Cerpen

All posts tagged Cerpen

HARI YANG PALING MENCEMASKAN

Published Februari 19, 2018 by Sharmay HA

(Dimuat di Banjarmasin Post 30 Juli 2017)

“Sudah sampaikah kepadamu kabar tentang hari yang paling mencemaskan?”
Suara itu terus berdenyar di kepalaku. Seakan ada seseorang yang menembakannya melalui telinga dan pada akhirnya terus terngiang. 
“Saudari Isaura!” Seruan Pak Boerhan melepaskanku dari pusaran pertanyaan yang tak menemu jawaban. 
Aku mengerjap. “Ya,  Pak?”
“Sudah sampaikah kepadamu kabar tentang hari yang paling mencemaskan?”
“Apa, Pak?!” Aku tidak percaya ini! Dosen Filsafat Umum menanyakan itu. 
Pak Boerhan melipat kening, lantas menurunkan kacamatanya. “Saya hanya bertanya,  kenapa Saudari tidak menyahut setelah beberapa kali saya panggil?”
 “Oh….” Apa yang mesti kukatakan selanjutnya. Apa aku salah dengar lagi? 
“Hmm… Lain kali,  melamunlah pada tempatnya!”
“Maaf, Pak.” kataku dengan perasaan canggung.
Duh! Gara-gara suara itu aku sering mengalami kejadian memalukan. Ini bukan kali pertama aku tampak seperti orang linglung. 
Pernah,  suatu hari, aku tengah menunggu  lampu hijau. Lalu, seorang bocah laki-laki menghampiri. Di tangannya terdapat beberapa bundel koran. Ia pasti akan memintaku untuk membeli korannya. 
“Kakak,” sapanya ramah. 

“Ya?” Kubuka kaca helm. “Maaf, ya, Dek, kakak sudah beli koran tadi pagi.” 
Ia menggeleng. Lantas raut mukanya menjadi datar, dan dari tatapannya yang polos itu  menyiratkan keseriusan. “Sudah sampaikah kepadamu kabar tentang hari yang paling mencemaskan?”
Kontan aku merengut. Kenapa bocah itu menanyaiku dengan kalimat menyebalkan? Kalimat itu yang selalu membisingi kepala.  Belum sempat mengintrogasinya,  aku  diberedel klakson secara berjamaah. Duh! Terpaksa, secepat kilat kugas motor sebelum sumpah-serapah tumpah dari para pengendara yang tak sabaran. 
Aku tidak tahu kapan tepatnya suara tersebut berkenalan dengan pendengaran ini. Kalau tidak salah  lima hari yang lalu. Aku hanya ingat,  suara itu yang menyentakku keluar dari tidur. Seperti dalam adegan film ketika seorang tokoh bangun dari mimpi buruk, napasnya tersengal dan peluh-peluh sebesar biji jagung pun bergelinciran dari tubuh. Bagitulah, yang kualami. 
Setelah kejadian itu, suara misterius tersebut bermunculan tak henti. Tak peduli saat aku sarapan, mengobrol, menonton TV, kuliah, mandi, bahkan saat melakukan dua ritual–yang tidak dapat kusebutkan di cerita ini, suara itu selalu muncul.
“Sudah sampaikah kepadamu kabar tentang hari yang paling mencemaskan?”
Aku pernah berasumsi konyol. Barangkali ada seseorang yang menyimpan sebuah alat sangat kecil di telingaku.  Tetapi, saat kedua telinga kusumbat pun tetap ada. Suara misterius itu berdetak tiap detik. Aku bisa gila kalau begini! Anggapanku yang lainnya adalah, mungkin ada makhluk halus yang jail, dia sengaja membisikan kalimat yang mencemaskan. Kupikir lagi, agaknya tidak mungkin.  Jika benar, apa makhluk halus itu tidak punya kerjaan lain yang lebih berguna? Misalnya, menafkahi keluarganya. Atau  berkencan dengan kekasihnya. Aku abaikan saja dugaan yang tak berdasar dan absurd itu. Dan membiarkan suara misterius terus berputar di kepala. 
Dan ketika sepi, suara itu bergaung dengan jelas. Makanya,  aku tak bisa berlama-lama sendiri. Sebenarnya aku adalah spesialis kesunyian, namun untuk beberapa waktu agaknya aku harus melarikan diri menuju keriuhan. Setidaknya, agar suara yang mendebarkan dada dan membuat gelisah itu tidak terlalu jelas. 
Awalnya memang kuabaikan,  karena aku mengira suara tersebut hanya sebuah  sisa-sisa  dari mimpi  dan hanya sementara. Nyatanya tidak! Suara aneh itu tak ubahnya rekaman yang terus diputar tanpa henti dalam kepalaku. Pada akhirnya setiap orang yang kutemui, baik itu tukang pecel, ibu kantin, supir angkot, presenter gosip, penjaga kuburan,  manusia jomblo, polisi lalu lintas,  polisi tidur,  mereka semua selalu menanyakan hal serupa,  kecuali polisi tidur. 
“Sudah sampaikah kepadamu kabar tentang hari yang paling mencemaskan?”
Gila! Lama-lama isi kepalaku menggelegak juga. Aku tak bisa terus dihantui begini. Kesabaran benar-benar telah lenyap!  Mungkin aku telah gila! 
Tidak!  Tidak!  Aku tidak siap menjadi gila.
Aku berlari,  berharap bisa terbebas dari suara misterius itu.  Berlari dan terus berlari,  tidak peduli  siapa pun yang kutubruk,  tidak peduli atas umpatan dan suara klakson yang melengking panjang. Sampai akhirnya aku berada di tempat sepi. 
“Aaaarrrgghhh!!” Kulepaskan teriakan frustrasi sekencang mungkin. Lelah! Napasku tersengal-sengal. 
Tiba-tiba…. Hei, suara sialan itu hilang. 
Tunggu… aku tidak boleh terburu-buru senang. Mungkin suara itu akan muncul lagi. 
Aku baru ingat seseorang yang mungkin bisa membantu. Segera kutelpon dia. 
“Halo, Kak Nursa!”

“Ada apa,  Isaura?”

“Begini, kuharap Kakak bisa menolong. Hampir sepekan ini di kepalaku muncul suara yang aneh. Hingga semua orang yang berpapasan, mengatakan hal yang sama dengan suara yang berputar  di kepalaku. Tukang becak,  tukang pecel, ibu kost yang galak, penjual tahu bulat,  dan Facebook pun tak ketinggalan menanyakan ‘Sudah sampaikah kepadamu kabar tentang hari yang paling mencemaskan?’ Apakah suara tersebut merupakan sebuah gejala bahwa aku akan berubah menjadi orang gila baru? Kakak kan sarjana psikologi, tolong bantu aku! Aku menjadi linglung gara-gara kejadian ini.” Ibarat gerbong kereta, apa yang kukatakan beruntun dan tak berjeda. 

“Isaura. Kau sudah selesai?”

“Sudah, Kak. Jadi bagaimana?”

“Apa kau lupa?”

Aku berpikir sejenak. “Lupa??”

“Kau lupa bahwa aku adalah sarjana akuntansi? Mengapa kau berpikiran  aku ini sarjana psikologi?”

Kutepuk jidat! “Ya ampun! Aku tidak ingat sama sekali.”

Ia menggerutu. “Aku tidak tahu dengan apa yang menimpamu. Aku harus merenungkannya bersama Sherlock–”

“Sherlock Holmes?” potongku cepat. 

“Isaura….” 

Terdengar suaranya amat datar. Sepertinya ada yang salah. 

“Apa kau lupa?”

Nah,  kan. “Lupa apa lagi,  sih,  Kak?”

“Heuuuh… Kau lupa Sherlock yang kumaksud adalah kucing?”
Duh! Baru kuingat perempuan asal Sleman itu pecinta kucing. “Ya, ya,  aku ingat sekarang. Dia itu kucing peliharaan Kakak.” 

“Benar!”
Aku memutar bola mata dengan malas. 
“Dengar,  Isaura, aku tidak tahu apa ini akan berhasil. Dengarkan aku baik-baik….”
Aku mengingat setiap perkataan Kak Nursa. Akan kucoba  sarannya. 

Lalu kukatupkan mata dan memusatkan pikiran. Ya,  barangkali suara itu minta dijawab, seperti yang Kak Nursa sarankan.
“Sudah sampaikah kepadamu kabar tentang hari yang paling mencemaskan?”

Sudah kuduga, suara itu datang lagi. 

“Belum,” jawabku lewat pikiran. “Bagiku,  hari mencemaskan  adalah saat mantan melaksanakan pernikahan.”

“Memangnya kamu punya mantan? ”
“Sial!  Aku memang tak punya mantan. Tapi bukankah sebagian orang menganggap pernikahan mantan yang masih dicintai itu merupakan hari yang mencemaskan?”

Suara dalam pikiran muncul kembali. Begitu deras.  Kalimatnya lebih panjang,  lantas membuat jiwaku berguncang. Mataku mengucurkan kesedihan. Kusadari, semua kalimat itu pernah dikatakannya dalam mimpi tempo lalu, dan hanya selarik kalimat saja yang berdengung menembus kenyataan. 
“Sudah sampaikah kepadamu kabar tentang hari yang paling mencemaskan?

Tahukah kamu apa itu hari yang mencemaskan? 

Yaitu hari yang telah dijanjikan

Senantiasa ditanyakan

Dan selalu didustakan 

Hari saat betis kanan dan kiri saling berpelukan 

Sebagian besar jiwa berada dalam keputus-asaan serta kebingungan

Tak ada malam,  hanya ada siang yang saaangat panjang

Ketika semua dikumpulkan dalam keadaan bertelanjang

Kebanyakan berharap maut segera menerjang

Padahal  selamanya ia takkan  datang 

 Hanya jutaan kepedihan yang akan terus menyerang

Ingatlah! Kamu adalah pengelana yang harus mengimani jalan pulang!”

Suara itu lenyap! Kemudian senyap…. 
Tasikmalaya,  3 Rajab 1438 H

—Kepada Perempuan Jogja (yang gaje) yang mencintai Mueeza dan Sherlock.

#Reddish, seorang muqallidah sekaligus spesialis kesunyian. Kadang-kadang ia membicarakan kebid’ahan bersama Ceu Edoh dan Bibi; dua kucing kesayangannya.

Iklan

UNTUK ORANG (TER)ASING

Published Mei 18, 2016 by Sharmay HA

[Dimuat di Kedaulatan Rakyat (Jogja) edisi Minggu, 15 Mei 2016]

Oleh: Sharmay H. A :mrgreen:

========================================================================

Midas, Kita Sama-sama (ter)Asing

Kekonyolan adalah mengecek sebuah kotak berkali-kali padahal sudah tahu hanya kesia-siaan yang ada.

Parahnya, saya melakukan hal itu berkali-kali, sampai diri saya berubah menjadi kekonyolan.
Saya tidak tahu kenapa kamu ‘menghindar’, tak memberi ruang bagi saya untuk sekadar berkata ‘salam’, dan menanya kabar.
Barangkali kamu ‘uzlah, karena kamu telah menemukan hakikat. Ya, ‘uzlah dari ‘hectic life’ dan para hipokrisi yang menambah kebisingan dengan ucapan dan tampang-tampang pencitraan.
Kamu menjatuhkan diri pada keapaadaanmu; idealis, totalitas, misterius, genius–seperti apa yang kamu katakan dan saya rasakan.
Namun, terkadang kamu muncul di permukaan dengan topeng, berkamuflase menjadi sosok jenaka.
Hebat!
Dan orang-orang–bahkan awalnya saya–mengira kamu berasal dari lautan tenang dan damai.
Perlahan, kejadian yang saya temui, setiap perkataanmu yang mengerutkan kening saya karena sesak dengan konotasi, pemisalan dan misteri, kini dapat dimengerti walau tidak keseluruhan. Yang pasti kamu bukan berasal dari lautan biasa, kamu tumbuh-kembang di perairan yang ombaknya gagah. Saya tidak tahu berapa kali kamu terhempas, tergulung, bahkan hampir tenggelam di sana. Tapi, itu membuat kamu bertahan dengan karakter keapaadaanmu, saat kebanyakan orang terseret ke pusaran samudera dengan mudah dalam keadaan abu-abu.
Kamu adalah orang asing yang terasing. Begitupun saya.
Biarkan dunia beranggapan seperti itu. Mungkin dunialah yang menjadi asing bagi kita.
Saya mengamini bahwa kamu orang asing. Orang asing yang saya rindukan.
Bagaimana mungkin?
Tapi begitulah. Merindu tak harus pada seseorang yang dikenal saja.
Terlalu berlebihan?
Demikianlah adanya. Jika dijelaskan terlalu pelik.
Sama pelik dengan sebuah perpisahan. Midas, sebelumnya saya beranggapan tak ada yang mesti dirisaukan dari perpisahan. Karena ia amatlah mudah. Tak usah ditangisi, tak mesti mengadakan selebrasi. Sebab barangkali dunia ini memang diciptakan untuk sebuah perpisahan [1]. Seperti kata Sungging Raga, “Hidup sejatinya mengenai perputaran perjumpaan dan perpisahan tanpa henti.”
Dan bagi saya perpisahan itu hanya dalam drama atau cerita-cerita cinta picisan saja.
Salah!
Saya dijungkirbalikan kenyataan.
Tampaknya kenyataan tertawa terbahak melihat saya terpahit-pahit menelan sebuah kata yang namanya perpisahan. Padahal saya telah mempersiapkan mental jauh-jauh hari, manakala perpisahan itu datang.
Nyatanya ia menghantam lebih cepat, tepat di ulu hati saat saya lengah, hingga saya menggelepar dengan ketidakberdayaan. Mengenaskan.
Kamu bisa ajari saya bagaimana mengusir kenangan yang bergentayangan yang lebih menyeramkan dari para penunggu sungai?
Padahal kenangan itu hanya berwujud sekumpulan kata-kata, bukan fragmen-fragmen yang nyata.
Tetapi, lebih menyeramkan lagi–serasa–menjadi orang asing yang tersesat di planet antah-berantah, Midas.
Apa jarak sebegitu hebat mengubah sesuatu yang dikenal (dekat) menjadi (ter)asing?
Walau begitu, kamu tetap saya rindukan, Midas.
Jangan bosan dan melipat kening, kamu akan menemukan kata ‘asing’ yang berserakan. Sebab kata (ter)asing berdenyar dan menjadi headline di pikiran saya.
Kamu tahu, Midas, kamu yang memupuk sisi humor saya. Kini humor itu menumpul, mengusang dan mengasing saat kamu dan saya sama-sama (ter)asing.
Atau barangkali dari dulu kamu menganggap saya alien (makhluk asing) tersesat yang jatuh ke bumi dan ‘berjumpa’ denganmu; dengan pesona keapadaanmu, lalu saya berangan untuk bertransformasi menjadi makhluk bumi, padahal itu suatu kemustahilan!
Ah, perpisahan benar-benar mencipta jarak bermiliyar tahun cahaya dan membuat kita merasa (ter)asing lagi.
Karena itu pula, tanggal yang berguguran di tubuh kalender begitu pelit. Waktu serupa siput linglung. Untuk melipat detik pun seperti menggulung tahun. Tampaknya kenyataan dan waktu berkomplot mengolok-olok saya. Biar saya lama terpahit-pahit dalam keterpisahan yang tejadi, biar saya mewujud kepahitan dan biar saya menjadi (ter)asing.
Sadar bahwa saya benar-benar makhluk asing yang tersesat.
Kamu tahu? Pulang teramat berat. Sebab, kini kepulangan saya memikul kenangan seberat massa galaksi yang mustahil akan saya pikul.
Kendati begitu, adalah keharusan bagi saya untuk pulang pada ‘galaksi’ di mana saya berasal, tampaknya saya terlalu lancang untuk tersesat.
Barangkali adanya saya tidak boleh tidak, harus dienyahkan. Benar?
Karena ketersesatan saya adalalah kelancangan.
Ah, Midas, padahal tiada daya dalam diri saya. Atas lajunya perasaan ini pun saya tak kuasa, bahkan sekadar menghapus denyaran kata (ter)asing yang menjumud di pikiran.

Yang Merindukanmu;
Isaura
26 April, 2016
_

Catatan:
[1]Cerpen Sihir Tumis Ibu-Risda Nur Widia

========================================================================

“Dan begitulah wanita, mengandalkan perasaannya sendiri.”[*]
Aku melipat selembar surat tersebut sembari mengucap sebuah kalimat dalam cerpennya Sungging Raga. Isaura dan aku sama-sama menggemari karya penulis penyuka Arsenal dan kereta api itu. Tak aneh, kami sering mengutip kata-kata Sungging Raga.
Aku menggeleng-geleng kepala. Tak habis pikir, Isaura benar-benar beranggapan aku menjauhinya dan menganggapku asing. Ia juga mengambil langkah mundur. Aku tahu itu. Tampak dari suratnya. Ia menggunakan pengantar “saya”. Dirinya pernah berkata saat kutanya, mengapa ia ber-aku-kamu kepada orang tertentu, termasuk aku? Padahal ia selalu ber-saya-Anda- saat berbincang dengan kebanyakan orang.
“Aku menggunakan “saya” untuk kenalan dan orang asing. Dan ber-aku-kamu hanya untuk orang terdekat atau bisa juga kepada orang asing, sebagai tanda ketertarikanku padanya. Misalnya, kamu, Midas.”
Ia mengakhiri perkataannya dengan tawa. Dasar!
Tunggulah, Isaura, aku akan membalas suratmu agar perasaan keterasinganmu itu membuah jawaban. Maafkan aku, Isaura.

Tasikmalaya, 5-Mei-2016
_
[*]Cerpen Sebatang Pohon di Loftus Road-Sungging Raga
#SharmayHA_cerpen1