sharmay

All posts tagged sharmay

Masalah Sharmay

Published Desember 9, 2017 by Sharmay HA


​Matanya menjelajahi seisi rumah itu. ‘Asri banget,’ pikir gadis yang tengah menunggu si empunya rumah. Ini pertama kali bagi Sharmay -anak kampung baru merantau ke kota- menduduki sofa empuk (kasihan banget ya?) di kediaman seorang ustadz yang baru dikenalnya beberapa pekan lalu saat mengikuti pengajian. Namanya Ustadz Boerhan Ibrahim. Jika Alm. Ustadz Jeffri populer dengan singkatan UJ-nya, maka Ustadz Boerhan Ibrahim ini terkenal dengan … (pembaca isi sendiri. Gak tega pencerita nulis UBI–eh…).
“Assalamualaikum!” Sesosok pria yang entah berapa umurnya datang menyapa Sharmay. “Maaf menunggu lama, Dek.”

Kaus putih dan sarung membalut tubuh pria itu. Tak lupa peci putih pun bertengger menutupi rambutnya yang sedikit beruban. Sharmay berdiri menyambut orang yang ditunggunya.

“Waalaikumussalam, Ustadz. Ah, nggak apa-apa, kok.” Seulas senyum membingkai wajah sang gadis berjilbab.

“Ada perlu apa, Dek?” Tanya sang Ustadz. ‘Tidak biasanya ada remaja perempuan bertamu, mungkinkah dia meminta jodoh? Atau mungkin … dia ingin menjadikan aku jodohnya? (diprotes pembaca) Ralat! Mungkin dia ingin menjadikan aku mertuanya?’ Pertanyaan-pertanyaan terus berseliweran di benak Ustadz Boerhan.

“Oya, nama saya bukan Dek, Ustadz. Panggil saja saya Sharmay.” Sejenak tercengang, lalu berkata, “Oh, itu taktik agar saya tidak usah bertanya siapa nama–”
“Sharmay, Ustadz!” potong Sharmay cepat.

“Hadeuuh…. Iya, saya tahu!” Ustadz Boerhan membuang napas, agak kesal. Gue emang udah berumur, tapi gak telmi juga, batinnya. 

“Ada yang ingin saya tanyakan. Sebelumnya dua hari yang lalu saya ke sini, tapi katanya Ustadz sedang ke luar kota.” Gadis berjilbab itu mengutarakan maksudnya.

“Iya, semalam saya baru pulang, lalu istri menyampaikan ada gadis yang ingin bertemu saya. Memangnya apa yang ingin Sharmay tanyakan?”

“Begini ceritanya…” Mata Sharmay menerawang ke atas seolah menyaksikan cuplikan kisah yang diputar oleh memorinya. Pandangan Ustadz Boerhan latah mengikuti tingkah sang tamu.


Firasatku buruk! Sepertinya keberangkatan ke tempat perantauan tertunda beberapa jam karena kakakku kedatangan tamu dari jauh, katanya teman seprofesi.
 “May, keberangkatan kamu ditunda sampai teman Kakak pulang, ya, kasihan dia jauh-jauh ke mari. Hanya sebentar, kok. Jangan khawatir, nanti Kakak anterin kamu.” 

Kabar yang dibawanya cukup membuat hatiku dongkol. Aku terdiam di dapur, tiba-tiba kakak datang kembali, “Buatkan kopi Kereta Api dua!”
“Persediaan cuma ada satu lagi, Kak!” seruku sambil membuka lemari tempat menyimpan stok kopi sachetan [?].

“Ya sudah, buat satu saja untuk tamu,” tandasnya, lalu melenggang pergi ke ruang tamu. Kopi untuk tamu pun ku seduh. Saat akan mengaduknya, aku lupa belum membawa sendok. Padahal hanya sebentar kopi itu ditinggal. Ketika aku kembali, ada seekor cicak yang tercebur ke dalam gelas kopi! “Hei, cicak apa kau masih hidup?” tanyaku. Tak ada jawaban. Sepertinya cicak itu tewas seketika karena tak tahan berenang dalam air panas.

“Sebentar…,” Ustadz Boerhan menjeda kisah Sharmay. “Masa Sharmay nanya begitu sama cicak? Kenyataannya itu?” Kedua alisnya saling bertaut, heran.

“Nggak sih, biar agak keren ceritanya dikasih bumbu fiksi. Hehehe…” Pipi Sharmay bersemu merah dan terkekeh sumbang mendapati bola mata pria di hadapannya berputar malas.

Keren apanya? Ustadz Boerhan menggerutu dalam hati. “Lanjut ya?” Sang Ustadz mengiyakan.

Menyadari cicak malang tewas dalam kopi panas, segera ku evakuasi mayat itu dengan sendok, lantas berlari ke luar untuk memandikan, menyolatkan, dan menguburnya. Bohong! Aslinya langsung dibuang ke kolam belakang rumah. Saat kembali ke dapur, di meja ada keranjang belanjaan, itu artinya istri kakak sudah pulang dari pasar. Tapi … dimana gelas itu? Tadi di atas meja. Lenyap ke mana? Tak lama wanita yang dinikahi oleh kakakku datang dari ruang tamu membawa nampan. Celaka! 
“Kakak, gelas berisi kopi yang tadi di sini ke mana? Apa Kakak membawanya ke depan?” Dengan tempo amat cepat aku menghujaninya dengan pertanyaan, saking panik.
 Entah kaget atau apalah, istri kakak hanya menjawab dengan anggukan saja. Tapi, dari tatapannya meminta penjelasan, ‘Kenapa memang?’ Kedua tanganku membekap mulut yang menganga. Aku tak percaya ini! Sampai tamu itu pulang, aku tak berani ke luar kamar. Syok!

“Makanya kemarin sepulang dari kampung, sorenya saya langsung ke rumah Ustadz, mengabaikan rasa lelah demi menanyakan hukum kopi itu. Halal atau haram, Ustadz?”

“Hmm…,” tangan kiri sang Ustadz memainkan jenggotnya sembari memejamkan mata. Memang Ustadz Boerhan ini ketika mengisi pengajian sering membahas persoalan yang berkaitan dengan ilmu Fiqih. Maka dari itu Sharmay menemuinya.

“Hukumnya bisa halal bisa haram,” lanjutnya.

“Loh, itu bangkai kecebur ke dalam kopi, Ustadz! Kok bisa halal?”
“Bisa, walaupun terkena bangkai. Asal bangkainya itu sejenis hewan yang tidak mengalir darah banyak ketika sebagian tubuhnya dilukai. Seperti cicak, lalat, lebah, semut dan semacamnya. Kalau kopi itu kecebur bangkai ayam jadi haram, sebab ayam adalah jenis hewan yang ketika dilukai darahnya akan keluar banyak,” papar Ustadz Boerhan.

“Oh … saya mengerti, tapi kalau ayam kecebur ke dalam gelas sepertinya mustahil, Ustadz!” Sharmay protes, “Mana ada! Gak muat!” Lagi, Ustadz memutar bola matanya malas dan membatin, hadeuuh!

“Ya … misalkan! Bukan air kopi saja, pokoknya setiap air yang kurang dari dua qullah: mau seember, sebaskom ketika kejatuhi bangkai ayam atau hewan semacamnya menjadi najis dan haram diminum, apalagi dipakai bersuci.” Begitu seriusnya Sharmay memerhatikan penjelasan dari pria itu. Entah benar-benar paham atau … entahlah! Pencerita juga bingung.
“Kalau begitu, kasus cerita dari kopi saya itu tidak najis dan boleh diminum, ya, Ustadz Boerhan?”

“Betul, tapi dengan syarat air kopi itu rasa, warna, dan aromanya tidak berubah, Sharmay,” tambahnya.

“Ng… kalau aroma … waktu itu masih khas kopi, warna tetap hitam pekat. Nah, kalau rasa saya nggak nyoba. Terlanjur dihidangkan. Kalaupun belum dihidangkan, saya mana mau nyicipin air yang tercebur bangkai cicak. Hueekk!!” Tubuh Sharmay bergidik jijik membayangkan dirinya meminum kopi itu.

“Satu lagi, bangkai cicak itu tercebur bukan perbuatan manusia secara sengaja,” Ustadz Boerhan mengambil napas sejenak, lalu, “meski kopi itu tidak berubah warna, rasa dan aromanya, kalau sengaja tetap najis, haram diminum.”
Sharmay termenung. Ustadz Boerhan mengamatinya dan bergumam, anak ini terlihat lebih baik kalau diam daripada berbicara dan memotong ucapanku. Aku harus memakluminya, dia kan masih remaja labil. “Sudahlah, yang lalu biarlah lalu, Sharmay. Mudah-mudahan rasanya pun tak berubah walau bangkai cicak pernah berenang di dalamnya.”

“Semoga saja. Kalau tamu itu tahu pernah ada cicak tercebur dalam kopi yang diminumnya, saya tak sanggup melihat mimik wajahnya.” Sharmay dan Ustadz Boerhan tertawa berbarengan.
Hening sejenak. Sharmay memulai kembali pembicaraan, “Kalau boleh tahu, Ustad ke luar kota ngisi ceramah ya?”

“Nggak, saya silaturahmi ke beberapa teman sesama penulis, ke Jakarta, Bogor, Cianjur, dan terakhir ke Banjar, di sana paling lama. Eh, sebelum singgah di Banjar saya ke Italy dulu,” katanya dengan mata menerawang mengingat perjalanan yang cukup melelahkan, namun menyenangkan.

“Hebat!” Sharmay berdecak kagum, “Ustad silaturahmi ke Italy!”

“Indonesia bagian Tasikmalaya maksudnya.” Sang Ustadz terkekeh.

“Dua hari yang lalu saya baru pulang dari Tasik juga, Ustadz! Tepatnya dari rumah Kakak saya.” Perasaan bahagia mencuat dalam dada, ternyata orang yang dia kenal pernah singgah di kota kelahirannya.
“Sayangnya di Italy hanya sebentar, karena teman saya hendak pergi ke terminal. Tapi, saya bersyukur dapat buku karyanya berjudul NEGERI PENCURI PARFUM.” Ustadz Boerhan menyeringai. Sedangkan lawan bicaranya menampilkan ekspresi wajah yang sulit diterjemahkan. “Kenapa Sharmay?”

“I-itu judulnya seperti novel milik Kakak saya, Ustadz, namanya Bangmo Muhammad Ridwan!”

“Jadi… kopi itu…??” Ustadz Boerhan permisi untuk pergi ke belakang.
Sharmay bergeming, matanya tak berkedip beberapa detik. Apakah pikirannya tak salah menyimpulkan. Sharmay pun mengikuti sang Ustadz karena masih ada yang mengganjal dalam benaknya. “Hueeekkk…. Hueeeekkk!” Duh Gusti, lebih baik aku tidak tahu kalau kopi yang kuminum tercebur cicak mati. Batin Ustadz Boerhan menjerit.

Dengan polos Sharmay bertanya, “Ustadz, waktu itu rasa kopinya gimana?”


Sharmay HA

Tasikmalaya, 2015

Iklan

HARI YANG PALING MENCEMASKAN

Published November 7, 2017 by Sharmay HA

(Dimuat di Banjarmasin Post 30 Juli 2017)

“Sudah sampaikah kepadamu kabar tentang hari yang paling mencemaskan?”
Suara itu terus berdenyar di kepalaku. Seakan ada seseorang yang menembakannya melalui telinga dan pada akhirnya terus terngiang. 
“Saudari Isaura!” Seruan Pak Boerhan melepaskanku dari pusaran pertanyaan yang tak menemu jawaban. 
Aku mengerjap. “Ya,  Pak?”
“Sudah sampaikah kepadamu kabar tentang hari yang paling mencemaskan?”
“Apa, Pak?!” Aku tidak percaya ini! Dosen Filsafat Umum menanyakan itu. 
Pak Boerhan melipat kening, lantas menurunkan kacamatanya. “Saya hanya bertanya,  kenapa Saudari tidak menyahut setelah beberapa kali saya panggil?”
 “Oh….” Apa yang mesti kukatakan selanjutnya. Apa aku salah dengar lagi? 
“Hmm… Lain kali,  melamunlah pada tempatnya!”
“Maaf, Pak.” kataku dengan perasaan canggung.
Duh! Gara-gara suara itu aku sering mengalami kejadian memalukan. Ini bukan kali pertama aku tampak seperti orang linglung. 
Pernah,  suatu hari, aku tengah menunggu  lampu hijau. Lalu, seorang bocah laki-laki menghampiri. Di tangannya terdapat beberapa bundel koran. Ia pasti akan memintaku untuk membeli korannya. 
“Kakak,” sapanya ramah. 

“Ya?” Kubuka kaca helm. “Maaf, ya, Dek, kakak sudah beli koran tadi pagi.” 
Ia menggeleng. Lantas raut mukanya menjadi datar, dan dari tatapannya yang polos itu  menyiratkan keseriusan. “Sudah sampaikah kepadamu kabar tentang hari yang paling mencemaskan?”
Kontan aku merengut. Kenapa bocah itu menanyaiku dengan kalimat menyebalkan? Kalimat itu yang selalu membisingi kepala.  Belum sempat mengintrogasinya,  aku  diberedel klakson secara berjamaah. Duh! Terpaksa, secepat kilat kugas motor sebelum sumpah-serapah tumpah dari para pengendara yang tak sabaran. 
Aku tidak tahu kapan tepatnya suara tersebut berkenalan dengan pendengaran ini. Kalau tidak salah  lima hari yang lalu. Aku hanya ingat,  suara itu yang menyentakku keluar dari tidur. Seperti dalam adegan film ketika seorang tokoh bangun dari mimpi buruk, napasnya tersengal dan peluh-peluh sebesar biji jagung pun bergelinciran dari tubuh. Bagitulah, yang kualami. 
Setelah kejadian itu, suara misterius tersebut bermunculan tak henti. Tak peduli saat aku sarapan, mengobrol, menonton TV, kuliah, mandi, bahkan saat melakukan dua ritual–yang tidak dapat kusebutkan di cerita ini, suara itu selalu muncul.
“Sudah sampaikah kepadamu kabar tentang hari yang paling mencemaskan?”
Aku pernah berasumsi konyol. Barangkali ada seseorang yang menyimpan sebuah alat sangat kecil di telingaku.  Tetapi, saat kedua telinga kusumbat pun tetap ada. Suara misterius itu berdetak tiap detik. Aku bisa gila kalau begini! Anggapanku yang lainnya adalah, mungkin ada makhluk halus yang jail, dia sengaja membisikan kalimat yang mencemaskan. Kupikir lagi, agaknya tidak mungkin.  Jika benar, apa makhluk halus itu tidak punya kerjaan lain yang lebih berguna? Misalnya, menafkahi keluarganya. Atau  berkencan dengan kekasihnya. Aku abaikan saja dugaan yang tak berdasar dan absurd itu. Dan membiarkan suara misterius terus berputar di kepala. 
Dan ketika sepi, suara itu bergaung dengan jelas. Makanya,  aku tak bisa berlama-lama sendiri. Sebenarnya aku adalah spesialis kesunyian, namun untuk beberapa waktu agaknya aku harus melarikan diri menuju keriuhan. Setidaknya, agar suara yang mendebarkan dada dan membuat gelisah itu tidak terlalu jelas. 
Awalnya memang kuabaikan,  karena aku mengira suara tersebut hanya sebuah  sisa-sisa  dari mimpi  dan hanya sementara. Nyatanya tidak! Suara aneh itu tak ubahnya rekaman yang terus diputar tanpa henti dalam kepalaku. Pada akhirnya setiap orang yang kutemui, baik itu tukang pecel, ibu kantin, supir angkot, presenter gosip, penjaga kuburan,  manusia jomblo, polisi lalu lintas,  polisi tidur,  mereka semua selalu menanyakan hal serupa,  kecuali polisi tidur. 
“Sudah sampaikah kepadamu kabar tentang hari yang paling mencemaskan?”
Gila! Lama-lama isi kepalaku menggelegak juga. Aku tak bisa terus dihantui begini. Kesabaran benar-benar telah lenyap!  Mungkin aku telah gila! 
Tidak!  Tidak!  Aku tidak siap menjadi gila.
Aku berlari,  berharap bisa terbebas dari suara misterius itu.  Berlari dan terus berlari,  tidak peduli  siapa pun yang kutubruk,  tidak peduli atas umpatan dan suara klakson yang melengking panjang. Sampai akhirnya aku berada di tempat sepi. 
“Aaaarrrgghhh!!” Kulepaskan teriakan frustrasi sekencang mungkin. Lelah! Napasku tersengal-sengal. 
Tiba-tiba…. Hei, suara sialan itu hilang. 
Tunggu… aku tidak boleh terburu-buru senang. Mungkin suara itu akan muncul lagi. 
Aku baru ingat seseorang yang mungkin bisa membantu. Segera kutelpon dia. 
“Halo, Kak Nursa!”

“Ada apa,  Isaura?”

“Begini, kuharap Kakak bisa menolong. Hampir sepekan ini di kepalaku muncul suara yang aneh. Hingga semua orang yang berpapasan, mengatakan hal yang sama dengan suara yang berputar  di kepalaku. Tukang becak,  tukang pecel, ibu kost yang galak, penjual tahu bulat,  dan Facebook pun tak ketinggalan menanyakan ‘Sudah sampaikah kepadamu kabar tentang hari yang paling mencemaskan?’ Apakah suara tersebut merupakan sebuah gejala bahwa aku akan berubah menjadi orang gila baru? Kakak kan sarjana psikologi, tolong bantu aku! Aku menjadi linglung gara-gara kejadian ini.” Ibarat gerbong kereta, apa yang kukatakan beruntun dan tak berjeda. 

“Isaura. Kau sudah selesai?”

“Sudah, Kak. Jadi bagaimana?”

“Apa kau lupa?”

Aku berpikir sejenak. “Lupa??”

“Kau lupa bahwa aku adalah sarjana akuntansi? Mengapa kau berpikiran  aku ini sarjana psikologi?”

Kutepuk jidat! “Ya ampun! Aku tidak ingat sama sekali.”

Ia menggerutu. “Aku tidak tahu dengan apa yang menimpamu. Aku harus merenungkannya bersama Sherlock–”

“Sherlock Holmes?” potongku cepat. 

“Isaura….” 

Terdengar suaranya amat datar. Sepertinya ada yang salah. 

“Apa kau lupa?”

Nah,  kan. “Lupa apa lagi,  sih,  Kak?”

“Heuuuh… Kau lupa Sherlock yang kumaksud adalah kucing?”
Duh! Baru kuingat perempuan asal Sleman itu pecinta kucing. “Ya, ya,  aku ingat sekarang. Dia itu kucing peliharaan Kakak.” 

“Benar!”
Aku memutar bola mata dengan malas. 
“Dengar,  Isaura, aku tidak tahu apa ini akan berhasil. Dengarkan aku baik-baik….”
Aku mengingat setiap perkataan Kak Nursa. Akan kucoba  sarannya. 

Lalu kukatupkan mata dan memusatkan pikiran. Ya,  barangkali suara itu minta dijawab, seperti yang Kak Nursa sarankan.
“Sudah sampaikah kepadamu kabar tentang hari yang paling mencemaskan?”

Sudah kuduga, suara itu datang lagi. 

“Belum,” jawabku lewat pikiran. “Bagiku,  hari mencemaskan  adalah saat mantan melaksanakan pernikahan.”

“Memangnya kamu punya mantan? ”
“Sial!  Aku memang tak punya mantan. Tapi bukankah sebagian orang menganggap pernikahan mantan yang masih dicintai itu merupakan hari yang mencemaskan?”
Suara dalam pikiran muncul kembali. Begitu deras.  Kalimatnya lebih panjang,  lantas membuat jiwaku berguncang. Mataku mengucurkan kesedihan. Kusadari, semua kalimat itu pernah dikatakannya dalam mimpi tempo lalu, dan hanya selarik kalimat saja yang berdengung menembus kenyataan. 
“Sudah sampaikah kepadamu kabar tentang hari yang paling mencemaskan?

Tahukah kamu apa itu hari yang mencemaskan? 

Yaitu hari yang telah dijanjikan

Senantiasa ditanyakan

Dan selalu didustakan 

Hari saat betis kanan dan kiri saling berpelukan 

Sebagian besar jiwa berada dalam keputus-asaan serta kebingungan

Tak ada malam,  hanya ada siang yang saaangat panjang

Ketika semua dikumpulkan dalam keadaan bertelanjang

Kebanyakan berharap maut segera menerjang

Padahal  selamanya ia takkan  datang 

 Hanya jutaan kepedihan yang akan terus menyerang

Ingatlah! Kamu adalah pengelana yang harus mengimani jalan pulang!”

Suara itu lenyap! Kemudian senyap…. 
Tasikmalaya,  3 Rajab 1438 H

—Kepada Perempuan Jogja (yang gaje) yang mencintai Mueeza dan Sherlock.

#Reddish, seorang muqallidah sekaligus spesialis kesunyian. Kadang-kadang ia membicarakan kebid’ahan bersama Ceu Edoh dan Bibi; dua kucing kesayangannya.

​Sebuah Derita

Published Juni 20, 2017 by Sharmay HA

Saya mengerti apa yang kamu derita. Tak usah kaget dengan apa yang saya katakan. Rindu itu memang sebuah derita, bukan? 

Sebab bayang rindu tak henti mengetuk ingatan, getarnya menyisip di debaran jantung. Bahkan, terkadang terlalu pelik untuk membeda antara detak jantung dengan detak rindu di tiap detik. Seringnya, perasaan itu menjelma kentut; menyesak pada napas.
Ah, saya ingin mengamandemen kesepakatan kita. Sungguh semakin jarak terbentang, semakin rindu berdentam. Maka, adalah rindu yang memucat pasi, kala degupnya kian melirih, lalu mati oleh prasangka dan pupusnya mimpi.

Saat kematian rindulah semesta seakan sunyi, lenyi!

Pantaslah rindumu tak pernah tuntas dari dahaga. Suara, foto hanya ilusi belaka.

Ingatlah, wahai kamu!

Penentram rindu ialah doa. Pemuasnya ialah jumpa.

Benarlah, bahwa saya telah kehilangan sebuah bibit. Nyatanya bibit itu tertinggal dan tumbuh menjadi pohon rindu, yang rantingnya telah menjamah matamu.

Siapa pun berhak menyuarakan rindu

Termasuk kamu… 

Dan saya! 

#Reddish

EGO

Published Februari 13, 2016 by Sharmay HA

Seorang gadis berjalan tergesa menyusuri koridor sekolah. Suara genderang perang seolah mengiring derap langkah. Terlihat otot-otot pada tubuh gadis itu menegang. Ada aura hitam bercampur merah yang menyelimuti jiwanya. Mata gadis cantik ini jelalatan mencari sesosok mahluk yang telah mempermainkan dirinya, dan ia akan memberikan ‘hadiah’ pada mahluk itu.

 

Ketemu! Sorot netranya terkunci pada lelaki tinggi, tampan, putih berseri pula. (kahkah :v ) Kebetulan laki-laki itu berjalan ke arahnya. Gadis ini berhenti tepat di hadapan lelaki itu. Dengan kepala tertunduk dan kedua tangannya terkepal seolah sedang menahan sesuatu.

 

Dengan wajah berseri—walau agak bingung, lelaki berwajah sedikit nyerempet orang Jepang ini menyapa gadis di hadapannya, “Hai, Ayu, ada apa?”

 

Ayu mendongak, ia menatap tajam pada dua bola mata sipit itu. “Ada apa?!” Bukannya menjawab, ia malah mempertanyakan kembali ucapan si lelaki, “Tampang ‘innocent-mu, Saiful! Aku muak! Apa kau tak bisa membaca bahasa tubuhku?” sambungnya dengan suara meledak.

 

Seketika mereka menjadi pusat perhatian siswa-siswi yang ada di koridor. Saifullah—siswa nomor satu di SMAN 2—tak mau harga dirinya anjlok di hadapan rakyatnya gara-gara umpatan yang dilontarkan Ayu, ia pun bertanya lagi, “Ayu, aku sungguh tak mengerti. Kau bisa jel—“ Baca selengkapnya →