Reddish

All posts tagged Reddish

​Mengapa Pikiran Rakyat

Published Mei 27, 2018 by Sharmay HA

Sebuah pertanyaan yang saya tujukan kepada diri saya sendiri.

“Mengapa Pikiran Rakyat?”
Ya, akhir-akhir ini saya mengirim beberapa puisi dan cerpen ke meja redaktur Pikiran Rakyat. Meski banyak sekali meja redaktur lain yang menerima cerpen dan puisi, tapi untuk saat ini saya menepi di PR. Mencoba ngetuk pintu, untuk kemudian dipersilakan masuk.

Kenapa?

Bukankah  menembak pada banyak titik, akan lebih banyak peluang?

Ya, peluang untuk ditolak.

Wkwkwk.

Sebenarnya, tidak ada alasan khusus. Toh, sebelumnya saya menembak ke banyak email redaktur. Tapi, setelah berpikir berulang kali, saya menemukan alasannya, saya ingin mengabadikan nama saya di kolom cerpen dan puisi PR.

Jadi begini, perpustakaan tempat saya menimba ilmu–cielah, berlangganan koran PR. Seringkali, kalau ada jam kosong, saya pergi ke perpus untuk membaca koran. Yaah, walau pun cuma edisi hari Ahadnya saja. Itu pun langsung ke halaman yang memuat cerpen, puisi dan wisata bahasa. Kadang, kalau sedang rajin, saya baca juga profil tokoh-tokoh “Geulis” yang inspiratif. Saat ini saya baca kisah-kisah perempuan “Geulis” di PR,  suatu saat bisa jadi nama saya yang terpampang di sana. Wkwkwkwk.

Aminkan dulu. Aaamiiin!

Di dunia ini segalanya mungkin, selagi bisa diusahakan. Kecuali jika saya laki, nepikeun ka kiyamat ge mustahil dimuat di kolom “Geulis”. Wkwkwk. 

Tapi, bisa saja, sih, meski laki-laki. Kolomnya diganti jadi “Kasep”, kasepak kuda. 

Balik lagi ke alasan saya memilih PR.

Nah, perpustakaan sekolah saya langganan PR. Dan  pustakawannya itu sering mengkliping artikel-artikel koran. Semacam mengabadikan yang telah diabadikan.

Sayangnya, cerpen dan puisi tidak dikeliping. Jadi, ketika saya telat membaca koran dan lama tak berkunjung ke perpus, maka saya tidak bisa membaca koran edisi Ahad yang terlewat, karena sudah dipindahkan ke meja untuk disortir isinya.

Alhasil, saya usul kepada Bu Perpus, supaya cerpen dan puisi dikliping juga.

Alhamdulillah, permintaan saya diterima. Meski, tugas Bu Perpus jadi bertambah. Hehehehe.

Setelah cukup lama menjadi pembaca cerpen dan puisi PR, saya tergerak untuk mengirim cerpen juga. Saat itu saya menisbatkan diri sebagai Cerpenis Melankolis Humoris. Wkwkk. Pede sekali!

Padahal mah cuma tukang curhat yang dibungkus lewat cerita. 

Saya kirimlah beberapa cerpen yang saya simpan di gawai ke PR. Cerpen yang tertimbun lama dan meminta untuk dipertemukan dengan pembacanya.

Hasilnya….

Tidak ada yang dimuat! 

Setelah itu, saya beristirahat. Melakukan jeda. Tidak mengetuk lagi meja redaktur.

Pada tanggal 12 April 2018, saya mengirimkan empat puisi ke PR.

Cerpen ditolak, puisi bergerak. Wkwkwk.

Sebetulnya, puisi itu saya buat di akhir vulan Januari 2018. Setiap satu puisi itu saya buat selama satu hari. Dan satu puisi yang paling mencurahkan perasaan saya, saya buat audionya. Lalu, saya share ke grup WA kelas. Salah satu teman saya memint izin untuk untuk membuat videonya. Waaah… tentu saya setujui. 

Salah satu kebahagiaan adalah saat karya kita menemukan pembacanya. 

Tanggal 19 April 2018

Saya mendapat email balasan dari redaktur PR. Isinya meminta agar saya mengirimkan nomor rekening! 

Wah, saya kaget. Tapi saya mencoba mengendalikan perasaan  agar saya mengekspresikan kebahagiaan tak berlebihan.

Tapi, apa maksud email redaktur itu berarti puisi saya pasti dimuat?

Mulai gamang. Bisa saja, kan, redaktur PR hanya memberi tahu saya, gara-gara saya mengirim karya tanpa mencantumkan nomor rekening. 

Saya menantikan tanggal 22 April. Rasanya menunggu hari Ahad itu lamaaa sekali.

Hasilnya….

Ketika hari Senin, 23 April, saya pergi ke perpus untuk mengecek Koran PR.

Tidak ada puisi saya. Tidak ada nama saya.

Huft….. 

Rasanya itu seperti dipatahkan. Menanti namun tak mendapatkan apa yang diinginkan.

Ya sudah, bukan rejeki. Saya mengobati hati sendiri.

Saya lupakan segalanya. Menetralkan perasaan, dan tak mengingat apa yang pernah saya harapkan.

Berselang satu pekan, tepatnya 29 April 2018, saya membaca di sebuah grup Sastra Minggu, puisi saya dimuat di PR!

Alhamdulillah, saya bahagia.

Maka ketika Senin datang, tujuan utama saya perpus. Koran PR! Ada dua puisi saya di sana. Wkwkwkwk

Tak lupa saya melakukan sebuah ritual zaman now yang sudah mengakar sangat kokoh, memfoto koran yang menampilkan puisi saya.

(Jepretan sendiri. Iya, soalnya saya masih sendiri. @_@)

Setelah selesai, saya gegas menghampiri Bu Perpus.

“​Bu, puisi saya dimuat di PR. Tolong dikliping ya. Hehehe.” 

“Wah, selamat!” katanya, tapi beliau saat itu tampak sibuk dan kurang menampilkan ketertarikan. Mungkin gara-gara saya, fokusnya terpecah. 

“Tapi, saya pakai nama pena, bukan nama asli. Ibu mau baca?” Kemudian, saya sodorkan koran itu kepadanya.

“Oh, iya, nanti ibu fotokan dan share ke grup, ada murid yang karyanya masuk koran.” Beliau mengambil pena dan kertas. “Namanya siapa? Kelas apa?”

Saya menyebutkan nama asli dan kelas saya. 

Begitulah. Dimuat di koran itu mencandu. Bikin nagih. Apalagi honornya. Wkkwkwk.

Lumayan saya dapat uang yang cukup beli kerupuk 200 bungkus. Tapi saya tidak membelanjakan uang itu untuk kerupuk, ya. Lagi pula, untuk apa kerupuk sebanyak itu? 

Wkwkwkwk.
Jadi, mengapa Pikiran Rakyat?

Oh, iya, saya belum selesai menjawab pertanyaan ini. Duh!

Italy, 27/5/18

Iklan

HARI YANG PALING MENCEMASKAN

Published Februari 19, 2018 by Sharmay HA

(Dimuat di Banjarmasin Post 30 Juli 2017)

“Sudah sampaikah kepadamu kabar tentang hari yang paling mencemaskan?”
Suara itu terus berdenyar di kepalaku. Seakan ada seseorang yang menembakannya melalui telinga dan pada akhirnya terus terngiang. 
“Saudari Isaura!” Seruan Pak Boerhan melepaskanku dari pusaran pertanyaan yang tak menemu jawaban. 
Aku mengerjap. “Ya,  Pak?”
“Sudah sampaikah kepadamu kabar tentang hari yang paling mencemaskan?”
“Apa, Pak?!” Aku tidak percaya ini! Dosen Filsafat Umum menanyakan itu. 
Pak Boerhan melipat kening, lantas menurunkan kacamatanya. “Saya hanya bertanya,  kenapa Saudari tidak menyahut setelah beberapa kali saya panggil?”
 “Oh….” Apa yang mesti kukatakan selanjutnya. Apa aku salah dengar lagi? 
“Hmm… Lain kali,  melamunlah pada tempatnya!”
“Maaf, Pak.” kataku dengan perasaan canggung.
Duh! Gara-gara suara itu aku sering mengalami kejadian memalukan. Ini bukan kali pertama aku tampak seperti orang linglung. 
Pernah,  suatu hari, aku tengah menunggu  lampu hijau. Lalu, seorang bocah laki-laki menghampiri. Di tangannya terdapat beberapa bundel koran. Ia pasti akan memintaku untuk membeli korannya. 
“Kakak,” sapanya ramah. 

“Ya?” Kubuka kaca helm. “Maaf, ya, Dek, kakak sudah beli koran tadi pagi.” 
Ia menggeleng. Lantas raut mukanya menjadi datar, dan dari tatapannya yang polos itu  menyiratkan keseriusan. “Sudah sampaikah kepadamu kabar tentang hari yang paling mencemaskan?”
Kontan aku merengut. Kenapa bocah itu menanyaiku dengan kalimat menyebalkan? Kalimat itu yang selalu membisingi kepala.  Belum sempat mengintrogasinya,  aku  diberedel klakson secara berjamaah. Duh! Terpaksa, secepat kilat kugas motor sebelum sumpah-serapah tumpah dari para pengendara yang tak sabaran. 
Aku tidak tahu kapan tepatnya suara tersebut berkenalan dengan pendengaran ini. Kalau tidak salah  lima hari yang lalu. Aku hanya ingat,  suara itu yang menyentakku keluar dari tidur. Seperti dalam adegan film ketika seorang tokoh bangun dari mimpi buruk, napasnya tersengal dan peluh-peluh sebesar biji jagung pun bergelinciran dari tubuh. Bagitulah, yang kualami. 
Setelah kejadian itu, suara misterius tersebut bermunculan tak henti. Tak peduli saat aku sarapan, mengobrol, menonton TV, kuliah, mandi, bahkan saat melakukan dua ritual–yang tidak dapat kusebutkan di cerita ini, suara itu selalu muncul.
“Sudah sampaikah kepadamu kabar tentang hari yang paling mencemaskan?”
Aku pernah berasumsi konyol. Barangkali ada seseorang yang menyimpan sebuah alat sangat kecil di telingaku.  Tetapi, saat kedua telinga kusumbat pun tetap ada. Suara misterius itu berdetak tiap detik. Aku bisa gila kalau begini! Anggapanku yang lainnya adalah, mungkin ada makhluk halus yang jail, dia sengaja membisikan kalimat yang mencemaskan. Kupikir lagi, agaknya tidak mungkin.  Jika benar, apa makhluk halus itu tidak punya kerjaan lain yang lebih berguna? Misalnya, menafkahi keluarganya. Atau  berkencan dengan kekasihnya. Aku abaikan saja dugaan yang tak berdasar dan absurd itu. Dan membiarkan suara misterius terus berputar di kepala. 
Dan ketika sepi, suara itu bergaung dengan jelas. Makanya,  aku tak bisa berlama-lama sendiri. Sebenarnya aku adalah spesialis kesunyian, namun untuk beberapa waktu agaknya aku harus melarikan diri menuju keriuhan. Setidaknya, agar suara yang mendebarkan dada dan membuat gelisah itu tidak terlalu jelas. 
Awalnya memang kuabaikan,  karena aku mengira suara tersebut hanya sebuah  sisa-sisa  dari mimpi  dan hanya sementara. Nyatanya tidak! Suara aneh itu tak ubahnya rekaman yang terus diputar tanpa henti dalam kepalaku. Pada akhirnya setiap orang yang kutemui, baik itu tukang pecel, ibu kantin, supir angkot, presenter gosip, penjaga kuburan,  manusia jomblo, polisi lalu lintas,  polisi tidur,  mereka semua selalu menanyakan hal serupa,  kecuali polisi tidur. 
“Sudah sampaikah kepadamu kabar tentang hari yang paling mencemaskan?”
Gila! Lama-lama isi kepalaku menggelegak juga. Aku tak bisa terus dihantui begini. Kesabaran benar-benar telah lenyap!  Mungkin aku telah gila! 
Tidak!  Tidak!  Aku tidak siap menjadi gila.
Aku berlari,  berharap bisa terbebas dari suara misterius itu.  Berlari dan terus berlari,  tidak peduli  siapa pun yang kutubruk,  tidak peduli atas umpatan dan suara klakson yang melengking panjang. Sampai akhirnya aku berada di tempat sepi. 
“Aaaarrrgghhh!!” Kulepaskan teriakan frustrasi sekencang mungkin. Lelah! Napasku tersengal-sengal. 
Tiba-tiba…. Hei, suara sialan itu hilang. 
Tunggu… aku tidak boleh terburu-buru senang. Mungkin suara itu akan muncul lagi. 
Aku baru ingat seseorang yang mungkin bisa membantu. Segera kutelpon dia. 
“Halo, Kak Nursa!”

“Ada apa,  Isaura?”

“Begini, kuharap Kakak bisa menolong. Hampir sepekan ini di kepalaku muncul suara yang aneh. Hingga semua orang yang berpapasan, mengatakan hal yang sama dengan suara yang berputar  di kepalaku. Tukang becak,  tukang pecel, ibu kost yang galak, penjual tahu bulat,  dan Facebook pun tak ketinggalan menanyakan ‘Sudah sampaikah kepadamu kabar tentang hari yang paling mencemaskan?’ Apakah suara tersebut merupakan sebuah gejala bahwa aku akan berubah menjadi orang gila baru? Kakak kan sarjana psikologi, tolong bantu aku! Aku menjadi linglung gara-gara kejadian ini.” Ibarat gerbong kereta, apa yang kukatakan beruntun dan tak berjeda. 

“Isaura. Kau sudah selesai?”

“Sudah, Kak. Jadi bagaimana?”

“Apa kau lupa?”

Aku berpikir sejenak. “Lupa??”

“Kau lupa bahwa aku adalah sarjana akuntansi? Mengapa kau berpikiran  aku ini sarjana psikologi?”

Kutepuk jidat! “Ya ampun! Aku tidak ingat sama sekali.”

Ia menggerutu. “Aku tidak tahu dengan apa yang menimpamu. Aku harus merenungkannya bersama Sherlock–”

“Sherlock Holmes?” potongku cepat. 

“Isaura….” 

Terdengar suaranya amat datar. Sepertinya ada yang salah. 

“Apa kau lupa?”

Nah,  kan. “Lupa apa lagi,  sih,  Kak?”

“Heuuuh… Kau lupa Sherlock yang kumaksud adalah kucing?”
Duh! Baru kuingat perempuan asal Sleman itu pecinta kucing. “Ya, ya,  aku ingat sekarang. Dia itu kucing peliharaan Kakak.” 

“Benar!”
Aku memutar bola mata dengan malas. 
“Dengar,  Isaura, aku tidak tahu apa ini akan berhasil. Dengarkan aku baik-baik….”
Aku mengingat setiap perkataan Kak Nursa. Akan kucoba  sarannya. 

Lalu kukatupkan mata dan memusatkan pikiran. Ya,  barangkali suara itu minta dijawab, seperti yang Kak Nursa sarankan.
“Sudah sampaikah kepadamu kabar tentang hari yang paling mencemaskan?”

Sudah kuduga, suara itu datang lagi. 

“Belum,” jawabku lewat pikiran. “Bagiku,  hari mencemaskan  adalah saat mantan melaksanakan pernikahan.”

“Memangnya kamu punya mantan? ”
“Sial!  Aku memang tak punya mantan. Tapi bukankah sebagian orang menganggap pernikahan mantan yang masih dicintai itu merupakan hari yang mencemaskan?”

Suara dalam pikiran muncul kembali. Begitu deras.  Kalimatnya lebih panjang,  lantas membuat jiwaku berguncang. Mataku mengucurkan kesedihan. Kusadari, semua kalimat itu pernah dikatakannya dalam mimpi tempo lalu, dan hanya selarik kalimat saja yang berdengung menembus kenyataan. 
“Sudah sampaikah kepadamu kabar tentang hari yang paling mencemaskan?

Tahukah kamu apa itu hari yang mencemaskan? 

Yaitu hari yang telah dijanjikan

Senantiasa ditanyakan

Dan selalu didustakan 

Hari saat betis kanan dan kiri saling berpelukan 

Sebagian besar jiwa berada dalam keputus-asaan serta kebingungan

Tak ada malam,  hanya ada siang yang saaangat panjang

Ketika semua dikumpulkan dalam keadaan bertelanjang

Kebanyakan berharap maut segera menerjang

Padahal  selamanya ia takkan  datang 

 Hanya jutaan kepedihan yang akan terus menyerang

Ingatlah! Kamu adalah pengelana yang harus mengimani jalan pulang!”

Suara itu lenyap! Kemudian senyap…. 
Tasikmalaya,  3 Rajab 1438 H

—Kepada Perempuan Jogja (yang gaje) yang mencintai Mueeza dan Sherlock.

#Reddish, seorang muqallidah sekaligus spesialis kesunyian. Kadang-kadang ia membicarakan kebid’ahan bersama Ceu Edoh dan Bibi; dua kucing kesayangannya.

Masalah Sharmay

Published Desember 9, 2017 by Sharmay HA


​Matanya menjelajahi seisi rumah itu. ‘Asri banget,’ pikir gadis yang tengah menunggu si empunya rumah. Ini pertama kali bagi Sharmay -anak kampung baru merantau ke kota- menduduki sofa empuk (kasihan banget ya?) di kediaman seorang ustadz yang baru dikenalnya beberapa pekan lalu saat mengikuti pengajian. Namanya Ustadz Boerhan Ibrahim. Jika Alm. Ustadz Jeffri populer dengan singkatan UJ-nya, maka Ustadz Boerhan Ibrahim ini terkenal dengan … (pembaca isi sendiri. Gak tega pencerita nulis UBI–eh…).
“Assalamualaikum!” Sesosok pria yang entah berapa umurnya datang menyapa Sharmay. “Maaf menunggu lama, Dek.”

Kaus putih dan sarung membalut tubuh pria itu. Tak lupa peci putih pun bertengger menutupi rambutnya yang sedikit beruban. Sharmay berdiri menyambut orang yang ditunggunya.

“Waalaikumussalam, Ustadz. Ah, nggak apa-apa, kok.” Seulas senyum membingkai wajah sang gadis berjilbab.

“Ada perlu apa, Dek?” Tanya sang Ustadz. ‘Tidak biasanya ada remaja perempuan bertamu, mungkinkah dia meminta jodoh? Atau mungkin … dia ingin menjadikan aku jodohnya? (diprotes pembaca) Ralat! Mungkin dia ingin menjadikan aku mertuanya?’ Pertanyaan-pertanyaan terus berseliweran di benak Ustadz Boerhan.

“Oya, nama saya bukan Dek, Ustadz. Panggil saja saya Sharmay.” Sejenak tercengang, lalu berkata, “Oh, itu taktik agar saya tidak usah bertanya siapa nama–”
“Sharmay, Ustadz!” potong Sharmay cepat.

“Hadeuuh…. Iya, saya tahu!” Ustadz Boerhan membuang napas, agak kesal. Gue emang udah berumur, tapi gak telmi juga, batinnya. 

“Ada yang ingin saya tanyakan. Sebelumnya dua hari yang lalu saya ke sini, tapi katanya Ustadz sedang ke luar kota.” Gadis berjilbab itu mengutarakan maksudnya.

“Iya, semalam saya baru pulang, lalu istri menyampaikan ada gadis yang ingin bertemu saya. Memangnya apa yang ingin Sharmay tanyakan?”

“Begini ceritanya…” Mata Sharmay menerawang ke atas seolah menyaksikan cuplikan kisah yang diputar oleh memorinya. Pandangan Ustadz Boerhan latah mengikuti tingkah sang tamu.


Firasatku buruk! Sepertinya keberangkatan ke tempat perantauan tertunda beberapa jam karena kakakku kedatangan tamu dari jauh, katanya teman seprofesi.
 “May, keberangkatan kamu ditunda sampai teman Kakak pulang, ya, kasihan dia jauh-jauh ke mari. Hanya sebentar, kok. Jangan khawatir, nanti Kakak anterin kamu.” 

Kabar yang dibawanya cukup membuat hatiku dongkol. Aku terdiam di dapur, tiba-tiba kakak datang kembali, “Buatkan kopi Kereta Api dua!”
“Persediaan cuma ada satu lagi, Kak!” seruku sambil membuka lemari tempat menyimpan stok kopi sachetan [?].

“Ya sudah, buat satu saja untuk tamu,” tandasnya, lalu melenggang pergi ke ruang tamu. Kopi untuk tamu pun ku seduh. Saat akan mengaduknya, aku lupa belum membawa sendok. Padahal hanya sebentar kopi itu ditinggal. Ketika aku kembali, ada seekor cicak yang tercebur ke dalam gelas kopi! “Hei, cicak apa kau masih hidup?” tanyaku. Tak ada jawaban. Sepertinya cicak itu tewas seketika karena tak tahan berenang dalam air panas.

“Sebentar…,” Ustadz Boerhan menjeda kisah Sharmay. “Masa Sharmay nanya begitu sama cicak? Kenyataannya itu?” Kedua alisnya saling bertaut, heran.

“Nggak sih, biar agak keren ceritanya dikasih bumbu fiksi. Hehehe…” Pipi Sharmay bersemu merah dan terkekeh sumbang mendapati bola mata pria di hadapannya berputar malas.

Keren apanya? Ustadz Boerhan menggerutu dalam hati. “Lanjut ya?” Sang Ustadz mengiyakan.

Menyadari cicak malang tewas dalam kopi panas, segera ku evakuasi mayat itu dengan sendok, lantas berlari ke luar untuk memandikan, menyolatkan, dan menguburnya. Bohong! Aslinya langsung dibuang ke kolam belakang rumah. Saat kembali ke dapur, di meja ada keranjang belanjaan, itu artinya istri kakak sudah pulang dari pasar. Tapi … dimana gelas itu? Tadi di atas meja. Lenyap ke mana? Tak lama wanita yang dinikahi oleh kakakku datang dari ruang tamu membawa nampan. Celaka! 
“Kakak, gelas berisi kopi yang tadi di sini ke mana? Apa Kakak membawanya ke depan?” Dengan tempo amat cepat aku menghujaninya dengan pertanyaan, saking panik.
 Entah kaget atau apalah, istri kakak hanya menjawab dengan anggukan saja. Tapi, dari tatapannya meminta penjelasan, ‘Kenapa memang?’ Kedua tanganku membekap mulut yang menganga. Aku tak percaya ini! Sampai tamu itu pulang, aku tak berani ke luar kamar. Syok!

“Makanya kemarin sepulang dari kampung, sorenya saya langsung ke rumah Ustadz, mengabaikan rasa lelah demi menanyakan hukum kopi itu. Halal atau haram, Ustadz?”

“Hmm…,” tangan kiri sang Ustadz memainkan jenggotnya sembari memejamkan mata. Memang Ustadz Boerhan ini ketika mengisi pengajian sering membahas persoalan yang berkaitan dengan ilmu Fiqih. Maka dari itu Sharmay menemuinya.

“Hukumnya bisa halal bisa haram,” lanjutnya.

“Loh, itu bangkai kecebur ke dalam kopi, Ustadz! Kok bisa halal?”
“Bisa, walaupun terkena bangkai. Asal bangkainya itu sejenis hewan yang tidak mengalir darah banyak ketika sebagian tubuhnya dilukai. Seperti cicak, lalat, lebah, semut dan semacamnya. Kalau kopi itu kecebur bangkai ayam jadi haram, sebab ayam adalah jenis hewan yang ketika dilukai darahnya akan keluar banyak,” papar Ustadz Boerhan.

“Oh … saya mengerti, tapi kalau ayam kecebur ke dalam gelas sepertinya mustahil, Ustadz!” Sharmay protes, “Mana ada! Gak muat!” Lagi, Ustadz memutar bola matanya malas dan membatin, hadeuuh!

“Ya … misalkan! Bukan air kopi saja, pokoknya setiap air yang kurang dari dua qullah: mau seember, sebaskom ketika kejatuhi bangkai ayam atau hewan semacamnya menjadi najis dan haram diminum, apalagi dipakai bersuci.” Begitu seriusnya Sharmay memerhatikan penjelasan dari pria itu. Entah benar-benar paham atau … entahlah! Pencerita juga bingung.
“Kalau begitu, kasus cerita dari kopi saya itu tidak najis dan boleh diminum, ya, Ustadz Boerhan?”

“Betul, tapi dengan syarat air kopi itu rasa, warna, dan aromanya tidak berubah, Sharmay,” tambahnya.

“Ng… kalau aroma … waktu itu masih khas kopi, warna tetap hitam pekat. Nah, kalau rasa saya nggak nyoba. Terlanjur dihidangkan. Kalaupun belum dihidangkan, saya mana mau nyicipin air yang tercebur bangkai cicak. Hueekk!!” Tubuh Sharmay bergidik jijik membayangkan dirinya meminum kopi itu.

“Satu lagi, bangkai cicak itu tercebur bukan perbuatan manusia secara sengaja,” Ustadz Boerhan mengambil napas sejenak, lalu, “meski kopi itu tidak berubah warna, rasa dan aromanya, kalau sengaja tetap najis, haram diminum.”
Sharmay termenung. Ustadz Boerhan mengamatinya dan bergumam, anak ini terlihat lebih baik kalau diam daripada berbicara dan memotong ucapanku. Aku harus memakluminya, dia kan masih remaja labil. “Sudahlah, yang lalu biarlah lalu, Sharmay. Mudah-mudahan rasanya pun tak berubah walau bangkai cicak pernah berenang di dalamnya.”

“Semoga saja. Kalau tamu itu tahu pernah ada cicak tercebur dalam kopi yang diminumnya, saya tak sanggup melihat mimik wajahnya.” Sharmay dan Ustadz Boerhan tertawa berbarengan.
Hening sejenak. Sharmay memulai kembali pembicaraan, “Kalau boleh tahu, Ustad ke luar kota ngisi ceramah ya?”

“Nggak, saya silaturahmi ke beberapa teman sesama penulis, ke Jakarta, Bogor, Cianjur, dan terakhir ke Banjar, di sana paling lama. Eh, sebelum singgah di Banjar saya ke Italy dulu,” katanya dengan mata menerawang mengingat perjalanan yang cukup melelahkan, namun menyenangkan.

“Hebat!” Sharmay berdecak kagum, “Ustad silaturahmi ke Italy!”

“Indonesia bagian Tasikmalaya maksudnya.” Sang Ustadz terkekeh.

“Dua hari yang lalu saya baru pulang dari Tasik juga, Ustadz! Tepatnya dari rumah Kakak saya.” Perasaan bahagia mencuat dalam dada, ternyata orang yang dia kenal pernah singgah di kota kelahirannya.
“Sayangnya di Italy hanya sebentar, karena teman saya hendak pergi ke terminal. Tapi, saya bersyukur dapat buku karyanya berjudul NEGERI PENCURI PARFUM.” Ustadz Boerhan menyeringai. Sedangkan lawan bicaranya menampilkan ekspresi wajah yang sulit diterjemahkan. “Kenapa Sharmay?”

“I-itu judulnya seperti novel milik Kakak saya, Ustadz, namanya Bangmo Muhammad Ridwan!”

“Jadi… kopi itu…??” Ustadz Boerhan permisi untuk pergi ke belakang.
Sharmay bergeming, matanya tak berkedip beberapa detik. Apakah pikirannya tak salah menyimpulkan. Sharmay pun mengikuti sang Ustadz karena masih ada yang mengganjal dalam benaknya. “Hueeekkk…. Hueeeekkk!” Duh Gusti, lebih baik aku tidak tahu kalau kopi yang kuminum tercebur cicak mati. Batin Ustadz Boerhan menjerit.

Dengan polos Sharmay bertanya, “Ustadz, waktu itu rasa kopinya gimana?”


Sharmay HA

Tasikmalaya, 2015

​Sebuah Derita

Published Juni 20, 2017 by Sharmay HA

Saya mengerti apa yang kamu derita. Tak usah kaget dengan apa yang saya katakan. Rindu itu memang sebuah derita, bukan? 

Sebab bayang rindu tak henti mengetuk ingatan, getarnya menyisip di debaran jantung. Bahkan, terkadang terlalu pelik untuk membeda antara detak jantung dengan detak rindu di tiap detik. Seringnya, perasaan itu menjelma kentut; menyesak pada napas.
Ah, saya ingin mengamandemen kesepakatan kita. Sungguh semakin jarak terbentang, semakin rindu berdentam. Maka, adalah rindu yang memucat pasi, kala degupnya kian melirih, lalu mati oleh prasangka dan pupusnya mimpi.

Saat kematian rindulah semesta seakan sunyi, lenyi!

Pantaslah rindumu tak pernah tuntas dari dahaga. Suara, foto hanya ilusi belaka.

Ingatlah, wahai kamu!

Penentram rindu ialah doa. Pemuasnya ialah jumpa.

Benarlah, bahwa saya telah kehilangan sebuah bibit. Nyatanya bibit itu tertinggal dan tumbuh menjadi pohon rindu, yang rantingnya telah menjamah matamu.

Siapa pun berhak menyuarakan rindu

Termasuk kamu… 

Dan saya! 

#Reddish

KISAH DUA PENDEKAR

Published Juni 19, 2017 by Sharmay HA


Suatu hari dua pendekar sedang berkejaran di hutan.  Mereka saling melempar senjata dan menghindar dari serangan. Setelah beberapa lama….
“Hos … hos … hos …” 

Sambil melayang melewati beberapa dahan pohon, napas seorang pemuda tersengal-sengal. Wajahnya menampakan kecemasan. Sesekali kakinya menapak di dahan pohon, hal itu dilakukan agar tubuhnya bisa terbang ke udara.
“Riyu …! Benar-benar ya! Sebagai seorang pendekar kau tak perlu lari!”

Tak jauh di belakang pemuda tadi, seorang pria kekar  telah berseru lantang memecah kesunyian hutan. Sepertinya dia dalam kemarahan besar. Sorot matanya yang tajam tentunya akan membuat siapa saja bergidik ngeri jika melihatnya.
“Kau keras kepala Rega. Seharusnya kau mengerti dan tak perlu semarah ini!”

Riyu, pemuda yang berjubah merah itu menimpali ucapan pria kekar yang mengejarnya di belakang.
“Halah …, omong kosong!” bentak Rega. Detik berikutnya ia melemparkan dua pisau ke arah Riyu dan siap menghunjam punggung Riyu.
Trang … trang …

Dua pisau–yang hendak menghunjam punggung Riyu–terpental setelah Riyu memberikan serangan balasan saat kakinya menapak di dahan dengan cepat ia berbalik dengan mengirim tiga buah jarum. Dua buah jarum beradu dengan dua pisau tadi. Sedang sebuah jarum lagi melesat ke arah Rega. Rega menyeringai, mudah saja baginya untuk mengelak dari sebuah jarum, namun tiba-tiba seringai Rega harus luntur, betapa  tidak? Sebuah jarum tadi berubah menjadi puluhan jarum yang akan menghujani tubuhnya. Tanpa malu-malu  Rega mencabut pedang yang bertengger di punggungnya dengan secepat kilat.

Wuussshh..

Akibat tebasan pedangnya keluarlah angin yang menderu mementalkan puluhan jarum tadi. Namun …,
Ssstt!

Sebuah jarum ternyata dapat lolos dari sapuan angin tadi dan berhasil memberikan goresan luka di pelipis kanan Rega.
“Riyuuu….!!!” teriak Rega. Ia benar-benar geram.
“Hahaha … ternyata kau tetap lamban mengelak ya?” ejek Riyu.
“Diam kau! Sebaiknya kau  menyerah atau aku akan bertindak lebih!” 
“Ayolah Rega, ubah sikap keras kepalamu! Kita tak perlu melakukan ini!” timpal Riyu.
Riyu sebenarnya cemas. Bukan itu saja, ia sudah letih setelah kurang lebih satu jam menghindar dari Rega.
Rega menambah kecepatan. Kini ia menyamai langkah Riyu.

“Seenaknya kau berbicara, setelah apa yang kau lakukan dan tidak bertanggung jawab! Rasakan iniiii!!”
Bak halilintar di siang bolong, Riyu kaget sekali. Tiba-tiba Rega menghadang di depannya setelah Rega melangkah lebih cepat darinya.
Wusssh

Pedang Rega mengayun mencoba menebas Riyu. Tanpa pikir panjang Riyu mencabut pedang yang tergantung di pinggangnya.

(Ilustrasi –yang tak sesuai– diambil dari google. @_@ nu penting aya gambaran. 😛)

Traangg!

Pedang Rega dan pedang Riyu beradu. Tenaga pada pedang Rega lebih kuat membuat Riyu terpental kebawah. 
Dengan ringan sekali Rega terjun ke tanah mengikuti Riyu. Kini tanahlah yang jadi pijakan mereka. 
Hening.
“Tak bisakah kita menghentikan ini?” ucap Riyu memecah kesunyian.
“TIDAK BISA SAMPAI KAU BERTANGGUNG JAWAB!” 

Tanpa ba-bi-bu lagi Rega menyerang Riyu dengan cepat. Sebisa mungkin Riyu menangkis dan menyerang balik. Pertarungan mereka sangat sengit dan cukup lama. Hiruk pikuk suara pedang yang beradu meramaikan hutan. Serangan empat lima yang bertubi-tubi dari Rega membuat Riyu terdesak.  

Tak jarang Riyu terkena tebasan pedang Rega dan membuatnya terluka parah.
Riyu hanya bertahan. Ia tak diberi kesempatan oleh Rega untuk balik menyerang. Sampai suatu ketika tendangan kilat Rega memaksa pedang Riyu terlepas dari genggamannya dan terpental jauh. Detik berikutnya, Rega mengayunkan pedangnya pada lawan yang kini tak bersenjata. 
Tiba-tiba…

“HENTIKAN!”
Mendengar hal itu Rega berhenti menyerang.
“Kau menang Rega, kau hebat kuakui hal itu. Sekarang apa maumu?”
Tergurat senyuman di wajah Rega setelah mendengar ucapan Riyu.
“Tanggung jawabmu sebagai pendekar!” jawab Rega.
Riyu mendengus kesal, lantas  berucap,

“Baiklah-baiklah aku akan mengganti gehumu yang telah kumakan.”
“Ciyus?” tanya Rega.
“Iyelah, eykeu gak mau mati hanya karena ini, Ciin!”
“Kahkahkah” Rega terkekeh, “terimakasih,” lanjutnya seraya memapah Riyu yang terluka parah.

2013 (telah disunting 2017). Yang jomblo kapan disunting? Eh. 


Tulisan Jadoel. 

Ya, cerita itu adalah cerita lama yang saya buat sekitar tahun 2013 kalau tidak salah. Jauh sebelum saya mengenal dunia kepnulisan, namun sedang hobi menonton Naruto dan membaca cerita silat.

Sebenarnya ini bisa dibilang saduran (barangkali?). Karena twistnya bukan lahir dari pemikiran saya. Ya, bertarung sampai hampir mati cuma soal makanan?! 

Gelo! @_@

Saya mencoba mencari induk (?) cerita ini, namun tak kunjung saya temukan. 😦

Siapa pun pemilik twist itu, semoga arwahnya tenang di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Woooy! Emang doi sudah meninggal?  -_-#