sharmay

All posts tagged sharmay

Harapan yang Meminta Direalisasikan

Published Mei 17, 2018 by Sharmay HA

Ide-ide besar, cita-cita, dan impian-impian besar selalu menuntut perjuangan dan membutuhkan pengorbanan yang besar. Dan orang besar adalah orang yang mampu mewujudkan ide dan impian menjadi kenyataan.
-Hoeda Manis-

Marhaban ya Ramadhan!

Selamat datang bulan yang agung!

Ramadhan kali ini yang terbentang di bayangan saya adalah setumpuk kegiatan dan harapan-harapan yang semoga terlaksana dengan sesuai rencana. Namun, saya pun mengantisipasi dengan kemungkinan yang tak terduga. Hanya saja, apa yang saya persiapkan nyatanya  kadang terlibas dengan kejadian yang tak terlintas dalam pikiran.

Begitulah, namanya juga jalan kehidupan. Kita tahu akan ada kejutan yang akan kita hadapi, dan pada waktunya, meski kita sudah menduganya, tetap saja terkejut.

Di bulan yang penuh keberkahan ini, ada banyak target-target yang ingin saya capai.

Sebenarnya aneh juga. Kenapa di bulan yang padat kesibukan saya justru mematok target? Padahal di bulan biasa yang tidak banyak kesibukan, saya tidak terlalu mengencangkan ikat kepala untuk merealisasikan harapan.

Meski demikian, saya tidak berkecil harapan. Barangkali bulan ini menjadi medan pertempuran untuk menguji ketahanan saya, baik itu ketahanan fisik, semangat, energi, dan tentu saja ketahanan iman.

Kegiatan yang lumrah di bulan puasa diantaranya: Sahur, kuliah subuh, pasaran (ngaji yang biasanya lebih lama dari hari-hari biasa karena mengejar target khatam), tadarus, dan sebagainya.

Saya merenung,  mencoba memetakan setumpuk kesibukan yang akan saya nikmati. Berusaha saya nikmati. 

Selain itu saya mencoba mencari celah untuk menyisipkan target-target dalam deretan kesibukan itu.

Tiba-tiba saya ingat percakapan Satorou Fujinuma dan Airi dalam Anime Boku Dake Gainai Machi.

Satorou: “Saat kau menceritakan impianmu kepada orang lain, apa kau tak terpikir, bagaimana kalau impianmu tak terwujud?”

Airi: “Aku sama sekali tidak malu untuk menceritakannya. Aku merasa kalau aku terus mengatakannya itu benar-benar akan terwujud.”

Dan kali ini saya akan menceritakan beberapa harapan saya yang ingin terwujud di bulan Ramadhan. Saya ingin mencoba percaya pada apa yang dikatakan Airi. Dulu saya bukan tipe orang yang terbuka perasaan. Lebih menyukai menyimpan keinginan dalam keheningan ketimbang menyuarakannya menjadi kebisingan. Tentu saja dalam keheningan itu saya berusaha untuk merealisasikan keinginan.

Dan kali ini, saya mencoba untuk menyuarakn harapan. Barangkali, dengan mengatakan pada umum,  ada orang yang tak sengaja melihat kemudian mengucap doa yang membantu saya, menguatkan saya. Mungkin saja kan? Sekalipun saya beranggapan, yang singgah di blog ini kalau bukan tersesat, ya bukan sebuah kesengajaan. Tapi tidak masalah. Setidaknya ada  pembaca setia blog Warung Kenangan. Siapa lagi kalau bukan pemilik blog ini, saya sendiri. 

“Sendiri?” @_@

Iyaaaa, saya masih sen-di-ri! -___-“

Baiklah. Ini sudah melantur terlalu panjang.

Harapan yang ingin saya capai di bulan Ramadhan:

1. Lebih rajin membaca

Meski sibuk, saya berharap bisa mengkhatamkan beberapa buku. Minimal 3-5 buku. Akan tetapi saya meralatnya, di bulan Ramadhan saya berazam untuk menyelesaikan sirah nabawi yang berjudul “Muhammad Sang Yatim” karya Prof. Dr. Muhammad Sameh Said.

2. Menulis Kontemplasi.

“Apa, May? Konflikasi? Bikin konflik maksudnya?”

Kontemplasi, woy!

Sebuah perenungan. Atau sekadar basabasi dalam tulisan. Dan mungkin saya akan lebih jujur dalm menulis, tidak menyembunyikan kenyataan dalam simbol atau analogi. Akhir-akhir ini saya merasa tidak bebas lagi dalam menulis. Dulu, di awal saya masuk dunia kepenulisan saya lebih bebas, lebih mencirikan diri saya. Dan sekarang, saya seperti terbelnggu dengan sesuatu yang tidak saya tahu.

3. Lebih rajin posting di blog

Mungkin di lain waktu saya akan posting alasan saya jarang posting di fesbuk, dan hampir(?) meninggalkannya. Jika di twitter saya kurang berminat. Saya hanya sebagai pencari info dan event menulis saja, dan membagikan link blog.  Entah ke depannya, tapi untuk saat ini saya tidak tertarik untuk bercuit.

Maka yang menjadi penepian saya untuk melabuhkan tulisn saya adalah blog Warung Kenangan. Meski tampilannya belum saya rapikan dan tampak acak-acakan. Terlebih postingannya yang masih sangat sedikit. Saya harus menghijrahkan tulisan  yang sudah lama terpendam dalam  gawai ke blog ini.

Sebetulnya, saya ingin fokus mengisi Warung Kenangan hanya yang berkaitan dengam sastra, seperti cerpen, puisi, review buku. Tidak masalah, jika kemudian Warung Kenangan kemudian menjadi Warung Gado-gado karena menunya serba ada. 

4. Mengutamakan muroja’ah hafalan

Ya, saya mantapkan umtuk mengasah kembali juz-juz yang telah saya hafal. Dikarenakan kesibukan yang tidak jelas, saya merasa satu, dua tiga ayat bahkan berlembar-lembar agak memudar dalam ingatan.

Jika dulu saya sering mempunyai target di bulan puasa untuk khatam Qur’an 3 kali. Kali ini tidak. Saya ingin lebih santai dan menikmati kesantaian dalam membaca Qur’an. Meresapkan satu-dua ayat ke dalam perasaan dan sanubari. Lebih dari itu, mengamalkannya adalah sebuah keharusan.

5. Rajin muthola’ah kitab kuning.

Saya akui, saya lebih banyak membaca buku dari pada membaca kitab. Ilmu nahwu shorof yang dulu dipelajari, menguap oleh kesibukan. Lagi-lagi kesibulkan yang tidak jelas. Mungkin karena kemampuan berbahasa Arab saya yang menurun yang membuat saya malas. Membaca kitab kuning membutuhkan energi dua kali lipat.

Selain itu, saya juga menargetkan di tahun 2018 ini untuk hafal sekaligus faham beberapa kitab yang tipis. Seperti, Safinah, Sulam, Tijan, Nasho-ihul ibad, dan Ta’lim Al-Muta’allim. Bagi saya itu modal dasar yang sangat penting.

Kadang-kadang saya belum ingin mengaji yang lain selain mematangkan dulu pemahaman saya terhadap kitab-kitab yang saya sebut tadi. Tapi tuntutan dan kebutuhan dalam pendidikan yang saya tempuh  meminta lebih dari itu.  Meski apa yang guru ajarkan belum saya butuhkan. Tidak apa-apa, kalo kata guru saya “bil barkah”, cari berkah. Saat ini belum butuh, suatu saat nanti mungkin saya kleyengan dan menyesal tak bersungguh-sungguh. Sebenarnya sudah pernah terjadi. Sering malah. Hehehe.

Begitulah.

Allahumma hasshil maqoshidana…

Ya Allah wujudkan harapan-harapan kami.

Aamiiin!

Kamis, 1 Ramadhan 1439 H/17 Mei 2018 M

Iklan

​Usaha Mungkin dalam Ketidakmungkinan Mengejar Cinta Dua Kodi

Published April 25, 2018 by Sharmay HA

23 April 2018: Selamat hari (I)Buku!

(Telat posting. Wkwkwk)


Jadi begini, saya hanya sekadar mereminisensi sekumpulan jejak yang telah lalu, yang terabadikan dalam deretan waktu.

Jangan terlalu serius, nanti jadi kurus. (Alhamdulillah) Santai saja! 🙂

Tepat ketika penaggalan masehi jatuh pada 22 April, 2018,  hari Ahad petang, saya mendapat kabar di Fesbuk. Kabar membahagiakan, menyingkapkan kemuraman yang tengah saya rasakan.

Kabar baiknya itu adalah acara bedah buku Cinta Dua Kodi Bu Asma Nadia! Yang menjadi istimewanya itu diadakan di Italy! Indonesia bagian Tasikmalaya. Dan 100 novel bagi 100 peserta  yang hadir paling awal!

Gratis lagi!

Ek kumaha teu kabita?

(Sumber gambar: Fb Pak Isa Alamsyah)

Salah satu persyaratannya itu mendaftar via Vallen-eh, via sms ke panitia.

Maka, selepas Isya,  tepatnya 19:26 WIB, saya kirim pesan untuk mendaftar. 

Selang beberapa jam, muncul balasan:

“Mohon maaf kuota sudah penuh. Kami ucapkan terimakasih atas partisipasi kakak yg telah berkenan mendaftar sebagai peserta.😉 ” (22:10 WHS: Waktu Hape Saya)

Detik itu, ada yang bergetar… 

Tangan saya!

Oh… ada pesan WA ternyata. Lupakan!
Kecewa? Sedih? 

Jelas ada. Saya teh manusia. :’v  

Masalahnya, jarang ada acara seperti itu di Italy. Terlebih, saya belum berjumpa secara nyata dengan penulis muslimah yang sangat produktif! Sebetulnya bukan masalah perjumpaan, ini lebih kepada ilmu dan pengetahuan yang keluar dari lisannya. Rasanya tidak sempurna status keanggotan KBM seseorang sebelum matanya melihat, dan telinganya mendengar langsung petuah  pendiri komunitas bisa menulis di dunia biru.

Kembali ke pesan dari panitia.

Itu artinya, saya tidak bisa ikut. Kuota penuh! Jika boleh menawar, ingin sekali mengatakan: 

“Tidak apa-apa, Kak Panitia, saya mah tidak kebagian kursi juga teu nanaon.

Enya teu nanaon, ngan rek diuk dina naon? Mawa jojodog sorangan?

Ya sudah, ini jalan yang mesti saya lalui. Tidak apa-apa. Bukan rejeki. :’)

Semoga di waktu kemudian, saya punya kesempatan untuk mengikuti acara-acara kepenulisan. Terlebih yang diadakan Bu Asma Nadia dan suaminya, Pak Isa.

Aamiiin.
Pada akhirnya saya hanya bisa menitip secarik salam untuk Bu Asma lewat Kakak Panitia. Tapi entahlah, apakah salam itu telah sampai, atau justru terbai?

Saya mah naon atuh daa? :’v

Wallahu a’lam intinya mah. 
Baik, saya tidak ditakdirkan untuk ikut acara bedah buku, namun setidaknya saya akan berpartisipasi dalam lomba resensinya.

Selain acara bedah buku, bu Asma mengadakan lomba resensi cinta dua kodi tingkat mahasiswa se-Priangan Timur. 

Garis kematiannya (baca DL) Senin 30 April 2018, pukul 15:00.

Kemudian saya membuat rencana,  membangun serangkaian kemungkinan yang akan saya lakukan.  

“Senin pagi nguli, pulang mampir ke Gramedi, beli buku cinta dua kodi dan kumcer terbaru seorang cerpenis penyuka puisi,  kemudian pulang, lalu membaca novel cinta dua kodi, mungkin tiga hari, selanjutnya menulis resensi, bla bla bla bla….”

Sebagaimana yang telah diamini kebanyakan orang, bahwa realita seringnya tak seperti ekspektasi yang dikira!

Dan kali ini terjadi pada saya.

Bukan kali ini saja, sering pisan. Hahaha. LoL

Manusia yang berencana, Allah yang menentukan.

Memang, pagi saya  nguli, itu pun hanya sampai pukul 09.30. Padahal datang ke kelas pukul 09:06. 

Setelah itu meluncur ke Asia Plaza, tempat Gramedia yang sepertinya–dan memang tidak salah lagi, toko buku yang paling banyak dikunjungi karena lumayan komplit se-Italy. 

Mata saya menajam, demi menelusuri deretan buku yang tidak sedikit. Loba pisan!

Supaya tidak buang-buang waktu, saya menuju rak khusus buku fiksi Islami. Satu persatu judul buku saya pindai, tidak ada!  Penglihatan saya belum juga menemukannya.  Beberapa buku Bu Asma Nadia yang lain ada, tapi yang saya cari belum juga terlihat. 

Ah, saya iseng beralih ke buku non-fiksi Islami, mungkin saja ada di sana. 

Tidak ada juga!

Saya belum tanya ke Akang-Euceu petugas buku Gramed, sengaja. Saya ingin mencari terlebih dahulu. Katanya suka baca, tapi nyari buku saja malas baca petunjuk yang ada.
Kumcer yang saya cari pun tak saya lihat. Mungkin, selera orang Italy kurang dengan cerpen. Yang di jual di sini sangaattt sedikittt! Kebanyakan manhaj fiksinya itu berupa novel, komik. Puisi pun hanya ada karya Pak Sapardi, Chairil Anwar, dan beberapa penyair lawas (?) yang tidak saya kenali.

Menyerah. Lelah. 

Akhirnya saya bertanya ke Akang petugas Gramed. Ngobrol cukup panjang, sepanjang rel kereta api–kepanjangan euy!

“Nggak ada Novel Cinta Dua Kodi mah,” jawab si Akang Gramed.

“Coba dicek stoknya di komputer, A!”

“Kalo dicek emang ada, cuma mungkin udah dipak (dikardusin).”

“Loh, nggak bisa dibuka emang, A?”

“Nggak, kalo sudah masuk kardus nggak bisa. Itu juga mau dikirimkan.”

“Kesedihan dan masa lalu bisa dipak juga nggak, A? Biar nggak bisa dibuka dan selamanya kekal dalam kegelapan.”

Fiktif! Saya tidak punya nyali berkata kalimat terakhir. :’v

Asli, kecewa syekali dengan jawaban Akang petugas Gramed! 😥

Naon hesena ceuk saya mah, muka deui kardus, da meureun buku-buku yang diturunkan dari rak, kemudian diletakkan dalam kardus yang gelap itu teh diberi data. Umpama: Kumpulan novel fiksi Islami, penulis Asma Nadia, Bla bla bla dst. Mungkin ini mah ya. Saya juga tidak tahu, dan memilih tidak bertanya banyak jika jawabannya hanya “tidak”. 

Ini baru terpikir sekarang.

Bukankah ada pepatah:

“Pembeli adalah raja. Permintaannya mutlak tak boleh ditolak.” :’v

“Raja kok mau beli buku satu?”

“Hmmm….” ×_×

“May, buku yang dikardusin di gudang itu bukan cuma sebiji, tapi banyaaak! Apal teu banyak?”

“Iya, iya. Loba pisan.” -__-“

Lalu, Akang Petugas Gramed memberi saran, katanya di Gramed Mayasari Plaza ada stok novel yang saya cari. Katanya lagi, adminnya sama, dan Gramed MP disuplay dari Gramed Asia Plaza.

Nah, nasib kumcer yang saya cari ternyata belum ada di Italy.

Duh… 

Nyatanya yang saya rencanakan tak menjadi kenyataan. :’v

Sempat hati tergoda untuk membeli novel “Pergi” Om Tere Liye. Nanti 27 April 2018, Om TL akan mengisi acara kepenulisan di Ponpes Condong. Tapi saya urungkan, karena masih menyimpan harap, di MP ada Cinta Dua Kodi!

Niat beli buku, jadinya beli meja lipat Qur’an. Hahaha. Sebenarnya ini memang saya rencanakan juga. Hanya saja tadinya akan saya beli setelah dua buku itu dimiliki. Meja ini saya beli khusus untuk seseorang. 😀

Baik, ini sudah terlalu panjang. @_@

Singkat cerita, saya melesat ke Mayasari Plaza. 

Menurut kakak saya: 

“Bukannya Gramed di MP sepi dan bukunya sangat sedikit?”

Ya. Kenyataannya begitu. Tapi Akang Petugas memberi petunjuk bahwa di MP ada yang saya cari, Cinta Dua Kodi!

Ketika sampai di lokasi, benar saja, tidak ada pengunjung. Hanya ada ceuceu-ceuceu petugas. Sangat jauh dengan yang Gramed sebelumnya. Semacam keluar dari keriuhan menuju kesunyian. XD
Saya menuju sebuah rak di pojok. Waah…. Hanya ada satu rak buku Islami! 

Sisanya? Entahlah.

Kemudian saya tanya ke ceuceu Petugas Gramed:

“Teh, ada novel Cinta Dua Kodi?”

“Pengarangnya siapa?”

“Asma Nadia.”

“Coba lihat covernya seperti apa?”

Lalu saya tunjukan gambarnya ke si Ceueceu. 

“Ng… kayaknya nggak ada. Belum pernah lihat.”

Hah?! @_@

“Teh, kata petugas Gramed AP, di Gramed ini ada. Barangkali di gudang ada, Teh?”

“Nggak ada.”

Duh…. 

Ya Allah, sulit sekali dapat novel itu. Memang, ya, sesuatu yang dicari ketika sangat dibutuhkan itu sulit dimiliki. Tiba-tiba menjadi barang langka yang tak ada di mana-mana.

Ya sudah. Saya pulang tak membeli apa-apa. 

di luar hujan

di dalam hujan

; di hatiku

di Mataku

Menahan tangisan!

Lebay! Wkwkwkw.

Bohong. Biasa saja sebenarnya. Hanya sedikit kecewa itu ada. Apakah saya tidak bisa ikut lomba resensi? Kalo tidak ikut, rugi dua kali. Bedah buku tidak, masa iya resensi juga tidak.

Terpikir untuk beli online saja. 

Apa boleh buat, ketika itu saya berniat jika telah sampai rumah akan langsung pesan.

Sepanjang perjalanan diciprati hujan. Gerimisnya seperti ragu untuk membasahi jalanan. Mungkin malu, mungkin juga tertahan oleh sebuah doa, doa agar hujan mau sedikit saja menunggu. Ya, mungkin saja.

Selama itu pula kepala saya berputar, mencari celah-celah harapan di jalan ketidakmungkinan.
22-23 April 2018

(Bersambung)

HARI YANG PALING MENCEMASKAN

Published Februari 19, 2018 by Sharmay HA

(Dimuat di Banjarmasin Post 30 Juli 2017)

“Sudah sampaikah kepadamu kabar tentang hari yang paling mencemaskan?”
Suara itu terus berdenyar di kepalaku. Seakan ada seseorang yang menembakannya melalui telinga dan pada akhirnya terus terngiang. 
“Saudari Isaura!” Seruan Pak Boerhan melepaskanku dari pusaran pertanyaan yang tak menemu jawaban. 
Aku mengerjap. “Ya,  Pak?”
“Sudah sampaikah kepadamu kabar tentang hari yang paling mencemaskan?”
“Apa, Pak?!” Aku tidak percaya ini! Dosen Filsafat Umum menanyakan itu. 
Pak Boerhan melipat kening, lantas menurunkan kacamatanya. “Saya hanya bertanya,  kenapa Saudari tidak menyahut setelah beberapa kali saya panggil?”
 “Oh….” Apa yang mesti kukatakan selanjutnya. Apa aku salah dengar lagi? 
“Hmm… Lain kali,  melamunlah pada tempatnya!”
“Maaf, Pak.” kataku dengan perasaan canggung.
Duh! Gara-gara suara itu aku sering mengalami kejadian memalukan. Ini bukan kali pertama aku tampak seperti orang linglung. 
Pernah,  suatu hari, aku tengah menunggu  lampu hijau. Lalu, seorang bocah laki-laki menghampiri. Di tangannya terdapat beberapa bundel koran. Ia pasti akan memintaku untuk membeli korannya. 
“Kakak,” sapanya ramah. 

“Ya?” Kubuka kaca helm. “Maaf, ya, Dek, kakak sudah beli koran tadi pagi.” 
Ia menggeleng. Lantas raut mukanya menjadi datar, dan dari tatapannya yang polos itu  menyiratkan keseriusan. “Sudah sampaikah kepadamu kabar tentang hari yang paling mencemaskan?”
Kontan aku merengut. Kenapa bocah itu menanyaiku dengan kalimat menyebalkan? Kalimat itu yang selalu membisingi kepala.  Belum sempat mengintrogasinya,  aku  diberedel klakson secara berjamaah. Duh! Terpaksa, secepat kilat kugas motor sebelum sumpah-serapah tumpah dari para pengendara yang tak sabaran. 
Aku tidak tahu kapan tepatnya suara tersebut berkenalan dengan pendengaran ini. Kalau tidak salah  lima hari yang lalu. Aku hanya ingat,  suara itu yang menyentakku keluar dari tidur. Seperti dalam adegan film ketika seorang tokoh bangun dari mimpi buruk, napasnya tersengal dan peluh-peluh sebesar biji jagung pun bergelinciran dari tubuh. Bagitulah, yang kualami. 
Setelah kejadian itu, suara misterius tersebut bermunculan tak henti. Tak peduli saat aku sarapan, mengobrol, menonton TV, kuliah, mandi, bahkan saat melakukan dua ritual–yang tidak dapat kusebutkan di cerita ini, suara itu selalu muncul.
“Sudah sampaikah kepadamu kabar tentang hari yang paling mencemaskan?”
Aku pernah berasumsi konyol. Barangkali ada seseorang yang menyimpan sebuah alat sangat kecil di telingaku.  Tetapi, saat kedua telinga kusumbat pun tetap ada. Suara misterius itu berdetak tiap detik. Aku bisa gila kalau begini! Anggapanku yang lainnya adalah, mungkin ada makhluk halus yang jail, dia sengaja membisikan kalimat yang mencemaskan. Kupikir lagi, agaknya tidak mungkin.  Jika benar, apa makhluk halus itu tidak punya kerjaan lain yang lebih berguna? Misalnya, menafkahi keluarganya. Atau  berkencan dengan kekasihnya. Aku abaikan saja dugaan yang tak berdasar dan absurd itu. Dan membiarkan suara misterius terus berputar di kepala. 
Dan ketika sepi, suara itu bergaung dengan jelas. Makanya,  aku tak bisa berlama-lama sendiri. Sebenarnya aku adalah spesialis kesunyian, namun untuk beberapa waktu agaknya aku harus melarikan diri menuju keriuhan. Setidaknya, agar suara yang mendebarkan dada dan membuat gelisah itu tidak terlalu jelas. 
Awalnya memang kuabaikan,  karena aku mengira suara tersebut hanya sebuah  sisa-sisa  dari mimpi  dan hanya sementara. Nyatanya tidak! Suara aneh itu tak ubahnya rekaman yang terus diputar tanpa henti dalam kepalaku. Pada akhirnya setiap orang yang kutemui, baik itu tukang pecel, ibu kantin, supir angkot, presenter gosip, penjaga kuburan,  manusia jomblo, polisi lalu lintas,  polisi tidur,  mereka semua selalu menanyakan hal serupa,  kecuali polisi tidur. 
“Sudah sampaikah kepadamu kabar tentang hari yang paling mencemaskan?”
Gila! Lama-lama isi kepalaku menggelegak juga. Aku tak bisa terus dihantui begini. Kesabaran benar-benar telah lenyap!  Mungkin aku telah gila! 
Tidak!  Tidak!  Aku tidak siap menjadi gila.
Aku berlari,  berharap bisa terbebas dari suara misterius itu.  Berlari dan terus berlari,  tidak peduli  siapa pun yang kutubruk,  tidak peduli atas umpatan dan suara klakson yang melengking panjang. Sampai akhirnya aku berada di tempat sepi. 
“Aaaarrrgghhh!!” Kulepaskan teriakan frustrasi sekencang mungkin. Lelah! Napasku tersengal-sengal. 
Tiba-tiba…. Hei, suara sialan itu hilang. 
Tunggu… aku tidak boleh terburu-buru senang. Mungkin suara itu akan muncul lagi. 
Aku baru ingat seseorang yang mungkin bisa membantu. Segera kutelpon dia. 
“Halo, Kak Nursa!”

“Ada apa,  Isaura?”

“Begini, kuharap Kakak bisa menolong. Hampir sepekan ini di kepalaku muncul suara yang aneh. Hingga semua orang yang berpapasan, mengatakan hal yang sama dengan suara yang berputar  di kepalaku. Tukang becak,  tukang pecel, ibu kost yang galak, penjual tahu bulat,  dan Facebook pun tak ketinggalan menanyakan ‘Sudah sampaikah kepadamu kabar tentang hari yang paling mencemaskan?’ Apakah suara tersebut merupakan sebuah gejala bahwa aku akan berubah menjadi orang gila baru? Kakak kan sarjana psikologi, tolong bantu aku! Aku menjadi linglung gara-gara kejadian ini.” Ibarat gerbong kereta, apa yang kukatakan beruntun dan tak berjeda. 

“Isaura. Kau sudah selesai?”

“Sudah, Kak. Jadi bagaimana?”

“Apa kau lupa?”

Aku berpikir sejenak. “Lupa??”

“Kau lupa bahwa aku adalah sarjana akuntansi? Mengapa kau berpikiran  aku ini sarjana psikologi?”

Kutepuk jidat! “Ya ampun! Aku tidak ingat sama sekali.”

Ia menggerutu. “Aku tidak tahu dengan apa yang menimpamu. Aku harus merenungkannya bersama Sherlock–”

“Sherlock Holmes?” potongku cepat. 

“Isaura….” 

Terdengar suaranya amat datar. Sepertinya ada yang salah. 

“Apa kau lupa?”

Nah,  kan. “Lupa apa lagi,  sih,  Kak?”

“Heuuuh… Kau lupa Sherlock yang kumaksud adalah kucing?”
Duh! Baru kuingat perempuan asal Sleman itu pecinta kucing. “Ya, ya,  aku ingat sekarang. Dia itu kucing peliharaan Kakak.” 

“Benar!”
Aku memutar bola mata dengan malas. 
“Dengar,  Isaura, aku tidak tahu apa ini akan berhasil. Dengarkan aku baik-baik….”
Aku mengingat setiap perkataan Kak Nursa. Akan kucoba  sarannya. 

Lalu kukatupkan mata dan memusatkan pikiran. Ya,  barangkali suara itu minta dijawab, seperti yang Kak Nursa sarankan.
“Sudah sampaikah kepadamu kabar tentang hari yang paling mencemaskan?”

Sudah kuduga, suara itu datang lagi. 

“Belum,” jawabku lewat pikiran. “Bagiku,  hari mencemaskan  adalah saat mantan melaksanakan pernikahan.”

“Memangnya kamu punya mantan? ”
“Sial!  Aku memang tak punya mantan. Tapi bukankah sebagian orang menganggap pernikahan mantan yang masih dicintai itu merupakan hari yang mencemaskan?”

Suara dalam pikiran muncul kembali. Begitu deras.  Kalimatnya lebih panjang,  lantas membuat jiwaku berguncang. Mataku mengucurkan kesedihan. Kusadari, semua kalimat itu pernah dikatakannya dalam mimpi tempo lalu, dan hanya selarik kalimat saja yang berdengung menembus kenyataan. 
“Sudah sampaikah kepadamu kabar tentang hari yang paling mencemaskan?

Tahukah kamu apa itu hari yang mencemaskan? 

Yaitu hari yang telah dijanjikan

Senantiasa ditanyakan

Dan selalu didustakan 

Hari saat betis kanan dan kiri saling berpelukan 

Sebagian besar jiwa berada dalam keputus-asaan serta kebingungan

Tak ada malam,  hanya ada siang yang saaangat panjang

Ketika semua dikumpulkan dalam keadaan bertelanjang

Kebanyakan berharap maut segera menerjang

Padahal  selamanya ia takkan  datang 

 Hanya jutaan kepedihan yang akan terus menyerang

Ingatlah! Kamu adalah pengelana yang harus mengimani jalan pulang!”

Suara itu lenyap! Kemudian senyap…. 
Tasikmalaya,  3 Rajab 1438 H

—Kepada Perempuan Jogja (yang gaje) yang mencintai Mueeza dan Sherlock.

#Reddish, seorang muqallidah sekaligus spesialis kesunyian. Kadang-kadang ia membicarakan kebid’ahan bersama Ceu Edoh dan Bibi; dua kucing kesayangannya.

​Sebuah Usaha Untuk Mengentaskan Kemiskinan Motivasi

Published Desember 31, 2017 by Sharmay HA

                                 Jepretan pribadi

“Kita tidak tahu dahsyatnya sebuah motivasi dan inspirasi.”

–NFE, hal. 36

“Karena siapa pun kita, setiap manusia punya peluang yang sama. Yang membedakan adalah seberapa keras usaha yang kita ikhtiarkan untuk merealisasikan mimpi yang diinginkan.”

–NFE, hal. 25


“Untungnya kehidupan itu nggak kayak Teh Gelxs dan Alx-Alx,  kalau hologramnya digosok yang selalu keluar: “Coba lagi, coba lagi, coba terus… ya, terus, terus… eup! Mantap!”

–Qi-eF-Si (Quote From Sharmay)

~Quote macam apa ini? Kayak lagi markirin kendaraan.~


Bismillah
Segala puji milik Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang telah memberikan begitu banyak nikmat yang tak bisa dihitung dengan angka. Rahmat dan keselamatan semoga senantiasa tercurah kepada manusia paling sempurna yang tiada duanya, yang telah menyelamatkan dunia dari kebodohan menuju kemajuan dan ketinggian akal pikiran, yang disebut Lelaki Penggenggam Hujan oleh Tasaro GK: Baginda Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam.
Ketika menulis (ceritanya sih) review Notes From England (NFE),  ponsel saya bernyanyi lagu Sami Yusuf yang berjudul Worry Ends. Dan lagi di luar sedang hujan air.

Ya iyalah, hujan air, masa hujan kenangan?! -_\ 

Begini, saya itu suka basket, dan saya suka meloncat-loncat. Karena itu saya punya kebiasaan meloncat-loncat kalo baca buku.

“Kayak pocong, dong?!”

Maksudnya, jika saya membaca buku, maka hal pertama yang saya lakukan adalah 

…. loncat kayak pocong.

Nggak.

Serius, saya nggak begitu!

Ritual saya dalam membaca itu melihat sampul depan-belakang, kata pengantar sekilas,  kemudian membaca daftar isi, lalu meloncat ke halaman yang menarik menurut saya, meloncat lagi dan lagi sampai saya dikira  pocong.

~Dikeroyok pocong~

Tunggu, memangnya pocong bisa ngeroyok? @_@

Nah, begitupun saat saya membaca Notes From England. Halaman yang pertama kali saya buka adalah halaman 159: tulisan Pak Ario tentang kisah seorang hafizah 30 juz Al-Qur’an yang kandidat Doktor di bidang kimia.
Alasan saya membaca itu pertama kali karena ketika pandangan saya tertumbuk pada kata “hafizah”  ingatan saya berlarian pada fagmen-fragmen masa lalu  :’)
Ada rasa sedih, nyeri, sakit pinggang, sakit otot, minum Oskad*n SP

disorakin pembaca


Lupakan. Ini bukan waktunya curhat, May!
“Bukan ambisi yang membawa dirimu pada kesuksesan, melainkan kesungguhanmu meraih kesuksesan itu dengan keikhlasan.”
Quote Puspita Praptiningsih ini menjadi prolog kisah Mbak Zeni Rahmawati, seorang hafizah yang berkuliah di Universitay of Aberdeen, dan quote itu sukses menampol hati saya. Plak!

Dalam buku NFE, dikisahkan perjuangan Mbak Zeni menghafal Al-Qur’an ketika menghadapi berbagai macam distraksi. 

Gaes,   distraksi saya nggak ada apa-apanya dibanding dengan beliau. Jika saya tergoda hanya dengan hal remeh-temeh, seperti: membaca cerpen melankolis, komik online,  novel, menulis status, menonton anime Boruto, tidur, makan, mandi sibuk chating WA, Fesbukan, dan hal-hal yang tidak bisa saya sebutkan di sini, maka tantangan terberat beliau menghafal Al-Qur’an itu adalah

…. mau tau? Penasaran? Selengkapnya di Notes From England, halaman 167. Hehehe.

~pembaca banting hape~


Selain itu dceritakan juga tiga alasan terbesar Mbak Zeni menghafal Qur’an, salah satunya  yang membuat saya terkesan dan saya merasa mesti menuliskannya…

…. penasaran? 

pembaca mulai emosi

Selengkapnya di bawah ini:

“… Aku ingin membuat mata dunia sadar bahwa seorang penghafal Al-Qur’an pun bisa belajar ilmu sains seperti latar belakang yang kumiliki. Seorang penghafal Al-Qur’an pun bisa menuntut ilmu umum hingga  ke jenjang doktoral, seperti para ulama terdahulu yang bisa menggabungkan pengetahuan dan hafalan Al-Qur’an  dengan ilmu-ilmu sains yang mereka miliki.”

–Hal. 163
Setelah   membaca kisah beliau, saya merenung. Barangkali, ada yang salah dengan saya. Benar. Ada yang mesti saya perbaiki. 

Beruntungnya, Pak Ario merentangkan solusi bagi yang sulit fokus dan gagal terus-menerus, seperti saya yang kesulitan  menghadapi distraksi ketika ingin merealisasikan sesuatu.


Pembaca: “Jadi ini teh mau review atau curhat sih? 

Sharmay: Mau jualan Aqua, gaes. :’)


Ya. Hampir lupa, saya belum memperkenalkan buku Notes From England. Beberapa contoh review buku yang saya baca, biasanya dalam mereview itu mesti diberikan penjelasan. Ini teh buku tentang apa, siapa pengarangnya,  berapa halaman, dan lain-lain.

Baik saya akan mencoba menuliskannya.

Judul Buku: Notes From England (NFE)

(Sudah tahulah ya, dari tadi saya sebut)

Penulis: Ario Muhammad dan Fissilmi Hamida

Penerbit: PT Elex Media Komputindo

Tahun Terbit: Cetakan 1,  2017

Kota: Jakarta

Jumlah Halaman: 236 hlm.


Pembaca: “memangnya Sharmay lagi mereview? Katanya lagi jualan Aqua?”

Sharmay: T_T gigit tembok


Jadi, gaes, seperti judulnya, buku ini berisi cerita-cerita yang berlatarkan Inggris tentang dua anak  dari kaki Gunung Sumbing, Magelang (Mbak Fissilmi atau Mbak Mimi), dan desa terpencil di Halmahera (Pak Ario) ketik menggapai mimpi untuk studi di negeri Ratu Elizabeth.

Kenal Ratu Elizabeth kan?

Apa? Nggak kenal?!

Sama! Ratu Elizabeth  belum pernah kenalan sama saya, sih.

~Halloooow… tibalik meureun! Siapa kamu, Sharmay?!~

Hehehe…


Selain kisah perjuang Pak Ario dan Mbak Mimi meraih cita-cita, diceritakan juga pernak-pernik perjalanan mereka selama hidup di Inggris. Juga kisah para atlet, pengusaha dan salah satu Hallyu Star (sebutan entertainer asal Korea Selatan yang mendunia), seperti  G-Dragon.
Tahu G-Dragon kan? 

Itu loh BIGBANG….

salah satu teori terbentuknya semesta.

~dilempar ke got~


Omong-omong soal G-Dragon, saya nggak mengenalnya. 

Tetapi saya pernah mendengar namanya dari teman saya yang tentu saja penggemar Oppa G-Dragon.  
Pada halaman 172, Pak Ario membeberkan beberapa fakta tentang lelaki yang bernama asli Kwon Ji-Young itu. Bagaimana usahanya yang begitu keras sehingga ia menjadi salah satu komposer musik terbaik di Korea Selatan dan bagi para fans-nya, ia adalah bintang yang sangat tinggi, sehingga sulit digapai. Hanya dapat dikagumi, dan tak bisa  dimiliki.

~Penggemar G-Dragon sedih.~


“Proses menjadi top peformers adalah proses lama yang memakan waktu bertahun-tahun. Butuh kesabaran untuk bertahan dalam ketidaknyamanan, kesabaran untuk belajar dan memulai hal baru, juga kesabaran untuk bertahan dalam kesabaran.”

–NFE, hal. 180


Kita tinggalkan fans K-Pop, biarkan mereka larut dalam kesedihan. Hahaha tawa jahat


Saya teringat dulu pernah membaca di sebuah blog,  tentang aforisma. “Aforisma itu suatu ungkapan mengenai doktrin atau prinsip atau sebuah kebenaran yang sudah diterima umum.”

–Wikipedia

Jujur saya kesulitan memanggil kenangan soal ini, yang saya ingat bahwa si penulis di blog itu meragukan khasiat aforisma, kata-kata bijak, atau semacam  kara-kata motivasi.   Saat itu saya hampir termakan perkataannya dan menjadikannya kredo, bukan karedok.

Namun, perkataan Mbak Mimi membuat saya tersadar kembali, jangan menyepelekan kata motivasi, aforisma, ungkapan bijak, atau hal semacamnya. Sebab:

 “Kita tidak tahu dahsyatnya sebuah motivasi dan inspirasi.”

–NFE, hal. 36




Ya. Kata-kata motivasi  memang cuma kata-kata, tapi bisa jadi, bahkan kemungkinan besar ia akan menjadi peluru yang merobek keputusasaan dan ketakutan, ia menjadi pentunjuk bagi  yang kehilangan harapan, ia menjadi angin segar bagi mereka yang tercekik kekecewaan.

Mengapa tidak?

Dengan sepenggal kata saja kita bisa tersakiti,   tentu dengan sepenggal kata pula kita bisa termotivasi. Tsaah


Maka dari itu, gaes, saya berpesan, hati-hati ketika membaca Notes From England. Sebab ada banyak motivasi yang bisa menghentakkanmu dari khayalan, membuatmu kehilangan keputusasaan, membuatmu mendapatkan lagi tujuan,  bahkan bisa melecutmu untuk lebih berlari menggapai impian.
Baiklah,  sepertinya, ini sudah di penghujung. Saya tidak akan berpanjang-panjang lagi.  
Ada banyak kutipan favorit saya, namun saya tidak bisa menuliskan semuanya disini. Gempor atuh jempol saya! 


“Merelisasikan mimpi adalah akumulasi dari kerja keras, perencanaan yang matang, konsistensi yang tinggi serta kesabaran dalam waktu yang lama. Jika belum memilikinya renungkan kembali semangatmu!”

–Tidak ada halaman, sampul belakang. 


“Teruslah mencoba, sebab kita tidak pernah tahu percobaan ke berapa yang merupakan jalan kita.”

–Hal. 52


“Faktanya jalan menemukan pasangan yang kamu cinta, jauh lebih rumit dari yang umumnya orang ketahui.”

–Menurut penglihatan jomblo–

Padahal, kutipan sebenarnya:

“Faktanya jalan menemukan pekerjaan yang kamu cinta, jauh lebih rumit dari yang umumnya orang ketahui.”

–Hal. 141


O ya, ada hal yang hampir saya lupa untuk disampaikan. Ketika saya sedang mencari review di internet yang barangkali bisa jadikan referensi. Dan saya menemukan ini:
“Paduan teks dan gambar dalam buku akan memudahkan pembaca menerima gagasan buku tersebut karena ada tipe pembaca yang visual dan audio sehingga sebuah buku wajib mengembangkan gagasan tersebut dalam konsep buku yang menarik. Misalnya ditambah CD dan iluatrasi.” Atau misalnya  NFE berbonus tiket ke Bristol—eh, peace, Pak Ario, Mbak Mimi. Saya hanya bercanda. Hehehe. ^_^


Sebagai penutup, saya teringat sebuah kutipan yang menarik:
“Dibalik teks yang Anda baca, ada pengalaman amat kaya seorang penulis yang tercecer tak bisa ditampilkan oleh teks.”

–Hernowo




Tentu saja.

#Sharmay–Italy[1], 31 Desember 2017

***


Catatan:

Banyak hal yang tadinya ingin saya tulis, namun ini sudah cukup panjang dan gagal saya ceritakan karena saya ngantuk. Hehehe.

[1] Indonesia wilayah Tasikmalaya

Masalah Sharmay

Published Desember 9, 2017 by Sharmay HA


​Matanya menjelajahi seisi rumah itu. ‘Asri banget,’ pikir gadis yang tengah menunggu si empunya rumah. Ini pertama kali bagi Sharmay -anak kampung baru merantau ke kota- menduduki sofa empuk (kasihan banget ya?) di kediaman seorang ustadz yang baru dikenalnya beberapa pekan lalu saat mengikuti pengajian. Namanya Ustadz Boerhan Ibrahim. Jika Alm. Ustadz Jeffri populer dengan singkatan UJ-nya, maka Ustadz Boerhan Ibrahim ini terkenal dengan … (pembaca isi sendiri. Gak tega pencerita nulis UBI–eh…).
“Assalamualaikum!” Sesosok pria yang entah berapa umurnya datang menyapa Sharmay. “Maaf menunggu lama, Dek.”

Kaus putih dan sarung membalut tubuh pria itu. Tak lupa peci putih pun bertengger menutupi rambutnya yang sedikit beruban. Sharmay berdiri menyambut orang yang ditunggunya.

“Waalaikumussalam, Ustadz. Ah, nggak apa-apa, kok.” Seulas senyum membingkai wajah sang gadis berjilbab.

“Ada perlu apa, Dek?” Tanya sang Ustadz. ‘Tidak biasanya ada remaja perempuan bertamu, mungkinkah dia meminta jodoh? Atau mungkin … dia ingin menjadikan aku jodohnya? (diprotes pembaca) Ralat! Mungkin dia ingin menjadikan aku mertuanya?’ Pertanyaan-pertanyaan terus berseliweran di benak Ustadz Boerhan.

“Oya, nama saya bukan Dek, Ustadz. Panggil saja saya Sharmay.” Sejenak tercengang, lalu berkata, “Oh, itu taktik agar saya tidak usah bertanya siapa nama–”
“Sharmay, Ustadz!” potong Sharmay cepat.

“Hadeuuh…. Iya, saya tahu!” Ustadz Boerhan membuang napas, agak kesal. Gue emang udah berumur, tapi gak telmi juga, batinnya. 

“Ada yang ingin saya tanyakan. Sebelumnya dua hari yang lalu saya ke sini, tapi katanya Ustadz sedang ke luar kota.” Gadis berjilbab itu mengutarakan maksudnya.

“Iya, semalam saya baru pulang, lalu istri menyampaikan ada gadis yang ingin bertemu saya. Memangnya apa yang ingin Sharmay tanyakan?”

“Begini ceritanya…” Mata Sharmay menerawang ke atas seolah menyaksikan cuplikan kisah yang diputar oleh memorinya. Pandangan Ustadz Boerhan latah mengikuti tingkah sang tamu.


Firasatku buruk! Sepertinya keberangkatan ke tempat perantauan tertunda beberapa jam karena kakakku kedatangan tamu dari jauh, katanya teman seprofesi.
 “May, keberangkatan kamu ditunda sampai teman Kakak pulang, ya, kasihan dia jauh-jauh ke mari. Hanya sebentar, kok. Jangan khawatir, nanti Kakak anterin kamu.” 

Kabar yang dibawanya cukup membuat hatiku dongkol. Aku terdiam di dapur, tiba-tiba kakak datang kembali, “Buatkan kopi Kereta Api dua!”
“Persediaan cuma ada satu lagi, Kak!” seruku sambil membuka lemari tempat menyimpan stok kopi sachetan [?].

“Ya sudah, buat satu saja untuk tamu,” tandasnya, lalu melenggang pergi ke ruang tamu. Kopi untuk tamu pun ku seduh. Saat akan mengaduknya, aku lupa belum membawa sendok. Padahal hanya sebentar kopi itu ditinggal. Ketika aku kembali, ada seekor cicak yang tercebur ke dalam gelas kopi! “Hei, cicak apa kau masih hidup?” tanyaku. Tak ada jawaban. Sepertinya cicak itu tewas seketika karena tak tahan berenang dalam air panas.

“Sebentar…,” Ustadz Boerhan menjeda kisah Sharmay. “Masa Sharmay nanya begitu sama cicak? Kenyataannya itu?” Kedua alisnya saling bertaut, heran.

“Nggak sih, biar agak keren ceritanya dikasih bumbu fiksi. Hehehe…” Pipi Sharmay bersemu merah dan terkekeh sumbang mendapati bola mata pria di hadapannya berputar malas.

Keren apanya? Ustadz Boerhan menggerutu dalam hati. “Lanjut ya?” Sang Ustadz mengiyakan.

Menyadari cicak malang tewas dalam kopi panas, segera ku evakuasi mayat itu dengan sendok, lantas berlari ke luar untuk memandikan, menyolatkan, dan menguburnya. Bohong! Aslinya langsung dibuang ke kolam belakang rumah. Saat kembali ke dapur, di meja ada keranjang belanjaan, itu artinya istri kakak sudah pulang dari pasar. Tapi … dimana gelas itu? Tadi di atas meja. Lenyap ke mana? Tak lama wanita yang dinikahi oleh kakakku datang dari ruang tamu membawa nampan. Celaka! 
“Kakak, gelas berisi kopi yang tadi di sini ke mana? Apa Kakak membawanya ke depan?” Dengan tempo amat cepat aku menghujaninya dengan pertanyaan, saking panik.
 Entah kaget atau apalah, istri kakak hanya menjawab dengan anggukan saja. Tapi, dari tatapannya meminta penjelasan, ‘Kenapa memang?’ Kedua tanganku membekap mulut yang menganga. Aku tak percaya ini! Sampai tamu itu pulang, aku tak berani ke luar kamar. Syok!

“Makanya kemarin sepulang dari kampung, sorenya saya langsung ke rumah Ustadz, mengabaikan rasa lelah demi menanyakan hukum kopi itu. Halal atau haram, Ustadz?”

“Hmm…,” tangan kiri sang Ustadz memainkan jenggotnya sembari memejamkan mata. Memang Ustadz Boerhan ini ketika mengisi pengajian sering membahas persoalan yang berkaitan dengan ilmu Fiqih. Maka dari itu Sharmay menemuinya.

“Hukumnya bisa halal bisa haram,” lanjutnya.

“Loh, itu bangkai kecebur ke dalam kopi, Ustadz! Kok bisa halal?”
“Bisa, walaupun terkena bangkai. Asal bangkainya itu sejenis hewan yang tidak mengalir darah banyak ketika sebagian tubuhnya dilukai. Seperti cicak, lalat, lebah, semut dan semacamnya. Kalau kopi itu kecebur bangkai ayam jadi haram, sebab ayam adalah jenis hewan yang ketika dilukai darahnya akan keluar banyak,” papar Ustadz Boerhan.

“Oh … saya mengerti, tapi kalau ayam kecebur ke dalam gelas sepertinya mustahil, Ustadz!” Sharmay protes, “Mana ada! Gak muat!” Lagi, Ustadz memutar bola matanya malas dan membatin, hadeuuh!

“Ya … misalkan! Bukan air kopi saja, pokoknya setiap air yang kurang dari dua qullah: mau seember, sebaskom ketika kejatuhi bangkai ayam atau hewan semacamnya menjadi najis dan haram diminum, apalagi dipakai bersuci.” Begitu seriusnya Sharmay memerhatikan penjelasan dari pria itu. Entah benar-benar paham atau … entahlah! Pencerita juga bingung.
“Kalau begitu, kasus cerita dari kopi saya itu tidak najis dan boleh diminum, ya, Ustadz Boerhan?”

“Betul, tapi dengan syarat air kopi itu rasa, warna, dan aromanya tidak berubah, Sharmay,” tambahnya.

“Ng… kalau aroma … waktu itu masih khas kopi, warna tetap hitam pekat. Nah, kalau rasa saya nggak nyoba. Terlanjur dihidangkan. Kalaupun belum dihidangkan, saya mana mau nyicipin air yang tercebur bangkai cicak. Hueekk!!” Tubuh Sharmay bergidik jijik membayangkan dirinya meminum kopi itu.

“Satu lagi, bangkai cicak itu tercebur bukan perbuatan manusia secara sengaja,” Ustadz Boerhan mengambil napas sejenak, lalu, “meski kopi itu tidak berubah warna, rasa dan aromanya, kalau sengaja tetap najis, haram diminum.”
Sharmay termenung. Ustadz Boerhan mengamatinya dan bergumam, anak ini terlihat lebih baik kalau diam daripada berbicara dan memotong ucapanku. Aku harus memakluminya, dia kan masih remaja labil. “Sudahlah, yang lalu biarlah lalu, Sharmay. Mudah-mudahan rasanya pun tak berubah walau bangkai cicak pernah berenang di dalamnya.”

“Semoga saja. Kalau tamu itu tahu pernah ada cicak tercebur dalam kopi yang diminumnya, saya tak sanggup melihat mimik wajahnya.” Sharmay dan Ustadz Boerhan tertawa berbarengan.
Hening sejenak. Sharmay memulai kembali pembicaraan, “Kalau boleh tahu, Ustad ke luar kota ngisi ceramah ya?”

“Nggak, saya silaturahmi ke beberapa teman sesama penulis, ke Jakarta, Bogor, Cianjur, dan terakhir ke Banjar, di sana paling lama. Eh, sebelum singgah di Banjar saya ke Italy dulu,” katanya dengan mata menerawang mengingat perjalanan yang cukup melelahkan, namun menyenangkan.

“Hebat!” Sharmay berdecak kagum, “Ustad silaturahmi ke Italy!”

“Indonesia bagian Tasikmalaya maksudnya.” Sang Ustadz terkekeh.

“Dua hari yang lalu saya baru pulang dari Tasik juga, Ustadz! Tepatnya dari rumah Kakak saya.” Perasaan bahagia mencuat dalam dada, ternyata orang yang dia kenal pernah singgah di kota kelahirannya.
“Sayangnya di Italy hanya sebentar, karena teman saya hendak pergi ke terminal. Tapi, saya bersyukur dapat buku karyanya berjudul NEGERI PENCURI PARFUM.” Ustadz Boerhan menyeringai. Sedangkan lawan bicaranya menampilkan ekspresi wajah yang sulit diterjemahkan. “Kenapa Sharmay?”

“I-itu judulnya seperti novel milik Kakak saya, Ustadz, namanya Bangmo Muhammad Ridwan!”

“Jadi… kopi itu…??” Ustadz Boerhan permisi untuk pergi ke belakang.
Sharmay bergeming, matanya tak berkedip beberapa detik. Apakah pikirannya tak salah menyimpulkan. Sharmay pun mengikuti sang Ustadz karena masih ada yang mengganjal dalam benaknya. “Hueeekkk…. Hueeeekkk!” Duh Gusti, lebih baik aku tidak tahu kalau kopi yang kuminum tercebur cicak mati. Batin Ustadz Boerhan menjerit.

Dengan polos Sharmay bertanya, “Ustadz, waktu itu rasa kopinya gimana?”


Sharmay HA

Tasikmalaya, 2015

​Sebuah Derita

Published Juni 20, 2017 by Sharmay HA

Saya mengerti apa yang kamu derita. Tak usah kaget dengan apa yang saya katakan. Rindu itu memang sebuah derita, bukan? 

Sebab bayang rindu tak henti mengetuk ingatan, getarnya menyisip di debaran jantung. Bahkan, terkadang terlalu pelik untuk membeda antara detak jantung dengan detak rindu di tiap detik. Seringnya, perasaan itu menjelma kentut; menyesak pada napas.
Ah, saya ingin mengamandemen kesepakatan kita. Sungguh semakin jarak terbentang, semakin rindu berdentam. Maka, adalah rindu yang memucat pasi, kala degupnya kian melirih, lalu mati oleh prasangka dan pupusnya mimpi.

Saat kematian rindulah semesta seakan sunyi, lenyi!

Pantaslah rindumu tak pernah tuntas dari dahaga. Suara, foto hanya ilusi belaka.

Ingatlah, wahai kamu!

Penentram rindu ialah doa. Pemuasnya ialah jumpa.

Benarlah, bahwa saya telah kehilangan sebuah bibit. Nyatanya bibit itu tertinggal dan tumbuh menjadi pohon rindu, yang rantingnya telah menjamah matamu.

Siapa pun berhak menyuarakan rindu

Termasuk kamu… 

Dan saya! 

#Reddish