengan.
Hening sejenak. Sharmay memulai kembali pembicaraan, “Kalau boleh tahu, Ustad ke luar kota ngisi ceramah ya?”

“Nggak, saya silaturahmi ke beberapa teman sesama penulis, ke Jakarta, Bogor, Cianjur, dan terakhir ke Banjar, di sana paling lama. Eh, sebelum singgah di Banjar saya ke Italy dulu,” katanya dengan mata menerawang mengingat perjalanan yang cukup melelahkan, namun menyenangkan.

“Hebat!” Sharmay berdecak kagum, “Ustad silaturahmi ke Italy!”

“Indonesia bagian Tasikmalaya maksudnya.” Sang Ustadz terkekeh.

“Dua hari yang lalu saya baru pulang dari Tasik juga, Ustadz! Tepatnya dari rumah Kakak saya.” Perasaan bahagia mencuat dalam dada, ternyata orang yang dia kenal pernah singgah di kota kelahirannya.
“Sayangnya di Italy hanya sebentar, karena teman saya hendak pergi ke terminal. Tapi, saya bersyukur dapat buku karyanya berjudul NEGERI PENCURI PARFUM.” Ustadz Boerhan menyeringai. Sedangkan lawan bicaranya menampilkan ekspresi wajah yang sulit diterjemahkan. “Kenapa Sharmay?”

“I-itu judulnya seperti novel milik Kakak saya, Ustadz, namanya Bangmo Muhammad Ridwan!”

“Jadi… kopi itu…??” Ustadz Boerhan permisi untuk pergi ke belakang.
Sharmay bergeming, matanya tak berkedip beberapa detik. Apakah pikirannya tak salah menyimpulkan. Sharmay pun mengikuti sang Ustadz karena masih ada yang mengganjal dalam benaknya. “Hueeekkk…. Hueeeekkk!” Duh Gusti, lebih baik aku tidak tahu kalau kopi yang kuminum tercebur cicak mati. Batin Ustadz Boerhan menjerit.

Dengan polos Sharmay bertanya, “Ustadz, waktu itu rasa kopinya gimana?”


Sharmay HA

Tasikmalaya, 2015