Cerpen

All posts tagged Cerpen

Warung Kenangan

Published Juni 11, 2017 by Reddish

Warung ini bukan tempat untuk merekonstruksikan masa lalu, bukan tempat untuk bernostalgia. Bukan. Warung Kenangan menjadikan kenangan sebagai alat tukarnya. Siapa pun akan mendapatkan sesuatu yang ia inginkan, asal ia mau menukarnya dengan kenangan yang dimiliki.
Berapa harga sebuah kenangan? Hingga ia menjadi sebuah alat tukar di Warung Kenangan. Apa sesuatu yang menjadi alat tukar itu sesuatu yang dianggap berharga, atau justru sesuatu yang tidak benar-benar istimewa?

Hmmm. 

Barangkali Anda berfikir, kemungkinan, anak-anak mudalah yang akan menyesaki tempat itu.

Benar, Warung Kenangan di Negeri Seribu Fajar selalu gegap dengan  pengunjung yang kebanyakan dari mereka anak muda. Mereka berjejalan di mulut pintu masuk warung.

Apa mungkin Warung Kenangan didirikan awalnya untuk membantu para remaja yang susah move on atau melupakan kenangan masa lalu dari makhluk yang bergelar mantan? Bukankah dengan adanya Warung Kenangan mereka dibantu untuk terlepas dari bayang-bayang masa lalu, dari sosok mengerikan. Sepertinya bayangan mantan lebih mengerikan ketimbang raja setan.

Dengan adanya warung ini, mereka tak mesti bersusah-payah untuk menjalani terapi move on setelah sebuah hubungan kandas, kan? Mereka hanya perlu berkunjung ke Negeri Seribu Fajar. Sebuah negeri yang tak bisa dilacak lewat google Earth, google Maps, apalagi oleh peta manual, negeri tempat di mana  Warung Kenangan ini berdiri.

Akan tetapi, apa iya mereka yang datang itu untuk menukar kenangan? Atau bisa saja mereka hanya sekadar berkunjung. Sekadar numpang eksis barangkali, kemudian selfie, meng-uploadnya ke sosial media biar trendy, dan bukan bertujuan untuk melepas kenangan, atau menghilangkan bayangan MANTAN. Terlebih mantan terindah, relakah mereka menghapusnya begitu saja?

(untungnya, kamera dilarang di tempat itu).
(Ngerampok di auroravillage.com

Ah, berbicara soal kenangan dan mantan adalah perkara klise, namun, pengaruhnya bagi kelangsungan masa depan tidaklah sepele. Anda pasti setuju, kan? Ya, begitulah beberapa anak muda yang berkunjung  mengungkapkan pendapatnya ketika mengantri.
“Selamat fajar, Mbak!”

“Ya, selamat … fajar(?)” Mbak ini tertawa. “Rasanya aneh,” lanjutnya.

“Aneh kenapa, Mbak?” Si penanya mengerut kening.

“Lah, iya. Saya seumur hidup baru bilang ‘selamat fajar’, Mas. Hahaha.” 

“Ini kan Negeri yang selalu berwaktu fajar, Mbak. Negeri yang selalu terselimuti cahaya fajar.”

“Oh….”

“Jadi, Mbak, saya mau mengganggu waktunya sebentar. Boleh?”

“Loh, dari tadi bukannya sudah ganggu saya?”

Si penanya tertawa. “Maaf kalau begitu. Saya akan mewawancari sebentar.”

“Mas itu wartawan?”

“Bukan. Saya cuma penulis.”

“Penulis berita maksudnya?”

“Bukan. Saya penulis kesunyian.”

Perempuan tersebut memutar matanya malas.

“Begini, Mbak ke sini bertujuan apa? Apa Mbak sedang patah hati dan gagal move on?”

“Hmmm. Tidak.”

“Lalu tujuan Mbak?”

“Ingin ngusir mantan dari ingatan.” Lalu wajahnya murung.

Nah, kan!

Warung Kenangan. Bukan tempat merekonstruksi masa lalu, bukan tempat bernostalgia. Bukan. Warung Kenangan, kadang kala dikunjungi agar ingatan terbebas dari  mantan.

Di lain waktu, lelaki penanya itu kembali menanyai pengunjung Warung Kenangan, tentunya dengan orang yang berbeda dan jawaban yang berbeda pula.

“Halo, Mas?”

Lelaki yang mengenakan kaos salah satu klub sepak bola Eropa itu menengok. Ia bagian dari para pengantri yang berhimpitan di warung itu, dan menyahut, “Hm? Siapa ya?”

“Saya penulis, Mas.”

“Saya juga penulis.”

“Waaah…. tapi saya itu penulis kesunyian, Mas.”

“Saya juga. Malahan, saya penulis paaling kesunyian. Kalau tidak percaya saya punya sertifikatnya, loh. ”

Beberapa pengunjung wanita yang tengah mengantri memerhatikan dua lelaki itu. 

“Apa yang mereka lakukan? Apa mereka berdua sedang mengobrol?”

Pengunjung lain menyahut, “Iya, aneh sekali. Lihat! Ekspresi mereka berubah-ubah. Mungkin mereka sedang membicarakan sesuatu.”

“Tapi bagaimana bisa mengobrol tanpa suara dan tanpa gerakan bibir?”

Perempuan tua  angkat bicara. “Ada jenis manusia kesunyian. Jika dengan sejenisnya mereka bisa bicara tanpa suara, tanpa menggerakkan bibir, hanya tampak ekspresinya saja. Namun sesungguhnya mereka berkomunikasi lewat partikel-partikel kesunyian yang mereka miliki.”

“Oooh.”

Kembali ke lelaki penulis kesunyian dan lelaki penulis paling kesunyian.

Si penulis kesunyian memulai pertanyaan. “Omong-omong, Mas Penulis Paling Kesunyian dapat nomor antrian ke berapa?”

“Ke 2345678.”

“Wah… Apa alasan Mas datang ke warung ini? Menghapus ingatan tentang mantan?”

“Ah, itu alasan bagi anak-anak muda patah hati. Saya ke sini mau cari lotek.”

“Lotek?”

“Iya, barangkali di warung ini ada lotek paling enak sedunia,” lanjutnya lagi dengan tersenyum.

Apa lotek lebih berharga daripada kenangan? Kenangan seperti apa yang pantas  ditukar dengan lotek? Atau, lotek seperti apa yang pantas ditukar dengan kenangan?

Warung Kenangan. Orang-orang rela berjejalan di pintu masuk, bahkan mengular panjang demi menukar kenangan dengan hal yang mereka inginkan. Tak ada yang istimewa dengan bangunan warung ini. Warung Kenangan sebagaimana warung pada umumnya. Hanya saja, pintu keluarnya entah di mana? Tidak diketahui. Rahasia. Bahkan yang pernah mengunjungi pun tidak mau membocorkannya. 

Konon, menurut kabar selintingan yang tak jelas perawinya siapa,  di dalam warung penuh dengan larikan cahaya fajar yang berlesatan, dan berhias aurora yang berganti-ganti. Hanya mereka yang pernah masuk yang menyaksikan keluarbiasaan panorama ruangan dalam warung itu. 

Sebuah acara talk show pernah mengundang tiga orang yang menyaksikan langsung kedalaman warung fenomenal di Negeri Seribu Fajar. 

Lelaki yang berperan sebagai host itu memulai acara. “Baik, pemirsa, bintang tamu kita malam ini adalah tiga orang yang pernah berkunjung ke Warung Kenangan.” Pandangannya beralih ke para bintang tamu. “Siapa nama Anda?”

“Nama saya, atau nama anak muda di sebelah saya, atau nama mbak di sebelahnya anak muda yang ada di sebelah saya?” Lelaki yang diperkirakan berumur tidak terlalu tua balik bertanya.

“Ya, nama Anda dulu.”

“Nama saya Midas.”

“Lalu nama anak muda di sebelah Anda, Pak Midas?”

“Wah, saya tidak tahu. Mas tanya langsung saja.”

Host tersebut tercengang. “Baiklah, siapa namamu, Anak Muda?”

“Nama saya Ujang, Anak Tua.”

Bintang tamu perempuan tersenyum setipis kabut mendengar jawaban Ujang.

“Dan siapa nama Anda, Mbak?”

“Isaura.” Ia tersenyum lagi, masih dengan senyuman setipis kabut. Semua orang terpana beberapa detik.

“Ehem!” Lelaki yang tubuhnya dibungkus pakaian serba hitam itu sepertinya berdehem demi memfokuskan kembali seluruh perasaannya. “Langsung saja, seperti apa kesan Warung Kenangan di mata Anda semua?” tanya host itu.

“Yang jawab saya dulu, atau anak muda ini, atau mbak pemilik senyuman setipis kabut, Mas?” kata Midas.

“Ya, Anda dulu, Pak Midas.”

“Wah…. Luar biasa sekali, Mas. Pokoknya sulit dijelaskan dengan kata-kata.”

“Kalau menurutmu, Ujang, bisa dijelaskan bagaimana keadaan Warung Kenangan?”

“Luar biasa sekali dan sulit dijelaskan dengan kata-kata, Mas.”

Host tersebut menyampingkan wajahnya dan berbisik kepada penonton, “Perasaan jawaban mereka berdua sama. Nggak ada bedanya.”

Lalu ia menoleh ke bintang tamu paling ujung, perempuan yang memiliki senyuman setipis kabut. Namun,  sebelum ia melemparkan pertanyaan, perempuan itu tersenyum seraya mengangguk dan berkata, “Jawaban saya sama, Mas.”

Speechlees! Host terdiam sampai waktu yang tak ditentukan. Kemudian tampaklah perempuan muda, yang belakangan diketahui sebagai asisten host datang menyadarkannya. “Mas, eling, Mas! Acara belum selesai!” serunya dengan menampar bolak-balik lelaki itu, akhirnya ia tersadar.

“Maaf, ada gangguan kecil.” Ia berkata sambil membenarkan posisi duduknya. “Pertanyaan selanjutnya, Menurut rumor, banyak yang ke sana karena ingin terbebas dari bayang-bayang mantan, nah apa tujuan Anda ke Warung Kenangan? Ingin mengenyahkan mantan juga?”

“Yang jawab saya dulu atau siapa dulu?”

“Anda, Pak Midas!” jawab host lelaki itu dengan nada meninggi yang agak ditahan.

“Waah… itu rahasia, Mas.”

Laki-laki itu, yang berperan sebagai host, terpejam. Pada tulang rahangnya tampak mengeras. Dada naik turun, perputaran napasnya terdengar kasar. Tatapannya terbuka, bola api sekan-akan membakar matanya, lalu telunjuk itu mengarah kepada Ujang. Giliran anak muda berbicara.

“Rahasia, Mas.”

Lagi, telunjuknya beralih pada Isaura. Perempuan itu tersenyum dan mengangguk.

“Cukup!” potongnya cepat sebelum Isaura berbicara. Host pun beridiri. “Bubar! Bubar! Bintang tamu apa ini?! Absurd! Jawabannya sama semua. Kalian bertiga, silakan angkat kaki!”

Midas, Ujang dan Isaura saling berpandangan dan mengangkat bahu. Kemudian mereka lenyap di pintu keluar.

Sang pemandu acara berkacak pinggang. Napasnya masih belum stabil. “Aarrrgh! Kalau begini jadinya, lebih baik saya sendiri yang datang ke Warung Kenangan.” Dan benar, sebelum ia pergi, ia berpesan, “Batalkan semua acara sampai saya kembali dari sana!”

Warung Kenangan. Dikunjungi namun tetap menjadi misteri. Seperti apa? Dan bagaimana? Hanya mereka yang benar-benar pernah menginjakkan kaki dan melihat langsung seperti apa Warung Kenangan itu. Ya, begitulah, sulit dijelaskan lewat kata dan cerita.

Oh, ya, jika Anda bermaksud ke Warung Kenangan, naiklah kereta yang bertujuan ke Negeri Seribu Fajar, dan itu hanya ada di Tasikmalaya.

Warung Kenangan, 09 November 2016. 

 –Untuk mereka; yang saya kenang dan saya cintai (Hellehh…  Lebay!  😛😛😂)
Catatan: Gambar hanya ilustrasi yang agak mirip, tapi miripnya cuma samenel. 😁😛

UNTUK ORANG (TER)ASING

Published Mei 18, 2016 by Reddish

[Dimuat di Kedaulatan Rakyat (Jogja) edisi Minggu, 15 Mei 2016]

Oleh: Sharmay H. A :mrgreen:

========================================================================

Midas, Kita Sama-sama (ter)Asing

Kekonyolan adalah mengecek sebuah kotak berkali-kali padahal sudah tahu hanya kesia-siaan yang ada.

Parahnya, saya melakukan hal itu berkali-kali, sampai diri saya berubah menjadi kekonyolan.
Saya tidak tahu kenapa kamu ‘menghindar’, tak memberi ruang bagi saya untuk sekadar berkata ‘salam’, dan menanya kabar.
Barangkali kamu ‘uzlah, karena kamu telah menemukan hakikat. Ya, ‘uzlah dari ‘hectic life’ dan para hipokrisi yang menambah kebisingan dengan ucapan dan tampang-tampang pencitraan.
Kamu menjatuhkan diri pada keapaadaanmu; idealis, totalitas, misterius, genius–seperti apa yang kamu katakan dan saya rasakan.
Namun, terkadang kamu muncul di permukaan dengan topeng, berkamuflase menjadi sosok jenaka.
Hebat!
Dan orang-orang–bahkan awalnya saya–mengira kamu berasal dari lautan tenang dan damai.
Perlahan, kejadian yang saya temui, setiap perkataanmu yang mengerutkan kening saya karena sesak dengan konotasi, pemisalan dan misteri, kini dapat dimengerti walau tidak keseluruhan. Yang pasti kamu bukan berasal dari lautan biasa, kamu tumbuh-kembang di perairan yang ombaknya gagah. Saya tidak tahu berapa kali kamu terhempas, tergulung, bahkan hampir tenggelam di sana. Tapi, itu membuat kamu bertahan dengan karakter keapaadaanmu, saat kebanyakan orang terseret ke pusaran samudera dengan mudah dalam keadaan abu-abu.
Kamu adalah orang asing yang terasing. Begitupun saya.
Biarkan dunia beranggapan seperti itu. Mungkin dunialah yang menjadi asing bagi kita.
Saya mengamini bahwa kamu orang asing. Orang asing yang saya rindukan.
Bagaimana mungkin?
Tapi begitulah. Merindu tak harus pada seseorang yang dikenal saja.
Terlalu berlebihan?
Demikianlah adanya. Jika dijelaskan terlalu pelik.
Sama pelik dengan sebuah perpisahan. Midas, sebelumnya saya beranggapan tak ada yang mesti dirisaukan dari perpisahan. Karena ia amatlah mudah. Tak usah ditangisi, tak mesti mengadakan selebrasi. Sebab barangkali dunia ini memang diciptakan untuk sebuah perpisahan [1]. Seperti kata Sungging Raga, “Hidup sejatinya mengenai perputaran perjumpaan dan perpisahan tanpa henti.”
Dan bagi saya perpisahan itu hanya dalam drama atau cerita-cerita cinta picisan saja.
Salah!
Saya dijungkirbalikan kenyataan.
Tampaknya kenyataan tertawa terbahak melihat saya terpahit-pahit menelan sebuah kata yang namanya perpisahan. Padahal saya telah mempersiapkan mental jauh-jauh hari, manakala perpisahan itu datang.
Nyatanya ia menghantam lebih cepat, tepat di ulu hati saat saya lengah, hingga saya menggelepar dengan ketidakberdayaan. Mengenaskan.
Kamu bisa ajari saya bagaimana mengusir kenangan yang bergentayangan yang lebih menyeramkan dari para penunggu sungai?
Padahal kenangan itu hanya berwujud sekumpulan kata-kata, bukan fragmen-fragmen yang nyata.
Tetapi, lebih menyeramkan lagi–serasa–menjadi orang asing yang tersesat di planet antah-berantah, Midas.
Apa jarak sebegitu hebat mengubah sesuatu yang dikenal (dekat) menjadi (ter)asing?
Walau begitu, kamu tetap saya rindukan, Midas.
Jangan bosan dan melipat kening, kamu akan menemukan kata ‘asing’ yang berserakan. Sebab kata (ter)asing berdenyar dan menjadi headline di pikiran saya.
Kamu tahu, Midas, kamu yang memupuk sisi humor saya. Kini humor itu menumpul, mengusang dan mengasing saat kamu dan saya sama-sama (ter)asing.
Atau barangkali dari dulu kamu menganggap saya alien (makhluk asing) tersesat yang jatuh ke bumi dan ‘berjumpa’ denganmu; dengan pesona keapadaanmu, lalu saya berangan untuk bertransformasi menjadi makhluk bumi, padahal itu suatu kemustahilan!
Ah, perpisahan benar-benar mencipta jarak bermiliyar tahun cahaya dan membuat kita merasa (ter)asing lagi.
Karena itu pula, tanggal yang berguguran di tubuh kalender begitu pelit. Waktu serupa siput linglung. Untuk melipat detik pun seperti menggulung tahun. Tampaknya kenyataan dan waktu berkomplot mengolok-olok saya. Biar saya lama terpahit-pahit dalam keterpisahan yang tejadi, biar saya mewujud kepahitan dan biar saya menjadi (ter)asing.
Sadar bahwa saya benar-benar makhluk asing yang tersesat.
Kamu tahu? Pulang teramat berat. Sebab, kini kepulangan saya memikul kenangan seberat massa galaksi yang mustahil akan saya pikul.
Kendati begitu, adalah keharusan bagi saya untuk pulang pada ‘galaksi’ di mana saya berasal, tampaknya saya terlalu lancang untuk tersesat.
Barangkali adanya saya tidak boleh tidak, harus dienyahkan. Benar?
Karena ketersesatan saya adalalah kelancangan.
Ah, Midas, padahal tiada daya dalam diri saya. Atas lajunya perasaan ini pun saya tak kuasa, bahkan sekadar menghapus denyaran kata (ter)asing yang menjumud di pikiran.

Yang Merindukanmu;
Isaura
26 April, 2016
_

Catatan:
[1]Cerpen Sihir Tumis Ibu-Risda Nur Widia

========================================================================

“Dan begitulah wanita, mengandalkan perasaannya sendiri.”[*]
Aku melipat selembar surat tersebut sembari mengucap sebuah kalimat dalam cerpennya Sungging Raga. Isaura dan aku sama-sama menggemari karya penulis penyuka Arsenal dan kereta api itu. Tak aneh, kami sering mengutip kata-kata Sungging Raga.
Aku menggeleng-geleng kepala. Tak habis pikir, Isaura benar-benar beranggapan aku menjauhinya dan menganggapku asing. Ia juga mengambil langkah mundur. Aku tahu itu. Tampak dari suratnya. Ia menggunakan pengantar “saya”. Dirinya pernah berkata saat kutanya, mengapa ia ber-aku-kamu kepada orang tertentu, termasuk aku? Padahal ia selalu ber-saya-Anda- saat berbincang dengan kebanyakan orang.
“Aku menggunakan “saya” untuk kenalan dan orang asing. Dan ber-aku-kamu hanya untuk orang terdekat atau bisa juga kepada orang asing, sebagai tanda ketertarikanku padanya. Misalnya, kamu, Midas.”
Ia mengakhiri perkataannya dengan tawa. Dasar!
Tunggulah, Isaura, aku akan membalas suratmu agar perasaan keterasinganmu itu membuah jawaban. Maafkan aku, Isaura.

Tasikmalaya, 5-Mei-2016
_
[*]Cerpen Sebatang Pohon di Loftus Road-Sungging Raga
#SharmayHA_cerpen1