Buku

All posts tagged Buku

โ€‹Usaha Mungkin dalam Ketidakmungkinan Mengejar Cinta Dua Kodi

Published April 25, 2018 by Sharmay HA

23 April 2018: Selamat hari (I)Buku!

(Telat posting. Wkwkwk)


Jadi begini, saya hanya sekadar mereminisensi sekumpulan jejak yang telah lalu, yang terabadikan dalam deretan waktu.

Jangan terlalu serius, nanti jadi kurus. (Alhamdulillah) Santai saja! ๐Ÿ™‚

Tepat ketika penaggalan masehi jatuh pada 22 April, 2018,  hari Ahad petang, saya mendapat kabar di Fesbuk. Kabar membahagiakan, menyingkapkan kemuraman yang tengah saya rasakan.

Kabar baiknya itu adalah acara bedah buku Cinta Dua Kodi Bu Asma Nadia! Yang menjadi istimewanya itu diadakan di Italy! Indonesia bagian Tasikmalaya. Dan 100 novel bagi 100 peserta  yang hadir paling awal!

Gratis lagi!

Ek kumaha teu kabita?

(Sumber gambar: Fb Pak Isa Alamsyah)

Salah satu persyaratannya itu mendaftar via Vallen-eh, via sms ke panitia.

Maka, selepas Isya,  tepatnya 19:26 WIB, saya kirim pesan untuk mendaftar. 

Selang beberapa jam, muncul balasan:

“Mohon maaf kuota sudah penuh. Kami ucapkan terimakasih atas partisipasi kakak yg telah berkenan mendaftar sebagai peserta.๐Ÿ˜‰ ” (22:10 WHS: Waktu Hape Saya)

Detik itu, ada yang bergetar… 

Tangan saya!

Oh… ada pesan WA ternyata. Lupakan!
Kecewa? Sedih? 

Jelas ada. Saya teh manusia. :’v  

Masalahnya, jarang ada acara seperti itu di Italy. Terlebih, saya belum berjumpa secara nyata dengan penulis muslimah yang sangat produktif! Sebetulnya bukan masalah perjumpaan, ini lebih kepada ilmu dan pengetahuan yang keluar dari lisannya. Rasanya tidak sempurna status keanggotan KBM seseorang sebelum matanya melihat, dan telinganya mendengar langsung petuah  pendiri komunitas bisa menulis di dunia biru.

Kembali ke pesan dari panitia.

Itu artinya, saya tidak bisa ikut. Kuota penuh! Jika boleh menawar, ingin sekali mengatakan: 

“Tidak apa-apa, Kak Panitia, saya mah tidak kebagian kursi juga teu nanaon.

Enya teu nanaon, ngan rek diuk dina naon? Mawa jojodog sorangan?

Ya sudah, ini jalan yang mesti saya lalui. Tidak apa-apa. Bukan rejeki. :’)

Semoga di waktu kemudian, saya punya kesempatan untuk mengikuti acara-acara kepenulisan. Terlebih yang diadakan Bu Asma Nadia dan suaminya, Pak Isa.

Aamiiin.
Pada akhirnya saya hanya bisa menitip secarik salam untuk Bu Asma lewat Kakak Panitia. Tapi entahlah, apakah salam itu telah sampai, atau justru terbai?

Saya mah naon atuh daa? :’v

Wallahu a’lam intinya mah. 
Baik, saya tidak ditakdirkan untuk ikut acara bedah buku, namun setidaknya saya akan berpartisipasi dalam lomba resensinya.

Selain acara bedah buku, bu Asma mengadakan lomba resensi cinta dua kodi tingkat mahasiswa se-Priangan Timur. 

Garis kematiannya (baca DL) Senin 30 April 2018, pukul 15:00.

Kemudian saya membuat rencana,  membangun serangkaian kemungkinan yang akan saya lakukan.  

“Senin pagi nguli, pulang mampir ke Gramedi, beli buku cinta dua kodi dan kumcer terbaru seorang cerpenis penyuka puisi,  kemudian pulang, lalu membaca novel cinta dua kodi, mungkin tiga hari, selanjutnya menulis resensi, bla bla bla bla….”

Sebagaimana yang telah diamini kebanyakan orang, bahwa realita seringnya tak seperti ekspektasi yang dikira!

Dan kali ini terjadi pada saya.

Bukan kali ini saja, sering pisan. Hahaha. LoL

Manusia yang berencana, Allah yang menentukan.

Memang, pagi saya  nguli, itu pun hanya sampai pukul 09.30. Padahal datang ke kelas pukul 09:06. 

Setelah itu meluncur ke Asia Plaza, tempat Gramedia yang sepertinya–dan memang tidak salah lagi, toko buku yang paling banyak dikunjungi karena lumayan komplit se-Italy. 

Mata saya menajam, demi menelusuri deretan buku yang tidak sedikit. Loba pisan!

Supaya tidak buang-buang waktu, saya menuju rak khusus buku fiksi Islami. Satu persatu judul buku saya pindai, tidak ada!  Penglihatan saya belum juga menemukannya.  Beberapa buku Bu Asma Nadia yang lain ada, tapi yang saya cari belum juga terlihat. 

Ah, saya iseng beralih ke buku non-fiksi Islami, mungkin saja ada di sana. 

Tidak ada juga!

Saya belum tanya ke Akang-Euceu petugas buku Gramed, sengaja. Saya ingin mencari terlebih dahulu. Katanya suka baca, tapi nyari buku saja malas baca petunjuk yang ada.
Kumcer yang saya cari pun tak saya lihat. Mungkin, selera orang Italy kurang dengan cerpen. Yang di jual di sini sangaattt sedikittt! Kebanyakan manhaj fiksinya itu berupa novel, komik. Puisi pun hanya ada karya Pak Sapardi, Chairil Anwar, dan beberapa penyair lawas (?) yang tidak saya kenali.

Menyerah. Lelah. 

Akhirnya saya bertanya ke Akang petugas Gramed. Ngobrol cukup panjang, sepanjang rel kereta api–kepanjangan euy!

“Nggak ada Novel Cinta Dua Kodi mah,” jawab si Akang Gramed.

“Coba dicek stoknya di komputer, A!”

“Kalo dicek emang ada, cuma mungkin udah dipak (dikardusin).”

“Loh, nggak bisa dibuka emang, A?”

“Nggak, kalo sudah masuk kardus nggak bisa. Itu juga mau dikirimkan.”

“Kesedihan dan masa lalu bisa dipak juga nggak, A? Biar nggak bisa dibuka dan selamanya kekal dalam kegelapan.”

Fiktif! Saya tidak punya nyali berkata kalimat terakhir. :’v

Asli, kecewa syekali dengan jawaban Akang petugas Gramed! ๐Ÿ˜ฅ

Naon hesena ceuk saya mah, muka deui kardus, da meureun buku-buku yang diturunkan dari rak, kemudian diletakkan dalam kardus yang gelap itu teh diberi data. Umpama: Kumpulan novel fiksi Islami, penulis Asma Nadia, Bla bla bla dst. Mungkin ini mah ya. Saya juga tidak tahu, dan memilih tidak bertanya banyak jika jawabannya hanya “tidak”. 

Ini baru terpikir sekarang.

Bukankah ada pepatah:

“Pembeli adalah raja. Permintaannya mutlak tak boleh ditolak.” :’v

“Raja kok mau beli buku satu?”

“Hmmm….” ร—_ร—

“May, buku yang dikardusin di gudang itu bukan cuma sebiji, tapi banyaaak! Apal teu banyak?”

“Iya, iya. Loba pisan.” -__-“

Lalu, Akang Petugas Gramed memberi saran, katanya di Gramed Mayasari Plaza ada stok novel yang saya cari. Katanya lagi, adminnya sama, dan Gramed MP disuplay dari Gramed Asia Plaza.

Nah, nasib kumcer yang saya cari ternyata belum ada di Italy.

Duh… 

Nyatanya yang saya rencanakan tak menjadi kenyataan. :’v

Sempat hati tergoda untuk membeli novel “Pergi” Om Tere Liye. Nanti 27 April 2018, Om TL akan mengisi acara kepenulisan di Ponpes Condong. Tapi saya urungkan, karena masih menyimpan harap, di MP ada Cinta Dua Kodi!

Niat beli buku, jadinya beli meja lipat Qur’an. Hahaha. Sebenarnya ini memang saya rencanakan juga. Hanya saja tadinya akan saya beli setelah dua buku itu dimiliki. Meja ini saya beli khusus untuk seseorang. ๐Ÿ˜€

Baik, ini sudah terlalu panjang. @_@

Singkat cerita, saya melesat ke Mayasari Plaza. 

Menurut kakak saya: 

“Bukannya Gramed di MP sepi dan bukunya sangat sedikit?”

Ya. Kenyataannya begitu. Tapi Akang Petugas memberi petunjuk bahwa di MP ada yang saya cari, Cinta Dua Kodi!

Ketika sampai di lokasi, benar saja, tidak ada pengunjung. Hanya ada ceuceu-ceuceu petugas. Sangat jauh dengan yang Gramed sebelumnya. Semacam keluar dari keriuhan menuju kesunyian. XD
Saya menuju sebuah rak di pojok. Waah…. Hanya ada satu rak buku Islami! 

Sisanya? Entahlah.

Kemudian saya tanya ke ceuceu Petugas Gramed:

“Teh, ada novel Cinta Dua Kodi?”

“Pengarangnya siapa?”

“Asma Nadia.”

“Coba lihat covernya seperti apa?”

Lalu saya tunjukan gambarnya ke si Ceueceu. 

“Ng… kayaknya nggak ada. Belum pernah lihat.”

Hah?! @_@

“Teh, kata petugas Gramed AP, di Gramed ini ada. Barangkali di gudang ada, Teh?”

“Nggak ada.”

Duh…. 

Ya Allah, sulit sekali dapat novel itu. Memang, ya, sesuatu yang dicari ketika sangat dibutuhkan itu sulit dimiliki. Tiba-tiba menjadi barang langka yang tak ada di mana-mana.

Ya sudah. Saya pulang tak membeli apa-apa. 

di luar hujan

di dalam hujan

; di hatiku

di Mataku

Menahan tangisan!

Lebay! Wkwkwkw.

Bohong. Biasa saja sebenarnya. Hanya sedikit kecewa itu ada. Apakah saya tidak bisa ikut lomba resensi? Kalo tidak ikut, rugi dua kali. Bedah buku tidak, masa iya resensi juga tidak.

Terpikir untuk beli online saja. 

Apa boleh buat, ketika itu saya berniat jika telah sampai rumah akan langsung pesan.

Sepanjang perjalanan diciprati hujan. Gerimisnya seperti ragu untuk membasahi jalanan. Mungkin malu, mungkin juga tertahan oleh sebuah doa, doa agar hujan mau sedikit saja menunggu. Ya, mungkin saja.

Selama itu pula kepala saya berputar, mencari celah-celah harapan di jalan ketidakmungkinan.
22-23 April 2018

(Bersambung)

Iklan

โ€‹Review Suka-Suka: SUFISME SUNDA-Sebuah Usaha Merentangkan Misteri Relasi Antara Sunda dan Islam.

Published Januari 3, 2018 by Sharmay HA

Perhatian!

Jangan terlalu menaruh ekspektasi tinggi terhadap judul, sebab kadang-kadang isi melesat jauh dan cenderung ngawur bin semprul.

Jepretan sendiri

Nama Buku: Sufisme Sunda Penulis: Dr. Asep Salahudin

Penerbit: Nuansa Cendekia

Tahun Terbit: Cetakan, 1 Oktober 2017

Kota: Bandung

Jumlah Halaman: 392 halaman.
Buku Sufisme Sunda barangkali merupakan pengejawantahan dari usaha pencarian untuk mengungkap misteri kaitan Islam dengan Sunda. 

Seperti kata penulis, buku ini awalnya adalah esai-esai mengenai kerja tafakur si penulis terhadap kesundaan dan keislaman yang tersebar di berbagai media massa kemudian dibukukan. Jujur saya menyukai pemilihan kata dan pengguliran narasi penulis buku ini. Contohnya, dari sekian bab yang saya baca, saya lebih menaruh perhatian pada  “Siloka Suluk Sunda” dan halaman 371 tentang “Tahun Baru Ngindung ka Waktu”

 Sebagaimana kita tahu, etnis Sunda identik dengan Islam. Mayoritas suku Sunda adalah Muslim. Mengutip perkataan Prof. Dr. H.M. Didi Turmudzi, M.Si.:

“…Akan dianggap anomali jika ada orang Sunda yang tidak beragama Islam.” 

–Hal. 10

Benar, bahkan saya banyak mendengar perkataan tersebut dari beberapa tokoh. Seperti dalam ceramahnya pemimpin ormas fenomenal;  Habib Rizieq Syihab Hafidzahullahu, dan ketua Prodi PAI Tasikmalaya, Bapak Dr. Zaki Mubarak dalam sambutan acara bedah buku Sufisme Sunda.

Ada sebuah jargon, “Islam-Sunda dan Sunda-Islam”, kemudian ada kredo yang didilontarkan oleh seorang tokoh,  berbunyi: “Islam teh Sunda jeung Sunda teh Islam.”

Ekstrem memang, dan menimbulkan kontroversi. Maka bagi si penulis, ia  merasa penting untuk mempertanyakan dan menafsirkan ulang jargon dan kredo tersebut.  Bisa jadi hal-hal yang dipertanyakan itu memunculkan keraguan baru atau bahkan mengokohkan kredo lama, atau justru sebagiamana ungkapan si penulis, “berujung pada pertanyaan lain yang tak pernah selesai dan tak perlu selesai dijawab.” 

Terkait pernyataan “Islam teh Sunda jeung Sunda teh Islam,” secara sepintas tampak mereduksi Islam yang berasal dari wahyu Ilahi  dengan kesundaan yang terlahir dari akal budi manusia ardhi. Saya lebih mengamini pernyataan Ajip Rosidi. “Islam heula samemeh Sunda.” Dengan begitu, segala hal yang bersifat Sunda dan TIDAK BERTENTANGAN dengan Islam,   tidak akan mengurangi kesundaan orang Sunda Islam.

Yang menarik adalah narasi penulis yang mengatakan Sunda itu teu nanaon ku nanaon.  Sunda sebagai kawasan tak bertuan, yang mana masyarakatnya memperlakukan sesuatu–seperti ormas atau partai politik dll–seumpama berladang di huma; datang dan pergi, dimiliki kemudian ditinggalkan. Namun  perlakuan Sunda ‘yang tak ingin dimiliki itu’  berbeda terhadap Islam. Bahkan Islam, sebagaimana telah direntangkan penjelasan di atas, etnis Sunda diidentikan dengan  Islam. Kalo boleh saya katakan: “Ya, Sunda teu nanaon ku nanaon, iwal ku Islam. Sunda teu islam teu nanaon, ngan nanaonan?” 

Agak terburu-buru memang dan mesti dikaji ulang.

Selanjutnya, buku setebal 392 halaman, berisi bermacam-macam tema, setidaknya ada sembilan tema. Diawali deng topik “Siloka Suluk Sunda” dan ditutup dengan “Dalam Nafas Tritangtu.”

Atik Soewandi mendefinisikan bahwa:  “Siloka atawa suluk nyaeta basa sindir keneh, basa pikireun ngandung harti anun jero teuleumaneun” (siloka atau suluk adalah termasuk bahasa kias, bahasa yang harus dipikirkan kembali tentang isi sebenarnya, mengandung arti mendalam. (hal. 25)

Penulis menggali makna antara siloka dengan kata suluk, bahkan mengatakan bahwa keduanya mempunyai relasi yang kental. Suluk ialah jalan spiritual atau tarekat. Dan kenyataannya yang kental dengan bahasa siloka adalah suluk. 

Namun ada beberapa hal yang tidak saya setujui adalah ketika penulis menjelaskan pada “Absennya Siloka,” sehingga menjamurlah pemahaman agama yang alergi terhadap keragaman berbagai sudut pandang. Kemudian si penulis mencontohkan FUUI yang dinarasikan “menebar kebencian terhadap Syi’ah dan Ahmadiyah…”

Islam tidak alergi dengan keberagaman, namun berbeda hal deng Syi’ah dan Ahmadiyah. Tindakan FUUI merupakan bentuk penjagaan terhadap umat Islam terutama mereka yang awam, dikhawatirkan orang awam beranggapan perbedaan dalam Ahmadiyyah adalah masalah khilafiyah furu’ sebagaimana  seringnyaa dalam fenomena masyarakat muslim. Mengutip perkataan Pemimpin Pesantren Cintawana, KH Asep Saepulah dalam buku dalan buku Koreksi Terhadap Pemahaman Ahmadiyah dalam Masalah Kenabian, “Perbedaan dalam ini (Ahmadiyah) sungguh sangat fundamental dan sangat berpengaruh pada pemurnian tauhid  yang fundamental dalam ajaran Islam.” (Hal. 14)

Dan lagi fatwa MUI tanggal 26 Mei 1980 telah dianggap paham yang sesat dan menyesatkan. (Koreksi terhadap Pemahaman Ahmadiyah dalam Masalah Kenabian. Hal. 13) 

Kemudian Jema’ah Ahmadiyah seringkali melakukan iftiraa’ (rekayasa pembohongan besar) dengan mengajukan beberapa ayat Al-Qur’an dan Hadits untuk melegitimasi pemahamannya. Mereka berani membungkus  ajarannya dengan sampul Islam, untuk mengecoh dan mengelabui pandangan umat Islam, terutama golongan awam. Bahkan Ahmadiyah telah dikatakan murtad, keluar dari Islam. Lucunya mereka mengaku sebagai Islam. Saya kira, agaknya jika Ahmadiyah mendeklarasikan sebagai agama baru tanpa mengaku Islam, umat Islam tidak akan mempersoalkannya.

Adapun Syi’ah, menurut pandangan Imam Al-Ghazali, salah satu tokoh sufi yang dijadikan kiblat kebanyakan umat Islam Indonesia, memang tidak boleh pukul rata akan memberi status kepada Syi’ah. Jika mereka hanya tidak mengakui kepemimpinan Khilafah Abu Bakar, Umar, Utsman radhiyallahu ‘anhum, maka mereka tetap tergolong orang muslim. (Kisah-Kisah Ajaib Imam Al-Ghazali: 189).

Lain hal jika Syi’ah yang ekstrim dan melampaui batas dengan mengkafirkan dan menghalalkan darah umat Islam yang lain, yakni Sunni. Menurut Imam Al-Ghazali boleh dikafirkan. 

Saya bertanya-tanya,   apakah harus, mentoleransi kepada mereka yang tidak toleran terhadap kita (Syi’ah mengkafirkan Sunni) dan mereka yang menistakan agama Islam (Ahmadiyah)? 

Kemudian pada halaman 28, penulis mengatakan Tatar Sunda menjadi lahan paling subur gerakan radikalisme agama, dan Aksi 212 menjadi contohnya.

Berikut saya kutipkan:

“Dalam penelitian terakhir, perguruan tinggi umum di Tatar Sunda menjadi lahan paling subur gerakan radikalisme agama. Jangan mengerutkan dahi kalau saat ini masyarakat Pasundan banyak yang pakainnya lebih Arab daripada orang Arab sendiri. Aksi 212 dalam hiruk-pikuk Pemilihan Gubernur DKI, pemasok utamanya adalah warga Jawa Barat.” 

Bukankah ini menganggap Aksi 212 termasuk dari gerakan radikal?

Radikalkah mereka yang menuntut agar orang yang menistakan Al-Qur’an dan Agama Islam agar segera dipenjara,  yang mana ia tampak kebal untuk dijamah hukum dan para aparatur negara pun justru terlihat lamban menyikapi kasus tersebut, sehingga umat Islam mesti melakukan aksi yang berjilid-jilid?

Radikalkah mereka yang marah karena Al-Qur’an disebut sebagai alat kebohongan? 

Benarkah mereka yang mengikuti Aksi 212 itu radikal? 

Mengutip sebuah Cerpen Aku Berpikir dan Aku Berhenti karangan Reddish, seorang cerpenis Tasikmalaya, yang menyinggung peristiwa Aksi 212:

“Padahal cuma bawa sejadah, sama kitab suci dibilang mau gulingkan pemerintahan. Cuma berdoa sama shalat berjamaah dituduh mau bikin kerusuhan.”

Begitukah yang namanya radikal? Yang melakukan kegiatan dengan peserta berjuta-juta namun tak menyisakan sampah. Dan lagi banyak yang mengabadikan peristiwa betapa tolerannya peserta Aksi 212 terhadap non-muslim.

Masih dalam cerpen Reddish:

“Saat rakyat mencari keadilan diabaikan. Pelanggar konstitusi dibiarkan berkeliaran. Rakyat mengadu atas ketidakpuasan putusan dan hendak berdemo lagi, malah diancam akan dibubarkan.  Elite politik yang berdalih menggelar parade kebudayaan dan terang-terangan menabrak peraturan tidak jelas dibagaimanakan? 

Rakyat yang bereaksi atas ketidakadilan dan ingin menyuarakan aspirasi justru digembosi, dihalang-halangi,  tidak boleh sewa alat transportasi. Bukankah itu tindakan inkonstitusi? Dan ‘kegiatan’ yang jelas-jelas dipolitisasi malah difasilitasi. Kelompok yang katanya siap jaga negeri, nyatanya rumput saja tak bisa dijaga sama sekali. Duh…”

Ya, peserta Aksi 212 hanya meminta keadilan karena kehormatan agamanya dinista? Begitukah yang namanya radikal? 

Ada sebuah ungkapan dari Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu ta’ala.

ู‚ุงู„ ุงู„ุดุงูุนูŠ ุฑุญู…ู‡ ุงู„ู„ู‡: ู…ู† ุงุณุชุบุถุจ ูู„ู… ูŠุบุถุจ ูู‡ูˆ ุญู…ุงุฑ ูˆู…ู† ุงุณุชุฑุถู‰ ูู„ู… ูŠุฑุถู‰ ูู‡ูˆ ุดูŠุทุงู†

“Siapa yang dibuat marah tapi dia tidak marah maka dia adalah keledai, dan siapa yang diminta keridhaannya dan dia tidak mau ridha maka dia adalah syetan.โ€ (Imam Syafi’i sebagaimana dikutip dalam Ihya Ulumiddin).

Kemudian ada sebuah syair berbunyi:

ุฃูŽุจูู†ูŽูŠู‘ูŽ ุฅู†ู‘ูŽ ู…ูู†ู’ ุงู„ุฑู‘ูุฌูŽุงู„ู ุจูŽู‡ููŠู…ูŽุฉู‹ * ูููŠ ุตููˆุฑูŽุฉู ุงู„ุฑู‘ูŽุฌูู„ู ุงู„ุณู‘ูŽู…ููŠุนู ุงู„ู’ู…ูุจู’ุตูุฑู

ููŽุทูู†ูŒ ุจููƒูู„ู‘ู ู…ูุตููŠุจูŽุฉู ูููŠ ู…ูŽุงู„ูู‡ู * ูˆูŽุฅูุฐูŽุง ูŠูุตูŽุงุจู ุจูุฏููŠู†ูู‡ู ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุดู’ุนูุฑ

“Wahai anakku sesungguhnya ada orang yang seperti binatang ternak, dalam rupa orang yang bisa mendengar dan melihat.

Dia cerdik jika ada musibah menimpa hartanya.

Namun, apabila ada musibah menimpa agamanya dia tidak peduli.โ€

(Adabu Dunya Waddin 1/126 karya Imam al-Mawardi asy-syafii, Quutul qulub 1/227, al-Madkhol 1/492)

Maka menurut saya wajar jika umat Islam terainggung dengan ucapan orang kafir yang mengatakan bahwa Al-Qur’an disebut sebagai alat kebohongan, sehingga melakukan Aksi bela Islam. Dan justru dipertanyakan, mereka yang muslim namun tak tersinggung sedikit pun ketika  agamanya dihina, dan lebih condong menuduh saudara seiman dan seagamanya sebagai orang intoleran serta radikal karena melakukan Aksi 212, apakah mereka tergolong dalam perkataan Imam Asy-Syafi’i dan syair di atas? Wallahu a’lamu.

Yang menjadi lucu adalah, kadang-kadang mereka yang mengaku paling toleran kepada perbedaan dan keberagaman ketimbang mereka yang dianggap radikal, justru tampak tak menghargai perbedaan dari kelompok yang masih saudara dalam agama, dan justru mereka yang mengaku paling toleran ini ikut melabeli radikal. Standar ganda, bukan?

Saya meyakini Islam adalah agama rahmatan lil’alamin. Namun bukan berarti dalam Islam  tak ada ketegasan.  Boleh bersikap tegas menyikapi orang-orang yang menista Islam. 

Buktinya ketika zaman Sayiduna Abu Bakar Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu ketika menyikapi para nabi palsu,  beliau tidak mengatakan, “Biarkan saja, Islam kan agama rahmatan lil ‘alamin, cinta damai. Biarkan mereka berbeda dengan kita. Mereka memang berbeda, namun Islam sangat menghargai keberagaman dan perbedaan.” Kenyataannya nabi-nabi palsu pada zaman itu beliau perangi, seperti Musailamah Al-Kadzab. Apakah Abu Bakar radikal dan intoleran?

Terlepas dari itu, saya tidak keberatan dianggap bahwa saya masih memakai sudut pandang “cangkang (?).”  Atau komentar saya tidak lebih dari nyanyain bayi yang baru lahir kemarin sore. Ada bayi yang baru lahir bisa nyanyi? Hehehe.

Saya berpegang dengan ungkapan yang masyhur, bahwa: “Bertasawuf tanpa berfiqih adalah zindiq. Dan berfiqih tanpa bertasawuf adalah fasik.” Maka penting untuk mensinergikan keduanya (fiqih dan tasawuf), sehingga ada keadilan dan menciptakan keseimbangan dalam beragama dan berbudaya.

Sebagai penutup, saya pernah membaca sebuah statement, “Boleh mengkritik pendapat yang berbeda. Namun tetap hargai orang yang berbeda pendapat.”

Ya, tentu saja. 

Sebab perbedaan pendapat (furu’iyyah)   di dalam Islam janganlah melihatnya sebatas antara hitam dan putih, benar dan salah. Tetapi perbedaan dan keragaman pendapat itu sebagi rangkaian puzzel yang saling melengkapi dan saling mengisi.

Italy [1], 3 Januari 2018.

catatan:

Nah, kan, ngawur? ๐Ÿ˜›

 [1] Indonesia wilayah Tasikmalaya.

Sumber referensi:

Koreksi Terhadap Pemahaman Ahmadiyah dalam Masalah Kenabian, karya Dede A. Nasrudin.

Kisah-Kisah Ajaib Imam Al-Ghazali, karya Mukti Ali.

Cerpen Aku Berpikir dan Aku Berhenti karangan Reddish.

https://mabsus.wordpress.com/2015/07/22/kita-bukanlah-keledai-dan-bukan-pula-binatang-ternak-menyikapi-kasus-tolikara/amp/

Yang paling dominan: perpustakaan kenangan. Hehehe.

โ€‹Sebuah Usaha Untuk Mengentaskan Kemiskinan Motivasi

Published Desember 31, 2017 by Sharmay HA

                                 Jepretan pribadi

“Kita tidak tahu dahsyatnya sebuah motivasi dan inspirasi.”

–NFE, hal. 36

“Karena siapa pun kita, setiap manusia punya peluang yang sama. Yang membedakan adalah seberapa keras usaha yang kita ikhtiarkan untuk merealisasikan mimpi yang diinginkan.”

–NFE, hal. 25


“Untungnya kehidupan itu nggak kayak Teh Gelxs dan Alx-Alx,  kalau hologramnya digosok yang selalu keluar: “Coba lagi, coba lagi, coba terus… ya, terus, terus… eup! Mantap!”

–Qi-eF-Si (Quote From Sharmay)

~Quote macam apa ini? Kayak lagi markirin kendaraan.~


Bismillah
Segala puji milik Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang telah memberikan begitu banyak nikmat yang tak bisa dihitung dengan angka. Rahmat dan keselamatan semoga senantiasa tercurah kepada manusia paling sempurna yang tiada duanya, yang telah menyelamatkan dunia dari kebodohan menuju kemajuan dan ketinggian akal pikiran, yang disebut Lelaki Penggenggam Hujan oleh Tasaro GK: Baginda Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam.
Ketika menulis (ceritanya sih) review Notes From England (NFE),  ponsel saya bernyanyi lagu Sami Yusuf yang berjudul Worry Ends. Dan lagi di luar sedang hujan air.

Ya iyalah, hujan air, masa hujan kenangan?! -_\ 

Begini, saya itu suka basket, dan saya suka meloncat-loncat. Karena itu saya punya kebiasaan meloncat-loncat kalo baca buku.

“Kayak pocong, dong?!”

Maksudnya, jika saya membaca buku, maka hal pertama yang saya lakukan adalah 

…. loncat kayak pocong.

Nggak.

Serius, saya nggak begitu!

Ritual saya dalam membaca itu melihat sampul depan-belakang, kata pengantar sekilas,  kemudian membaca daftar isi, lalu meloncat ke halaman yang menarik menurut saya, meloncat lagi dan lagi sampai saya dikira  pocong.

~Dikeroyok pocong~

Tunggu, memangnya pocong bisa ngeroyok? @_@

Nah, begitupun saat saya membaca Notes From England. Halaman yang pertama kali saya buka adalah halaman 159: tulisan Pak Ario tentang kisah seorang hafizah 30 juz Al-Qur’an yang kandidat Doktor di bidang kimia.
Alasan saya membaca itu pertama kali karena ketika pandangan saya tertumbuk pada kata “hafizah”  ingatan saya berlarian pada fagmen-fragmen masa lalu  :’)
Ada rasa sedih, nyeri, sakit pinggang, sakit otot, minum Oskad*n SP

disorakin pembaca


Lupakan. Ini bukan waktunya curhat, May!
“Bukan ambisi yang membawa dirimu pada kesuksesan, melainkan kesungguhanmu meraih kesuksesan itu dengan keikhlasan.”
Quote Puspita Praptiningsih ini menjadi prolog kisah Mbak Zeni Rahmawati, seorang hafizah yang berkuliah di Universitay of Aberdeen, dan quote itu sukses menampol hati saya. Plak!

Dalam buku NFE, dikisahkan perjuangan Mbak Zeni menghafal Al-Qur’an ketika menghadapi berbagai macam distraksi. 

Gaes,   distraksi saya nggak ada apa-apanya dibanding dengan beliau. Jika saya tergoda hanya dengan hal remeh-temeh, seperti: membaca cerpen melankolis, komik online,  novel, menulis status, menonton anime Boruto, tidur, makan, mandi sibuk chating WA, Fesbukan, dan hal-hal yang tidak bisa saya sebutkan di sini, maka tantangan terberat beliau menghafal Al-Qur’an itu adalah

…. mau tau? Penasaran? Selengkapnya di Notes From England, halaman 167. Hehehe.

~pembaca banting hape~


Selain itu dceritakan juga tiga alasan terbesar Mbak Zeni menghafal Qur’an, salah satunya  yang membuat saya terkesan dan saya merasa mesti menuliskannya…

…. penasaran? 

pembaca mulai emosi

Selengkapnya di bawah ini:

“… Aku ingin membuat mata dunia sadar bahwa seorang penghafal Al-Qur’an pun bisa belajar ilmu sains seperti latar belakang yang kumiliki. Seorang penghafal Al-Qur’an pun bisa menuntut ilmu umum hingga  ke jenjang doktoral, seperti para ulama terdahulu yang bisa menggabungkan pengetahuan dan hafalan Al-Qur’an  dengan ilmu-ilmu sains yang mereka miliki.”

–Hal. 163
Setelah   membaca kisah beliau, saya merenung. Barangkali, ada yang salah dengan saya. Benar. Ada yang mesti saya perbaiki. 

Beruntungnya, Pak Ario merentangkan solusi bagi yang sulit fokus dan gagal terus-menerus, seperti saya yang kesulitan  menghadapi distraksi ketika ingin merealisasikan sesuatu.


Pembaca: “Jadi ini teh mau review atau curhat sih? 

Sharmay: Mau jualan Aqua, gaes. :’)


Ya. Hampir lupa, saya belum memperkenalkan buku Notes From England. Beberapa contoh review buku yang saya baca, biasanya dalam mereview itu mesti diberikan penjelasan. Ini teh buku tentang apa, siapa pengarangnya,  berapa halaman, dan lain-lain.

Baik saya akan mencoba menuliskannya.

Judul Buku: Notes From England (NFE)

(Sudah tahulah ya, dari tadi saya sebut)

Penulis: Ario Muhammad dan Fissilmi Hamida

Penerbit: PT Elex Media Komputindo

Tahun Terbit: Cetakan 1,  2017

Kota: Jakarta

Jumlah Halaman: 236 hlm.


Pembaca: “memangnya Sharmay lagi mereview? Katanya lagi jualan Aqua?”

Sharmay: T_T gigit tembok


Jadi, gaes, seperti judulnya, buku ini berisi cerita-cerita yang berlatarkan Inggris tentang dua anak  dari kaki Gunung Sumbing, Magelang (Mbak Fissilmi atau Mbak Mimi), dan desa terpencil di Halmahera (Pak Ario) ketik menggapai mimpi untuk studi di negeri Ratu Elizabeth.

Kenal Ratu Elizabeth kan?

Apa? Nggak kenal?!

Sama! Ratu Elizabeth  belum pernah kenalan sama saya, sih.

~Halloooow… tibalik meureun! Siapa kamu, Sharmay?!~

Hehehe…


Selain kisah perjuang Pak Ario dan Mbak Mimi meraih cita-cita, diceritakan juga pernak-pernik perjalanan mereka selama hidup di Inggris. Juga kisah para atlet, pengusaha dan salah satu Hallyu Star (sebutan entertainer asal Korea Selatan yang mendunia), seperti  G-Dragon.
Tahu G-Dragon kan? 

Itu loh BIGBANG….

salah satu teori terbentuknya semesta.

~dilempar ke got~


Omong-omong soal G-Dragon, saya nggak mengenalnya. 

Tetapi saya pernah mendengar namanya dari teman saya yang tentu saja penggemar Oppa G-Dragon.  
Pada halaman 172, Pak Ario membeberkan beberapa fakta tentang lelaki yang bernama asli Kwon Ji-Young itu. Bagaimana usahanya yang begitu keras sehingga ia menjadi salah satu komposer musik terbaik di Korea Selatan dan bagi para fans-nya, ia adalah bintang yang sangat tinggi, sehingga sulit digapai. Hanya dapat dikagumi, dan tak bisa  dimiliki.

~Penggemar G-Dragon sedih.~


“Proses menjadi top peformers adalah proses lama yang memakan waktu bertahun-tahun. Butuh kesabaran untuk bertahan dalam ketidaknyamanan, kesabaran untuk belajar dan memulai hal baru, juga kesabaran untuk bertahan dalam kesabaran.”

–NFE, hal. 180


Kita tinggalkan fans K-Pop, biarkan mereka larut dalam kesedihan. Hahaha tawa jahat


Saya teringat dulu pernah membaca di sebuah blog,  tentang aforisma. “Aforisma itu suatu ungkapan mengenai doktrin atau prinsip atau sebuah kebenaran yang sudah diterima umum.”

–Wikipedia

Jujur saya kesulitan memanggil kenangan soal ini, yang saya ingat bahwa si penulis di blog itu meragukan khasiat aforisma, kata-kata bijak, atau semacam  kara-kata motivasi.   Saat itu saya hampir termakan perkataannya dan menjadikannya kredo, bukan karedok.

Namun, perkataan Mbak Mimi membuat saya tersadar kembali, jangan menyepelekan kata motivasi, aforisma, ungkapan bijak, atau hal semacamnya. Sebab:

 “Kita tidak tahu dahsyatnya sebuah motivasi dan inspirasi.”

–NFE, hal. 36




Ya. Kata-kata motivasi  memang cuma kata-kata, tapi bisa jadi, bahkan kemungkinan besar ia akan menjadi peluru yang merobek keputusasaan dan ketakutan, ia menjadi pentunjuk bagi  yang kehilangan harapan, ia menjadi angin segar bagi mereka yang tercekik kekecewaan.

Mengapa tidak?

Dengan sepenggal kata saja kita bisa tersakiti,   tentu dengan sepenggal kata pula kita bisa termotivasi. Tsaah


Maka dari itu, gaes, saya berpesan, hati-hati ketika membaca Notes From England. Sebab ada banyak motivasi yang bisa menghentakkanmu dari khayalan, membuatmu kehilangan keputusasaan, membuatmu mendapatkan lagi tujuan,  bahkan bisa melecutmu untuk lebih berlari menggapai impian.
Baiklah,  sepertinya, ini sudah di penghujung. Saya tidak akan berpanjang-panjang lagi.  
Ada banyak kutipan favorit saya, namun saya tidak bisa menuliskan semuanya disini. Gempor atuh jempol saya! 


“Merelisasikan mimpi adalah akumulasi dari kerja keras, perencanaan yang matang, konsistensi yang tinggi serta kesabaran dalam waktu yang lama. Jika belum memilikinya renungkan kembali semangatmu!”

–Tidak ada halaman, sampul belakang. 


“Teruslah mencoba, sebab kita tidak pernah tahu percobaan ke berapa yang merupakan jalan kita.”

–Hal. 52


“Faktanya jalan menemukan pasangan yang kamu cinta, jauh lebih rumit dari yang umumnya orang ketahui.”

–Menurut penglihatan jomblo–

Padahal, kutipan sebenarnya:

“Faktanya jalan menemukan pekerjaan yang kamu cinta, jauh lebih rumit dari yang umumnya orang ketahui.”

–Hal. 141


O ya, ada hal yang hampir saya lupa untuk disampaikan. Ketika saya sedang mencari review di internet yang barangkali bisa jadikan referensi. Dan saya menemukan ini:
“Paduan teks dan gambar dalam buku akan memudahkan pembaca menerima gagasan buku tersebut karena ada tipe pembaca yang visual dan audio sehingga sebuah buku wajib mengembangkan gagasan tersebut dalam konsep buku yang menarik. Misalnya ditambah CD dan iluatrasi.” Atau misalnya  NFE berbonus tiket ke Bristol—eh, peace, Pak Ario, Mbak Mimi. Saya hanya bercanda. Hehehe. ^_^


Sebagai penutup, saya teringat sebuah kutipan yang menarik:
“Dibalik teks yang Anda baca, ada pengalaman amat kaya seorang penulis yang tercecer tak bisa ditampilkan oleh teks.”

–Hernowo




Tentu saja.

#Sharmay–Italy[1], 31 Desember 2017

***


Catatan:

Banyak hal yang tadinya ingin saya tulis, namun ini sudah cukup panjang dan gagal saya ceritakan karena saya ngantuk. Hehehe.

[1] Indonesia wilayah Tasikmalaya