AKU BERPIKIR DAN AKU BERHENTI

Published Januari 20, 2017 by Sharmay HA

​Aku berpikir, sebaiknya aku bersegera sebelum semuanya benar-benar tiba.

Tentang rindu, kepedihan, keputusasaan, hayalan yang mencandu, puisi-puisi ‘basi’, sekarang bagiku tak berguna. Semua hanya kesia-siaan dan mengkorup waktu saja.
Romantika dalam kehidupan memang ada, namun peperangan  dalam kehidupan di negeri ini jelas nyata! 

Tanah airku lebih berharga ketimbang perasaan yang telah  berwindu-windu nelangsa. Tak dimungkiri, kisah cinta dalam situasi perang hanya setitik warna, sisanya adalah pertumpahan darah dan banjir air mata. Aku telah kembali mengenakan dogi, dan mengukuhkan kembali  zirah petarungku dengan obi, menuju dojo, tempat berlatih diri. 

Aku memang tidak tahu kapan ‘peperangan’ akan terjadi. Setidaknya ketika pertikaian tiba-tiba meletus, dengan segenap ‘jiwa baru’, aku siap memerangi  orang-orang asing yang hendak menjajah negeri. Aku akan menjadi satu dari sekian juta prajurit pertiwi. Aku akan menjadi satu dari sekian juta prajurit yang memekik takbir di bawah panji-panji Ilahi. 

Aku berpikir, curahan-curahan tentang rindu dan kenelangsaan hanya menumpulkan hati. Serangkaian kata-kata basi membuat jiwa terkapar dan lupa diri, seakan-akan dirilah yang paling menderita, yang paling terluka, yang paling merasakan apa itu neraka dunia. Maka aku berhenti dari kata-kata ilusi, dari kata-kata yang melemahkan diri, dari kata-kata yang membuatku menjadi hipokrisi dan takut mati.

Saat aku mencermati serangkaian tragedi di negeri pertiwi, satu demi satu peristiwa menanggalkan topeng orang-orang yang sekian lama tertutupi, kini menampakkan jati diri, ke mana mereka beraliansi, pada siapa mereka memihak diri, dengan alasan apa mereka memilih suatu aliansi. Tampaklah, siapa sebenarnya yang ‘ditunggangi’. 
Saat rakyat mencari keadilan diabaikan. Pelanggar konstitusi dibiarkan berkeliaran. Rakyat mengadu atas ketidakpuasan putusan dan hendak berdemo lagi, malah diancam akan dibubarkan.  Elite politik yang berdalih menggelar parade kebudayaan dan terang-terangan menabrak peraturan tidak jelas dibagaimanakan? 
Rakyat yang bereaksi atas ketidakadilan dan ingin menyuarakan aspirasi justru digembosi, dihalang-halangi,  tidak boleh sewa alat transportasi. Bukankah itu tindakan inkonstitusi? Dan ‘kegiatan‘ yang jelas-jelas dipolitisasi malah difasilitasi. Kelompok yang katanya siap jaga negeri, nyatanya rumput saja tak bisa dijaga sama sekali. Duh…

Ada segolongan yang sering kali teriak-teriak ‘toleransi’ justru berpihak pada orang yang menabrak batas-batas toleransi. Mereka yang menuduh golongan lain ‘anti konstitusi’, malah membela mati-matian pelaku inkonstitusi.
Segolongan lain yang dituding dan sering difitnah:

“Radikal!”

Justru paling cinta kedamaian.

“Anti konstitusi!”

Justru terdepan  menegakan dan mengamalkan  konstitusi.

“Intoleran!”

Malah paling tahu bagaimana cara menghargai perbedaan.

“Pemecah belah negeri!”

Justru telah menyatukan sekian juta masyarakat dari penjuru bumi pertiwi TANPA dibayari.

“Makar!”

Padahal cuma bawa sejadah, sama kitab suci dibilang mau gulingkan pemerintahan. Cuma berdoa sama shalat berjamaah dituduh mau bikin kerusuhan.
Aku berpikir, keadilan menjadi barang yang sulit dicari di negeri ini. Penegakan keadilan dinomorduakan dengan dalih pesta demokrasi.

 Hukum seakan tumpul dihadapan satu orang yang mulutnya semprul! 
Aku berpikir, bahwa orang-orang ‘sinting’ tengah menggelar sandiwara. Segala drama kebohongan dilakukan agar orang lain kasihan dan percaya, sekaligus pengalihan berita.

“Waah … kirain buaya nangis hanya mitos!”

“Jangan mau dibohongi pake air mata!”

“Kalau percaya, dibodohi itu!”
Sedemikian rencana dilakoni ‘mereka’ demi mengalihkan pemberitaan ‘utama’ dan memunculkan topik terkini tentang panci. Sayangnya, meski digembor-gemborkan di tipi, panci tak diminati, bahkan jadi guyonan karena isi ‘Sinetron Panci’ sudah basi dan para pemainnya tampak tak bisa menjiwai.

Sekarang panci, nanti apa lagi?

Duh….

Namun, ada saja orang-orang yang berkomentar, menyatakan ketidakpedulian atas apa yang terjadi.

“Ngomongin politik terus, pasti gara-gara sering nonton tipi!”

“Politik nggak usah diurusi!”

“Iya, lebih baik masa bodo. Bikin cape ati!”
Bagitulah, malah asyik membahas panci.

“Hiii… panci.”

“Kenapa sama panci?”

“Tidak tahu. Katanya istana jadi rame gara-gara panci.”

“Waaah?!”

Aku berpikir dan aku berhenti dari keapatisan pada kondisi negeri. Aku berpikir dan aku berhenti dari kebungkaman terhadap gempuran orang asing dan aseng yang menginginkan bumi pertiwi. Aku berpikir dan aku berhenti dari keragu-raguan akan ‘pekai’ yang siap bangkit kembali. Mereka benar-benar telah menampakkan diri! 
Mengapa banyak sekali yang kami hadapi? 

“Mungkin negeriku sedang diuji.”
Aku berpikir,  mungkin rakyat yang peduli akan berkata,  “Lebih baik tetap hati-hati, perbanyak doa pada Ilahi dan  berhenti memikirkan panci.”

#Al-Humairy

Robiul Awal 1438/Desember, 2016

Iklan

Tidak Apa-Apa

Published November 9, 2016 by Sharmay HA

Kita telah meletakkan jarak
menjadi kesunyian yang paling purbawi

Saat kau memilih diam

Aku pun bungkam

Dan kesunyian telah nyata

Di depan m a t a

Dan jarak telah membentang

Teramat panjang!

Mengekang

Menjadikan hilang!

H i l a n g, 

Tidak bersisa apa-apa

Kukatakan, “Tidak apa-apa. 

Tak jadi mengapa.”

Memang kita berawal papa

Apa-apa fana

Tak bertahan lama

Maka,

“Tidak apa-apa papa atas apa-apa yang fana.”

Tidak apa-apa. Tidak jadi mengapa. Karena kita juga fana.
Sharmay, November, 2016

UNTUK ORANG (TER)ASING

Published Mei 18, 2016 by Sharmay HA

[Dimuat di Kedaulatan Rakyat (Jogja) edisi Minggu, 15 Mei 2016]

Oleh: Sharmay H. A :mrgreen:

========================================================================

Midas, Kita Sama-sama (ter)Asing

Kekonyolan adalah mengecek sebuah kotak berkali-kali padahal sudah tahu hanya kesia-siaan yang ada.

Parahnya, saya melakukan hal itu berkali-kali, sampai diri saya berubah menjadi kekonyolan.
Saya tidak tahu kenapa kamu ‘menghindar’, tak memberi ruang bagi saya untuk sekadar berkata ‘salam’, dan menanya kabar.
Barangkali kamu ‘uzlah, karena kamu telah menemukan hakikat. Ya, ‘uzlah dari ‘hectic life’ dan para hipokrisi yang menambah kebisingan dengan ucapan dan tampang-tampang pencitraan.
Kamu menjatuhkan diri pada keapaadaanmu; idealis, totalitas, misterius, genius–seperti apa yang kamu katakan dan saya rasakan.
Namun, terkadang kamu muncul di permukaan dengan topeng, berkamuflase menjadi sosok jenaka.
Hebat!
Dan orang-orang–bahkan awalnya saya–mengira kamu berasal dari lautan tenang dan damai.
Perlahan, kejadian yang saya temui, setiap perkataanmu yang mengerutkan kening saya karena sesak dengan konotasi, pemisalan dan misteri, kini dapat dimengerti walau tidak keseluruhan. Yang pasti kamu bukan berasal dari lautan biasa, kamu tumbuh-kembang di perairan yang ombaknya gagah. Saya tidak tahu berapa kali kamu terhempas, tergulung, bahkan hampir tenggelam di sana. Tapi, itu membuat kamu bertahan dengan karakter keapaadaanmu, saat kebanyakan orang terseret ke pusaran samudera dengan mudah dalam keadaan abu-abu.
Kamu adalah orang asing yang terasing. Begitupun saya.
Biarkan dunia beranggapan seperti itu. Mungkin dunialah yang menjadi asing bagi kita.
Saya mengamini bahwa kamu orang asing. Orang asing yang saya rindukan.
Bagaimana mungkin?
Tapi begitulah. Merindu tak harus pada seseorang yang dikenal saja.
Terlalu berlebihan?
Demikianlah adanya. Jika dijelaskan terlalu pelik.
Sama pelik dengan sebuah perpisahan. Midas, sebelumnya saya beranggapan tak ada yang mesti dirisaukan dari perpisahan. Karena ia amatlah mudah. Tak usah ditangisi, tak mesti mengadakan selebrasi. Sebab barangkali dunia ini memang diciptakan untuk sebuah perpisahan [1]. Seperti kata Sungging Raga, “Hidup sejatinya mengenai perputaran perjumpaan dan perpisahan tanpa henti.”
Dan bagi saya perpisahan itu hanya dalam drama atau cerita-cerita cinta picisan saja.
Salah!
Saya dijungkirbalikan kenyataan.
Tampaknya kenyataan tertawa terbahak melihat saya terpahit-pahit menelan sebuah kata yang namanya perpisahan. Padahal saya telah mempersiapkan mental jauh-jauh hari, manakala perpisahan itu datang.
Nyatanya ia menghantam lebih cepat, tepat di ulu hati saat saya lengah, hingga saya menggelepar dengan ketidakberdayaan. Mengenaskan.
Kamu bisa ajari saya bagaimana mengusir kenangan yang bergentayangan yang lebih menyeramkan dari para penunggu sungai?
Padahal kenangan itu hanya berwujud sekumpulan kata-kata, bukan fragmen-fragmen yang nyata.
Tetapi, lebih menyeramkan lagi–serasa–menjadi orang asing yang tersesat di planet antah-berantah, Midas.
Apa jarak sebegitu hebat mengubah sesuatu yang dikenal (dekat) menjadi (ter)asing?
Walau begitu, kamu tetap saya rindukan, Midas.
Jangan bosan dan melipat kening, kamu akan menemukan kata ‘asing’ yang berserakan. Sebab kata (ter)asing berdenyar dan menjadi headline di pikiran saya.
Kamu tahu, Midas, kamu yang memupuk sisi humor saya. Kini humor itu menumpul, mengusang dan mengasing saat kamu dan saya sama-sama (ter)asing.
Atau barangkali dari dulu kamu menganggap saya alien (makhluk asing) tersesat yang jatuh ke bumi dan ‘berjumpa’ denganmu; dengan pesona keapadaanmu, lalu saya berangan untuk bertransformasi menjadi makhluk bumi, padahal itu suatu kemustahilan!
Ah, perpisahan benar-benar mencipta jarak bermiliyar tahun cahaya dan membuat kita merasa (ter)asing lagi.
Karena itu pula, tanggal yang berguguran di tubuh kalender begitu pelit. Waktu serupa siput linglung. Untuk melipat detik pun seperti menggulung tahun. Tampaknya kenyataan dan waktu berkomplot mengolok-olok saya. Biar saya lama terpahit-pahit dalam keterpisahan yang tejadi, biar saya mewujud kepahitan dan biar saya menjadi (ter)asing.
Sadar bahwa saya benar-benar makhluk asing yang tersesat.
Kamu tahu? Pulang teramat berat. Sebab, kini kepulangan saya memikul kenangan seberat massa galaksi yang mustahil akan saya pikul.
Kendati begitu, adalah keharusan bagi saya untuk pulang pada ‘galaksi’ di mana saya berasal, tampaknya saya terlalu lancang untuk tersesat.
Barangkali adanya saya tidak boleh tidak, harus dienyahkan. Benar?
Karena ketersesatan saya adalalah kelancangan.
Ah, Midas, padahal tiada daya dalam diri saya. Atas lajunya perasaan ini pun saya tak kuasa, bahkan sekadar menghapus denyaran kata (ter)asing yang menjumud di pikiran.

Yang Merindukanmu;
Isaura
26 April, 2016
_

Catatan:
[1]Cerpen Sihir Tumis Ibu-Risda Nur Widia

========================================================================

“Dan begitulah wanita, mengandalkan perasaannya sendiri.”[*]
Aku melipat selembar surat tersebut sembari mengucap sebuah kalimat dalam cerpennya Sungging Raga. Isaura dan aku sama-sama menggemari karya penulis penyuka Arsenal dan kereta api itu. Tak aneh, kami sering mengutip kata-kata Sungging Raga.
Aku menggeleng-geleng kepala. Tak habis pikir, Isaura benar-benar beranggapan aku menjauhinya dan menganggapku asing. Ia juga mengambil langkah mundur. Aku tahu itu. Tampak dari suratnya. Ia menggunakan pengantar “saya”. Dirinya pernah berkata saat kutanya, mengapa ia ber-aku-kamu kepada orang tertentu, termasuk aku? Padahal ia selalu ber-saya-Anda- saat berbincang dengan kebanyakan orang.
“Aku menggunakan “saya” untuk kenalan dan orang asing. Dan ber-aku-kamu hanya untuk orang terdekat atau bisa juga kepada orang asing, sebagai tanda ketertarikanku padanya. Misalnya, kamu, Midas.”
Ia mengakhiri perkataannya dengan tawa. Dasar!
Tunggulah, Isaura, aku akan membalas suratmu agar perasaan keterasinganmu itu membuah jawaban. Maafkan aku, Isaura.

Tasikmalaya, 5-Mei-2016
_
[*]Cerpen Sebatang Pohon di Loftus Road-Sungging Raga
#SharmayHA_cerpen1

Ketidakjelasan Sesuatu yang Samar

Published April 20, 2016 by Sharmay HA

Perpisahan–sementara–itu untuk pertemuan–abadi– selanjutnya.
Cepat atau lambat…
Suka atau tidak suka…
Pasti terjadi. Entah ini terlalu cepat–karena saya sedang nyaman-nyamannya–atau barangkali begitu lambat?
Ketahuilah, jauh-jauh hari telah saya rencanakan juga, hanya amat berat rasanya.
Ya, ini akan terjadi. Pasti.

Ada yang hilang dari dalam diri saya. Baca selengkapnya →

MASALAH SHARMAY

Published April 5, 2016 by Sharmay HA

Matanya menjelajahi seisi rumah itu. Asri banget, pikir gadis yang
tengah menunggu si empunya rumah. Ini pertama kali bagi Sharmay–anak
kampung baru merantau ke kota–menduduki sofa empuk (kasian banget
yak? :v ) di kediaman seorang ustadz yang baru di kenalnya beberapa
pekan lalu saat mengikuti pengajian. Namanya Ustadz Boerhan Ibrahim.
Jika Alm. Ustadz Jeffri populer dengan singkatan UJ-nya, maka Ustadz
Boerhan Ibrahim ini terkenal dengan … (pembaca isi sendiri. Gak tega
pencerita nulis UBI—eh…. _ ).

“Assalamualaikum …!” Sesosok pria yang entah berapa umurnya datang
menyapa Sharmay. “Maaf menunggu lama, Dek.”
Kaos putih dan sarung membalut tubuh pria itu. Tak lupa peci putih pun
bertengger menutupi rambutnya yang sedikit beruban. Baca selengkapnya →

KAMU TERLALU TAKUT?

Published Februari 20, 2016 by Sharmay HA

Kamu Terlalu Takut?

Berhentilah membesar-besarkan duga yang tak nyata! Kamu tahu, pagi tadi membuktikan spekulasimu meleset, jauh! Semua baik-baik saja. Dan kamu, telah lebih dulu bersembunyi, ragu untuk melangkah, takut pada celaan yang bahkan hanya ada dalam khayalanmu saja.

Andai kamu lebih cepat mengambil keputusan, ah … tentu banyak hal yang kamu dapat. Dan batinmu takkan tersiksa sekian purnama.
Sudahlah, tak usah berandai-andai. Tuhan tak menyukai hamba-Nya berlindung di balik kata itu. Percuma. Tak mengubah apapun! Baca selengkapnya →