istri

All posts tagged istri

​TAKDIR SEORANG FARIHAH 

Published Juli 9, 2017 by Reddish

Takdir selalu memberi kejutan.  Kalian percaya kan? Maka, kuatkan hati untuk menghadapi kenyataan yang tak seindah dugaan.


Farihah, “yang berbahagia“. Begitu kedua orang tuaku menyematkan doa dalam nama agar hidupku bahagia. Tapi, aku hanya tersenyum getir. Mengingat nama tak senada dengan nasib yang aku rasakan. Rasanya, dunia benar-benar tidak punya sepetak tanah untuk kebahagiaanku. Yang tampak, hanya lautan kesedihan.

<!–more–>

Aku pikir, menjadi wanita yang telah menikah adalah sebuah kebahagiaan. Akan dihadiahi senyum manis suami saat pagi, menghadapi rintangan hidup bersama-sama, berbagi suka -duka. Ah, itu hanya takdir sebagian wanita yang beruntung. Aku? Haha aku bukan bagian dari mereka.
Tapi aku percaya, Tuhan Mahaadil.

Jujur, mengalami manisnya menjadi pengantin baru aku pernah. Tidak dimungkiri, yang pernah menikah pasti merasakannya.  Tapi, semua itu berubah saat Negara Api menyerang–tidak, tidak! Ini bukan Avatar. Benar, semuanya hanya bertahan beberapa bulan. Keramahan suamiku mulai memudae.Waktu seolah melucuti topeng sandiwaranya. Dia menjadi pribadi “sahaok kadua gaplok katilu endog diceplok” (pertama marah, kedua memukul, ketiga telur dimata sapi). Seharusnya aku tidak berkelakar dengan menambah “katilu endog diceplok”. Pasti tidak akan ada yang percaya bahwa hidupku menderita.

Perlakuan kasarnya padaku harus kuterima gara-gara hal sepele. Beruntung saat dia marah tidak menstrika tubuh ini, seperti nasib segelintir TKW di negeri orang. Bersyukur kami tidak punya setrika. 

Seperti suatu hari,

“Hah!” teriak lelaki itu memanggilku. Padahal namaku FARIHAH. Tidak adakah panggilan yang lebih baik daripada “HAH”?

Saat itu aku tengah mencuci di belakang. Selain menjadi istri dari SYTD (suami yang tak dirindukan), aku juga bekerja sebagai buruh cuci tetangga. Upah yang didapat tidak besar, hanya Rp 5000 per ember. 

“Iya, Kang?” Tergopoh-gopoh menghampiri lelaki berkulit sawo terlampau matang.

“Aku lapar, mana? Tidak ada makanan? Jadi istri tak becus melayani suami!” hardiknya.

Ingin sekali aku bertanya balik, “Akang sudah becus jadi suami, belum?” Pertanyaan itu tak sampai ke kerongkongan. Takut. Bagaimanapun, dia suamiku. Harus aku hormati.

“Maaf, Kang, upah mencuci tidak cukup beli beras.”

“Hah, kau cuma beralasan! Aku tak peduli, yang penting perutku terisi saat ini!” Dia meneriakiku.

Matanya melotot, mengintruksi agar aku membawa apa saja agar perutnya terisi. Sebenarnya, banyak yang bisa memenuhi perut lelaki berambut ikal kusut, batu misalnya. Atau cucian yang masih di ember, setidaknya agar mulut yang menghitam karena rokok itu berhenti meneriaki aku. Tapi itu mustahil.

“Kapan terakhir Akang memberiku uang hasil mengojek? Kapan?!” Lagi-lagi perkataan itu hanya bergemuruh dalam dada.

Tidak pernah terpikir takdirku menjadi istri yang malang. Sedikit pun tak terbersit!

Upah tak seberapa, untuk sekali makan pun tak cukup. Ditambah lagi, katanya rupiah melemah. Imbasnya? Yaa … harga kebutuhan pokok naik. Hidup sebagai manusia di bawah rata-rata kefakiran memang sulit. Teramat pelik!

“Kenapa malah diam, Hah?!” Suara menggelegarnya mengejutkanku. Sadar, dari tadi aku hanya mematung–sibuk meratapi nasib–di hadapannya.

Aku menatap takut.  

“Oh …,” Suamiku menyeringai dan berjalan mendekat, “mau aku pukul?!” Dia bukan saja mengancam. Tangan kekar itu benar-benar terangkat mengambil ancang-ancang sebelum mendarat di pipi.

Aku memejamkan mata. Berharap ada orang yang menyelamatkanku seperti dalam sinetron-sinetron.

Plak!

Tidak ada yang mencegah tangan itu melukaiku. Perih. Pipiku terasa terbakar. Sadar, aku hidup bukan dalam sinetron. Bulir air mata meluncur tiba-tiba.  Sudah kubilang, dia sahaok kadua gaplok dan tanpa katilu endog diceplok. Penyiksaan fisik apakah membuatnya kenyang? Lihat! Suamiku melenggang pergi. Menurut orang waras, tenaganya terbuang sia-sia. Andai tenaga itu disalurkan bekerja–membantu memeras cucian–lalu upah itu dibelikan gorengan sekadar menganjal perut. 

Dan yang teramat sakit ialah perasaanku. Memimpikan menjadi istri yang disayang bukan ditempeleng garang.  

Teringat nasihat mendiang kakek, “Sabar, sabar, sabar! Meski hidup lebih pahit dari empedu. Percayalah Allah Mahaadil!”

Ya, sepertinya kakek telah memperediksi bahwa aku, cucunya akan bernasib begini.

Perihal perlakuan suami yang tidak manusiawi, aku hanya mampu tidak berdoakannya tersambar gledek atau terjungkal saat mengojek. Tidak. Jika aku memanjatkan doa seperti itu, kesabaran yang kulakukan tiada artinya.

Mengadu? Kepada siapa?

Hidup sebatang kara. Bapak ibu sudah tiada. Tak ada sanak saudara. Terdampar di kota asing mengikuti suami tercinta(?) Hallaaah…. Malah bermain rima.

Bagaimana pun juga, aku meminta kepada Allah agar dia sadar dan mendapat hidayah, serta memperlakukanku selayak istri tercinta. 

Hari itu aku larut dalam segara air mata. Ya, memang tak akan mengubah takdir yang menimpa. Tapi, setidaknya berton-ton beban di dada sedikit berkurang serupa ada rasa plong macam lepas sendawa.


“Euleuh, deudeuh teuing incu abah, (Aduhai, kasihan sekali cucu kakek),” lirih kakek, jemari tangannya tak henti mengusap rambutku yang tergerai. Aku terduduk di lantai menyenderkan kepala pada lutut lelaki sepuh yang berada di atas kursi. “Keun nya, ulah sedih deui. Kanalangsaan maneh geus teu kudu diceungceurikan. Allah maparin kaadilan ka maneh, (Sudahlah, jangan bersedih! kepedihanmu tidak usah ditangisi. Allah akan memberi keadilan kepadamu),” lanjutnya lagi.

Aku menatap kedua mata yang sendu, namun ada sebercak bahagia terlukis di sana.

“Ngadeg! (berdiri!)” perintahnya.

Aku menuruti apa yang dikata kakek.

Kain putih? Maksudku untuk apa? Kakek membungkuskan kain itu ke tubuhku. 

Aku merasakan sesuatu yang menjalar di seluruh tubuh. Kesedihan yang kualami selama ini dan terpendam di dasar hati terasa luruh. Tubuhku teramat ringan dan … jiwa ini seolah melayang.

Kain putih semakin lama semakin memendarkan cahaya, silau. 

Tiba-tiba, kakek menuntunku menyusuri jalanan yang cukup ramai. Dimana ini? Aku merasa tak asing. Dalam gejolak kebingungan itu, kakek menunjuk ke sebuah warung makan di pinggir jalan.

“Kau lihat itu?” tanyanya kini dengan bahasa Indonesia fasih.

Mengangguk. 

Lelaki berkofiah merah ala Aladin ini melanjutkan ucapannya, “Dia jodohmu!” Dia menatapku sambil tersenyum meyakinkan.

“Loh? Aku sudah menikah, Abah,” tukasku.

Sejenak, aku amati lamat-lamat sosok yang tadi ditunjuk kakek. Cantik! Senyum terkembang di bibir ini.

Hei, apa kataku? Cantik? Tunggu, ada yang salah denganku. Apa aku lesbi? 

Aku memalingkan muka ke hadapan kakek.

“Ada yang salah?” Alis kakek terangkat sebelah.

“Dia perempuan!” Wajahku merengut. “Tentu salah, Abah!”

Kedua lengannya memegang bahuku, lantas menghadapkan pada sebuah cermin besar milik penjual mainan.

“Tidaaaaaak!!!”


Seketika aku terlonjak. Napasku tersengal. Seperti sehabis dikejar babi hutan. Mimpi yang aneh! Mataku melirik jam yang tergantung di dinding. Pukul 2 dini hari. Mungkin karena perutku selalu keroncongan, jadi tidur pun tak pernah lama. Dan tidak sulit untuk bangun sepagi ini. Segera aku bergegas ke kamar mandi di belakang. Jangan bayangkan kamar mandi yang full kramik! Tempat ini lebih elit, beratap langit. Lantainya tersusun dari beberapa bambu yang memiliki panjang 2 meter. Dinding-dindingnya terbalut karung dan sarung butut. Air amat melimpah. Fantastis bukan? Dan yang paling unik kamar mandi ini berada di atas kolam. Di daerahku dinamai “bagbagan”.

Segera aku melepas pakaian, hendak mandi. Bagiku mandi dini hari adalah membuat tubuh ini fresh mendekati beku. Astaghfirullah! Lutut terasa hilang persendian. Aku tidak percaya ini!

Mimpi itu….


Aku benar-benar menjadi manusia terlahir kembali. Ya, walaupun rutinitasku adalah mencuci punya orang. Pagi sekali kutuntaskan lebih cepat. Ada orang yang akan aku kunjungi hari ini. Benar-benar kalut. Mungkin orang itu dapat memberi solusi.

Agak ragu aku memandang benda yang selalu membungkus tubuh ini. Daster kumal, dan kerudung. Bergegas mengganti pakaian, lalu aku mematut di depan cermin.

“Benarkah ini diriku?”


Beruntung rumahnya tidak jauh dari kediamanku. Aku tak bisa membayangkan jika jaraknya jauh, bisa-bisa aku pulang ngesot.

“Assalamu’alaikum, Ajengan!” sapaku saat sampai di tempat tujuan. 

Dia sedang duduk di halaman bersama istrinya.

“Wa’alaikumussalam warohmatullohi wabarokaatuh …,” jawab mereka serempak.

Aku mengutarakan maksud, lalu ajengan itu mempersilakan masuk.

Di ruang tamu

“Ajengan, percaya sama takdir?” tanyaku membuka pembicaraan, tanpa basa-basi. Jujur aku tak suka yang basi-basi. Hueeks lama basa-basi jadi basi beneran.

Wajah yang hampir tua itu merengut. Mungkin menebak ke mana arah pembicaraanku.

“Tentu saja, atuh, Neng Farihah.” Dia mengulum senyum. “Kalau tidak percaya … ya kufur. Dan bagi seorang mu’min mesti ridho menerimanya, baik itu yang baik atau pun yang buruk,”

Aku mengangguk-anggukan kepala tanda setuju dan merenggangkan leherku agak pegal.

“Apakah yang menimpa saya adalah bukti Allah Mahaadil dengan …,” Suaraku tercekat. Seperti ada yang menyangkut di kerongkongan. Aku tidak percaya akan mengatakan ini.

Lelaki yang ada di hadapanku memerhatikan dengan saksama.

Menghela napas sekejap, lantas mulutku begitu saja meluncurkan kisah kelam yang terjadi. Perlakuan suami selama ini, mimpi itu dan hal yang tadi malam kualami di bagbagan (bukan tentang mandi yang urung kulakukan).

Ajengan terkesiap, lalu ia memekik tertahan, “Masyaa Allah …! Benarkah?” Pandangannya menyorot mulai dari ujung kepala sampai kakiku. Aku tak merasa risih atau kikuk.

Segera aku pamit setelah dirinya memberiku solusi. 


Dini hari selalu membuatku terbangun. Entah kenapa, mungkin sudah menjadi kebiasaan. Saat hendak bangkit, ada sesuatu yang baru aku sadari. Suamiku pulang! Tangan kanannya melingkar di pinggangku. Seharusnya aku bahagia, tapi sekarang tidak.

“Maafkan aku, Farihah,” gumamnya masih dengan mata tertutup.

Ingin sekali menangis, tapi air mata itu tak kunjung keluar. Mungkinkah mengering? Aku benar-benar tak seperti dulu.

Pasrah. Aku urung bangun. Biarlah untuk terakhir kalinya ia memelukku.


Pagi ini aku masak spesial. Yang namanya spesial di kamusku itu yaa … nasi hangat, bakar ikan asin, sambal, dan lalapan. Maklumlah … upah dari buruh cuci ya alakadarnya. “Aku mah sakieu ge uyuhan. (Aku begini sja sudah bersyukur).”

Bersikap senormal mungkin di hadapan suami. Sudah bulat, setelah mendeklarasikan diri penampilanku akan segera berubah. Sekarang masih setia dengan daster kumal.

Dia makan dengan lahap. Ralat. Maksudku,  rakus! Berbeda denganku, makan sesuap-sesuap. Sesekali senyum miliknya terkembang sambil menatapku. 

Semoga saja dia benar-benar berubah.

“Enak, Kang?”

Suamiku mengangguk.

“Aku punya permintaan,” kataku selepas makan.

“Apa itu, Istriku?” serunya. Setelah sekian lama, mungkin berabad-abad rasanya ia baru memanggil denganku dengan kata itu. Perasaanku kalut!

Mencoba mengumpulkan tenaga yang tercecer seperti remah-remah di dekatnya, aku mengatakan hal yang amat sakral, “Ceraikan aku, Kang!”

“Uhuk! Uhuk! Air … minum!”

Dia tesedak saking kagetnya mungkin. 

Melihat itu aku panik, “Maaf, aku lupa tidak masak air!”

Saking asik masak spesial, lupa masak air. Duh, kacau!

Alhasil, dia minum air kobokan yang belum dikobok di dekatnya.

“Hah–eng, maksudku … istriku, aku tau selama ini telah berbuat kasar padamu ….”

“Tidak manusiawi,” aku meralatnya.

“Ya, ya, tapi aku telah tobat dan berjanji akan menyayangi istri sepenuh jiwa raga. Dulu aku bodoh,”

“Sekarang?”

“Masih bodoh.” Getar sesal terdengar dari ucapannya. Dia memasukan suapan terakhir.

“Kang,” dengan nada lembut aku berujar, “istri yang meminta cerai tanpa alasan syar’i tidak akan mencium wangi surga. Sedangkan, aroma surga itu tercium dari jarak 70 tahun perjalanan. Tentu aku tidak mau hal itu menimpa diri. Tapi aku punya alasan mengapa Akang wajib menceraiku.”

“Tidak! Pokoknya akang tidak akan menceraikanmu!” ucapnya tegas.

“Aku bukan Farihah yang dulu,” tukasku. Aku menyanggah agar dia mengalah. Tidak mau dia tahu diriku yang sebenarnya.

Dia tak mau kalah, “Aku bukan Yasman yang dulu juga, aku telah insyaf.”

“Aku bukan wanita lagi.”

“Aku juga bukan–” Ucapannya menggantung, lalu menatapku tak percaya, seolah mengatakan, “Jangan bercanda! Mustahil!”

Kejadian di luar nalar itu kuceritakan, mimpi dengan kakek, genderku yang berubah. Semua itu atas saran ajengan yang tempo hari kutemui. Lelaki yang sebentar lagi menyandang mantan suamiku itu menekuri tikar tempat kami duduk. 


Setelah mendeklarasikan sebagai Midas Abdul Ridha, Hidupku benar-benar berubah. Bukan saja penampilan yang berbeda, dan aku mulai dikenal banyak orang. Kabar tentang peristiwa ajaib itu merembet seperti  aliran listrik. Alhamdulillah, profesiku bukan buruh cuci lagi. Aku membuka warung makan. Dari mana uangnya? Hei, uang hasil undangan orang-orang aku kumpulkan. Begini,  untuk pertama kalinya aku dimuat di koran. Jangan berfikir di kolom orang hilang. Tidak! Pokoknya aku diundang untuk menceritakan kisah yang pernah dialami. Sampai diriku menjadi bintang tamu di televisi di acara “Hitam Kelabu”. 

Kebanjiran rejeki.

Semenjak Yasman–mantan suamiku–menceraika, dia tak pernah terlihat. Entah kemana, dia juga akan berubah katanya. Bukan, bukan berubah gender. Tapi perilakunya. Semoga.

Warung makan sederhana ini kami kelola bersama. Aku lupa belum membahas istriku, namanya Zulaikho. Dia gadis yang ada dala mimpi. Ajengan membantuku mencarinya. Dan aku menemukan tulang rusuk itu di pasar Malam Minggu. Persis lokasi saat dalam mimpi. Satu hal lagi, dia tidak mempersoalkan masa laluku. Kini, aku benar-benar akan menjadi lelaki yang bergelar “bapak”. Ssst … istriku tengah mengandung empat bulan. Hehe. 

Zulaikho tidak akan merasakan kepedihanku dulu sebagai istri. Tidak akan! Karena kami akan saling menyayangi dan melindungi layaknya pakaian yang menutupi anggota tubuh.
Tasikmalaya. Mei 2015.