Arsip

All posts for the month April, 2018

​Usaha Mungkin dalam Ketidakmungkinan Mengejar Cinta Dua Kodi

Published April 25, 2018 by Sharmay HA

23 April 2018: Selamat hari (I)Buku!

(Telat posting. Wkwkwk)


Jadi begini, saya hanya sekadar mereminisensi sekumpulan jejak yang telah lalu, yang terabadikan dalam deretan waktu.

Jangan terlalu serius, nanti jadi kurus. (Alhamdulillah) Santai saja! 🙂

Tepat ketika penaggalan masehi jatuh pada 22 April, 2018,  hari Ahad petang, saya mendapat kabar di Fesbuk. Kabar membahagiakan, menyingkapkan kemuraman yang tengah saya rasakan.

Kabar baiknya itu adalah acara bedah buku Cinta Dua Kodi Bu Asma Nadia! Yang menjadi istimewanya itu diadakan di Italy! Indonesia bagian Tasikmalaya. Dan 100 novel bagi 100 peserta  yang hadir paling awal!

Gratis lagi!

Ek kumaha teu kabita?

(Sumber gambar: Fb Pak Isa Alamsyah)

Salah satu persyaratannya itu mendaftar via Vallen-eh, via sms ke panitia.

Maka, selepas Isya,  tepatnya 19:26 WIB, saya kirim pesan untuk mendaftar. 

Selang beberapa jam, muncul balasan:

“Mohon maaf kuota sudah penuh. Kami ucapkan terimakasih atas partisipasi kakak yg telah berkenan mendaftar sebagai peserta.😉 ” (22:10 WHS: Waktu Hape Saya)

Detik itu, ada yang bergetar… 

Tangan saya!

Oh… ada pesan WA ternyata. Lupakan!
Kecewa? Sedih? 

Jelas ada. Saya teh manusia. :’v  

Masalahnya, jarang ada acara seperti itu di Italy. Terlebih, saya belum berjumpa secara nyata dengan penulis muslimah yang sangat produktif! Sebetulnya bukan masalah perjumpaan, ini lebih kepada ilmu dan pengetahuan yang keluar dari lisannya. Rasanya tidak sempurna status keanggotan KBM seseorang sebelum matanya melihat, dan telinganya mendengar langsung petuah  pendiri komunitas bisa menulis di dunia biru.

Kembali ke pesan dari panitia.

Itu artinya, saya tidak bisa ikut. Kuota penuh! Jika boleh menawar, ingin sekali mengatakan: 

“Tidak apa-apa, Kak Panitia, saya mah tidak kebagian kursi juga teu nanaon.

Enya teu nanaon, ngan rek diuk dina naon? Mawa jojodog sorangan?

Ya sudah, ini jalan yang mesti saya lalui. Tidak apa-apa. Bukan rejeki. :’)

Semoga di waktu kemudian, saya punya kesempatan untuk mengikuti acara-acara kepenulisan. Terlebih yang diadakan Bu Asma Nadia dan suaminya, Pak Isa.

Aamiiin.
Pada akhirnya saya hanya bisa menitip secarik salam untuk Bu Asma lewat Kakak Panitia. Tapi entahlah, apakah salam itu telah sampai, atau justru terbai?

Saya mah naon atuh daa? :’v

Wallahu a’lam intinya mah. 
Baik, saya tidak ditakdirkan untuk ikut acara bedah buku, namun setidaknya saya akan berpartisipasi dalam lomba resensinya.

Selain acara bedah buku, bu Asma mengadakan lomba resensi cinta dua kodi tingkat mahasiswa se-Priangan Timur. 

Garis kematiannya (baca DL) Senin 30 April 2018, pukul 15:00.

Kemudian saya membuat rencana,  membangun serangkaian kemungkinan yang akan saya lakukan.  

“Senin pagi nguli, pulang mampir ke Gramedi, beli buku cinta dua kodi dan kumcer terbaru seorang cerpenis penyuka puisi,  kemudian pulang, lalu membaca novel cinta dua kodi, mungkin tiga hari, selanjutnya menulis resensi, bla bla bla bla….”

Sebagaimana yang telah diamini kebanyakan orang, bahwa realita seringnya tak seperti ekspektasi yang dikira!

Dan kali ini terjadi pada saya.

Bukan kali ini saja, sering pisan. Hahaha. LoL

Manusia yang berencana, Allah yang menentukan.

Memang, pagi saya  nguli, itu pun hanya sampai pukul 09.30. Padahal datang ke kelas pukul 09:06. 

Setelah itu meluncur ke Asia Plaza, tempat Gramedia yang sepertinya–dan memang tidak salah lagi, toko buku yang paling banyak dikunjungi karena lumayan komplit se-Italy. 

Mata saya menajam, demi menelusuri deretan buku yang tidak sedikit. Loba pisan!

Supaya tidak buang-buang waktu, saya menuju rak khusus buku fiksi Islami. Satu persatu judul buku saya pindai, tidak ada!  Penglihatan saya belum juga menemukannya.  Beberapa buku Bu Asma Nadia yang lain ada, tapi yang saya cari belum juga terlihat. 

Ah, saya iseng beralih ke buku non-fiksi Islami, mungkin saja ada di sana. 

Tidak ada juga!

Saya belum tanya ke Akang-Euceu petugas buku Gramed, sengaja. Saya ingin mencari terlebih dahulu. Katanya suka baca, tapi nyari buku saja malas baca petunjuk yang ada.
Kumcer yang saya cari pun tak saya lihat. Mungkin, selera orang Italy kurang dengan cerpen. Yang di jual di sini sangaattt sedikittt! Kebanyakan manhaj fiksinya itu berupa novel, komik. Puisi pun hanya ada karya Pak Sapardi, Chairil Anwar, dan beberapa penyair lawas (?) yang tidak saya kenali.

Menyerah. Lelah. 

Akhirnya saya bertanya ke Akang petugas Gramed. Ngobrol cukup panjang, sepanjang rel kereta api–kepanjangan euy!

“Nggak ada Novel Cinta Dua Kodi mah,” jawab si Akang Gramed.

“Coba dicek stoknya di komputer, A!”

“Kalo dicek emang ada, cuma mungkin udah dipak (dikardusin).”

“Loh, nggak bisa dibuka emang, A?”

“Nggak, kalo sudah masuk kardus nggak bisa. Itu juga mau dikirimkan.”

“Kesedihan dan masa lalu bisa dipak juga nggak, A? Biar nggak bisa dibuka dan selamanya kekal dalam kegelapan.”

Fiktif! Saya tidak punya nyali berkata kalimat terakhir. :’v

Asli, kecewa syekali dengan jawaban Akang petugas Gramed! 😥

Naon hesena ceuk saya mah, muka deui kardus, da meureun buku-buku yang diturunkan dari rak, kemudian diletakkan dalam kardus yang gelap itu teh diberi data. Umpama: Kumpulan novel fiksi Islami, penulis Asma Nadia, Bla bla bla dst. Mungkin ini mah ya. Saya juga tidak tahu, dan memilih tidak bertanya banyak jika jawabannya hanya “tidak”. 

Ini baru terpikir sekarang.

Bukankah ada pepatah:

“Pembeli adalah raja. Permintaannya mutlak tak boleh ditolak.” :’v

“Raja kok mau beli buku satu?”

“Hmmm….” ×_×

“May, buku yang dikardusin di gudang itu bukan cuma sebiji, tapi banyaaak! Apal teu banyak?”

“Iya, iya. Loba pisan.” -__-“

Lalu, Akang Petugas Gramed memberi saran, katanya di Gramed Mayasari Plaza ada stok novel yang saya cari. Katanya lagi, adminnya sama, dan Gramed MP disuplay dari Gramed Asia Plaza.

Nah, nasib kumcer yang saya cari ternyata belum ada di Italy.

Duh… 

Nyatanya yang saya rencanakan tak menjadi kenyataan. :’v

Sempat hati tergoda untuk membeli novel “Pergi” Om Tere Liye. Nanti 27 April 2018, Om TL akan mengisi acara kepenulisan di Ponpes Condong. Tapi saya urungkan, karena masih menyimpan harap, di MP ada Cinta Dua Kodi!

Niat beli buku, jadinya beli meja lipat Qur’an. Hahaha. Sebenarnya ini memang saya rencanakan juga. Hanya saja tadinya akan saya beli setelah dua buku itu dimiliki. Meja ini saya beli khusus untuk seseorang. 😀

Baik, ini sudah terlalu panjang. @_@

Singkat cerita, saya melesat ke Mayasari Plaza. 

Menurut kakak saya: 

“Bukannya Gramed di MP sepi dan bukunya sangat sedikit?”

Ya. Kenyataannya begitu. Tapi Akang Petugas memberi petunjuk bahwa di MP ada yang saya cari, Cinta Dua Kodi!

Ketika sampai di lokasi, benar saja, tidak ada pengunjung. Hanya ada ceuceu-ceuceu petugas. Sangat jauh dengan yang Gramed sebelumnya. Semacam keluar dari keriuhan menuju kesunyian. XD
Saya menuju sebuah rak di pojok. Waah…. Hanya ada satu rak buku Islami! 

Sisanya? Entahlah.

Kemudian saya tanya ke ceuceu Petugas Gramed:

“Teh, ada novel Cinta Dua Kodi?”

“Pengarangnya siapa?”

“Asma Nadia.”

“Coba lihat covernya seperti apa?”

Lalu saya tunjukan gambarnya ke si Ceueceu. 

“Ng… kayaknya nggak ada. Belum pernah lihat.”

Hah?! @_@

“Teh, kata petugas Gramed AP, di Gramed ini ada. Barangkali di gudang ada, Teh?”

“Nggak ada.”

Duh…. 

Ya Allah, sulit sekali dapat novel itu. Memang, ya, sesuatu yang dicari ketika sangat dibutuhkan itu sulit dimiliki. Tiba-tiba menjadi barang langka yang tak ada di mana-mana.

Ya sudah. Saya pulang tak membeli apa-apa. 

di luar hujan

di dalam hujan

; di hatiku

di Mataku

Menahan tangisan!

Lebay! Wkwkwkw.

Bohong. Biasa saja sebenarnya. Hanya sedikit kecewa itu ada. Apakah saya tidak bisa ikut lomba resensi? Kalo tidak ikut, rugi dua kali. Bedah buku tidak, masa iya resensi juga tidak.

Terpikir untuk beli online saja. 

Apa boleh buat, ketika itu saya berniat jika telah sampai rumah akan langsung pesan.

Sepanjang perjalanan diciprati hujan. Gerimisnya seperti ragu untuk membasahi jalanan. Mungkin malu, mungkin juga tertahan oleh sebuah doa, doa agar hujan mau sedikit saja menunggu. Ya, mungkin saja.

Selama itu pula kepala saya berputar, mencari celah-celah harapan di jalan ketidakmungkinan.
22-23 April 2018

(Bersambung)

Iklan