Sharmay HA

All posts tagged Sharmay HA

​Mengapa Pikiran Rakyat

Published Mei 27, 2018 by Sharmay HA

Sebuah pertanyaan yang saya tujukan kepada diri saya sendiri.

“Mengapa Pikiran Rakyat?”
Ya, akhir-akhir ini saya mengirim beberapa puisi dan cerpen ke meja redaktur Pikiran Rakyat. Meski banyak sekali meja redaktur lain yang menerima cerpen dan puisi, tapi untuk saat ini saya menepi di PR. Mencoba ngetuk pintu, untuk kemudian dipersilakan masuk.

Kenapa?

Bukankah  menembak pada banyak titik, akan lebih banyak peluang?

Ya, peluang untuk ditolak.

Wkwkwk.

Sebenarnya, tidak ada alasan khusus. Toh, sebelumnya saya menembak ke banyak email redaktur. Tapi, setelah berpikir berulang kali, saya menemukan alasannya, saya ingin mengabadikan nama saya di kolom cerpen dan puisi PR.

Jadi begini, perpustakaan tempat saya menimba ilmu–cielah, berlangganan koran PR. Seringkali, kalau ada jam kosong, saya pergi ke perpus untuk membaca koran. Yaah, walau pun cuma edisi hari Ahadnya saja. Itu pun langsung ke halaman yang memuat cerpen, puisi dan wisata bahasa. Kadang, kalau sedang rajin, saya baca juga profil tokoh-tokoh “Geulis” yang inspiratif. Saat ini saya baca kisah-kisah perempuan “Geulis” di PR,  suatu saat bisa jadi nama saya yang terpampang di sana. Wkwkwkwk.

Aminkan dulu. Aaamiiin!

Di dunia ini segalanya mungkin, selagi bisa diusahakan. Kecuali jika saya laki, nepikeun ka kiyamat ge mustahil dimuat di kolom “Geulis”. Wkwkwk. 

Tapi, bisa saja, sih, meski laki-laki. Kolomnya diganti jadi “Kasep”, kasepak kuda. 

Balik lagi ke alasan saya memilih PR.

Nah, perpustakaan sekolah saya langganan PR. Dan  pustakawannya itu sering mengkliping artikel-artikel koran. Semacam mengabadikan yang telah diabadikan.

Sayangnya, cerpen dan puisi tidak dikeliping. Jadi, ketika saya telat membaca koran dan lama tak berkunjung ke perpus, maka saya tidak bisa membaca koran edisi Ahad yang terlewat, karena sudah dipindahkan ke meja untuk disortir isinya.

Alhasil, saya usul kepada Bu Perpus, supaya cerpen dan puisi dikliping juga.

Alhamdulillah, permintaan saya diterima. Meski, tugas Bu Perpus jadi bertambah. Hehehehe.

Setelah cukup lama menjadi pembaca cerpen dan puisi PR, saya tergerak untuk mengirim cerpen juga. Saat itu saya menisbatkan diri sebagai Cerpenis Melankolis Humoris. Wkwkk. Pede sekali!

Padahal mah cuma tukang curhat yang dibungkus lewat cerita. 

Saya kirimlah beberapa cerpen yang saya simpan di gawai ke PR. Cerpen yang tertimbun lama dan meminta untuk dipertemukan dengan pembacanya.

Hasilnya….

Tidak ada yang dimuat! 

Setelah itu, saya beristirahat. Melakukan jeda. Tidak mengetuk lagi meja redaktur.

Pada tanggal 12 April 2018, saya mengirimkan empat puisi ke PR.

Cerpen ditolak, puisi bergerak. Wkwkwk.

Sebetulnya, puisi itu saya buat di akhir vulan Januari 2018. Setiap satu puisi itu saya buat selama satu hari. Dan satu puisi yang paling mencurahkan perasaan saya, saya buat audionya. Lalu, saya share ke grup WA kelas. Salah satu teman saya memint izin untuk untuk membuat videonya. Waaah… tentu saya setujui. 

Salah satu kebahagiaan adalah saat karya kita menemukan pembacanya. 

Tanggal 19 April 2018

Saya mendapat email balasan dari redaktur PR. Isinya meminta agar saya mengirimkan nomor rekening! 

Wah, saya kaget. Tapi saya mencoba mengendalikan perasaan  agar saya mengekspresikan kebahagiaan tak berlebihan.

Tapi, apa maksud email redaktur itu berarti puisi saya pasti dimuat?

Mulai gamang. Bisa saja, kan, redaktur PR hanya memberi tahu saya, gara-gara saya mengirim karya tanpa mencantumkan nomor rekening. 

Saya menantikan tanggal 22 April. Rasanya menunggu hari Ahad itu lamaaa sekali.

Hasilnya….

Ketika hari Senin, 23 April, saya pergi ke perpus untuk mengecek Koran PR.

Tidak ada puisi saya. Tidak ada nama saya.

Huft….. 

Rasanya itu seperti dipatahkan. Menanti namun tak mendapatkan apa yang diinginkan.

Ya sudah, bukan rejeki. Saya mengobati hati sendiri.

Saya lupakan segalanya. Menetralkan perasaan, dan tak mengingat apa yang pernah saya harapkan.

Berselang satu pekan, tepatnya 29 April 2018, saya membaca di sebuah grup Sastra Minggu, puisi saya dimuat di PR!

Alhamdulillah, saya bahagia.

Maka ketika Senin datang, tujuan utama saya perpus. Koran PR! Ada dua puisi saya di sana. Wkwkwkwk

Tak lupa saya melakukan sebuah ritual zaman now yang sudah mengakar sangat kokoh, memfoto koran yang menampilkan puisi saya.

(Jepretan sendiri. Iya, soalnya saya masih sendiri. @_@)

Setelah selesai, saya gegas menghampiri Bu Perpus.

“​Bu, puisi saya dimuat di PR. Tolong dikliping ya. Hehehe.” 

“Wah, selamat!” katanya, tapi beliau saat itu tampak sibuk dan kurang menampilkan ketertarikan. Mungkin gara-gara saya, fokusnya terpecah. 

“Tapi, saya pakai nama pena, bukan nama asli. Ibu mau baca?” Kemudian, saya sodorkan koran itu kepadanya.

“Oh, iya, nanti ibu fotokan dan share ke grup, ada murid yang karyanya masuk koran.” Beliau mengambil pena dan kertas. “Namanya siapa? Kelas apa?”

Saya menyebutkan nama asli dan kelas saya. 

Begitulah. Dimuat di koran itu mencandu. Bikin nagih. Apalagi honornya. Wkkwkwk.

Lumayan saya dapat uang yang cukup beli kerupuk 200 bungkus. Tapi saya tidak membelanjakan uang itu untuk kerupuk, ya. Lagi pula, untuk apa kerupuk sebanyak itu? 

Wkwkwkwk.
Jadi, mengapa Pikiran Rakyat?

Oh, iya, saya belum selesai menjawab pertanyaan ini. Duh!

Italy, 27/5/18

Iklan

Harapan yang Meminta Direalisasikan

Published Mei 17, 2018 by Sharmay HA

Ide-ide besar, cita-cita, dan impian-impian besar selalu menuntut perjuangan dan membutuhkan pengorbanan yang besar. Dan orang besar adalah orang yang mampu mewujudkan ide dan impian menjadi kenyataan.
-Hoeda Manis-

Marhaban ya Ramadhan!

Selamat datang bulan yang agung!

Ramadhan kali ini yang terbentang di bayangan saya adalah setumpuk kegiatan dan harapan-harapan yang semoga terlaksana dengan sesuai rencana. Namun, saya pun mengantisipasi dengan kemungkinan yang tak terduga. Hanya saja, apa yang saya persiapkan nyatanya  kadang terlibas dengan kejadian yang tak terlintas dalam pikiran.

Begitulah, namanya juga jalan kehidupan. Kita tahu akan ada kejutan yang akan kita hadapi, dan pada waktunya, meski kita sudah menduganya, tetap saja terkejut.

Di bulan yang penuh keberkahan ini, ada banyak target-target yang ingin saya capai.

Sebenarnya aneh juga. Kenapa di bulan yang padat kesibukan saya justru mematok target? Padahal di bulan biasa yang tidak banyak kesibukan, saya tidak terlalu mengencangkan ikat kepala untuk merealisasikan harapan.

Meski demikian, saya tidak berkecil harapan. Barangkali bulan ini menjadi medan pertempuran untuk menguji ketahanan saya, baik itu ketahanan fisik, semangat, energi, dan tentu saja ketahanan iman.

Kegiatan yang lumrah di bulan puasa diantaranya: Sahur, kuliah subuh, pasaran (ngaji yang biasanya lebih lama dari hari-hari biasa karena mengejar target khatam), tadarus, dan sebagainya.

Saya merenung,  mencoba memetakan setumpuk kesibukan yang akan saya nikmati. Berusaha saya nikmati. 

Selain itu saya mencoba mencari celah untuk menyisipkan target-target dalam deretan kesibukan itu.

Tiba-tiba saya ingat percakapan Satorou Fujinuma dan Airi dalam Anime Boku Dake Gainai Machi.

Satorou: “Saat kau menceritakan impianmu kepada orang lain, apa kau tak terpikir, bagaimana kalau impianmu tak terwujud?”

Airi: “Aku sama sekali tidak malu untuk menceritakannya. Aku merasa kalau aku terus mengatakannya itu benar-benar akan terwujud.”

Dan kali ini saya akan menceritakan beberapa harapan saya yang ingin terwujud di bulan Ramadhan. Saya ingin mencoba percaya pada apa yang dikatakan Airi. Dulu saya bukan tipe orang yang terbuka perasaan. Lebih menyukai menyimpan keinginan dalam keheningan ketimbang menyuarakannya menjadi kebisingan. Tentu saja dalam keheningan itu saya berusaha untuk merealisasikan keinginan.

Dan kali ini, saya mencoba untuk menyuarakn harapan. Barangkali, dengan mengatakan pada umum,  ada orang yang tak sengaja melihat kemudian mengucap doa yang membantu saya, menguatkan saya. Mungkin saja kan? Sekalipun saya beranggapan, yang singgah di blog ini kalau bukan tersesat, ya bukan sebuah kesengajaan. Tapi tidak masalah. Setidaknya ada  pembaca setia blog Warung Kenangan. Siapa lagi kalau bukan pemilik blog ini, saya sendiri. 

“Sendiri?” @_@

Iyaaaa, saya masih sen-di-ri! -___-“

Baiklah. Ini sudah melantur terlalu panjang.

Harapan yang ingin saya capai di bulan Ramadhan:

1. Lebih rajin membaca

Meski sibuk, saya berharap bisa mengkhatamkan beberapa buku. Minimal 3-5 buku. Akan tetapi saya meralatnya, di bulan Ramadhan saya berazam untuk menyelesaikan sirah nabawi yang berjudul “Muhammad Sang Yatim” karya Prof. Dr. Muhammad Sameh Said.

2. Menulis Kontemplasi.

“Apa, May? Konflikasi? Bikin konflik maksudnya?”

Kontemplasi, woy!

Sebuah perenungan. Atau sekadar basabasi dalam tulisan. Dan mungkin saya akan lebih jujur dalm menulis, tidak menyembunyikan kenyataan dalam simbol atau analogi. Akhir-akhir ini saya merasa tidak bebas lagi dalam menulis. Dulu, di awal saya masuk dunia kepenulisan saya lebih bebas, lebih mencirikan diri saya. Dan sekarang, saya seperti terbelnggu dengan sesuatu yang tidak saya tahu.

3. Lebih rajin posting di blog

Mungkin di lain waktu saya akan posting alasan saya jarang posting di fesbuk, dan hampir(?) meninggalkannya. Jika di twitter saya kurang berminat. Saya hanya sebagai pencari info dan event menulis saja, dan membagikan link blog.  Entah ke depannya, tapi untuk saat ini saya tidak tertarik untuk bercuit.

Maka yang menjadi penepian saya untuk melabuhkan tulisn saya adalah blog Warung Kenangan. Meski tampilannya belum saya rapikan dan tampak acak-acakan. Terlebih postingannya yang masih sangat sedikit. Saya harus menghijrahkan tulisan  yang sudah lama terpendam dalam  gawai ke blog ini.

Sebetulnya, saya ingin fokus mengisi Warung Kenangan hanya yang berkaitan dengam sastra, seperti cerpen, puisi, review buku. Tidak masalah, jika kemudian Warung Kenangan kemudian menjadi Warung Gado-gado karena menunya serba ada. 

4. Mengutamakan muroja’ah hafalan

Ya, saya mantapkan umtuk mengasah kembali juz-juz yang telah saya hafal. Dikarenakan kesibukan yang tidak jelas, saya merasa satu, dua tiga ayat bahkan berlembar-lembar agak memudar dalam ingatan.

Jika dulu saya sering mempunyai target di bulan puasa untuk khatam Qur’an 3 kali. Kali ini tidak. Saya ingin lebih santai dan menikmati kesantaian dalam membaca Qur’an. Meresapkan satu-dua ayat ke dalam perasaan dan sanubari. Lebih dari itu, mengamalkannya adalah sebuah keharusan.

5. Rajin muthola’ah kitab kuning.

Saya akui, saya lebih banyak membaca buku dari pada membaca kitab. Ilmu nahwu shorof yang dulu dipelajari, menguap oleh kesibukan. Lagi-lagi kesibulkan yang tidak jelas. Mungkin karena kemampuan berbahasa Arab saya yang menurun yang membuat saya malas. Membaca kitab kuning membutuhkan energi dua kali lipat.

Selain itu, saya juga menargetkan di tahun 2018 ini untuk hafal sekaligus faham beberapa kitab yang tipis. Seperti, Safinah, Sulam, Tijan, Nasho-ihul ibad, dan Ta’lim Al-Muta’allim. Bagi saya itu modal dasar yang sangat penting.

Kadang-kadang saya belum ingin mengaji yang lain selain mematangkan dulu pemahaman saya terhadap kitab-kitab yang saya sebut tadi. Tapi tuntutan dan kebutuhan dalam pendidikan yang saya tempuh  meminta lebih dari itu.  Meski apa yang guru ajarkan belum saya butuhkan. Tidak apa-apa, kalo kata guru saya “bil barkah”, cari berkah. Saat ini belum butuh, suatu saat nanti mungkin saya kleyengan dan menyesal tak bersungguh-sungguh. Sebenarnya sudah pernah terjadi. Sering malah. Hehehe.

Begitulah.

Allahumma hasshil maqoshidana…

Ya Allah wujudkan harapan-harapan kami.

Aamiiin!

Kamis, 1 Ramadhan 1439 H/17 Mei 2018 M

Saya Hanya Ingin Menulis. Itu saja.

Published Mei 11, 2018 by Sharmay HA

Jumat, 11 Mei 2018

Saya hanya ingin menulis. Itu saja.

Kepala, pikiran, dan perasaan saya sesak dengan hal-hal yang ingin saya tumpahkan pada kata-kata.

Saat ini tidak ingin dipusingkan dengan typo, kalimat rancu atau yang membuat seseorang jika kebetulan membaca catatan saya ini menggerutu dan merengutkam kening.

saya hanya ingin menulis. Itu saja.

Setelah tulisan saya tentang mengejar Cinta Dua Kodi, banyak yang ingin saya ungkapkan. Saya ingin bercerita perjalanan saya bertemu dengan Bang Tere Liye.

Norak? Hahaha. Ini kali pertama saya ketemu penulis besar. Kami dipertemukan–cielah, tanggal 27 April 2018. Sudah kadaluarsauntuk dikisahkan. Tapi ya terserah saya. Meski jika nanti saya menuliskan perjalanan ini akan banyak potongan cerita yang hilang karena ditelan lupa.

Selanjutnya saya ingin menulis cerita memgejar cinta dua kodi bagian 2, karena bagian satu belum selesai dan masihenggantung. Kebiasaan nulis pendek, jadi baru 5-7 halaman A4 itu serasa banyak.

Sebenarmya bukan itu yang membuat saya terpaksa belum menyelesaikan MCDK. Tapi ada  hal yang penting yang tidak boleh tidak mesti saya selesaikan. Dan hal itu … sayangnya saya lupa!

Omong-omong, saat ini saya sedang tidak sehat. Sebsgian tubuh saya dingin, enrah di dalam atau di luar. Bukan itu saja, keringat yang keluar pun dingin. Ditambah flu dan bersin yang membuat hidung saya sangat tak nyaman.

Saya memaksakan diri untuk menulis, setelah beberapa pekan disibukan denfan tugas, kesibukan yang sebenarnya tidak terlalu menyibukkan namun melelahkan, dan sakit saya yang awet ini. Meski saya menuliskan curcolan. Yang  jika ada yang membacanya akan menyesal telah membuang-buang waktu untuk hal-hal yamg tidak penting.

Sayangnya saat ini mata saya sudah berat untuk diajak melek. Lagi pula, Ibu berpesan agar saya lekas tidur dan tidak bergadang. Barangkali rasa kantuk ini muncul dari minuman yang saya buat, susu jahe. Sebelumnya dimerem-merem juga ini mata sulit diajak tidur.

Tapi saya ingin tetap menulis.

Karena meninggalkan menulis itu terasa sakit. Seperti ada lubang di hati saya. Dan pikiran pun serasa ingin meledak. Tubuh letih. Maka, tiap harinya, saya menulis. Meski hanya komentar di status orang. Meski hanya judul cerpen. Atau sepotong kisah yang kemudian saya tinggalkan sebelum semuanya benar-benar selesai.

Semacam kesia-siaan?

Mungkin.

Akan tetapi  bagi saya menulis itu melepaskan rasa sakit. Bahkan rasa sakit yang belum saya pahami.

[*]

​Review Suka-Suka: SUFISME SUNDA-Sebuah Usaha Merentangkan Misteri Relasi Antara Sunda dan Islam.

Published Januari 3, 2018 by Sharmay HA

Perhatian!

Jangan terlalu menaruh ekspektasi tinggi terhadap judul, sebab kadang-kadang isi melesat jauh dan cenderung ngawur bin semprul.

Jepretan sendiri

Nama Buku: Sufisme Sunda Penulis: Dr. Asep Salahudin

Penerbit: Nuansa Cendekia

Tahun Terbit: Cetakan, 1 Oktober 2017

Kota: Bandung

Jumlah Halaman: 392 halaman.
Buku Sufisme Sunda barangkali merupakan pengejawantahan dari usaha pencarian untuk mengungkap misteri kaitan Islam dengan Sunda. 

Seperti kata penulis, buku ini awalnya adalah esai-esai mengenai kerja tafakur si penulis terhadap kesundaan dan keislaman yang tersebar di berbagai media massa kemudian dibukukan. Jujur saya menyukai pemilihan kata dan pengguliran narasi penulis buku ini. Contohnya, dari sekian bab yang saya baca, saya lebih menaruh perhatian pada  “Siloka Suluk Sunda” dan halaman 371 tentang “Tahun Baru Ngindung ka Waktu”

 Sebagaimana kita tahu, etnis Sunda identik dengan Islam. Mayoritas suku Sunda adalah Muslim. Mengutip perkataan Prof. Dr. H.M. Didi Turmudzi, M.Si.:

“…Akan dianggap anomali jika ada orang Sunda yang tidak beragama Islam.” 

–Hal. 10

Benar, bahkan saya banyak mendengar perkataan tersebut dari beberapa tokoh. Seperti dalam ceramahnya pemimpin ormas fenomenal;  Habib Rizieq Syihab Hafidzahullahu, dan ketua Prodi PAI Tasikmalaya, Bapak Dr. Zaki Mubarak dalam sambutan acara bedah buku Sufisme Sunda.

Ada sebuah jargon, “Islam-Sunda dan Sunda-Islam”, kemudian ada kredo yang didilontarkan oleh seorang tokoh,  berbunyi: “Islam teh Sunda jeung Sunda teh Islam.”

Ekstrem memang, dan menimbulkan kontroversi. Maka bagi si penulis, ia  merasa penting untuk mempertanyakan dan menafsirkan ulang jargon dan kredo tersebut.  Bisa jadi hal-hal yang dipertanyakan itu memunculkan keraguan baru atau bahkan mengokohkan kredo lama, atau justru sebagiamana ungkapan si penulis, “berujung pada pertanyaan lain yang tak pernah selesai dan tak perlu selesai dijawab.” 

Terkait pernyataan “Islam teh Sunda jeung Sunda teh Islam,” secara sepintas tampak mereduksi Islam yang berasal dari wahyu Ilahi  dengan kesundaan yang terlahir dari akal budi manusia ardhi. Saya lebih mengamini pernyataan Ajip Rosidi. “Islam heula samemeh Sunda.” Dengan begitu, segala hal yang bersifat Sunda dan TIDAK BERTENTANGAN dengan Islam,   tidak akan mengurangi kesundaan orang Sunda Islam.

Yang menarik adalah narasi penulis yang mengatakan Sunda itu teu nanaon ku nanaon.  Sunda sebagai kawasan tak bertuan, yang mana masyarakatnya memperlakukan sesuatu–seperti ormas atau partai politik dll–seumpama berladang di huma; datang dan pergi, dimiliki kemudian ditinggalkan. Namun  perlakuan Sunda ‘yang tak ingin dimiliki itu’  berbeda terhadap Islam. Bahkan Islam, sebagaimana telah direntangkan penjelasan di atas, etnis Sunda diidentikan dengan  Islam. Kalo boleh saya katakan: “Ya, Sunda teu nanaon ku nanaon, iwal ku Islam. Sunda teu islam teu nanaon, ngan nanaonan?” 

Agak terburu-buru memang dan mesti dikaji ulang.

Selanjutnya, buku setebal 392 halaman, berisi bermacam-macam tema, setidaknya ada sembilan tema. Diawali deng topik “Siloka Suluk Sunda” dan ditutup dengan “Dalam Nafas Tritangtu.”

Atik Soewandi mendefinisikan bahwa:  “Siloka atawa suluk nyaeta basa sindir keneh, basa pikireun ngandung harti anun jero teuleumaneun” (siloka atau suluk adalah termasuk bahasa kias, bahasa yang harus dipikirkan kembali tentang isi sebenarnya, mengandung arti mendalam. (hal. 25)

Penulis menggali makna antara siloka dengan kata suluk, bahkan mengatakan bahwa keduanya mempunyai relasi yang kental. Suluk ialah jalan spiritual atau tarekat. Dan kenyataannya yang kental dengan bahasa siloka adalah suluk. 

Namun ada beberapa hal yang tidak saya setujui adalah ketika penulis menjelaskan pada “Absennya Siloka,” sehingga menjamurlah pemahaman agama yang alergi terhadap keragaman berbagai sudut pandang. Kemudian si penulis mencontohkan FUUI yang dinarasikan “menebar kebencian terhadap Syi’ah dan Ahmadiyah…”

Islam tidak alergi dengan keberagaman, namun berbeda hal deng Syi’ah dan Ahmadiyah. Tindakan FUUI merupakan bentuk penjagaan terhadap umat Islam terutama mereka yang awam, dikhawatirkan orang awam beranggapan perbedaan dalam Ahmadiyyah adalah masalah khilafiyah furu’ sebagaimana  seringnyaa dalam fenomena masyarakat muslim. Mengutip perkataan Pemimpin Pesantren Cintawana, KH Asep Saepulah dalam buku dalan buku Koreksi Terhadap Pemahaman Ahmadiyah dalam Masalah Kenabian, “Perbedaan dalam ini (Ahmadiyah) sungguh sangat fundamental dan sangat berpengaruh pada pemurnian tauhid  yang fundamental dalam ajaran Islam.” (Hal. 14)

Dan lagi fatwa MUI tanggal 26 Mei 1980 telah dianggap paham yang sesat dan menyesatkan. (Koreksi terhadap Pemahaman Ahmadiyah dalam Masalah Kenabian. Hal. 13) 

Kemudian Jema’ah Ahmadiyah seringkali melakukan iftiraa’ (rekayasa pembohongan besar) dengan mengajukan beberapa ayat Al-Qur’an dan Hadits untuk melegitimasi pemahamannya. Mereka berani membungkus  ajarannya dengan sampul Islam, untuk mengecoh dan mengelabui pandangan umat Islam, terutama golongan awam. Bahkan Ahmadiyah telah dikatakan murtad, keluar dari Islam. Lucunya mereka mengaku sebagai Islam. Saya kira, agaknya jika Ahmadiyah mendeklarasikan sebagai agama baru tanpa mengaku Islam, umat Islam tidak akan mempersoalkannya.

Adapun Syi’ah, menurut pandangan Imam Al-Ghazali, salah satu tokoh sufi yang dijadikan kiblat kebanyakan umat Islam Indonesia, memang tidak boleh pukul rata akan memberi status kepada Syi’ah. Jika mereka hanya tidak mengakui kepemimpinan Khilafah Abu Bakar, Umar, Utsman radhiyallahu ‘anhum, maka mereka tetap tergolong orang muslim. (Kisah-Kisah Ajaib Imam Al-Ghazali: 189).

Lain hal jika Syi’ah yang ekstrim dan melampaui batas dengan mengkafirkan dan menghalalkan darah umat Islam yang lain, yakni Sunni. Menurut Imam Al-Ghazali boleh dikafirkan. 

Saya bertanya-tanya,   apakah harus, mentoleransi kepada mereka yang tidak toleran terhadap kita (Syi’ah mengkafirkan Sunni) dan mereka yang menistakan agama Islam (Ahmadiyah)? 

Kemudian pada halaman 28, penulis mengatakan Tatar Sunda menjadi lahan paling subur gerakan radikalisme agama, dan Aksi 212 menjadi contohnya.

Berikut saya kutipkan:

“Dalam penelitian terakhir, perguruan tinggi umum di Tatar Sunda menjadi lahan paling subur gerakan radikalisme agama. Jangan mengerutkan dahi kalau saat ini masyarakat Pasundan banyak yang pakainnya lebih Arab daripada orang Arab sendiri. Aksi 212 dalam hiruk-pikuk Pemilihan Gubernur DKI, pemasok utamanya adalah warga Jawa Barat.” 

Bukankah ini menganggap Aksi 212 termasuk dari gerakan radikal?

Radikalkah mereka yang menuntut agar orang yang menistakan Al-Qur’an dan Agama Islam agar segera dipenjara,  yang mana ia tampak kebal untuk dijamah hukum dan para aparatur negara pun justru terlihat lamban menyikapi kasus tersebut, sehingga umat Islam mesti melakukan aksi yang berjilid-jilid?

Radikalkah mereka yang marah karena Al-Qur’an disebut sebagai alat kebohongan? 

Benarkah mereka yang mengikuti Aksi 212 itu radikal? 

Mengutip sebuah Cerpen Aku Berpikir dan Aku Berhenti karangan Reddish, seorang cerpenis Tasikmalaya, yang menyinggung peristiwa Aksi 212:

“Padahal cuma bawa sejadah, sama kitab suci dibilang mau gulingkan pemerintahan. Cuma berdoa sama shalat berjamaah dituduh mau bikin kerusuhan.”

Begitukah yang namanya radikal? Yang melakukan kegiatan dengan peserta berjuta-juta namun tak menyisakan sampah. Dan lagi banyak yang mengabadikan peristiwa betapa tolerannya peserta Aksi 212 terhadap non-muslim.

Masih dalam cerpen Reddish:

“Saat rakyat mencari keadilan diabaikan. Pelanggar konstitusi dibiarkan berkeliaran. Rakyat mengadu atas ketidakpuasan putusan dan hendak berdemo lagi, malah diancam akan dibubarkan.  Elite politik yang berdalih menggelar parade kebudayaan dan terang-terangan menabrak peraturan tidak jelas dibagaimanakan? 

Rakyat yang bereaksi atas ketidakadilan dan ingin menyuarakan aspirasi justru digembosi, dihalang-halangi,  tidak boleh sewa alat transportasi. Bukankah itu tindakan inkonstitusi? Dan ‘kegiatan’ yang jelas-jelas dipolitisasi malah difasilitasi. Kelompok yang katanya siap jaga negeri, nyatanya rumput saja tak bisa dijaga sama sekali. Duh…”

Ya, peserta Aksi 212 hanya meminta keadilan karena kehormatan agamanya dinista? Begitukah yang namanya radikal? 

Ada sebuah ungkapan dari Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu ta’ala.

قال الشافعي رحمه الله: من استغضب فلم يغضب فهو حمار ومن استرضى فلم يرضى فهو شيطان

“Siapa yang dibuat marah tapi dia tidak marah maka dia adalah keledai, dan siapa yang diminta keridhaannya dan dia tidak mau ridha maka dia adalah syetan.” (Imam Syafi’i sebagaimana dikutip dalam Ihya Ulumiddin).

Kemudian ada sebuah syair berbunyi:

أَبُنَيَّ إنَّ مِنْ الرِّجَالِ بَهِيمَةً * فِي صُورَةِ الرَّجُلِ السَّمِيعِ الْمُبْصِرِ

فَطِنٌ بِكُلِّ مُصِيبَةٍ فِي مَالِهِ * وَإِذَا يُصَابُ بِدِينِهِ لَمْ يَشْعُر

“Wahai anakku sesungguhnya ada orang yang seperti binatang ternak, dalam rupa orang yang bisa mendengar dan melihat.

Dia cerdik jika ada musibah menimpa hartanya.

Namun, apabila ada musibah menimpa agamanya dia tidak peduli.”

(Adabu Dunya Waddin 1/126 karya Imam al-Mawardi asy-syafii, Quutul qulub 1/227, al-Madkhol 1/492)

Maka menurut saya wajar jika umat Islam terainggung dengan ucapan orang kafir yang mengatakan bahwa Al-Qur’an disebut sebagai alat kebohongan, sehingga melakukan Aksi bela Islam. Dan justru dipertanyakan, mereka yang muslim namun tak tersinggung sedikit pun ketika  agamanya dihina, dan lebih condong menuduh saudara seiman dan seagamanya sebagai orang intoleran serta radikal karena melakukan Aksi 212, apakah mereka tergolong dalam perkataan Imam Asy-Syafi’i dan syair di atas? Wallahu a’lamu.

Yang menjadi lucu adalah, kadang-kadang mereka yang mengaku paling toleran kepada perbedaan dan keberagaman ketimbang mereka yang dianggap radikal, justru tampak tak menghargai perbedaan dari kelompok yang masih saudara dalam agama, dan justru mereka yang mengaku paling toleran ini ikut melabeli radikal. Standar ganda, bukan?

Saya meyakini Islam adalah agama rahmatan lil’alamin. Namun bukan berarti dalam Islam  tak ada ketegasan.  Boleh bersikap tegas menyikapi orang-orang yang menista Islam. 

Buktinya ketika zaman Sayiduna Abu Bakar Shiddiq Radhiyallahu ‘anhu ketika menyikapi para nabi palsu,  beliau tidak mengatakan, “Biarkan saja, Islam kan agama rahmatan lil ‘alamin, cinta damai. Biarkan mereka berbeda dengan kita. Mereka memang berbeda, namun Islam sangat menghargai keberagaman dan perbedaan.” Kenyataannya nabi-nabi palsu pada zaman itu beliau perangi, seperti Musailamah Al-Kadzab. Apakah Abu Bakar radikal dan intoleran?

Terlepas dari itu, saya tidak keberatan dianggap bahwa saya masih memakai sudut pandang “cangkang (?).”  Atau komentar saya tidak lebih dari nyanyain bayi yang baru lahir kemarin sore. Ada bayi yang baru lahir bisa nyanyi? Hehehe.

Saya berpegang dengan ungkapan yang masyhur, bahwa: “Bertasawuf tanpa berfiqih adalah zindiq. Dan berfiqih tanpa bertasawuf adalah fasik.” Maka penting untuk mensinergikan keduanya (fiqih dan tasawuf), sehingga ada keadilan dan menciptakan keseimbangan dalam beragama dan berbudaya.

Sebagai penutup, saya pernah membaca sebuah statement, “Boleh mengkritik pendapat yang berbeda. Namun tetap hargai orang yang berbeda pendapat.”

Ya, tentu saja. 

Sebab perbedaan pendapat (furu’iyyah)   di dalam Islam janganlah melihatnya sebatas antara hitam dan putih, benar dan salah. Tetapi perbedaan dan keragaman pendapat itu sebagi rangkaian puzzel yang saling melengkapi dan saling mengisi.

Italy [1], 3 Januari 2018.

catatan:

Nah, kan, ngawur? 😛

 [1] Indonesia wilayah Tasikmalaya.

Sumber referensi:

Koreksi Terhadap Pemahaman Ahmadiyah dalam Masalah Kenabian, karya Dede A. Nasrudin.

Kisah-Kisah Ajaib Imam Al-Ghazali, karya Mukti Ali.

Cerpen Aku Berpikir dan Aku Berhenti karangan Reddish.

https://mabsus.wordpress.com/2015/07/22/kita-bukanlah-keledai-dan-bukan-pula-binatang-ternak-menyikapi-kasus-tolikara/amp/

Yang paling dominan: perpustakaan kenangan. Hehehe.