Harapan yang Meminta Direalisasikan

Published Mei 17, 2018 by Sharmay HA

Ide-ide besar, cita-cita, dan impian-impian besar selalu menuntut perjuangan dan membutuhkan pengorbanan yang besar. Dan orang besar adalah orang yang mampu mewujudkan ide dan impian menjadi kenyataan.
-Hoeda Manis-

Marhaban ya Ramadhan!

Selamat datang bulan yang agung!

Ramadhan kali ini yang terbentang di bayangan saya adalah setumpuk kegiatan dan harapan-harapan yang semoga terlaksana dengan sesuai rencana. Namun, saya pun mengantisipasi dengan kemungkinan yang tak terduga. Hanya saja, apa yang saya persiapkan nyatanya  kadang terlibas dengan kejadian yang tak terlintas dalam pikiran.

Begitulah, namanya juga jalan kehidupan. Kita tahu akan ada kejutan yang akan kita hadapi, dan pada waktunya, meski kita sudah menduganya, tetap saja terkejut.

Di bulan yang penuh keberkahan ini, ada banyak target-target yang ingin saya capai.

Sebenarnya aneh juga. Kenapa di bulan yang padat kesibukan saya justru mematok target? Padahal di bulan biasa yang tidak banyak kesibukan, saya tidak terlalu mengencangkan ikat kepala untuk merealisasikan harapan.

Meski demikian, saya tidak berkecil harapan. Barangkali bulan ini menjadi medan pertempuran untuk menguji ketahanan saya, baik itu ketahanan fisik, semangat, energi, dan tentu saja ketahanan iman.

Kegiatan yang lumrah di bulan puasa diantaranya: Sahur, kuliah subuh, pasaran (ngaji yang biasanya lebih lama dari hari-hari biasa karena mengejar target khatam), tadarus, dan sebagainya.

Saya merenung,  mencoba memetakan setumpuk kesibukan yang akan saya nikmati. Berusaha saya nikmati. 

Selain itu saya mencoba mencari celah untuk menyisipkan target-target dalam deretan kesibukan itu.

Tiba-tiba saya ingat percakapan Satorou Fujinuma dan Airi dalam Anime Boku Dake Gainai Machi.

Satorou: “Saat kau menceritakan impianmu kepada orang lain, apa kau tak terpikir, bagaimana kalau impianmu tak terwujud?”

Airi: “Aku sama sekali tidak malu untuk menceritakannya. Aku merasa kalau aku terus mengatakannya itu benar-benar akan terwujud.”

Dan kali ini saya akan menceritakan beberapa harapan saya yang ingin terwujud di bulan Ramadhan. Saya ingin mencoba percaya pada apa yang dikatakan Airi. Dulu saya bukan tipe orang yang terbuka perasaan. Lebih menyukai menyimpan keinginan dalam keheningan ketimbang menyuarakannya menjadi kebisingan. Tentu saja dalam keheningan itu saya berusaha untuk merealisasikan keinginan.

Dan kali ini, saya mencoba untuk menyuarakn harapan. Barangkali, dengan mengatakan pada umum,  ada orang yang tak sengaja melihat kemudian mengucap doa yang membantu saya, menguatkan saya. Mungkin saja kan? Sekalipun saya beranggapan, yang singgah di blog ini kalau bukan tersesat, ya bukan sebuah kesengajaan. Tapi tidak masalah. Setidaknya ada  pembaca setia blog Warung Kenangan. Siapa lagi kalau bukan pemilik blog ini, saya sendiri. 

“Sendiri?” @_@

Iyaaaa, saya masih sen-di-ri! -___-“

Baiklah. Ini sudah melantur terlalu panjang.

Harapan yang ingin saya capai di bulan Ramadhan:

1. Lebih rajin membaca

Meski sibuk, saya berharap bisa mengkhatamkan beberapa buku. Minimal 3-5 buku. Akan tetapi saya meralatnya, di bulan Ramadhan saya berazam untuk menyelesaikan sirah nabawi yang berjudul “Muhammad Sang Yatim” karya Prof. Dr. Muhammad Sameh Said.

2. Menulis Kontemplasi.

“Apa, May? Konflikasi? Bikin konflik maksudnya?”

Kontemplasi, woy!

Sebuah perenungan. Atau sekadar basabasi dalam tulisan. Dan mungkin saya akan lebih jujur dalm menulis, tidak menyembunyikan kenyataan dalam simbol atau analogi. Akhir-akhir ini saya merasa tidak bebas lagi dalam menulis. Dulu, di awal saya masuk dunia kepenulisan saya lebih bebas, lebih mencirikan diri saya. Dan sekarang, saya seperti terbelnggu dengan sesuatu yang tidak saya tahu.

3. Lebih rajin posting di blog

Mungkin di lain waktu saya akan posting alasan saya jarang posting di fesbuk, dan hampir(?) meninggalkannya. Jika di twitter saya kurang berminat. Saya hanya sebagai pencari info dan event menulis saja, dan membagikan link blog.  Entah ke depannya, tapi untuk saat ini saya tidak tertarik untuk bercuit.

Maka yang menjadi penepian saya untuk melabuhkan tulisn saya adalah blog Warung Kenangan. Meski tampilannya belum saya rapikan dan tampak acak-acakan. Terlebih postingannya yang masih sangat sedikit. Saya harus menghijrahkan tulisan  yang sudah lama terpendam dalam  gawai ke blog ini.

Sebetulnya, saya ingin fokus mengisi Warung Kenangan hanya yang berkaitan dengam sastra, seperti cerpen, puisi, review buku. Tidak masalah, jika kemudian Warung Kenangan kemudian menjadi Warung Gado-gado karena menunya serba ada. 

4. Mengutamakan muroja’ah hafalan

Ya, saya mantapkan umtuk mengasah kembali juz-juz yang telah saya hafal. Dikarenakan kesibukan yang tidak jelas, saya merasa satu, dua tiga ayat bahkan berlembar-lembar agak memudar dalam ingatan.

Jika dulu saya sering mempunyai target di bulan puasa untuk khatam Qur’an 3 kali. Kali ini tidak. Saya ingin lebih santai dan menikmati kesantaian dalam membaca Qur’an. Meresapkan satu-dua ayat ke dalam perasaan dan sanubari. Lebih dari itu, mengamalkannya adalah sebuah keharusan.

5. Rajin muthola’ah kitab kuning.

Saya akui, saya lebih banyak membaca buku dari pada membaca kitab. Ilmu nahwu shorof yang dulu dipelajari, menguap oleh kesibukan. Lagi-lagi kesibulkan yang tidak jelas. Mungkin karena kemampuan berbahasa Arab saya yang menurun yang membuat saya malas. Membaca kitab kuning membutuhkan energi dua kali lipat.

Selain itu, saya juga menargetkan di tahun 2018 ini untuk hafal sekaligus faham beberapa kitab yang tipis. Seperti, Safinah, Sulam, Tijan, Nasho-ihul ibad, dan Ta’lim Al-Muta’allim. Bagi saya itu modal dasar yang sangat penting.

Kadang-kadang saya belum ingin mengaji yang lain selain mematangkan dulu pemahaman saya terhadap kitab-kitab yang saya sebut tadi. Tapi tuntutan dan kebutuhan dalam pendidikan yang saya tempuh  meminta lebih dari itu.  Meski apa yang guru ajarkan belum saya butuhkan. Tidak apa-apa, kalo kata guru saya “bil barkah”, cari berkah. Saat ini belum butuh, suatu saat nanti mungkin saya kleyengan dan menyesal tak bersungguh-sungguh. Sebenarnya sudah pernah terjadi. Sering malah. Hehehe.

Begitulah.

Allahumma hasshil maqoshidana…

Ya Allah wujudkan harapan-harapan kami.

Aamiiin!

Kamis, 1 Ramadhan 1439 H/17 Mei 2018 M

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: