Puisi

All posts tagged Puisi

​Mengapa Pikiran Rakyat

Published Mei 27, 2018 by Sharmay HA

Sebuah pertanyaan yang saya tujukan kepada diri saya sendiri.

“Mengapa Pikiran Rakyat?”
Ya, akhir-akhir ini saya mengirim beberapa puisi dan cerpen ke meja redaktur Pikiran Rakyat. Meski banyak sekali meja redaktur lain yang menerima cerpen dan puisi, tapi untuk saat ini saya menepi di PR. Mencoba ngetuk pintu, untuk kemudian dipersilakan masuk.

Kenapa?

Bukankah  menembak pada banyak titik, akan lebih banyak peluang?

Ya, peluang untuk ditolak.

Wkwkwk.

Sebenarnya, tidak ada alasan khusus. Toh, sebelumnya saya menembak ke banyak email redaktur. Tapi, setelah berpikir berulang kali, saya menemukan alasannya, saya ingin mengabadikan nama saya di kolom cerpen dan puisi PR.

Jadi begini, perpustakaan tempat saya menimba ilmu–cielah, berlangganan koran PR. Seringkali, kalau ada jam kosong, saya pergi ke perpus untuk membaca koran. Yaah, walau pun cuma edisi hari Ahadnya saja. Itu pun langsung ke halaman yang memuat cerpen, puisi dan wisata bahasa. Kadang, kalau sedang rajin, saya baca juga profil tokoh-tokoh “Geulis” yang inspiratif. Saat ini saya baca kisah-kisah perempuan “Geulis” di PR,  suatu saat bisa jadi nama saya yang terpampang di sana. Wkwkwkwk.

Aminkan dulu. Aaamiiin!

Di dunia ini segalanya mungkin, selagi bisa diusahakan. Kecuali jika saya laki, nepikeun ka kiyamat ge mustahil dimuat di kolom “Geulis”. Wkwkwk. 

Tapi, bisa saja, sih, meski laki-laki. Kolomnya diganti jadi “Kasep”, kasepak kuda. 

Balik lagi ke alasan saya memilih PR.

Nah, perpustakaan sekolah saya langganan PR. Dan  pustakawannya itu sering mengkliping artikel-artikel koran. Semacam mengabadikan yang telah diabadikan.

Sayangnya, cerpen dan puisi tidak dikeliping. Jadi, ketika saya telat membaca koran dan lama tak berkunjung ke perpus, maka saya tidak bisa membaca koran edisi Ahad yang terlewat, karena sudah dipindahkan ke meja untuk disortir isinya.

Alhasil, saya usul kepada Bu Perpus, supaya cerpen dan puisi dikliping juga.

Alhamdulillah, permintaan saya diterima. Meski, tugas Bu Perpus jadi bertambah. Hehehehe.

Setelah cukup lama menjadi pembaca cerpen dan puisi PR, saya tergerak untuk mengirim cerpen juga. Saat itu saya menisbatkan diri sebagai Cerpenis Melankolis Humoris. Wkwkk. Pede sekali!

Padahal mah cuma tukang curhat yang dibungkus lewat cerita. 

Saya kirimlah beberapa cerpen yang saya simpan di gawai ke PR. Cerpen yang tertimbun lama dan meminta untuk dipertemukan dengan pembacanya.

Hasilnya….

Tidak ada yang dimuat! 

Setelah itu, saya beristirahat. Melakukan jeda. Tidak mengetuk lagi meja redaktur.

Pada tanggal 12 April 2018, saya mengirimkan empat puisi ke PR.

Cerpen ditolak, puisi bergerak. Wkwkwk.

Sebetulnya, puisi itu saya buat di akhir vulan Januari 2018. Setiap satu puisi itu saya buat selama satu hari. Dan satu puisi yang paling mencurahkan perasaan saya, saya buat audionya. Lalu, saya share ke grup WA kelas. Salah satu teman saya memint izin untuk untuk membuat videonya. Waaah… tentu saya setujui. 

Salah satu kebahagiaan adalah saat karya kita menemukan pembacanya. 

Tanggal 19 April 2018

Saya mendapat email balasan dari redaktur PR. Isinya meminta agar saya mengirimkan nomor rekening! 

Wah, saya kaget. Tapi saya mencoba mengendalikan perasaan  agar saya mengekspresikan kebahagiaan tak berlebihan.

Tapi, apa maksud email redaktur itu berarti puisi saya pasti dimuat?

Mulai gamang. Bisa saja, kan, redaktur PR hanya memberi tahu saya, gara-gara saya mengirim karya tanpa mencantumkan nomor rekening. 

Saya menantikan tanggal 22 April. Rasanya menunggu hari Ahad itu lamaaa sekali.

Hasilnya….

Ketika hari Senin, 23 April, saya pergi ke perpus untuk mengecek Koran PR.

Tidak ada puisi saya. Tidak ada nama saya.

Huft….. 

Rasanya itu seperti dipatahkan. Menanti namun tak mendapatkan apa yang diinginkan.

Ya sudah, bukan rejeki. Saya mengobati hati sendiri.

Saya lupakan segalanya. Menetralkan perasaan, dan tak mengingat apa yang pernah saya harapkan.

Berselang satu pekan, tepatnya 29 April 2018, saya membaca di sebuah grup Sastra Minggu, puisi saya dimuat di PR!

Alhamdulillah, saya bahagia.

Maka ketika Senin datang, tujuan utama saya perpus. Koran PR! Ada dua puisi saya di sana. Wkwkwkwk

Tak lupa saya melakukan sebuah ritual zaman now yang sudah mengakar sangat kokoh, memfoto koran yang menampilkan puisi saya.

(Jepretan sendiri. Iya, soalnya saya masih sendiri. @_@)

Setelah selesai, saya gegas menghampiri Bu Perpus.

“​Bu, puisi saya dimuat di PR. Tolong dikliping ya. Hehehe.” 

“Wah, selamat!” katanya, tapi beliau saat itu tampak sibuk dan kurang menampilkan ketertarikan. Mungkin gara-gara saya, fokusnya terpecah. 

“Tapi, saya pakai nama pena, bukan nama asli. Ibu mau baca?” Kemudian, saya sodorkan koran itu kepadanya.

“Oh, iya, nanti ibu fotokan dan share ke grup, ada murid yang karyanya masuk koran.” Beliau mengambil pena dan kertas. “Namanya siapa? Kelas apa?”

Saya menyebutkan nama asli dan kelas saya. 

Begitulah. Dimuat di koran itu mencandu. Bikin nagih. Apalagi honornya. Wkkwkwk.

Lumayan saya dapat uang yang cukup beli kerupuk 200 bungkus. Tapi saya tidak membelanjakan uang itu untuk kerupuk, ya. Lagi pula, untuk apa kerupuk sebanyak itu? 

Wkwkwkwk.
Jadi, mengapa Pikiran Rakyat?

Oh, iya, saya belum selesai menjawab pertanyaan ini. Duh!

Italy, 27/5/18

Iklan

​Sebuah Derita

Published Juni 20, 2017 by Sharmay HA

Saya mengerti apa yang kamu derita. Tak usah kaget dengan apa yang saya katakan. Rindu itu memang sebuah derita, bukan? 

Sebab bayang rindu tak henti mengetuk ingatan, getarnya menyisip di debaran jantung. Bahkan, terkadang terlalu pelik untuk membeda antara detak jantung dengan detak rindu di tiap detik. Seringnya, perasaan itu menjelma kentut; menyesak pada napas.
Ah, saya ingin mengamandemen kesepakatan kita. Sungguh semakin jarak terbentang, semakin rindu berdentam. Maka, adalah rindu yang memucat pasi, kala degupnya kian melirih, lalu mati oleh prasangka dan pupusnya mimpi.

Saat kematian rindulah semesta seakan sunyi, lenyi!

Pantaslah rindumu tak pernah tuntas dari dahaga. Suara, foto hanya ilusi belaka.

Ingatlah, wahai kamu!

Penentram rindu ialah doa. Pemuasnya ialah jumpa.

Benarlah, bahwa saya telah kehilangan sebuah bibit. Nyatanya bibit itu tertinggal dan tumbuh menjadi pohon rindu, yang rantingnya telah menjamah matamu.

Siapa pun berhak menyuarakan rindu

Termasuk kamu… 

Dan saya! 

#Reddish