Masalah Sharmay

Published Desember 9, 2017 by Sharmay HA


​Matanya menjelajahi seisi rumah itu. ‘Asri banget,’ pikir gadis yang tengah menunggu si empunya rumah. Ini pertama kali bagi Sharmay -anak kampung baru merantau ke kota- menduduki sofa empuk (kasihan banget ya?) di kediaman seorang ustadz yang baru dikenalnya beberapa pekan lalu saat mengikuti pengajian. Namanya Ustadz Boerhan Ibrahim. Jika Alm. Ustadz Jeffri populer dengan singkatan UJ-nya, maka Ustadz Boerhan Ibrahim ini terkenal dengan … (pembaca isi sendiri. Gak tega pencerita nulis UBI–eh…).
“Assalamualaikum!” Sesosok pria yang entah berapa umurnya datang menyapa Sharmay. “Maaf menunggu lama, Dek.”

Kaus putih dan sarung membalut tubuh pria itu. Tak lupa peci putih pun bertengger menutupi rambutnya yang sedikit beruban. Sharmay berdiri menyambut orang yang ditunggunya.

“Waalaikumussalam, Ustadz. Ah, nggak apa-apa, kok.” Seulas senyum membingkai wajah sang gadis berjilbab.

“Ada perlu apa, Dek?” Tanya sang Ustadz. ‘Tidak biasanya ada remaja perempuan bertamu, mungkinkah dia meminta jodoh? Atau mungkin … dia ingin menjadikan aku jodohnya? (diprotes pembaca) Ralat! Mungkin dia ingin menjadikan aku mertuanya?’ Pertanyaan-pertanyaan terus berseliweran di benak Ustadz Boerhan.

“Oya, nama saya bukan Dek, Ustadz. Panggil saja saya Sharmay.” Sejenak tercengang, lalu berkata, “Oh, itu taktik agar saya tidak usah bertanya siapa nama–”
“Sharmay, Ustadz!” potong Sharmay cepat.

“Hadeuuh…. Iya, saya tahu!” Ustadz Boerhan membuang napas, agak kesal. Gue emang udah berumur, tapi gak telmi juga, batinnya. 

“Ada yang ingin saya tanyakan. Sebelumnya dua hari yang lalu saya ke sini, tapi katanya Ustadz sedang ke luar kota.” Gadis berjilbab itu mengutarakan maksudnya.

“Iya, semalam saya baru pulang, lalu istri menyampaikan ada gadis yang ingin bertemu saya. Memangnya apa yang ingin Sharmay tanyakan?”

“Begini ceritanya…” Mata Sharmay menerawang ke atas seolah menyaksikan cuplikan kisah yang diputar oleh memorinya. Pandangan Ustadz Boerhan latah mengikuti tingkah sang tamu.


Firasatku buruk! Sepertinya keberangkatan ke tempat perantauan tertunda beberapa jam karena kakakku kedatangan tamu dari jauh, katanya teman seprofesi.
 “May, keberangkatan kamu ditunda sampai teman Kakak pulang, ya, kasihan dia jauh-jauh ke mari. Hanya sebentar, kok. Jangan khawatir, nanti Kakak anterin kamu.” 

Kabar yang dibawanya cukup membuat hatiku dongkol. Aku terdiam di dapur, tiba-tiba kakak datang kembali, “Buatkan kopi Kereta Api dua!”
“Persediaan cuma ada satu lagi, Kak!” seruku sambil membuka lemari tempat menyimpan stok kopi sachetan [?].

“Ya sudah, buat satu saja untuk tamu,” tandasnya, lalu melenggang pergi ke ruang tamu. Kopi untuk tamu pun ku seduh. Saat akan mengaduknya, aku lupa belum membawa sendok. Padahal hanya sebentar kopi itu ditinggal. Ketika aku kembali, ada seekor cicak yang tercebur ke dalam gelas kopi! “Hei, cicak apa kau masih hidup?” tanyaku. Tak ada jawaban. Sepertinya cicak itu tewas seketika karena tak tahan berenang dalam air panas.

“Sebentar…,” Ustadz Boerhan menjeda kisah Sharmay. “Masa Sharmay nanya begitu sama cicak? Kenyataannya itu?” Kedua alisnya saling bertaut, heran.

“Nggak sih, biar agak keren ceritanya dikasih bumbu fiksi. Hehehe…” Pipi Sharmay bersemu merah dan terkekeh sumbang mendapati bola mata pria di hadapannya berputar malas.

Keren apanya? Ustadz Boerhan menggerutu dalam hati. “Lanjut ya?” Sang Ustadz mengiyakan.

Menyadari cicak malang tewas dalam kopi panas, segera ku evakuasi mayat itu dengan sendok, lantas berlari ke luar untuk memandikan, menyolatkan, dan menguburnya. Bohong! Aslinya langsung dibuang ke kolam belakang rumah. Saat kembali ke dapur, di meja ada keranjang belanjaan, itu artinya istri kakak sudah pulang dari pasar. Tapi … dimana gelas itu? Tadi di atas meja. Lenyap ke mana? Tak lama wanita yang dinikahi oleh kakakku datang dari ruang tamu membawa nampan. Celaka! 
“Kakak, gelas berisi kopi yang tadi di sini ke mana? Apa Kakak membawanya ke depan?” Dengan tempo amat cepat aku menghujaninya dengan pertanyaan, saking panik.
 Entah kaget atau apalah, istri kakak hanya menjawab dengan anggukan saja. Tapi, dari tatapannya meminta penjelasan, ‘Kenapa memang?’ Kedua tanganku membekap mulut yang menganga. Aku tak percaya ini! Sampai tamu itu pulang, aku tak berani ke luar kamar. Syok!

“Makanya kemarin sepulang dari kampung, sorenya saya langsung ke rumah Ustadz, mengabaikan rasa lelah demi menanyakan hukum kopi itu. Halal atau haram, Ustadz?”

“Hmm…,” tangan kiri sang Ustadz memainkan jenggotnya sembari memejamkan mata. Memang Ustadz Boerhan ini ketika mengisi pengajian sering membahas persoalan yang berkaitan dengan ilmu Fiqih. Maka dari itu Sharmay menemuinya.

“Hukumnya bisa halal bisa haram,” lanjutnya.

“Loh, itu bangkai kecebur ke dalam kopi, Ustadz! Kok bisa halal?”
“Bisa, walaupun terkena bangkai. Asal bangkainya itu sejenis hewan yang tidak mengalir darah banyak ketika sebagian tubuhnya dilukai. Seperti cicak, lalat, lebah, semut dan semacamnya. Kalau kopi itu kecebur bangkai ayam jadi haram, sebab ayam adalah jenis hewan yang ketika dilukai darahnya akan keluar banyak,” papar Ustadz Boerhan.

“Oh … saya mengerti, tapi kalau ayam kecebur ke dalam gelas sepertinya mustahil, Ustadz!” Sharmay protes, “Mana ada! Gak muat!” Lagi, Ustadz memutar bola matanya malas dan membatin, hadeuuh!

“Ya … misalkan! Bukan air kopi saja, pokoknya setiap air yang kurang dari dua qullah: mau seember, sebaskom ketika kejatuhi bangkai ayam atau hewan semacamnya menjadi najis dan haram diminum, apalagi dipakai bersuci.” Begitu seriusnya Sharmay memerhatikan penjelasan dari pria itu. Entah benar-benar paham atau … entahlah! Pencerita juga bingung.
“Kalau begitu, kasus cerita dari kopi saya itu tidak najis dan boleh diminum, ya, Ustadz Boerhan?”

“Betul, tapi dengan syarat air kopi itu rasa, warna, dan aromanya tidak berubah, Sharmay,” tambahnya.

“Ng… kalau aroma … waktu itu masih khas kopi, warna tetap hitam pekat. Nah, kalau rasa saya nggak nyoba. Terlanjur dihidangkan. Kalaupun belum dihidangkan, saya mana mau nyicipin air yang tercebur bangkai cicak. Hueekk!!” Tubuh Sharmay bergidik jijik membayangkan dirinya meminum kopi itu.

“Satu lagi, bangkai cicak itu tercebur bukan perbuatan manusia secara sengaja,” Ustadz Boerhan mengambil napas sejenak, lalu, “meski kopi itu tidak berubah warna, rasa dan aromanya, kalau sengaja tetap najis, haram diminum.”
Sharmay termenung. Ustadz Boerhan mengamatinya dan bergumam, anak ini terlihat lebih baik kalau diam daripada berbicara dan memotong ucapanku. Aku harus memakluminya, dia kan masih remaja labil. “Sudahlah, yang lalu biarlah lalu, Sharmay. Mudah-mudahan rasanya pun tak berubah walau bangkai cicak pernah berenang di dalamnya.”

“Semoga saja. Kalau tamu itu tahu pernah ada cicak tercebur dalam kopi yang diminumnya, saya tak sanggup melihat mimik wajahnya.” Sharmay dan Ustadz Boerhan tertawa berbarengan.
Hening sejenak. Sharmay memulai kembali pembicaraan, “Kalau boleh tahu, Ustad ke luar kota ngisi ceramah ya?”

“Nggak, saya silaturahmi ke beberapa teman sesama penulis, ke Jakarta, Bogor, Cianjur, dan terakhir ke Banjar, di sana paling lama. Eh, sebelum singgah di Banjar saya ke Italy dulu,” katanya dengan mata menerawang mengingat perjalanan yang cukup melelahkan, namun menyenangkan.

“Hebat!” Sharmay berdecak kagum, “Ustad silaturahmi ke Italy!”

“Indonesia bagian Tasikmalaya maksudnya.” Sang Ustadz terkekeh.

“Dua hari yang lalu saya baru pulang dari Tasik juga, Ustadz! Tepatnya dari rumah Kakak saya.” Perasaan bahagia mencuat dalam dada, ternyata orang yang dia kenal pernah singgah di kota kelahirannya.
“Sayangnya di Italy hanya sebentar, karena teman saya hendak pergi ke terminal. Tapi, saya bersyukur dapat buku karyanya berjudul NEGERI PENCURI PARFUM.” Ustadz Boerhan menyeringai. Sedangkan lawan bicaranya menampilkan ekspresi wajah yang sulit diterjemahkan. “Kenapa Sharmay?”

“I-itu judulnya seperti novel milik Kakak saya, Ustadz, namanya Bangmo Muhammad Ridwan!”

“Jadi… kopi itu…??” Ustadz Boerhan permisi untuk pergi ke belakang.
Sharmay bergeming, matanya tak berkedip beberapa detik. Apakah pikirannya tak salah menyimpulkan. Sharmay pun mengikuti sang Ustadz karena masih ada yang mengganjal dalam benaknya. “Hueeekkk…. Hueeeekkk!” Duh Gusti, lebih baik aku tidak tahu kalau kopi yang kuminum tercebur cicak mati. Batin Ustadz Boerhan menjerit.

Dengan polos Sharmay bertanya, “Ustadz, waktu itu rasa kopinya gimana?”


Sharmay HA

Tasikmalaya, 2015

Iklan

​TAKDIR SEORANG FARIHAH 

Published Juli 9, 2017 by Sharmay HA

Takdir selalu memberi kejutan.  Kalian percaya kan? Maka, kuatkan hati untuk menghadapi kenyataan yang tak seindah dugaan.


Farihah, “yang berbahagia“. Begitu kedua orang tuaku menyematkan doa dalam nama agar hidupku bahagia. Tapi, aku hanya tersenyum getir. Mengingat nama tak senada dengan nasib yang aku rasakan. Rasanya, dunia benar-benar tidak punya sepetak tanah untuk kebahagiaanku. Yang tampak, hanya lautan kesedihan.

<!–more–>

Aku pikir, menjadi wanita yang telah menikah adalah sebuah kebahagiaan. Akan dihadiahi senyum manis suami saat pagi, menghadapi rintangan hidup bersama-sama, berbagi suka -duka. Ah, itu hanya takdir sebagian wanita yang beruntung. Aku? Haha aku bukan bagian dari mereka.
Tapi aku percaya, Tuhan Mahaadil.

Jujur, mengalami manisnya menjadi pengantin baru aku pernah. Tidak dimungkiri, yang pernah menikah pasti merasakannya.  Tapi, semua itu berubah saat Negara Api menyerang–tidak, tidak! Ini bukan Avatar. Benar, semuanya hanya bertahan beberapa bulan. Keramahan suamiku mulai memudae.Waktu seolah melucuti topeng sandiwaranya. Dia menjadi pribadi “sahaok kadua gaplok katilu endog diceplok” (pertama marah, kedua memukul, ketiga telur dimata sapi). Seharusnya aku tidak berkelakar dengan menambah “katilu endog diceplok”. Pasti tidak akan ada yang percaya bahwa hidupku menderita.

Perlakuan kasarnya padaku harus kuterima gara-gara hal sepele. Beruntung saat dia marah tidak menstrika tubuh ini, seperti nasib segelintir TKW di negeri orang. Bersyukur kami tidak punya setrika. 

Seperti suatu hari,

“Hah!” teriak lelaki itu memanggilku. Padahal namaku FARIHAH. Tidak adakah panggilan yang lebih baik daripada “HAH”?

Saat itu aku tengah mencuci di belakang. Selain menjadi istri dari SYTD (suami yang tak dirindukan), aku juga bekerja sebagai buruh cuci tetangga. Upah yang didapat tidak besar, hanya Rp 5000 per ember. 

“Iya, Kang?” Tergopoh-gopoh menghampiri lelaki berkulit sawo terlampau matang.

“Aku lapar, mana? Tidak ada makanan? Jadi istri tak becus melayani suami!” hardiknya.

Ingin sekali aku bertanya balik, “Akang sudah becus jadi suami, belum?” Pertanyaan itu tak sampai ke kerongkongan. Takut. Bagaimanapun, dia suamiku. Harus aku hormati.

“Maaf, Kang, upah mencuci tidak cukup beli beras.”

“Hah, kau cuma beralasan! Aku tak peduli, yang penting perutku terisi saat ini!” Dia meneriakiku.

Matanya melotot, mengintruksi agar aku membawa apa saja agar perutnya terisi. Sebenarnya, banyak yang bisa memenuhi perut lelaki berambut ikal kusut, batu misalnya. Atau cucian yang masih di ember, setidaknya agar mulut yang menghitam karena rokok itu berhenti meneriaki aku. Tapi itu mustahil.

“Kapan terakhir Akang memberiku uang hasil mengojek? Kapan?!” Lagi-lagi perkataan itu hanya bergemuruh dalam dada.

Tidak pernah terpikir takdirku menjadi istri yang malang. Sedikit pun tak terbersit!

Upah tak seberapa, untuk sekali makan pun tak cukup. Ditambah lagi, katanya rupiah melemah. Imbasnya? Yaa … harga kebutuhan pokok naik. Hidup sebagai manusia di bawah rata-rata kefakiran memang sulit. Teramat pelik!

“Kenapa malah diam, Hah?!” Suara menggelegarnya mengejutkanku. Sadar, dari tadi aku hanya mematung–sibuk meratapi nasib–di hadapannya.

Aku menatap takut.  

“Oh …,” Suamiku menyeringai dan berjalan mendekat, “mau aku pukul?!” Dia bukan saja mengancam. Tangan kekar itu benar-benar terangkat mengambil ancang-ancang sebelum mendarat di pipi.

Aku memejamkan mata. Berharap ada orang yang menyelamatkanku seperti dalam sinetron-sinetron.

Plak!

Tidak ada yang mencegah tangan itu melukaiku. Perih. Pipiku terasa terbakar. Sadar, aku hidup bukan dalam sinetron. Bulir air mata meluncur tiba-tiba.  Sudah kubilang, dia sahaok kadua gaplok dan tanpa katilu endog diceplok. Penyiksaan fisik apakah membuatnya kenyang? Lihat! Suamiku melenggang pergi. Menurut orang waras, tenaganya terbuang sia-sia. Andai tenaga itu disalurkan bekerja–membantu memeras cucian–lalu upah itu dibelikan gorengan sekadar menganjal perut. 

Dan yang teramat sakit ialah perasaanku. Memimpikan menjadi istri yang disayang bukan ditempeleng garang.  

Teringat nasihat mendiang kakek, “Sabar, sabar, sabar! Meski hidup lebih pahit dari empedu. Percayalah Allah Mahaadil!”

Ya, sepertinya kakek telah memperediksi bahwa aku, cucunya akan bernasib begini.

Perihal perlakuan suami yang tidak manusiawi, aku hanya mampu tidak berdoakannya tersambar gledek atau terjungkal saat mengojek. Tidak. Jika aku memanjatkan doa seperti itu, kesabaran yang kulakukan tiada artinya.

Mengadu? Kepada siapa?

Hidup sebatang kara. Bapak ibu sudah tiada. Tak ada sanak saudara. Terdampar di kota asing mengikuti suami tercinta(?) Hallaaah…. Malah bermain rima.

Bagaimana pun juga, aku meminta kepada Allah agar dia sadar dan mendapat hidayah, serta memperlakukanku selayak istri tercinta. 

Hari itu aku larut dalam segara air mata. Ya, memang tak akan mengubah takdir yang menimpa. Tapi, setidaknya berton-ton beban di dada sedikit berkurang serupa ada rasa plong macam lepas sendawa.


“Euleuh, deudeuh teuing incu abah, (Aduhai, kasihan sekali cucu kakek),” lirih kakek, jemari tangannya tak henti mengusap rambutku yang tergerai. Aku terduduk di lantai menyenderkan kepala pada lutut lelaki sepuh yang berada di atas kursi. “Keun nya, ulah sedih deui. Kanalangsaan maneh geus teu kudu diceungceurikan. Allah maparin kaadilan ka maneh, (Sudahlah, jangan bersedih! kepedihanmu tidak usah ditangisi. Allah akan memberi keadilan kepadamu),” lanjutnya lagi.

Aku menatap kedua mata yang sendu, namun ada sebercak bahagia terlukis di sana.

“Ngadeg! (berdiri!)” perintahnya.

Aku menuruti apa yang dikata kakek.

Kain putih? Maksudku untuk apa? Kakek membungkuskan kain itu ke tubuhku. 

Aku merasakan sesuatu yang menjalar di seluruh tubuh. Kesedihan yang kualami selama ini dan terpendam di dasar hati terasa luruh. Tubuhku teramat ringan dan … jiwa ini seolah melayang.

Kain putih semakin lama semakin memendarkan cahaya, silau men!

Tiba-tiba, kakek menuntunku menyusuri jalanan yang cukup ramai. Dimana ini? Aku merasa tak asing. Dalam gejolak kebingungan itu, kakek menunjuk ke sebuah warung makan di pinggir jalan.

“Kau lihat itu?” tanyanya kini dengan bahasa Indonesia fasih.

Mengangguk. 

Lelaki berkofiah merah ala Aladin ini melanjutkan ucapannya, “Dia jodohmu!” Dia menatapku sambil tersenyum meyakinkan.

“Loh? Aku sudah menikah, Abah,” tukasku.

Sejenak, aku amati lamat-lamat sosok yang tadi ditunjuk kakek. Cantik! Senyum terkembang di bibir ini.

Hei, apa kataku? Cantik? Tunggu, ada yang salah denganku. Apa aku lesbi? 

Aku memalingkan muka ke hadapan kakek.

“Ada yang salah?” Alis kakek terangkat sebelah.

“Dia perempuan!” Wajahku merengut. “Tentu salah, Abah!”

Kedua lengannya memegang bahuku, lantas menghadapkan pada sebuah cermin besar milik penjual mainan.

“Tidaaaaaak!!!”


Seketika aku terlonjak. Napasku tersengal. Seperti sehabis dikejar babi hutan. Mimpi yang aneh! Mataku melirik jam yang tergantung di dinding. Pukul 2 dini hari. Mungkin karena perutku selalu keroncongan, jadi tidur pun tak pernah lama. Dan tidak sulit untuk bangun sepagi ini. Segera aku bergegas ke kamar mandi di belakang. Jangan bayangkan kamar mandi yang full kramik! Tempat ini lebih elit, beratap langit. Lantainya tersusun dari beberapa bambu yang memiliki panjang 2 meter. Dinding-dindingnya terbalut karung dan sarung butut. Air amat melimpah. Fantastis bukan? Dan yang paling unik kamar mandi ini berada di atas kolam. Di daerahku dinamai “bagbagan”.

Segera aku melepas pakaian, hendak mandi. Bagiku mandi dini hari adalah membuat tubuh ini fresh mendekati beku. Astaghfirullah! Lutut terasa hilang persendian. Aku tidak percaya ini!

Mimpi itu….


Aku benar-benar menjadi manusia terlahir kembali. Ya, walaupun rutinitasku adalah mencuci punya orang. Pagi sekali kutuntaskan lebih cepat. Ada orang yang akan aku kunjungi hari ini. Benar-benar kalut. Mungkin orang itu dapat memberi solusi.

Agak ragu aku memandang benda yang selalu membungkus tubuh ini. Daster kumal, dan kerudung. Bergegas mengganti pakaian, lalu aku mematut di depan cermin.

“Benarkah ini diriku?”


Beruntung rumahnya tidak jauh dari kediamanku. Aku tak bisa membayangkan jika jaraknya jauh, bisa-bisa aku pulang ngesot.

“Assalamu’alaikum, Ajengan!” sapaku saat sampai di tempat tujuan. 

Dia sedang duduk di halaman bersama istrinya.

“Wa’alaikumussalam warohmatullohi wabarokaatuh …,” jawab mereka serempak.

Aku mengutarakan maksud, lalu ajengan itu mempersilakan masuk.

Di ruang tamu

“Ajengan, percaya sama takdir?” tanyaku membuka pembicaraan, tanpa basa-basi. Jujur aku tak suka yang basi-basi. Hueeks lama basa-basi jadi basi beneran.

Wajah yang hampir tua itu merengut. Mungkin menebak ke mana arah pembicaraanku.

“Tentu saja, atuh, Neng Farihah.” Dia mengulum senyum. “Kalau tidak percaya … ya kufur. Dan bagi seorang mu’min mesti ridho menerimanya, baik itu yang baik atau pun yang buruk,”

Aku mengangguk-anggukan kepala tanda setuju dan merenggangkan leherku agak pegal.

“Apakah yang menimpa saya adalah bukti Allah Mahaadil dengan …,” Suaraku tercekat. Seperti ada yang menyangkut di kerongkongan. Aku tidak percaya akan mengatakan ini.

Lelaki yang ada di hadapanku memerhatikan dengan saksama.

Menghela napas sekejap, lantas mulutku begitu saja meluncurkan kisah kelam yang terjadi. Perlakuan suami selama ini, mimpi itu dan hal yang tadi malam kualami di bagbagan (bukan tentang mandi yang urung kulakukan).

Ajengan terkesiap, lalu ia memekik tertahan, “Masyaa Allah …! Benarkah?” Pandangannya menyorot mulai dari ujung kepala sampai kakiku. Aku tak merasa risih atau kikuk.

Segera aku pamit setelah dirinya memberiku solusi. 


Dini hari selalu membuatku terbangun. Entah kenapa, mungkin sudah menjadi kebiasaan. Saat hendak bangkit, ada sesuatu yang baru aku sadari. Suamiku pulang! Tangan kanannya melingkar di pinggangku. Seharusnya aku bahagia, tapi sekarang tidak.

“Maafkan aku, Farihah,” gumamnya masih dengan mata tertutup.

Ingin sekali menangis, tapi air mata itu tak kunjung keluar. Mungkinkah mengering? Aku benar-benar tak seperti dulu.

Pasrah. Aku urung bangun. Biarlah untuk terakhir kalinya ia memelukku.


Pagi ini aku masak spesial. Yang namanya spesial di kamusku itu yaa … nasi hangat, bakar ikan asin, sambal, dan lalapan. Maklumlah … upah dari buruh cuci ya alakadarnya. “Aku mah sakieu ge uyuhan. (Aku begini sja sudah bersyukur).”

Bersikap senormal mungkin di hadapan suami. Sudah bulat, setelah mendeklarasikan diri penampilanku akan segera berubah. Sekarang masih setia dengan daster kumal.

Dia makan dengan lahap. Ralat. Maksudku,  rakus! Berbeda denganku, makan sesuap-sesuap. Sesekali senyum miliknya terkembang sambil menatapku. 

Semoga saja dia benar-benar berubah.

“Enak, Kang?”

Suamiku mengangguk.

“Aku punya permintaan,” kataku selepas makan.

“Apa itu, Istriku?” serunya. Setelah sekian lama, mungkin berabad-abad rasanya ia baru memanggil denganku dengan kata itu. Perasaanku kalut!

Mencoba mengumpulkan tenaga yang tercecer seperti remah-remah di dekatnya, aku mengatakan hal yang amat sakral, “Ceraikan aku, Kang!”

“Uhuk! Uhuk! Air … minum!”

Dia tesedak saking kagetnya mungkin. 

Melihat itu aku panik, “Maaf, aku lupa tidak masak air!”

Saking asik masak spesial, lupa masak air. Duh, kacau!

Alhasil, dia minum air kobokan yang belum dikobok di dekatnya.

“Hah–eng, maksudku … istriku, aku tau selama ini telah berbuat kasar padamu ….”

“Tidak manusiawi,” aku meralatnya.

“Ya, ya, tapi aku telah tobat dan berjanji akan menyayangi istri sepenuh jiwa raga. Dulu aku bodoh,”

“Sekarang?”

“Masih bodoh.” Getar sesal terdengar dari ucapannya. Dia memasukan suapan terakhir.

“Kang,” dengan nada lembut aku berujar, “istri yang meminta cerai tanpa alasan syar’i tidak akan mencium wangi surga. Sedangkan, aroma surga itu tercium dari jarak 70 tahun perjalanan. Tentu aku tidak mau hal itu menimpa diri. Tapi aku punya alasan mengapa Akang wajib menceraiku.”

“Tidak! Pokoknya akang tidak akan menceraikanmu!” ucapnya tegas.

“Aku bukan Farihah yang dulu,” tukasku. Aku menyanggah agar dia mengalah. Tidak mau dia tahu diriku yang sebenarnya.

Dia tak mau kalah, “Aku bukan Yasman yang dulu juga, aku telah insyaf.”

“Aku bukan wanita lagi.”

“Aku juga bukan–” Ucapannya menggantung, lalu menatapku tak percaya, seolah mengatakan, “Jangan bercanda! Mustahil!”

Kejadian di luar nalar itu kuceritakan, mimpi dengan kakek, genderku yang berubah. Semua itu atas saran ajengan yang tempo hari kutemui. Lelaki yang sebentar lagi menyandang mantan suamiku itu menekuri tikar tempat kami duduk. 


Setelah mendeklarasikan sebagai Midas Abdul Ridha, Hidupku benar-benar berubah. Bukan saja penampilan yang berbeda, dan aku mulai dikenal banyak orang. Kabar tentang peristiwa ajaib itu merembet seperti  aliran listrik. Alhamdulillah, profesiku bukan buruh cuci lagi. Aku membuka warung makan. Dari mana uangnya? Hei, uang hasil undangan orang-orang aku kumpulkan. Begini,  untuk pertama kalinya aku dimuat di koran. Jangan berfikir di kolom orang hilang. Tidak! Pokoknya aku diundang untuk menceritakan kisah yang pernah dialami. Sampai diriku menjadi bintang tamu di televisi di acara “Hitam Kelabu”. 

Kebanjiran rejeki.

Semenjak Yasman–mantan suamiku–menceraika, dia tak pernah terlihat. Entah kemana, dia juga akan berubah katanya. Bukan, bukan berubah gender. Tapi perilakunya. Semoga.

Warung makan sederhana ini kami kelola bersama. Aku lupa belum membahas istriku, namanya Isaura. Dia gadis yang ada dala mimpi. Ajengan membantuku mencarinya. Dan aku menemukan tulang rusuk itu di pasar Malam Minggu. Persis lokasi saat dalam mimpi. Satu hal lagi, dia tidak mempersoalkan masa laluku. Kini, aku benar-benar akan menjadi lelaki yang bergelar “bapak”. Ssst … istriku tengah mengandung empat bulan. Hehe. 

Isaura tidak akan merasakan kepedihanku dulu sebagai istri. Tidak akan! Karena kami akan saling menyayangi dan melindungi layaknya pakaian yang menutupi anggota tubuh.
Tasikmalaya. Mei 2015.

​Sebuah Derita

Published Juni 20, 2017 by Sharmay HA

Saya mengerti apa yang kamu derita. Tak usah kaget dengan apa yang saya katakan. Rindu itu memang sebuah derita, bukan? 

Sebab bayang rindu tak henti mengetuk ingatan, getarnya menyisip di debaran jantung. Bahkan, terkadang terlalu pelik untuk membeda antara detak jantung dengan detak rindu di tiap detik. Seringnya, perasaan itu menjelma kentut; menyesak pada napas.
Ah, saya ingin mengamandemen kesepakatan kita. Sungguh semakin jarak terbentang, semakin rindu berdentam. Maka, adalah rindu yang memucat pasi, kala degupnya kian melirih, lalu mati oleh prasangka dan pupusnya mimpi.

Saat kematian rindulah semesta seakan sunyi, lenyi!

Pantaslah rindumu tak pernah tuntas dari dahaga. Suara, foto hanya ilusi belaka.

Ingatlah, wahai kamu!

Penentram rindu ialah doa. Pemuasnya ialah jumpa.

Benarlah, bahwa saya telah kehilangan sebuah bibit. Nyatanya bibit itu tertinggal dan tumbuh menjadi pohon rindu, yang rantingnya telah menjamah matamu.

Siapa pun berhak menyuarakan rindu

Termasuk kamu… 

Dan saya! 

#Reddish

KISAH DUA PENDEKAR

Published Juni 19, 2017 by Sharmay HA


Suatu hari dua pendekar sedang berkejaran di hutan.  Mereka saling melempar senjata dan menghindar dari serangan. Setelah beberapa lama….
“Hos … hos … hos …” 

Sambil melayang melewati beberapa dahan pohon, napas seorang pemuda tersengal-sengal. Wajahnya menampakan kecemasan. Sesekali kakinya menapak di dahan pohon, hal itu dilakukan agar tubuhnya bisa terbang ke udara.
“Riyu …! Benar-benar ya! Sebagai seorang pendekar kau tak perlu lari!”

Tak jauh di belakang pemuda tadi, seorang pria kekar  telah berseru lantang memecah kesunyian hutan. Sepertinya dia dalam kemarahan besar. Sorot matanya yang tajam tentunya akan membuat siapa saja bergidik ngeri jika melihatnya.
“Kau keras kepala Rega. Seharusnya kau mengerti dan tak perlu semarah ini!”

Riyu, pemuda yang berjubah merah itu menimpali ucapan pria kekar yang mengejarnya di belakang.
“Halah …, omong kosong!” bentak Rega. Detik berikutnya ia melemparkan dua pisau ke arah Riyu dan siap menghunjam punggung Riyu.
Trang … trang …

Dua pisau–yang hendak menghunjam punggung Riyu–terpental setelah Riyu memberikan serangan balasan saat kakinya menapak di dahan dengan cepat ia berbalik dengan mengirim tiga buah jarum. Dua buah jarum beradu dengan dua pisau tadi. Sedang sebuah jarum lagi melesat ke arah Rega. Rega menyeringai, mudah saja baginya untuk mengelak dari sebuah jarum, namun tiba-tiba seringai Rega harus luntur, betapa  tidak? Sebuah jarum tadi berubah menjadi puluhan jarum yang akan menghujani tubuhnya. Tanpa malu-malu  Rega mencabut pedang yang bertengger di punggungnya dengan secepat kilat.

Wuussshh..

Akibat tebasan pedangnya keluarlah angin yang menderu mementalkan puluhan jarum tadi. Namun …,
Ssstt!

Sebuah jarum ternyata dapat lolos dari sapuan angin tadi dan berhasil memberikan goresan luka di pelipis kanan Rega.
“Riyuuu….!!!” teriak Rega. Ia benar-benar geram.
“Hahaha … ternyata kau tetap lamban mengelak ya?” ejek Riyu.
“Diam kau! Sebaiknya kau  menyerah atau aku akan bertindak lebih!” 
“Ayolah Rega, ubah sikap keras kepalamu! Kita tak perlu melakukan ini!” timpal Riyu.
Riyu sebenarnya cemas. Bukan itu saja, ia sudah letih setelah kurang lebih satu jam menghindar dari Rega.
Rega menambah kecepatan. Kini ia menyamai langkah Riyu.

“Seenaknya kau berbicara, setelah apa yang kau lakukan dan tidak bertanggung jawab! Rasakan iniiii!!”
Bak halilintar di siang bolong, Riyu kaget sekali. Tiba-tiba Rega menghadang di depannya setelah Rega melangkah lebih cepat darinya.
Wusssh

Pedang Rega mengayun mencoba menebas Riyu. Tanpa pikir panjang Riyu mencabut pedang yang tergantung di pinggangnya.

(Ilustrasi –yang tak sesuai– diambil dari google. @_@ nu penting aya gambaran. 😛)

Traangg!

Pedang Rega dan pedang Riyu beradu. Tenaga pada pedang Rega lebih kuat membuat Riyu terpental kebawah. 
Dengan ringan sekali Rega terjun ke tanah mengikuti Riyu. Kini tanahlah yang jadi pijakan mereka. 
Hening.
“Tak bisakah kita menghentikan ini?” ucap Riyu memecah kesunyian.
“TIDAK BISA SAMPAI KAU BERTANGGUNG JAWAB!” 

Tanpa ba-bi-bu lagi Rega menyerang Riyu dengan cepat. Sebisa mungkin Riyu menangkis dan menyerang balik. Pertarungan mereka sangat sengit dan cukup lama. Hiruk pikuk suara pedang yang beradu meramaikan hutan. Serangan empat lima yang bertubi-tubi dari Rega membuat Riyu terdesak.  

Tak jarang Riyu terkena tebasan pedang Rega dan membuatnya terluka parah.
Riyu hanya bertahan. Ia tak diberi kesempatan oleh Rega untuk balik menyerang. Sampai suatu ketika tendangan kilat Rega memaksa pedang Riyu terlepas dari genggamannya dan terpental jauh. Detik berikutnya, Rega mengayunkan pedangnya pada lawan yang kini tak bersenjata. 
Tiba-tiba…

“HENTIKAN!”
Mendengar hal itu Rega berhenti menyerang.
“Kau menang Rega, kau hebat kuakui hal itu. Sekarang apa maumu?”
Tergurat senyuman di wajah Rega setelah mendengar ucapan Riyu.
“Tanggung jawabmu sebagai pendekar!” jawab Rega.
Riyu mendengus kesal, lantas  berucap,

“Baiklah-baiklah aku akan mengganti gehumu yang telah kumakan.”
“Ciyus?” tanya Rega.
“Iyelah, eykeu gak mau mati hanya karena ini, Ciin!”
“Kahkahkah” Rega terkekeh, “terimakasih,” lanjutnya seraya memapah Riyu yang terluka parah.

2013 (telah disunting 2017). Yang jomblo kapan disunting? Eh. 


Tulisan Jadoel. 

Ya, cerita itu adalah cerita lama yang saya buat sekitar tahun 2013 kalau tidak salah. Jauh sebelum saya mengenal dunia kepnulisan, namun sedang hobi menonton Naruto dan membaca cerita silat.

Sebenarnya ini bisa dibilang saduran (barangkali?). Karena twistnya bukan lahir dari pemikiran saya. Ya, bertarung sampai hampir mati cuma soal makanan?! 

Gelo! @_@

Saya mencoba mencari induk (?) cerita ini, namun tak kunjung saya temukan. 😦

Siapa pun pemilik twist itu, semoga arwahnya tenang di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Woooy! Emang doi sudah meninggal?  -_-#

AKU BERPIKIR DAN AKU BERHENTI

Published Januari 20, 2017 by Sharmay HA

​Aku berpikir, sebaiknya aku bersegera sebelum semuanya benar-benar tiba.

Tentang rindu, kepedihan, keputusasaan, hayalan yang mencandu, puisi-puisi ‘basi’, sekarang bagiku tak berguna. Semua hanya kesia-siaan dan mengkorup waktu saja.
Romantika dalam kehidupan memang ada, namun peperangan  dalam kehidupan di negeri ini jelas nyata! 

Tanah airku lebih berharga ketimbang perasaan yang telah  berwindu-windu nelangsa. Tak dimungkiri, kisah cinta dalam situasi perang hanya setitik warna, sisanya adalah pertumpahan darah dan banjir air mata. Aku telah kembali mengenakan dogi, dan mengukuhkan kembali  zirah petarungku dengan obi, menuju dojo, tempat berlatih diri. 

Aku memang tidak tahu kapan ‘peperangan’ akan terjadi. Setidaknya ketika pertikaian tiba-tiba meletus, dengan segenap ‘jiwa baru’, aku siap memerangi  orang-orang asing yang hendak menjajah negeri. Aku akan menjadi satu dari sekian juta prajurit pertiwi. Aku akan menjadi satu dari sekian juta prajurit yang memekik takbir di bawah panji-panji Ilahi. 

Aku berpikir, curahan-curahan tentang rindu dan kenelangsaan hanya menumpulkan hati. Serangkaian kata-kata basi membuat jiwa terkapar dan lupa diri, seakan-akan dirilah yang paling menderita, yang paling terluka, yang paling merasakan apa itu neraka dunia. Maka aku berhenti dari kata-kata ilusi, dari kata-kata yang melemahkan diri, dari kata-kata yang membuatku menjadi hipokrisi dan takut mati.

Saat aku mencermati serangkaian tragedi di negeri pertiwi, satu demi satu peristiwa menanggalkan topeng orang-orang yang sekian lama tertutupi, kini menampakkan jati diri, ke mana mereka beraliansi, pada siapa mereka memihak diri, dengan alasan apa mereka memilih suatu aliansi. Tampaklah, siapa sebenarnya yang ‘ditunggangi’. 
Saat rakyat mencari keadilan diabaikan. Pelanggar konstitusi dibiarkan berkeliaran. Rakyat mengadu atas ketidakpuasan putusan dan hendak berdemo lagi, malah diancam akan dibubarkan.  Elite politik yang berdalih menggelar parade kebudayaan dan terang-terangan menabrak peraturan tidak jelas dibagaimanakan? 
Rakyat yang bereaksi atas ketidakadilan dan ingin menyuarakan aspirasi justru digembosi, dihalang-halangi,  tidak boleh sewa alat transportasi. Bukankah itu tindakan inkonstitusi? Dan ‘kegiatan‘ yang jelas-jelas dipolitisasi malah difasilitasi. Kelompok yang katanya siap jaga negeri, nyatanya rumput saja tak bisa dijaga sama sekali. Duh…

Ada segolongan yang sering kali teriak-teriak ‘toleransi’ justru berpihak pada orang yang menabrak batas-batas toleransi. Mereka yang menuduh golongan lain ‘anti konstitusi’, malah membela mati-matian pelaku inkonstitusi.
Segolongan lain yang dituding dan sering difitnah:

“Radikal!”

Justru paling cinta kedamaian.

“Anti konstitusi!”

Justru terdepan  menegakan dan mengamalkan  konstitusi.

“Intoleran!”

Malah paling tahu bagaimana cara menghargai perbedaan.

“Pemecah belah negeri!”

Justru telah menyatukan sekian juta masyarakat dari penjuru bumi pertiwi TANPA dibayari.

“Makar!”

Padahal cuma bawa sejadah, sama kitab suci dibilang mau gulingkan pemerintahan. Cuma berdoa sama shalat berjamaah dituduh mau bikin kerusuhan.
Aku berpikir, keadilan menjadi barang yang sulit dicari di negeri ini. Penegakan keadilan dinomorduakan dengan dalih pesta demokrasi.

 Hukum seakan tumpul dihadapan satu orang yang mulutnya semprul! 
Aku berpikir, bahwa orang-orang ‘sinting’ tengah menggelar sandiwara. Segala drama kebohongan dilakukan agar orang lain kasihan dan percaya, sekaligus pengalihan berita.

“Waah … kirain buaya nangis hanya mitos!”

“Jangan mau dibohongi pake air mata!”

“Kalau percaya, dibodohi itu!”
Sedemikian rencana dilakoni ‘mereka’ demi mengalihkan pemberitaan ‘utama’ dan memunculkan topik terkini tentang panci. Sayangnya, meski digembor-gemborkan di tipi, panci tak diminati, bahkan jadi guyonan karena isi ‘Sinetron Panci’ sudah basi dan para pemainnya tampak tak bisa menjiwai.

Sekarang panci, nanti apa lagi?

Duh….

Namun, ada saja orang-orang yang berkomentar, menyatakan ketidakpedulian atas apa yang terjadi.

“Ngomongin politik terus, pasti gara-gara sering nonton tipi!”

“Politik nggak usah diurusi!”

“Iya, lebih baik masa bodo. Bikin cape ati!”
Bagitulah, malah asyik membahas panci.

“Hiii… panci.”

“Kenapa sama panci?”

“Tidak tahu. Katanya istana jadi rame gara-gara panci.”

“Waaah?!”

Aku berpikir dan aku berhenti dari keapatisan pada kondisi negeri. Aku berpikir dan aku berhenti dari kebungkaman terhadap gempuran orang asing dan aseng yang menginginkan bumi pertiwi. Aku berpikir dan aku berhenti dari keragu-raguan akan ‘pekai’ yang siap bangkit kembali. Mereka benar-benar telah menampakkan diri! 
Mengapa banyak sekali yang kami hadapi? 

“Mungkin negeriku sedang diuji.”
Aku berpikir,  mungkin rakyat yang peduli akan berkata,  “Lebih baik tetap hati-hati, perbanyak doa pada Ilahi dan  berhenti memikirkan panci.”

#Al-Humairy

Robiul Awal 1438/Desember, 2016

Tidak Apa-Apa

Published November 9, 2016 by Sharmay HA

Kita telah meletakkan jarak
menjadi kesunyian yang paling purbawi

Saat kau memilih diam

Aku pun bungkam

Dan kesunyian telah nyata

Di depan m a t a

Dan jarak telah membentang

Teramat panjang!

Mengekang

Menjadikan hilang!

H i l a n g, 

Tidak bersisa apa-apa

Kukatakan, “Tidak apa-apa. 

Tak jadi mengapa.”

Memang kita berawal papa

Apa-apa fana

Tak bertahan lama

Maka,

“Tidak apa-apa papa atas apa-apa yang fana.”

Tidak apa-apa. Tidak jadi mengapa. Karena kita juga fana.
Sharmay, November, 2016