Saya Hanya Ingin Menulis. Itu saja.

Published Mei 11, 2018 by Sharmay HA

Jumat, 11 Mei 2018

Saya hanya ingin menulis. Itu saja.

Kepala, pikiran, dan perasaan saya sesak dengan hal-hal yang ingin saya tumpahkan pada kata-kata.

Saat ini tidak ingin dipusingkan dengan typo, kalimat rancu atau yang membuat seseorang jika kebetulan membaca catatan saya ini menggerutu dan merengutkam kening.

saya hanya ingin menulis. Itu saja.

Setelah tulisan saya tentang mengejar Cinta Dua Kodi, banyak yang ingin saya ungkapkan. Saya ingin bercerita perjalanan saya bertemu dengan Bang Tere Liye.

Norak? Hahaha. Ini kali pertama saya ketemu penulis besar. Kami dipertemukan–cielah, tanggal 27 April 2018. Sudah kadaluarsauntuk dikisahkan. Tapi ya terserah saya. Meski jika nanti saya menuliskan perjalanan ini akan banyak potongan cerita yang hilang karena ditelan lupa.

Selanjutnya saya ingin menulis cerita memgejar cinta dua kodi bagian 2, karena bagian satu belum selesai dan masihenggantung. Kebiasaan nulis pendek, jadi baru 5-7 halaman A4 itu serasa banyak.

Sebenarmya bukan itu yang membuat saya terpaksa belum menyelesaikan MCDK. Tapi ada  hal yang penting yang tidak boleh tidak mesti saya selesaikan. Dan hal itu … sayangnya saya lupa!

Omong-omong, saat ini saya sedang tidak sehat. Sebsgian tubuh saya dingin, enrah di dalam atau di luar. Bukan itu saja, keringat yang keluar pun dingin. Ditambah flu dan bersin yang membuat hidung saya sangat tak nyaman.

Saya memaksakan diri untuk menulis, setelah beberapa pekan disibukan denfan tugas, kesibukan yang sebenarnya tidak terlalu menyibukkan namun melelahkan, dan sakit saya yang awet ini. Meski saya menuliskan curcolan. Yang  jika ada yang membacanya akan menyesal telah membuang-buang waktu untuk hal-hal yamg tidak penting.

Sayangnya saat ini mata saya sudah berat untuk diajak melek. Lagi pula, Ibu berpesan agar saya lekas tidur dan tidak bergadang. Barangkali rasa kantuk ini muncul dari minuman yang saya buat, susu jahe. Sebelumnya dimerem-merem juga ini mata sulit diajak tidur.

Tapi saya ingin tetap menulis.

Karena meninggalkan menulis itu terasa sakit. Seperti ada lubang di hati saya. Dan pikiran pun serasa ingin meledak. Tubuh letih. Maka, tiap harinya, saya menulis. Meski hanya komentar di status orang. Meski hanya judul cerpen. Atau sepotong kisah yang kemudian saya tinggalkan sebelum semuanya benar-benar selesai.

Semacam kesia-siaan?

Mungkin.

Akan tetapi  bagi saya menulis itu melepaskan rasa sakit. Bahkan rasa sakit yang belum saya pahami.

[*]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: