cerpen silat

All posts tagged cerpen silat

KISAH DUA PENDEKAR

Published Juni 19, 2017 by Sharmay HA


Suatu hari dua pendekar sedang berkejaran di hutan.  Mereka saling melempar senjata dan menghindar dari serangan. Setelah beberapa lama….
“Hos … hos … hos …” 

Sambil melayang melewati beberapa dahan pohon, napas seorang pemuda tersengal-sengal. Wajahnya menampakan kecemasan. Sesekali kakinya menapak di dahan pohon, hal itu dilakukan agar tubuhnya bisa terbang ke udara.
“Riyu …! Benar-benar ya! Sebagai seorang pendekar kau tak perlu lari!”

Tak jauh di belakang pemuda tadi, seorang pria kekar  telah berseru lantang memecah kesunyian hutan. Sepertinya dia dalam kemarahan besar. Sorot matanya yang tajam tentunya akan membuat siapa saja bergidik ngeri jika melihatnya.
“Kau keras kepala Rega. Seharusnya kau mengerti dan tak perlu semarah ini!”

Riyu, pemuda yang berjubah merah itu menimpali ucapan pria kekar yang mengejarnya di belakang.
“Halah …, omong kosong!” bentak Rega. Detik berikutnya ia melemparkan dua pisau ke arah Riyu dan siap menghunjam punggung Riyu.
Trang … trang …

Dua pisau–yang hendak menghunjam punggung Riyu–terpental setelah Riyu memberikan serangan balasan saat kakinya menapak di dahan dengan cepat ia berbalik dengan mengirim tiga buah jarum. Dua buah jarum beradu dengan dua pisau tadi. Sedang sebuah jarum lagi melesat ke arah Rega. Rega menyeringai, mudah saja baginya untuk mengelak dari sebuah jarum, namun tiba-tiba seringai Rega harus luntur, betapa  tidak? Sebuah jarum tadi berubah menjadi puluhan jarum yang akan menghujani tubuhnya. Tanpa malu-malu  Rega mencabut pedang yang bertengger di punggungnya dengan secepat kilat.

Wuussshh..

Akibat tebasan pedangnya keluarlah angin yang menderu mementalkan puluhan jarum tadi. Namun …,
Ssstt!

Sebuah jarum ternyata dapat lolos dari sapuan angin tadi dan berhasil memberikan goresan luka di pelipis kanan Rega.
“Riyuuu….!!!” teriak Rega. Ia benar-benar geram.
“Hahaha … ternyata kau tetap lamban mengelak ya?” ejek Riyu.
“Diam kau! Sebaiknya kau  menyerah atau aku akan bertindak lebih!” 
“Ayolah Rega, ubah sikap keras kepalamu! Kita tak perlu melakukan ini!” timpal Riyu.
Riyu sebenarnya cemas. Bukan itu saja, ia sudah letih setelah kurang lebih satu jam menghindar dari Rega.
Rega menambah kecepatan. Kini ia menyamai langkah Riyu.

“Seenaknya kau berbicara, setelah apa yang kau lakukan dan tidak bertanggung jawab! Rasakan iniiii!!”
Bak halilintar di siang bolong, Riyu kaget sekali. Tiba-tiba Rega menghadang di depannya setelah Rega melangkah lebih cepat darinya.
Wusssh

Pedang Rega mengayun mencoba menebas Riyu. Tanpa pikir panjang Riyu mencabut pedang yang tergantung di pinggangnya.

(Ilustrasi –yang tak sesuai– diambil dari google. @_@ nu penting aya gambaran. 😛)

Traangg!

Pedang Rega dan pedang Riyu beradu. Tenaga pada pedang Rega lebih kuat membuat Riyu terpental kebawah. 
Dengan ringan sekali Rega terjun ke tanah mengikuti Riyu. Kini tanahlah yang jadi pijakan mereka. 
Hening.
“Tak bisakah kita menghentikan ini?” ucap Riyu memecah kesunyian.
“TIDAK BISA SAMPAI KAU BERTANGGUNG JAWAB!” 

Tanpa ba-bi-bu lagi Rega menyerang Riyu dengan cepat. Sebisa mungkin Riyu menangkis dan menyerang balik. Pertarungan mereka sangat sengit dan cukup lama. Hiruk pikuk suara pedang yang beradu meramaikan hutan. Serangan empat lima yang bertubi-tubi dari Rega membuat Riyu terdesak.  

Tak jarang Riyu terkena tebasan pedang Rega dan membuatnya terluka parah.
Riyu hanya bertahan. Ia tak diberi kesempatan oleh Rega untuk balik menyerang. Sampai suatu ketika tendangan kilat Rega memaksa pedang Riyu terlepas dari genggamannya dan terpental jauh. Detik berikutnya, Rega mengayunkan pedangnya pada lawan yang kini tak bersenjata. 
Tiba-tiba…

“HENTIKAN!”
Mendengar hal itu Rega berhenti menyerang.
“Kau menang Rega, kau hebat kuakui hal itu. Sekarang apa maumu?”
Tergurat senyuman di wajah Rega setelah mendengar ucapan Riyu.
“Tanggung jawabmu sebagai pendekar!” jawab Rega.
Riyu mendengus kesal, lantas  berucap,

“Baiklah-baiklah aku akan mengganti gehumu yang telah kumakan.”
“Ciyus?” tanya Rega.
“Iyelah, eykeu gak mau mati hanya karena ini, Ciin!”
“Kahkahkah” Rega terkekeh, “terimakasih,” lanjutnya seraya memapah Riyu yang terluka parah.

2013 (telah disunting 2017). Yang jomblo kapan disunting? Eh. 


Tulisan Jadoel. 

Ya, cerita itu adalah cerita lama yang saya buat sekitar tahun 2013 kalau tidak salah. Jauh sebelum saya mengenal dunia kepnulisan, namun sedang hobi menonton Naruto dan membaca cerita silat.

Sebenarnya ini bisa dibilang saduran (barangkali?). Karena twistnya bukan lahir dari pemikiran saya. Ya, bertarung sampai hampir mati cuma soal makanan?! 

Gelo! @_@

Saya mencoba mencari induk (?) cerita ini, namun tak kunjung saya temukan. 😦

Siapa pun pemilik twist itu, semoga arwahnya tenang di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Woooy! Emang doi sudah meninggal?  -_-#

Iklan