UNTUK ORANG (TER)ASING

Published Mei 18, 2016 by Reddish

[Dimuat di Kedaulatan Rakyat (Jogja) edisi Minggu, 15 Mei 2016]

Oleh: Sharmay H. A :mrgreen:

========================================================================

Midas, Kita Sama-sama (ter)Asing

Kekonyolan adalah mengecek sebuah kotak berkali-kali padahal sudah tahu hanya kesia-siaan yang ada.

Parahnya, saya melakukan hal itu berkali-kali, sampai diri saya berubah menjadi kekonyolan.
Saya tidak tahu kenapa kamu ‘menghindar’, tak memberi ruang bagi saya untuk sekadar berkata ‘salam’, dan menanya kabar.
Barangkali kamu ‘uzlah, karena kamu telah menemukan hakikat. Ya, ‘uzlah dari ‘hectic life’ dan para hipokrisi yang menambah kebisingan dengan ucapan dan tampang-tampang pencitraan.
Kamu menjatuhkan diri pada keapaadaanmu; idealis, totalitas, misterius, genius–seperti apa yang kamu katakan dan saya rasakan.
Namun, terkadang kamu muncul di permukaan dengan topeng, berkamuflase menjadi sosok jenaka.
Hebat!
Dan orang-orang–bahkan awalnya saya–mengira kamu berasal dari lautan tenang dan damai.
Perlahan, kejadian yang saya temui, setiap perkataanmu yang mengerutkan kening saya karena sesak dengan konotasi, pemisalan dan misteri, kini dapat dimengerti walau tidak keseluruhan. Yang pasti kamu bukan berasal dari lautan biasa, kamu tumbuh-kembang di perairan yang ombaknya gagah. Saya tidak tahu berapa kali kamu terhempas, tergulung, bahkan hampir tenggelam di sana. Tapi, itu membuat kamu bertahan dengan karakter keapaadaanmu, saat kebanyakan orang terseret ke pusaran samudera dengan mudah dalam keadaan abu-abu.
Kamu adalah orang asing yang terasing. Begitupun saya.
Biarkan dunia beranggapan seperti itu. Mungkin dunialah yang menjadi asing bagi kita.
Saya mengamini bahwa kamu orang asing. Orang asing yang saya rindukan.
Bagaimana mungkin?
Tapi begitulah. Merindu tak harus pada seseorang yang dikenal saja.
Terlalu berlebihan?
Demikianlah adanya. Jika dijelaskan terlalu pelik.
Sama pelik dengan sebuah perpisahan. Midas, sebelumnya saya beranggapan tak ada yang mesti dirisaukan dari perpisahan. Karena ia amatlah mudah. Tak usah ditangisi, tak mesti mengadakan selebrasi. Sebab barangkali dunia ini memang diciptakan untuk sebuah perpisahan [1]. Seperti kata Sungging Raga, “Hidup sejatinya mengenai perputaran perjumpaan dan perpisahan tanpa henti.”
Dan bagi saya perpisahan itu hanya dalam drama atau cerita-cerita cinta picisan saja.
Salah!
Saya dijungkirbalikan kenyataan.
Tampaknya kenyataan tertawa terbahak melihat saya terpahit-pahit menelan sebuah kata yang namanya perpisahan. Padahal saya telah mempersiapkan mental jauh-jauh hari, manakala perpisahan itu datang.
Nyatanya ia menghantam lebih cepat, tepat di ulu hati saat saya lengah, hingga saya menggelepar dengan ketidakberdayaan. Mengenaskan.
Kamu bisa ajari saya bagaimana mengusir kenangan yang bergentayangan yang lebih menyeramkan dari para penunggu sungai?
Padahal kenangan itu hanya berwujud sekumpulan kata-kata, bukan fragmen-fragmen yang nyata.
Tetapi, lebih menyeramkan lagi–serasa–menjadi orang asing yang tersesat di planet antah-berantah, Midas.
Apa jarak sebegitu hebat mengubah sesuatu yang dikenal (dekat) menjadi (ter)asing?
Walau begitu, kamu tetap saya rindukan, Midas.
Jangan bosan dan melipat kening, kamu akan menemukan kata ‘asing’ yang berserakan. Sebab kata (ter)asing berdenyar dan menjadi headline di pikiran saya.
Kamu tahu, Midas, kamu yang memupuk sisi humor saya. Kini humor itu menumpul, mengusang dan mengasing saat kamu dan saya sama-sama (ter)asing.
Atau barangkali dari dulu kamu menganggap saya alien (makhluk asing) tersesat yang jatuh ke bumi dan ‘berjumpa’ denganmu; dengan pesona keapadaanmu, lalu saya berangan untuk bertransformasi menjadi makhluk bumi, padahal itu suatu kemustahilan!
Ah, perpisahan benar-benar mencipta jarak bermiliyar tahun cahaya dan membuat kita merasa (ter)asing lagi.
Karena itu pula, tanggal yang berguguran di tubuh kalender begitu pelit. Waktu serupa siput linglung. Untuk melipat detik pun seperti menggulung tahun. Tampaknya kenyataan dan waktu berkomplot mengolok-olok saya. Biar saya lama terpahit-pahit dalam keterpisahan yang tejadi, biar saya mewujud kepahitan dan biar saya menjadi (ter)asing.
Sadar bahwa saya benar-benar makhluk asing yang tersesat.
Kamu tahu? Pulang teramat berat. Sebab, kini kepulangan saya memikul kenangan seberat massa galaksi yang mustahil akan saya pikul.
Kendati begitu, adalah keharusan bagi saya untuk pulang pada ‘galaksi’ di mana saya berasal, tampaknya saya terlalu lancang untuk tersesat.
Barangkali adanya saya tidak boleh tidak, harus dienyahkan. Benar?
Karena ketersesatan saya adalalah kelancangan.
Ah, Midas, padahal tiada daya dalam diri saya. Atas lajunya perasaan ini pun saya tak kuasa, bahkan sekadar menghapus denyaran kata (ter)asing yang menjumud di pikiran.

Yang Merindukanmu;
Isaura
26 April, 2016
_

Catatan:
[1]Cerpen Sihir Tumis Ibu-Risda Nur Widia

========================================================================

“Dan begitulah wanita, mengandalkan perasaannya sendiri.”[*]
Aku melipat selembar surat tersebut sembari mengucap sebuah kalimat dalam cerpennya Sungging Raga. Isaura dan aku sama-sama menggemari karya penulis penyuka Arsenal dan kereta api itu. Tak aneh, kami sering mengutip kata-kata Sungging Raga.
Aku menggeleng-geleng kepala. Tak habis pikir, Isaura benar-benar beranggapan aku menjauhinya dan menganggapku asing. Ia juga mengambil langkah mundur. Aku tahu itu. Tampak dari suratnya. Ia menggunakan pengantar “saya”. Dirinya pernah berkata saat kutanya, mengapa ia ber-aku-kamu kepada orang tertentu, termasuk aku? Padahal ia selalu ber-saya-Anda- saat berbincang dengan kebanyakan orang.
“Aku menggunakan “saya” untuk kenalan dan orang asing. Dan ber-aku-kamu hanya untuk orang terdekat atau bisa juga kepada orang asing, sebagai tanda ketertarikanku padanya. Misalnya, kamu, Midas.”
Ia mengakhiri perkataannya dengan tawa. Dasar!
Tunggulah, Isaura, aku akan membalas suratmu agar perasaan keterasinganmu itu membuah jawaban. Maafkan aku, Isaura.

Tasikmalaya, 5-Mei-2016
_
[*]Cerpen Sebatang Pohon di Loftus Road-Sungging Raga
#SharmayHA_cerpen1

Ketidakjelasan Sesuatu yang Samar

Published April 20, 2016 by Reddish

Perpisahan–sementara–itu untuk pertemuan–abadi– selanjutnya.
Cepat atau lambat…
Suka atau tidak suka…
Pasti terjadi. Entah ini terlalu cepat–karena saya sedang nyaman-nyamannya–atau barangkali begitu lambat?
Ketahuilah, jauh-jauh hari telah saya rencanakan juga, hanya amat berat rasanya.
Ya, ini akan terjadi. Pasti.

Ada yang hilang dari dalam diri saya. Baca selengkapnya →

MASALAH SHARMAY

Published April 5, 2016 by Reddish

Matanya menjelajahi seisi rumah itu. Asri banget, pikir gadis yang
tengah menunggu si empunya rumah. Ini pertama kali bagi Sharmay–anak
kampung baru merantau ke kota–menduduki sofa empuk (kasian banget
yak? :v ) di kediaman seorang ustadz yang baru di kenalnya beberapa
pekan lalu saat mengikuti pengajian. Namanya Ustadz Boerhan Ibrahim.
Jika Alm. Ustadz Jeffri populer dengan singkatan UJ-nya, maka Ustadz
Boerhan Ibrahim ini terkenal dengan … (pembaca isi sendiri. Gak tega
pencerita nulis UBI—eh…. _ ).

“Assalamualaikum …!” Sesosok pria yang entah berapa umurnya datang
menyapa Sharmay. “Maaf menunggu lama, Dek.”
Kaos putih dan sarung membalut tubuh pria itu. Tak lupa peci putih pun
bertengger menutupi rambutnya yang sedikit beruban. Baca selengkapnya →

KAMU TERLALU TAKUT?

Published Februari 20, 2016 by Reddish

Kamu Terlalu Takut?

Berhentilah membesar-besarkan duga yang tak nyata! Kamu tahu, pagi tadi membuktikan spekulasimu meleset, jauh! Semua baik-baik saja. Dan kamu, telah lebih dulu bersembunyi, ragu untuk melangkah, takut pada celaan yang bahkan hanya ada dalam khayalanmu saja.

Andai kamu lebih cepat mengambil keputusan, ah … tentu banyak hal yang kamu dapat. Dan batinmu takkan tersiksa sekian purnama.
Sudahlah, tak usah berandai-andai. Tuhan tak menyukai hamba-Nya berlindung di balik kata itu. Percuma. Tak mengubah apapun! Baca selengkapnya →

TANGISAN SI GADIS

Published Februari 13, 2016 by Reddish

Alkisah ….
Setelah 14 abad lebih peristiwa hijrahnya ‘Al-Mustafaa’,  beribu kilometer (mungkin?) dari Jazirah Arab, di sudut kamar, seorang gadis menangis tersedu di malam hari.
Sebelum saya berkisah lebih lanjut, sejenak, mari menduga-duga.

Mungkin yang terlintas di benak Anda adalah ‘Apa yang membuatnya menangis?’

Terlalu picik kiranya jika Anda mengatakan bahwa ia jomblo yang meminta hujan di malam Minggu sampai menangis.
Maaf sekali ….
Sayangnya Anda benar, dia jomblo! Baca selengkapnya →

EGO

Published Februari 13, 2016 by Reddish

Seorang gadis berjalan tergesa menyusuri koridor sekolah. Suara genderang perang seolah mengiring derap langkah. Terlihat otot-otot pada tubuh gadis itu menegang. Ada aura hitam bercampur merah yang menyelimuti jiwanya. Mata gadis cantik ini jelalatan mencari sesosok mahluk yang telah mempermainkan dirinya, dan ia akan memberikan ‘hadiah’ pada mahluk itu.

 

Ketemu! Sorot netranya terkunci pada lelaki tinggi, tampan, putih berseri pula. (kahkah :v ) Kebetulan laki-laki itu berjalan ke arahnya. Gadis ini berhenti tepat di hadapan lelaki itu. Dengan kepala tertunduk dan kedua tangannya terkepal seolah sedang menahan sesuatu.

 

Dengan wajah berseri—walau agak bingung, lelaki berwajah sedikit nyerempet orang Jepang ini menyapa gadis di hadapannya, “Hai, Ayu, ada apa?”

 

Ayu mendongak, ia menatap tajam pada dua bola mata sipit itu. “Ada apa?!” Bukannya menjawab, ia malah mempertanyakan kembali ucapan si lelaki, “Tampang ‘innocent-mu, Saiful! Aku muak! Apa kau tak bisa membaca bahasa tubuhku?” sambungnya dengan suara meledak.

 

Seketika mereka menjadi pusat perhatian siswa-siswi yang ada di koridor. Saifullah—siswa nomor satu di SMAN 2—tak mau harga dirinya anjlok di hadapan rakyatnya gara-gara umpatan yang dilontarkan Ayu, ia pun bertanya lagi, “Ayu, aku sungguh tak mengerti. Kau bisa jel—“ Baca selengkapnya →