Arsip

All posts for the month Januari, 2018

​Review Suka-Suka: SUFISME SUNDA-Sebuah Usaha Merentangkan Misteri Relasi Antara Sunda dan Islam.

Published Januari 3, 2018 by Sharmay HA

Perhatian!

Jangan terlalu menaruh ekspektasi tinggi terhadap judul, sebab kadang-kadang isi melesat jauh dan cenderung ngawur bin semprul.

Jepretan sendiri

Nama Buku: Sufisme Sunda Penulis: Dr. Asep Salahudin

Penerbit: Nuansa Cendekia

Tahun Terbit: Cetakan, 1 Oktober 2017

Kota: Bandung

Jumlah Halaman: 392 halaman.
Buku Sufisme Sunda barangkali merupakan pengejawantahan dari usaha pencarian untuk mengungkap misteri kaitan Islam dengan Sunda. 

Seperti kata penulis, buku ini awalnya adalah esai-esai mengenai kerja tafakur si penulis terhadap kesundaan dan keislaman yang tersebar di berbagai media massa kemudian dibukukan. Jujur saya menyukai pemilihan kata dan pengguliran narasi penulis buku ini. Contohnya, dari sekian bab yang saya baca, saya lebih menaruh perhatian pada  “Siloka Suluk Sunda” dan halaman 371 tentang “Tahun Baru Ngindung ka Waktu”

 Sebagaimana kita tahu, etnis Sunda identik dengan Islam. Mayoritas suku Sunda adalah Muslim. Mengutip perkataan Prof. Dr. H.M. Didi Turmudzi, M.Si.:

“…Akan dianggap anomali jika ada orang Sunda yang tidak beragama Islam.” 

–Hal. 10

Benar, bahkan saya banyak mendengar perkataan tersebut dari beberapa tokoh. Seperti dalam ceramahnya pemimpin ormas fenomenal;  Habib Rizieq Syihab Hafidzahullahu, dan ketua Prodi PAI Tasikmalaya, Bapak Dr. Zaki Mubarak dalam sambutan acara bedah buku Sufisme Sunda.

Ada sebuah jargon, “Islam-Sunda dan Sunda-Islam”, kemudian ada kredo yang didilontarkan oleh seorang tokoh,  berbunyi: “Islam teh Sunda jeung Sunda teh Islam.”

Ekstrem memang, dan menimbulkan kontroversi. Maka bagi si penulis, ia  merasa penting untuk mempertanyakan dan menafsirkan ulang jargon dan kredo tersebut.  Bisa jadi hal-hal yang dipertanyakan itu memunculkan keraguan baru atau bahkan mengokohkan kredo lama, atau justru sebagiamana ungkapan si penulis, “berujung pada pertanyaan lain yang tak pernah selesai dan tak perlu selesai dijawab.” 

Terkait pernyataan “Islam teh Sunda jeung Sunda teh Islam,” secara sepintas tampak mereduksi Islam yang berasal dari wahyu Ilahi  dengan kesundaan yang terlahir dari akal budi manusia ardhi. Saya lebih mengamini pernyataan Ajip Rosidi. “Islam heula samemeh Sunda.” Dengan begitu, segala hal yang bersifat Sunda dan TIDAK BERTENTANGAN dengan Islam,   tidak akan mengurangi kesundaan orang Sunda Islam.

Yang menarik adalah narasi penulis yang mengatakan Sunda itu teu nanaon ku nanaon.  Sunda sebagai kawasan tak bertuan, yang mana masyarakatnya memperlakukan sesuatu–seperti ormas atau partai politik dll–seumpama berladang di huma; datang dan pergi, dimiliki kemudian ditinggalkan. Namun  perlakuan Sunda ‘yang tak ingin dimiliki itu’  berbeda terhadap Islam. Bahkan Islam, sebagaimana telah direntangkan penjelasan di atas, etnis Sunda diidentikan dengan  Islam. Kalo boleh saya katakan: “Ya, Sunda teu nanaon ku nanaon, iwal ku Islam. Sunda teu islam teu nanaon, ngan nanaonan?” 

Agak terburu-buru memang dan mesti dikaji ulang.

Selanjutnya, buku setebal 392 halaman, berisi bermacam-macam tema, setidaknya ada sembilan tema. Diawali deng topik “Siloka Suluk Sunda” dan ditutup dengan “Dalam Nafas Tritangtu.”

Atik Soewandi mendefinisikan bahwa:  “Siloka atawa suluk nyaeta basa sindir keneh, basa pikireun ngandung harti anun jero teuleumaneun” (siloka atau suluk adalah termasuk bahasa kias, bahasa yang harus dipikirkan kembali tentang isi sebenarnya, mengandung arti mendalam. (hal. 25)

Penulis menggali makna antara siloka dengan kata suluk, bahkan mengatakan bahwa keduanya mempunyai relasi yang kental. Suluk ialah jalan spiritual atau tarekat. Dan kenyataannya yang kental dengan bahasa siloka adalah suluk. 

Namun ada beberapa hal yang tidak saya setujui adalah ketika penulis menjelaskan pada “Absennya Siloka,” sehingga menjamurlah pemahaman agama yang alergi terhadap keragaman berbagai sudut pandang. Kemudian si penulis mencontohkan FUUI yang dinarasikan “menebar kebencian terhadap Syi’ah dan Ahmadiyah…”

Islam tidak alergi dengan keberagaman, namun berbeda hal deng Syi’ah dan Ahmadiyah. Tindakan FUUI merupakan bentuk penjagaan terhadap umat Islam terutama mereka yang awam, dikhawatirkan orang awam beranggapan perbedaan dalam Ahmadiyyah adalah masalah khilafiyah furu’ sebagaimana  seringnyaa dalam fenomena masyarakat muslim. Mengutip perkataan Pemimpin Pesantren Cintawana, KH Asep Saepulah dalam buku dalan buku Koreksi Terhadap Pemahaman Ahmadiyah dalam Masalah Kenabian, “Perbedaan dalam ini (Ahmadiyah) sungguh sangat fundamental dan sangat berpengaruh pada pemurnian tauhid  yang fundamental dalam ajaran Islam.” (Hal. 14)

Dan lagi fatwa MUI tanggal 26 Mei 1980 telah dianggap paham yang sesat dan menyesatkan. (Koreksi terhadap Pemahaman Ahmadiyah dalam Masalah Kenabian. Hal. 13) 

Kemudian Jema’ah Ahmadiyah seringkali melakukan iftiraa’ (rekayasa pembohongan besar) dengan mengajukan beberapa ayat Al-Qur’an dan Hadits untuk melegitimasi pemahamannya. Mereka berani membungkus  ajarannya dengan sampul Islam, untuk mengecoh dan mengelabui pandangan umat Islam, terutama golongan awam. Bahkan Ahmadiyah telah dikatakan murtad, keluar dari Islam. Lucunya mereka mengaku sebagai Islam. Saya kira, agaknya jika Ahmadiyah mendeklarasikan sebagai agama baru tanpa mengaku Islam, umat Islam tidak akan mempersoalkannya.

Adapun Syi’ah, menurut pandangan Imam Al-Ghazali, salah satu tokoh sufi yang dijadikan kiblat kebanyakan umat Islam Indonesia, memang tidak boleh pukul rata akan memberi status kepada Syi’ah. Jika mereka hanya tidak mengakui kepemimpinan Khilafah Abu Bakar, Umar, Utsman radhiyallahu ‘anhum, maka mereka tetap tergolong orang muslim. (Kisah-Kisah Ajaib Imam Al-Ghazali: 189).

Lain hal jika Syi’ah yang ekstrim dan melampaui batas dengan mengkafirkan dan menghalalkan darah umat Islam yang lain, yakni Sunni. Menurut Imam Al-Ghazali boleh dikafirkan. 

Saya bertanya-tanya,   apakah harus, mentoleransi kepada mereka yang tidak toleran terhadap kita (Syi’ah mengkafirkan Sunni) dan mereka yang menistakan agama Islam (Ahmadiyah)? 

Kemudian pada halaman 28, penulis mengatakan Tatar Sunda menjadi lahan paling subur gerakan radikalisme agama, dan Aksi 212 menjadi contohnya.

Berikut saya kutipkan:

“Dalam penelitian terakhir, perguruan tinggi umum di Tatar Sunda menjadi lahan paling subur gerakan radikalisme agama. Jangan mengerutkan dahi kalau saat ini masyarakat Pasundan banyak yang pakainnya lebih Arab daripada orang Arab sendiri. Aksi 212 dalam hiruk-pikuk Pemilihan Gubernur DKI, pemasok utamanya adalah warga Jawa Barat.” 

Bukankah ini menganggap Aksi 212 termasuk dari gerakan radikal?

Radikalkah mereka yang menuntut agar orang yang menistakan Al-Qur’an dan Agama Islam agar segera dipenjara,  yang mana ia tampak kebal untuk dijamah hukum dan para aparatur negara pun justru terlihat lamban menyikapi kasus tersebut, sehingga umat Islam mesti melakukan aksi yang berjilid-jilid?

Radikalkah mereka yang marah karena Al-Qur’an disebut sebagai alat kebohongan? 

Benarkah mereka yang mengikuti Aksi 212 itu radikal? 

Mengutip sebuah Cerpen Aku Berpikir dan Aku Berhenti karangan Reddish, seorang cerpenis Tasikmalaya, yang menyinggung peristiwa Aksi 212:

“Padahal cuma bawa sejadah, sama kitab suci dibilang mau gulingkan pemerintahan. Cuma berdoa sama shalat berjamaah dituduh mau bikin kerusuhan.”

Begitukah yang namanya radikal? Yang melakukan kegiatan dengan peserta berjuta-juta namun tak menyisakan sampah. Dan lagi banyak yang mengabadikan peristiwa betapa tolerannya peserta Aksi 212 terhadap non-muslim.

Masih dalam cerpen Reddish:

“Saat rakyat mencari keadilan diabaikan. Pelanggar konstitusi dibiarkan berkeliaran. Rakyat mengadu atas ketidakpuasan putusan dan hendak berdemo lagi, malah diancam akan dibubarkan.  Elite politik yang berdalih menggelar parade kebudayaan dan terang-terangan menabrak peraturan tidak jelas dibagaimanakan? 

Rakyat yang bereaksi atas ketidakadilan dan ingin menyuarakan aspirasi justru digembosi, dihalang-halangi,  tidak boleh sewa alat transportasi. Bukankah itu tindakan inkonstitusi? Dan ‘kegiatan’ yang jelas-jelas dipolitisasi malah difasilitasi. Kelompok yang katanya siap jaga negeri, nyatanya rumput saja tak bisa dijaga sama sekali. Duh…”

Ya, peserta Aksi 212 hanya meminta keadilan karena kehormatan agamanya dinista? Begitukah yang namanya radikal? 

Ada sebuah ungkapan dari Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu ta’ala.

قال الشافعي رحمه الله: من استغضب فلم يغضب فهو حمار ومن استرضى فلم يرضى فهو شيطان

“Siapa yang dibuat marah tapi dia tidak marah maka dia adalah keledai, dan siapa yang diminta keridhaannya dan dia tidak mau ridha maka dia adalah syetan.” (Imam Syafi’i sebagaimana dikutip dalam Ihya Ulumiddin).

Kemudian ada sebuah syair berbunyi:

أَبُنَيَّ إنَّ مِنْ الرِّجَالِ بَهِيمَةً * فِي صُورَةِ الرَّجُلِ السَّمِيعِ الْمُبْصِرِ

فَطِنٌ بِكُلِّ مُصِيبَةٍ فِي مَالِهِ * وَإِذَا يُصَابُ بِدِينِهِ لَمْ يَشْعُر

“Wahai anakku sesungguhnya ada orang yang seperti binatang ternak, dalam rupa orang yang bisa mendengar dan melihat.

Dia cerdik jika ada musibah menimpa hartanya.

Namun, apabila ada musibah menimpa agamanya dia tidak peduli.”

(Adabu Dunya Waddin 1/126 karya Imam al-Mawardi asy-syafii, Quutul qulub 1/227, al-Madkhol 1/492)

Maka menurut saya wajar jika umat Islam terainggung dengan ucapan orang kafir yang mengatakan bahwa Al-Qur’an disebut sebagai alat kebohongan, sehingga melakukan Aksi bela Islam. Dan justru dipertanyakan, mereka yang muslim namun tak tersinggung sedikit pun ketika  agamanya dihina, dan lebih condong menuduh saudara seiman dan seagamanya sebagai orang intoleran serta radikal karena melakukan Aksi 212, apakah mereka tergolong dalam perkataan Imam Asy-Syafi’i dan syair di atas? Wallahu a’lamu.

Yang menjadi lucu adalah, kadang-kadang mereka yang mengaku paling toleran kepada perbedaan dan keberagaman ketimbang mereka yang dianggap radikal, justru tampak tak menghargai perbedaan dari kelompok yang masih saudara dalam agama, dan justru mereka yang mengaku paling toleran ini ikut melabeli radikal. Standar ganda, bukan?

Saya meyakini Islam adalah agama rahmatan lil’alamin. Namun bukan berarti dalam Islam  tak ada ketegasan.  Boleh bersikap tegas menyikapi orang-orang yang menista Islam. 

Buktinya ketika zaman Sayiduna Abu Bakar Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu ketika menyikapi para nabi palsu,  beliau tidak mengatakan, “Biarkan saja, Islam kan agama rahmatan lil ‘alamin, cinta damai. Biarkan mereka berbeda dengan kita. Mereka memang berbeda, namun Islam sangat menghargai keberagaman dan perbedaan.” Kenyataannya nabi-nabi palsu pada zaman itu beliau perangi, seperti Musailamah Al-Kadzab. Apakah Abu Bakar radikal dan intoleran?

Terlepas dari itu, saya tidak keberatan dianggap bahwa saya masih memakai sudut pandang “cangkang (?).”  Atau komentar saya tidak lebih dari nyanyain bayi yang baru lahir kemarin sore. Ada bayi yang baru lahir bisa nyanyi? Hehehe.

Saya berpegang dengan ungkapan yang masyhur, bahwa: “Bertasawuf tanpa berfiqih adalah zindiq. Dan berfiqih tanpa bertasawuf adalah fasik.” Maka penting untuk mensinergikan keduanya (fiqih dan tasawuf), sehingga ada keadilan dan menciptakan keseimbangan dalam beragama dan berbudaya.

Sebagai penutup, saya pernah membaca sebuah statement, “Boleh mengkritik pendapat yang berbeda. Namun tetap hargai orang yang berbeda pendapat.”

Ya, tentu saja. 

Sebab perbedaan pendapat (furu’iyyah)   di dalam Islam janganlah melihatnya sebatas antara hitam dan putih, benar dan salah. Tetapi perbedaan dan keragaman pendapat itu sebagi rangkaian puzzel yang saling melengkapi dan saling mengisi.

Italy [1], 3 Januari 2018.

catatan:

Nah, kan, ngawur? 😛

 [1] Indonesia wilayah Tasikmalaya.

Sumber referensi:

Koreksi Terhadap Pemahaman Ahmadiyah dalam Masalah Kenabian, karya Dede A. Nasrudin.

Kisah-Kisah Ajaib Imam Al-Ghazali, karya Mukti Ali.

Cerpen Aku Berpikir dan Aku Berhenti karangan Reddish.

https://mabsus.wordpress.com/2015/07/22/kita-bukanlah-keledai-dan-bukan-pula-binatang-ternak-menyikapi-kasus-tolikara/amp/

Yang paling dominan: perpustakaan kenangan. Hehehe.

Iklan