sharmay

All posts tagged sharmay

​Sebuah Derita

Published Juni 20, 2017 by Reddish

Saya mengerti apa yang kamu derita. Tak usah kaget dengan apa yang saya katakan. Rindu itu memang sebuah derita, bukan? 

Sebab bayang rindu tak henti mengetuk ingatan, getarnya menyisip di debaran jantung. Bahkan, terkadang terlalu pelik untuk membeda antara detak jantung dengan detak rindu di tiap detik. Seringnya, perasaan itu menjelma kentut; menyesak pada napas.
Ah, saya ingin mengamandemen kesepakatan kita. Sungguh semakin jarak terbentang, semakin rindu berdentam. Maka, adalah rindu yang memucat pasi, kala degupnya kian melirih, lalu mati oleh prasangka dan pupusnya mimpi.

Saat kematian rindulah semesta seakan sunyi, lenyi!

Pantaslah rindumu tak pernah tuntas dari dahaga. Suara, foto hanya ilusi belaka.

Ingatlah, wahai kamu!

Penentram rindu ialah doa. Pemuasnya ialah jumpa.

Benarlah, bahwa saya telah kehilangan sebuah bibit. Nyatanya bibit itu tertinggal dan tumbuh menjadi pohon rindu, yang rantingnya telah menjamah matamu.

Siapa pun berhak menyuarakan rindu

Termasuk kamu… 

Dan saya! 

#Reddish

EGO

Published Februari 13, 2016 by Reddish

Seorang gadis berjalan tergesa menyusuri koridor sekolah. Suara genderang perang seolah mengiring derap langkah. Terlihat otot-otot pada tubuh gadis itu menegang. Ada aura hitam bercampur merah yang menyelimuti jiwanya. Mata gadis cantik ini jelalatan mencari sesosok mahluk yang telah mempermainkan dirinya, dan ia akan memberikan ‘hadiah’ pada mahluk itu.

 

Ketemu! Sorot netranya terkunci pada lelaki tinggi, tampan, putih berseri pula. (kahkah :v ) Kebetulan laki-laki itu berjalan ke arahnya. Gadis ini berhenti tepat di hadapan lelaki itu. Dengan kepala tertunduk dan kedua tangannya terkepal seolah sedang menahan sesuatu.

 

Dengan wajah berseri—walau agak bingung, lelaki berwajah sedikit nyerempet orang Jepang ini menyapa gadis di hadapannya, “Hai, Ayu, ada apa?”

 

Ayu mendongak, ia menatap tajam pada dua bola mata sipit itu. “Ada apa?!” Bukannya menjawab, ia malah mempertanyakan kembali ucapan si lelaki, “Tampang ‘innocent-mu, Saiful! Aku muak! Apa kau tak bisa membaca bahasa tubuhku?” sambungnya dengan suara meledak.

 

Seketika mereka menjadi pusat perhatian siswa-siswi yang ada di koridor. Saifullah—siswa nomor satu di SMAN 2—tak mau harga dirinya anjlok di hadapan rakyatnya gara-gara umpatan yang dilontarkan Ayu, ia pun bertanya lagi, “Ayu, aku sungguh tak mengerti. Kau bisa jel—“ Baca selengkapnya →